Sartikem

Ida Cholisa

 

Perempuan dengan dada membusung itu sangat memikat. Dadaku berdegub tiap kali bersitatap. Seperti terkena aliran listrik, bagian terpentingku langsung terbidik. Wuih!

Namanya Sartikem. Ia penjual warung makan di lokasi proyek tempat aku bekerja. Sejak empat bulan lalu Sartikem menjadi obat kesepianku. Bekerja di ladang pengeboran minyak di pedalaman pulau Sumatera membuatku sering sekarat. Ya, saat hasrat menjerat, kepalaku terasa berat.

Sartikem satu-satunya obat sekaratku. Cukup melumat wajah ayunya, cukuplah aku meredam nafsu. Biasanya aku memesan segelas es teh manis dan sepiring nasi berikut sayur dan lauk di atasnya. Sambil mengunyah nasi aku mengajak ngobrol Sartikem. Tetawa cekakak-cekikik, saling menggoda, saling mencubit mesra. Selesai makan aku pun tak lupa menyelipkan uang tip. Ya, dengan uang tip itulah perempuan sintal dan ayu itu tak segan-segan meladeni obrolanku. Kapan pun aku mau, kapan pun aku memiliki waktu senggang di sela beratnya pekerjaanku, Sartikem tak pernah jemu melayani kencanku.

Aku ingin Sartikem tak sekedar melayani obrolanku. Tapi lebih dari itu. Berulangkali kuminta ia menutup warung makannya dan menemuiku di gudang kosong dekat lokasi pengeboran itu, ia tetap saja menolakku dengan ucapan halus. Bibir sexy-nya menyunggingkan senyum kepadaku, kerling matanya sedikit menggodaku. Meruntuhkan iman dan “imin”-ku.

“Ah Kang Tarjo, aku kan tahu Kakang dah punya bini. Apa jadinya kalau kulayani dirimu? Kalau aku bunting, gimana? Kakang mau tanggung jawab?” ia berkata dengan santainya.

Aku mengunyah makanan sambil mataku jelalatan. Tubuh sintal Sartikem tampak bergoyang-goyang saat ia mengulek sambal. Dadaku berdegub kencang.

“Aku heran kenapa para pekerja proyek ini lebih suka aku suguhi sambal yang masih fresh. Mereka maunya aku menguleg sambal mentah saja. Katanya kalau baru diulek sambalnya terasa nikmat. Enak di mereka, nggak enak di aku. Masa aku harus ngulek sambal sepanjang waktu? Capeklah aku…” Sartikem mengeluh.

Dalam hati aku tertawa. Sartikem oh Sartikem, nggak nyadar kamu, kami memintamu sambal fresh yang langsung diulek karena kami suka melihat goyangan pantatmu. Sadarkah kamu kalau goyangan pantatmu itu mampu mendesirkan jantung banyak lelaki? Maka teruslah kau mengulek sambal itu, Sartikem…., batinku.

Suatu malam aku melihat seorang lelaki memasuki warung Sartikem.  Situasi sangat sunyi. Naluriku berkata, ia bukan laki-laki biasa. Mendadak aku khawatir akan keselamatan Sartikem. Aku takut ia diperkosa. Aku takut…., ah…., sekonyong-konyong aku berlari dan melompat masuk ke warung Sartikem. Di sana aku melihat si lelaki tengah duduk mengisap rokok kreteknya. Ia melotot ke arahku. Tak terkecuali Sartikem. Ia keheranan menatapku.

“Kenapa, Kang?” tanya perempuan itu.

“Ah, enggak. Perutku lapar, ada lauk apa?” tanyaku sekenanya.

Sartikem menunjukkan lauk-pauk yang tersaji di warungnya. Terpaksa aku memesan nasi untuk mengalihkan tatapan curiga si lelaki yang sedari tadi tak berhenti memelototiku. Sengaja kuperlambat makanku. Berharap si lelaki segera angkat kaki. Satu jam aku menunggu, tak juga lelaki itu berlalu. Lelah tubuhku, mengantuk mataku. Besok pagi aku mesti bekerja kembali. Untunglah, saat jenuh menyerangku, si lelaki ternyata angkat kaki. Lega menguasai hati ini. Aku pun beranjak pergi, dua puluh menit setelah berlalunya si lelaki.

***

Sartikem tewas di warungnya. Berita itu menyengat telinga. Kami pekerja proyek pengeboran yang siap berangkat kerja serta merta mendatangi lokasi kejadian. Warung Sartikem tampak ramai. Beberapa polisi memasang garis polisi. Sesaat kemudian beberapa polisi lain menggotong plastik mayat berisi jasad Sartikem.

Lokasi proyek gempar. Cerita tentang Sartikem beredar ke penjuru tempat. Perempuan sintal itu kabarnya dibunuh tadi malam. Aku terpana. Jangan-jangan lelaki yang semalam itu membunuhnya. Saat aku pergi meninggalkan warung Sartikem, barangkali ia masih berada di sekitar tempat tersebut. Begitu aku pergi, si lelaki mendatangi warung Sartikem lagi. Ah, aku menyesal setengah mati, kenapa aku tak bisa melindungi Sartikem.

Aku bekerja seperti biasa. Perbincangan ramai tentang Sartikem masih santer terdengar. Kabarnya perempuan sintal itu diperkosa terlebih dahulu sebelum dibantai. Pembunuhan yang sangat sadis. Entah apa motifnya. Murni pembunuhan karena semata perkosaan atau perampokan. Tapi kabarnya barang berharga serta simpanan uang Sartikem tak ada yang raib. Kalau begitu, apa sebenarnya motif pembunuhan itu?

Aku lesu sepenginggal Sartikem. Tak ada lagi perempuan berdada penuh yang mengisi kesepianku. Tak ada lagi teman kencan yang senantiasa memberiku kehangatan teh manis atau kopi pahit. Tak ada lagi goyang erotisnya saat mengulek sambal. Tak ada lagi, semuanya tak ada lagi.

Saat kesepian melanda diri, dua orang polisi menangkap dan menahanku.

“Bapak kami minta keterangannya di kantor polisi. Kami menemukan KTP Bapak di warung korban. Kami harap Bapak memberikan keterangan yang diperlukan,” kata salah seorang polisi.

Aku berjalan gontai. Lemas, tak bertenaga. Tiba-tiba bumi terasa berputar…***

 

Bogor, 2011-

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

54 Comments to "Sartikem"

  1. Meitasari S  27 November, 2011 at 22:09

    hadhuhhhh… sartikem kenapa mati????

  2. nunuk  27 November, 2011 at 15:33

    Mbak Ida, ooo maaf saya salah tulis. Maksud saya bukan rumah Baltyranya dimas JC (cs) tapi lapak tulisan panjenengan.. Itu lhooo maksud saya.. Matur nuwun. Nu2k

  3. Ida Cholisa  27 November, 2011 at 07:46

    hehehe,,,
    iya Mbak Nunuk. lha wong ini rumah yang mbangun bukan aku koq, tapi Mbak Dewi Murni, hehehee….
    salut sama mbak Dewi yg semangat memposting tulisan2ku, padahal banyak tulisan yang aku lupa kapan nulisnya, heheheee….
    btw, selamat pagi utk semua penghuni Baltyra,,,,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *