Dwi Klik Santosa
Salah satu tulisan esaiku yang akan dibukukan dalam dua bahasa dan desain semi art dalam judul “CITRA RENDRA” atau “IMAGES OF RENDRA”. Semoga 2012 ada angin baik meluncurkannya.
——————————
———
…MERDEKA, JUJUR, INDAH Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan …
maka kami bilang : TIDAK kepadamuKETIKA hidup kita penuh kekangan, lilitan dan tekanan, apalah arti kewajaran dan keberlangsungan? Jika kita dikaruniai kelengkapan berupa pikiran, naluri dan nurani, kenapa kita harus takluk oleh hidup yang profan? Merdeka, inilah kebutuhan manusia yang paling hakiki.
Tetapi dasarnya manusia hidup dalam kejalangan ambisi, kemapanan dan status sosial telah menjadikan tujuan, dimana tahta dan harta kemudian menjilma panglima. Apa itu kejujuran? Di mana keindahan berada, jika hidup terus menetek pada kamuflase dan ketidakmasifan? Apa itu cita-cita hidup yang sejati?Pada musim penghujan di masa Orde Baru, menggulirlah pada suatu ketika sebuah kisah. Datuk Anwar Ibrahim menjadi berita besar di seantero nasional karena kedatangannya sebagai tamu negara ke ibukota Jakarta. Di rumah Rendra di perkampungan Cipayung Jaya, yang terletak di sudut wilayah Kota Depok, suatu saat berderinglah teleponnya. Datuk Anwar Ibrahim berkenan mengundang kehadiran Rendra di sebuah tempat terhormat di ibukota. “Insya Allah, saya akan datang Tuanku,” jawab Rendra.
Sekian lamanya, sebagaimana disepakati, Rendra tak datang jua menemui undangan itu. Lalu berderinglah kembali telepon di rumah Rendra. “Saya sudah berusaha menepati janji, Paduka Datuk, tapi mobil saya kering tidak berbensin, sehingga tidak dapat segera mengantarkan saya sampai ke Jakarta,” kata Rendra. Oh, … Lalu beberapa jam kemudian, datanglah mobil mewah memasuki jalan Cipayung Jaya yang berlumpur dan sudah menjadi kebiasaan pada saat musim penghujan datang.
Rendra merupakan sahabat yang terkenal dan besar namanya di Malaysia, tapi melihat Rendra yang sahaja dan sakit, meneteslah air mata Paduka Datuk. “Mas Willy, jika Anda berkenan, tinggal dan hiduplah di Malaysia. Ada rumah, fasilitas dan kemapanan hidup yang layak untuk mendukung Anda berkarya,” kata Datuk Anwar.
“Terima kasih, Tuanku Datuk atas tawarannya. Tapi walau bagaimana pun, Indonesia adalah rumah saya,” kata Rendra dengan tenang. Lalu mengalirlah kehangatan. Berpelukan kedua sahabat itu mengurai kerinduan masing-masing.
Begitu pula, berita-berita lain menggulirkan kisah. Rendra menolak kerjasama dan hadiah dari cukong-konglomerat penindas rakyat. Rendra menolak bantuan pemerintah asing. Rendra menolak sponsor dari lembaga dan perusahaan asing di tengah miskinnya hidup yang dijalani. Adalah manik manikam di bumi kita yang kaya akan epos legenda dan dongeng pelipur lara.
Meyakini pilihan hidupnya, Rendra kaya dalam kemiskinannya. Menjadi seniman yang ‘berseberangan’ merupakan pilihan yang rumit di tengah bergulirnya zaman edan yang munafik. Tapi niat telah ditetapkan. Tidak ada sewujud aral mampu mengkotak-kotak hidup manusia. Hanya dengan ketulusan dan kebesaran jiwa, maka manusia akan menjadi arif.
Rendra adalah seorang seniman besar. Lebih dari setengah abad, hidupnya dipenuhi pengabdian yang mengharukan. Berbagai gerak dan laku hidupnya senantiasa mengalirkan harapan dan berbuah berita yang mencengangkan banyak orang. Tak pelak, dinamika kehidupan telah menempatkan Rendra sebagai tokoh sekaligus cermin bagi para penggandrung dan pendulang hidup bermakna. Esensi sebuah pencarian adalah pengabdian. Jika seseorang mudah marah, putus asa, dan lalu menindas, maka ia hanya menjadi sampah saja bagi kehidupan. “Menjadi seniman harus tahan hidup dalam kesepian,” kata Rendra, “maka niscaya kelak kita akan mengerti apa sebetulnya yang sedang kita cari.”
Dan kemudian, …“Aku muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman.” Inilah cetusan marah seorang Rendra yang lantas karenanya menjadi intuisi bagi para seniman dan kreator untuk bangun kembali dari keterlenaannya karena terlalu memuja keindahan tanpa ikut andil menegakkan kemerdekaan dengan laku yang jujur dan sahaja.
November 28th, 2011 at 08:21
Emha Ainun Nadjib memberikan kesaksian sekaligus puisi untuk sahabatnya, WS Rendra dalam acara “Dua Tahun Rendra Berpulang” . Emha Ainun Nadjib memaknai meninggalnya Rendra menjadi tragedi kebudayaan sangat besar bagi Indonesia.
November 28th, 2011 at 08:14
Selain Rendra, aku juga pengagum Emha, budayawan satu ini benar-benar mantap…apalagi di bukunya yang berjudul “Iblis Nusantara Dajjal Dunia”, ada sedikit menyinggung tentang DEMOKRASI, dimana Emha menyatakan pendapatnya, kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
November 25th, 2011 at 10:39
Entah knapa saya merasa kecil sekaligus bersyukur setelah membaca tulisan ini.
November 24th, 2011 at 14:52
Mas Abhisam, wahhhhhh….akhirnya pulang ke rumah, rumah baltyra he he…rumah tanpa dinding, milik kit bersama….jadi tau cara mengundang mas Abhisam, pasang foto Rendra di baltyra ha ha ha…
Gimana acara ? Hadir kan di buffalo wedding? Aku rasanya pengen misuh je…..
November 24th, 2011 at 08:15
Setelah lama ga main ke Baltyra, tiba-tiba saya menemukan tulisan ini; seperti magnet.
Mba Dew, pak Han, mas JC, gmn kabarnya? Maappphhh, lama absen
November 24th, 2011 at 08:12
Rendra, segelintir dari sekian banyak pelaku sastra Indonesia yang aku suka…
November 24th, 2011 at 07:41
Saya kira Rendra menjawab: “terima kasih Tuanku…nanti saat Malaysia menjadi salah satu provinsi Indoneisa, saya akan tinggal disana…”
November 24th, 2011 at 07:38
aku mau duduk duluan di sini, menemani Rendra…