Hidup Dalam Mimpi

Uci

 

Siapakah aku ingin menulis sebuah kehidupan di dalam Mimpi. Mimpi hanyalah sebuah kehidupan yang nyata tetapi Semu, karena dalam sebuah mimpi terbentang kehidupan yang sering sekali hanya berupa bayang-bayang tak berbentuk. Tadi pagi saat membuka Jendela Dunia, kau melihat sebuah pemandangan Mimpi, pernikahan Muda-mudi  yang kini jadi selebriti…. .

Kerap kali saat mengamati kehidupan negeri tercintaku, mengamatinya lewat jendela, setiap tulisan-tulisan para kuli tinta  yang kini tidak lagi menggunakan pena dan tinta. Para kuli tinta yang kini sudah berubah menajdi kuli keyboard. Jendelaku, adalah setiap halaman-halaman koran on line. Setiap hari dari sudut kehidupanku aku hanya dapat memandangi setiap  pemandangan apa saja yang terhidang oleh para kuli keyboard yang menyajikan fakta dan kenyataan negeriku Indonesia.

Setiap hari, rasa kangen dan kerinduanku dari jauh menatap perjalanan kehidupan Bangsaku, aku sungguh bergantung dari setiap usaha dari para kuli keyboard yang setiap hari menitipkan sebuah pilihan, percaya atau tidak percaya, diterima atau tidak diterima.

Setiap hari tiada yang berbeda, kisah yang selalu sama, bak telenovela yang ditayangkan untuk mengisi acara di televisi demi mengejar tayangan iklan dan rating. Sering sekali  keinginanku hanya satu aku ingin menutup jendelaku, aku hanya ingin berdiam diri saja, melupakan setiap pemandangan yang dapat kulihat dari balik jendela yang kupilih, tetapi apa daya, rasa cinta dan kasih untuk setiap kehidupan yang ingin kulihat selalu membawaku kembali, membuka setiap jendela yang dapat kulihat.

Tadi pagi, aku melihat lewat jendelaku, berita pernikahan dua muda-mudi yang tadinya adalah sosok biasa-biasa saja. Dua muda mudi yang akan menikah,  Bak pasangan  selebriti dunia sedang  menghiasi jendelaku onlineku  setiap hari.

Ada rasa sakit di perutku, memandangi drama kehidupan di negeriku. Dari satu pemimpin kepada pemimpin yang lain, yang kulihat hanya sebuah mimpi.

Drama-drama murahan produk dunia yang jungkir balik. Bisnis, komersial, kemegahan, kebohongan, pengingkaran, pencarian kehormatan pribadi,dan usaha pencapaian image yang memuakkan.

Akh, untuk apa aku memandanginya, untuk apa aku menghakiminya, adakah hakku untuk menilai adakah hakku untuk menentang…

Apa yang kutentang?

Apa yang kuhakimi?

Itu dia, pernikahan bak putra-putri kerajaaan, pernikahan produk penguasa opportunist. Ketika sang ayah berkuasa maka sang anak menjadi Mahkota.

Ayah bukan Raja, bagaimana mungkin anak menjadi mahkota?

Ya itulah hidup…

Hidup di dalam mimpi…

Bak telenovela…

Kita menunggu endingnya saja, semakin dramatis  pemandangan mimpinya semakin mengkhawatirkan masa depannya, mimpi yang dibuat  secara paksa bukan mimpi dari tidur panjang, rasa aman dan nyaman, ini  mimpi adalah mimpi oleh sebuah kesempatan yang sedang dipegang.

Impian opportunist semoga  tidak berakhir, seperti Dongen jaman dahulu kala, kala seorang putra mahkota menikah dengan putri yang bersekolah di Australia, waktu itu katanya Putri itu seorang sarjana bergelar S2, mengagumkan, mewah, top news, segalanya adalah sensasi yang membaut rakyat merasa iri. Namun…. yang kini, apa yang terjadi dengan kisah pangeran di masa ORBA? Kisah sudah berakhir, yang adalah kisah  dua pribadi yang tidak saling mengenal. Semoga Impian yang sekarang tidak seburuk Impian di jaman ORBA.

Namun kuragu………………………

Akankah kubangunkan mereka yang saat ini sedang bermimpi?

 

Salam dari Negeri Mimpi

 

 

23 Comments to "Hidup Dalam Mimpi"

  1. uci  29 November, 2011 at 11:13

    Probo, Itu Dia pertanyaannya, pernikahan dua sejoli dengan beragam asumsi, tetap berharap yang terbaik aja ,agar pasangan langgeng mpe kakek nenek,

    salam uci

  2. probo  27 November, 2011 at 22:46

    dulu di jaman feodal…..dua kerajaan besanan dalam rangka pernikahan politik….
    yang sekarang ini termasuk kayak itu nggak ya?

  3. uci  27 November, 2011 at 11:43

    Mpok Imeii,,
    Iya itu Jelita cilik

    ya Mari bermimpi, asal jangan mimpi menikah diIstana saja, negara bisa rugi besar ihks!
    masih disini mpk, di CNX, semoga tidak pindah lagi, untung banjirnya cuma bangkok

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)