Bintang Redup, Malang Hidup (Puisi Adaptasi)

Abu Waswas

 

Adaptasi dari cerpen “Hadiah yang Kosong”

Kamu menyeduh secangkir cita-cita di pagi hari kala suhu merendah.
Kamu menghirup alangkah harumnya uap yang mengasap lantaran panasnya gejolak kemauan (tepatnya tuntutan).
Kamu menuang segelas angan-angan di bongkahan es saat terik sangat bergidik.
Betapa dahaga terasa menyiksa namun cuma setetes uap membasahi dada.
Kamu menyendok seraup harapan yang tersiram kuah doa tatkala petang kian matang.
Segalanya terasa kembung dan kenyang.

Bakarlah kalorimu!

Berjalanlah ke jalan yang padang.
Carilah sesuatu yang layak dikejar.

Namun kerap takdir menebang sampai  ke titik nadir. Bila sudah begitu, kamu akan berlutut memantati bintang masa depan yang disembah jutaan jemaah.

Telah kenyang ritual upacara makan-minum.
Terisilah segram gizi dalam tulang sumsum.

Mereka maklum.

Keluarlah berbagai ampas makanan lewat belakang ketika kamu jongkok di atas jamban.
Mereka maklum.

Kosong perutmu, kosong kemihmu, kosong hatimu.

Kamu tak kuasa menahan lapar hati.
Lalu berlari ke padang ilalang.
Mencari matahari malang yang telah sewindu hilang.

Kamu makin tak sanggup menahan lapar hatimu.
Berlari. Kemudian matamu berbinar menatap matahari lain yang masih bersinar.

Itu untuk hatimu yang baru saja kosong.
Meski perut bernyanyi keroncong.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Puisi saya masih sebatas ornamental ya?

 

Ilustrasi: kfk.kompas.com

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Bintang Redup, Malang Hidup (Puisi Adaptasi)"

  1. Abu waswas  29 November, 2011 at 21:27

    Pak Dj, terima kasih apresiasinya ^_^ Ah saya bukan pujangga murni koq, msh baru belajar.

    Jiahhh Bu Nunuk dan Bu Lani main duluan wkwkwk. kalau kata anak muda, pertamax. Maksudnya pertama komen

  2. Dj.  27 November, 2011 at 02:41

    Mas Abu was-was….
    Hebat….!!!
    Menciptakan kata-kata yang kelihatan mudah, tapi sulit dicari
    Menyambung kata-kata menjadi satu agar tidiak lari…
    Tak setiap orang bisa berbuat seperti anda..
    Karena jarang yang berpikir sejauh sana.

    Selamat berkarya, walau tidak membuat anda kaya….
    Salam,

  3. Lani  26 November, 2011 at 08:04

    nomer doea……disalip mbak Nuk krn ora iso turu………..

  4. nunuk  26 November, 2011 at 07:53

    Jeng saya nomor satu, gr. Nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.