[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (3)

Andi Mangesti

 

Bagian 1: http://baltyra.com/2011/11/14/kisah-sang-penjaga-gula-dan-rempah-rempah-dan-semua-yang-manis-1/

Bagian 2: http://baltyra.com/2011/11/21/kisah-sang-penjaga-gula-dan-rempah-rempah-dan-semua-yang-manis-2/

Bagi Cinne, pelataran Monas di malam hari, baik itu pada waktu bulan mati ataupun bulan bersinar seperti sekarang selalu membuat hatinya pedih oleh kenangan pahit yang baru sebulan berlalu. Masih segar di ingatannya pertempurannya yang pertama sebagai seorang Penjaga dan kakek buyutnya, Penjaga sebelum dirinya telah tewas dalam pertempuran itu.

Dan saat ini pelataran Monas terlihat lebih menyeramkan walaupun bulan masih bersinar penuh setelah malam sebelumnya purnama, dan bagi orang-orang yang sedang kasmaran adalah situasi yang romantis namun bagi Cinne sinar bulan yang keperakan justru lebih menakutkan daripada malam-malam biasa.

Khasimir menghentikan mobilnya yang dibekali sirene polisi sehingga bisa masuk wilayah yang sudah dipenuhi oleh kerumunan orang, baik itu petugas polisi, wartawan, dan penonton.

Cinne menarik napas dalam-dalam sebelum dia melepaskan sabuk pengaman dan bersiap-siap untuk melangkah keluar. Khasimir membukakan pintunya dan membantunya untuk keluar dari mobilnya.

“Kau baik-baik saja, Cinner?” tanya Khasimir pelan.

Cinne mengangguk dan membiarkan dirinya digandeng Khasimir menuju pita kuning yang bertuliskan “Garis Polisi Dilarang Melintas Police Line Do Not Cross” yang dijaga beberapa petugas polisi dibeberapa titik. Beberapa reserse dan petugas forensik kepolisian sedang berkerumun mengelilingi sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.

Seorang polisi berpakaian preman dengan jaket jersey khas polisi dengan tulisan POLISI menengadah saat dilihatnya mereka berdua mendekat. Lalu dia berdiri dan menyambut keduanya sambil melepaskan sarung tangan lateksnya.

“Yo, Dr. Khasimir….. syukurlah kau cepat datang.” Sambut Inspektur Firman, kepala penyidik Satuan Khusus Metafisika yang memimpin penyidikan awal di TKP.

“Apakah sudah dipastikan ini adalah masalah metafisika, Inspektur?” tanya Khasimir pelan sambil melihat korban, seorang siswi salah satu SMT swasta terkemuka di Jakarta yang kini tak bernyawa dan tampak putih tak berdarah. Dahinya mengerut dalam.

“Ya. Satuan reserse yang lebih dulu tiba mengontak kami, setelah melihat keadaan korban yang bersih dari darahnya sendiri dan melihat tulang belulang yang berserakan di sekitar korban”, jelas Inspektur Firman. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Korban benar-benar bersih dari darahnya sendiri. Aku tahu kau sendiri sedang melakukan otopsi ulang terhadap korban seperti ini yang muncul bulan lalu. Dan penyidik juga ingat bahwa korban sebulan dan dua bulan lalu yang muncul juga disertai tulang-belulang yang berserakan seperti ini….”

Cinne menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi dengan wajah sedih. Pemandangan yang mengenaskan, gadis ABG yang dihadapannya itu begitu putih, kaku dan wajahnya tidak terlihat lagi karakteristiknya dan tulang-belulang yang berserakan disekitarnya seolah-olah memenjarakan gadis itu.

Khasimir menunduk melihat keadaan Cinne yang tekun memperhatikan keadaan sekelilingnya, “Kau tentu sudah kenal Cinnamon Bara, Inspektur? Makanya kau menelponku untuk mengetahui keberadaannya bukan?”

“Ya. Kepala Satuan Khusus Polda Jakarta Raya dan saya sudah memperkenalkan diri dan mohon bantuan dari Sang Penjaga yang baru. Maafkan saya menganggu kegiatan anda, Nona.”

Cinne mengangguk saja. Perhatiannya masih tersita oleh gadis ABG yang menjadi korban dan dikelilingi serta difoto dari berbagai sisi oleh petugas forensik yang melakukan pemeriksaan perdana di lapangan.

“Dilihat dari rigor mortisnya, gadis ini sudah tewas lebih dari duapuluh jam. Diperkirakan tewasnya sekitar jam satu kemarin malam. Namun karena tidak ada darah tersisa, tidak terlihat jejak lebam pada kondisi tubuhnya…. untuk pastinya memang butuh pemeriksaan lebih mendalam lagi”. Jelas Inspektur Firman dengan pelan sambil melihat catatannya.

“Kemarin malam bulan purnama, bukan?” komentar Cinne sambil melangkah mendekati tubuh yang kaku itu. Inspektur Firman memberikan tanda agar Cinne diperbolehkan mendekat pada petugas forensik yang menyiapkan tandu dan kantung mayat untuk mengangkut gadis itu ke kamar mayat.

“Ada cerita rakyat yang berdasarkan kemunculan makhluk-makhluk di bawah bulan purnama. Namun kita perlu tahu cerita rakyat yang mana yang mengilhami pembunuhan ini…..” Sambung Cinne tanpa memperdulikan siapa yang mendengar gumamannya, dan perhatiannya penuh pada tubuh yang hendak diangkut petugas koroner.

“Maaf, bisakah bapak-bapak sekalian mundur sebentar sebelum memindahkan dia?” pinta Cinne pada para petugas forensik kepolisian.

Inspektur Firman mengangguk pada para petugas untuk membiarkan Cinne mendekati tubuh anak ABG itu. Cinne mendekat tanpa ragu-ragu dengan tangan terulur hendak menyentuh anak itu.

Khasimir melangkah maju dangan wajah cemas, “Cinner….” Khasimir menegur Cinne, cemas atas apa yang juga dapat dilihatnya.

Cinne menyentuh tubuh kaku anak perempuan yang dikeliling tulang belulang itu dan begitu bersentuhan semua orang yang hadir harus menaungi mata mereka karena kilatan yang tiba-tiba menerangi seluruh lapangan parkir.

Degub jantung yang berdetak cepat seolah-olah hendak berpacu keluar dari dadanya. Dia harus bersembunyi. Sembunyi dari kejaran makhluk aneh itu. Harus sembunyi… sembunyi…

Satu tangannya memegang dadanya, seolah-olah takut detak jantungnya yang berpacu cepat terdengar keluar atau takut jantungnya melompat keluar dari rongga dadanya sementara tangan satunya menutup mulutnya yang bergetar, dengan nafas memburu, matanya perih karena keringat yang menetes ke matanya, dia meringkuk di sudut gelap sambil berdoa dalam hati semoga makhluk itu kehilangan jejaknya.

Suara detak sepatu tinggi yang melangkah tenang, berirama dan terdengar semakin dekat dan dia meringkuk semakin dalam ke tengah-tengah kegelapan. Suara langkah-langkah itu semakin lama semakin terdengar seperti suara kematiannya…

Tidak…

Tidak…

Besok…aku ada janji dengan Bim… ini cuma mimpi buruk… dan saat didengarnya langkah kaki itu menjauh, dia menghela nafasnya dan melepaskan tangannya yang menutupi mulutnya untuk menghapus keringat dan air mata yang membuat matanya perih.

Dia menjerit sekuat tenaganya saat wajah busuk buruk rupa itu muncul dengan menyeringai lebar di hadapannya dan tangannya menyergap lehernya dan mencengkramnya kuat.

Dia ingin bangun dari mimpi buruk ini, tapi tubuhnya tidak mau menuruti perintahnya, tidak bisa bergerak walaupun dia sudah menangis putus asa agar bisa menggerakkan tubuhnya, namun tidak berhasil.

Matanya panas dan pipinya dialiri sesuatu yang hangat, air matanya sendiri dan pandangannya semakin tidak fokus dan kehilangan sinar hidupnya. Semua miliknya sudah dirampas.

Dia habis.

Sementara bulan purnama yang semakin tinggi bulat sempurna di atas kepalanya bersinar dingin dengan cahayanya yang keperakan tidak ambil peduli dengan kejadian di bawahnya. Bahkan tidak juga peduli saat makhluk itu menggeram puas saat melahap semua yang dirampasnya dari gadis malang itu. Bahkan tidak juga peduli saat makhluk itu perlahan-lahan mengambil bentuk manusianya lalu makhluk itu menengadah pada bulan purnama dan mengedipkan matanya pada benda angkasa itu.

Cinne membelai gadis yang sudah tidak bernyawa itu dan menegakkan tubuhnya. Semua mata yang memandang melihat gadis itu seolah-olah memegang sebuah bola mungil yang bercahaya lembut di tangan kanannya yang tadi menyentuh wajah gadis malang tersebut. Cinne membawa bola bercahaya itu ke pipinya dan memejamkan matanya sebelum melepaskan bola cahaya tersebut ke udara. Bola cahaya itu melayang dan berpendar sebelum menghilang begitu saja dari pandangan.

Khasimir menyentuh pundaknya, Cinne menoleh dan mengangkat kepalanya, ekspresinya terlihat bingung dengan apa yang telah dilakukannya tanpa disadarinya.

“Kau sudah menyadarinya, Khasimir?” Cinne memandangi tangannya sendiri dengan wajah aneh.

“Kalau sentuhanmu bisa menetralkan dan mensucikan hal-hal yang sudah dikotori oleh ilmu hitam dan sejenisnya?” Khasimir mengangkat bahunya. “Tugas Penjaga adalah menjaga keseimbangan tempat, waktu dan keadaan, itu yang kudengar dari Tuan Redja Hajo.”

Khasimir meraih tangan yang masih dipandangi Cinne dan menggenggamnya erat-erat, “Apapun yang terjadi, sudah terjadi, walaupun kamu sudah mengetahui bahwa sentuhanmu bisa membubarkan mantera atau ilmu hitam yang mengungkung anak perempuan itu, kau pasti akan tetap membebaskannya karena kamu tidak bisa membiarkan anak itu menderita dan menjadi makanannya.”

Tiba-tiba kilatan lampu blitz menyambar mata mereka, membuat keduanya mengangkat tangan mereka untuk melindungi mata mereka yang silau.

“Sial… geram Khasimir, “aku lupa dengan kehadiran media…”gumam Khasimir setengah menggerutu dan prihatin dengan keadaan gadis remaja yang masih mengerutkan keningnya dan jelas masih memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.

Khasimir memberi tanda pada Inspektur Firman agar mengatur media dan menuntun Cinne meninggalkan pelataran parkir.

Cinne masuk ke dalam mobil Khasimir, sebelum menutup pintunya dia menoleh lagi ke pelataran dan melihat petugas koroner menarik ritsleting kantung mayat berwarna hitam itu dan membawa anak yang kini diketahui namanya Anita ke dalam mobil ambulan jenazah.

Inspektur Firman berlari-lari menyusul mereka dan Cinne menatap inspektur polisi itu dengan tatapan bertanya.

“Kami akan menghubungi Nona lagi besok pagi,” kata Inspektur Firman dengan hati-hati. Cinne yang hanya mengangguk saja tanpa memperhatikan apa yang dikatakan inspektur polisi itu. Inspektur Firman menutupkan pintu mobil dengan pelan dan membungkukkan tubuhnya.

“Hati-hatilah di jalan, dok…” katanya pada Khasimir yang sudah berada di belakang roda kemudi.

“Kirim anak itu ke tempatku untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Kata Khasimir pendek pada inspektur itu sebelum dia menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan lapangan itu.

 

-end of part 3-

 

11 Comments to "[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (3)"

  1. Linda Cheang  1 December, 2011 at 23:45

    serem tapi seru

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.