Banjarmasin Selayang Pandang (1)

Adhe Mirza Hakim

 

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan berkunjung ke Banjarmasin, walau hanya 2 hari 1 malam aku berada di sana, tidak mengurangi niatku untuk mencoba melihat kehidupan masyarakat Banjar dari dekat khususnya suasana “Pasar Terapung” yang sangat dikenal oleh para pelancong jika mampir ke Banjarmasin, begitu juga dengan pusat kerajinan batu permata di “Martapura”, jangan sampai dilewatkan, mari disimak sedikit kisahku selama di Kota Seribu Masjid di Kalimantan Selatan ini.

Jakarta-Banjarmasin, hari pertama

Pesawat delay, rasanya perjalanan dengan pesawat udara tanpa delay merupakan hal yang abnormal, hehe…sangking mirisnya dengan kondisi penerbangan di negeri ini, begitu juga dengan nasib yang kualami dalam penerbangan ke Banjarmasin untuk kali pertama ini. Kepergianku ke Banjarmasin untuk menemui relasiku, ada sedikit urusan yang harus dibereskan, kali ini aku pergi hanya sendiri, tidak bersama rombongan yang biasanya aku bawa, maklum beda urusannya.

Aku sudah mengontak 2 sobat yang kukenal via jejaring sosial yang tinggal di Banjarmasin, lumayan bisa sekalian kopdar, di waktu yang mepet hehe…bisaa aja, Azizah dan Miftah sudah sms ke ponselku, “Sudah sampai di Banjarmasin ‘mba?”  aku ketawa membaca sms itu, lha aku masih terpancang di boarding room Soeta gara-gara delay…yang hanya dihibur dengan sekotak kue, yang rasanya sudah kuhapal, itu lagi…itu lagi.

Sebenarnya aku tiba di Cengkareng dari Bandar Lampung dengan pesawat pagi, jam 7.30 wib sudah mendarat di Soeta, dengan jadwal penerbangan berikutnya pukul 10.00 wib. Ada tenggat waktu 2,5 jam menunggu pesawat berikutnya, lumayan bisa sarapan pagi dulu sambil baca buku, saat check in pesawat baru ketahuan ada kemunduran jadwal keberangkatan dari pk. 10 mundur ke pk. 11, hmmm…. Delay, kadang dia bisa menjadi kutukan atau malah keberkahan buat para penumpang yang “terjebak” dalam kemacetan Jakarta, sehingga telat sampai ke Bandara (maklum….aku sering terselamatkan oleh Delay, hihihi…).

Jam 11 pesawat take off ke Banjarmasin, 2 jam penerbangan lumayan bisa tidur. Cuaca cerah penerbangan lancar jaya, sampai Banjarmasin pukul 14.00 siang Waktu Indonesia Tengah, aku menswitch jam di tanganku, sedang waktu di ponselku ter-update secara otomatis maju 1 jam ke muka.

 

Bandara Syamsudin Noor

Bandara Samsyudin Noor tidak jauh berbeda dengan bandara Raden Intan di Bandar Lampung, aku harus menunggu beberapa saat di counter bagasi, lumayan lama ya…kira-kira 30 menit aku harus bersabar menantinya. Relasiku yang di Banjarmasin sudah menunggu di luar ruang kedatangan, tunggu ya…aku sengaja membawa sedikit oleh-oleh nie, jauh-jauh datang dari Lampung dengan tangan kosong rasanya garing banget deh, hehe… setelah urusan bagasi selesai, aku langsung menemui relasiku, ada sedikit rasa haru menerpaku, karena sudah lama tidak bertemu.

Relasiku, sebut saja mba Tini mengajakku makan siang di restoran Subur, masakan Jawa dekat bandara. Jauh-jauh ke Kalimantan aku makan sayur asem lagi, hehe… Alhamdulillah sesuatu banget! selanjutnya kami berbincang seputar urusan pekerjaan, tidak banyak yang kami bahas pada dasarnya apa yang disampaikan sudah difahami maksudnya hahaha….bingung deh! Ini ngomong apa sih? Biasa urusan emak-emak.

Selesai makan, aku minta diantar mba Tini ke Martapura karena aku akan bertemu dengan sobat-sobatku, mengingat waktu kunjungan di Banjarmasin yang hanya beberapa jam saja (besoknya aku harus terbang ke Balikpapan).  Kota Banjar Baru, merupakan wilayah perluasan dari kota lama Banjarmasin, menurut keterangan mba Tini yang sudah cukup lama menetap di Banjarmasin, wilayah Kalimantan Selatan adalah serambi Mekkah-nya Kalimantan, terbukti setiap radius 500 meter pasti ketemu Masjid atau Mushollah, istilah kota seribu masjid dan seribu sungai sudah menjadi ciri khas kota ini.

Masyarakat yang tinggal di Banjarmasin kebanyakan muslim yang religious, mereka sangat bangga jika anak-anaknya bisa sekolah di Pondok Pesantren, ilmu agama lebih utama wajar mengingat banyak kyai-kyai asal Banjar yang menuntut ilmu agama di Negara-negara Timur Tengah, jadi ingat saat di Tanah Suci, orang Indonesia yang paling banyak jadi mukimin di sana selain orang Madura juga orang Banjar. Mereka lebih mengutamakan berangkat ke Tanah Suci daripada mempercantik rumah, menunaikan ibadah haji di Tanah Suci merupakan cita-cita semua muslim, betul kan?

 

Kopdar dadakan

Seperti yang sudah kusebut di atas yang akan kutemui sore itu adalah Miftahurrahman El-Banjari, penulis muda berbakat dan candidat Doktor dari Universitas Liga Arab – Cairo, yang sudah jadi sahabat ku di facebook selama 2 tahun ini, aku suka dengan tulisan-tulisannya, penuh warna dari yang serius sampai yang jenaka. Tergantung tema apa yang dia sampaikan, tulisannya bisa mengajak kita berpikir sambil tertawa sekaligus, nah ini kelebihannya dalam menulis, tidak terkesan menasehati walau dia sudah meluncurkan satu buku motivasi yang diterbitkan oleh satu penerbit papan atas di negeri ini.

Aku sempat menyesal kenapa tidak membawa bukunya, lumayan bisa minta tanda tangannya kan, karena sebelumnya sempat ada konfirmasi kalau de’ Miftah harus segera pulang ke Mesir, jadi tidak bisa berjumpa. Aku maklum dengan keadaan ini karena urusan kuliahnya harus segera dilanjutkan.

Selain dengan Miftahurrahman, aku juga akan bertemu muka dengan Azizah AZ, hmmm…pasti ayu nie orangnya, aslii baru kenal itupun karena aku ingin minta diantar ke Martapura, pusat belanja souvenir dan cinderamata batu-batuan di Banjarmasin (rekomendasi dari de’ Miftah agar aku menghubungi Azizah). Pukul 4 sore aku tiba di Pusat Belanja kerajinan tangan Martapura. Aku telpon-telponan dengan Miftah, ya ampuun sempat Miftah salah sapa orang lain yang disangkanya aku, hehehe…

Ternyata tampilan Miftah sama persis dengan cover bukunya hehehe… kami saling menyapa untuk silaturahim yang pertama ini sambil menyerahkan sedikit oleh-oleh yang kubawa dari Lampung, tak lama kemudian Azizah datang menghampiri, tuuh kan bener tebakanku, dia sangat lembut dan halus tutur katanya. Karena waktuku yang memang sempit, kami tidak bisa bicara banyak, yang penting sudah menyerahkan sedikit oleh-oleh dan foto-foto bersama, kami juga sempat diperkenalkan dengan bunda de’ Miftah, Alhamdulillah bisa bersilaturahim dengan orang tuanya sekalian.

 

Martapura – Pusat Kerajinan Batu Permata

Pusat perdagangan batu permata dan kerajinan tangan yang aku kunjungi sore ini cukup besar, terpampang gapura besar dengan tulisan “Pertokoan Cahaya Bumi Selamat – Pusat Perdagangan Batu Permata dan Cinderamata – Martapura” , di depan pasar terdapat tugu tinggi lurus yang puncaknya ada batu permata (de’ Miftah bilang, jika orang Jakarta punya tugu Monas, orang Banjar punya tugu Permata, hehehe…mantappss!).

Mengunjungi pusat batu permata ini kalau nggak siap mental, bisa menjebol isi kantongmu kecuali pasokan danamu unlimited, no problem hihi… aku sudah membanned pikiran untuk melihat-lihat toko-toko permata, biar janjinya tidak mau beli tapi godaan iman untuk tetap memiliki permata pasti tidak akan terhindarkan, jalan keluarnya aku hanya ingin menuju ke toko souvenir yang hanya menjual barang-barang cinderamata khas Banjar yang terjangkau harganya dan tidak buat kantong jebol.

Deretan toko-toko batu permata berjejer rapih seolah-olah memanggilku, “Hai…mampir dong,” “Tidaaaak…”jawabku sambil menutup mata, aku putuskan untuk mengunjungi satu toko souvenir yang direkomendasikan mba Tini, yang sudah jadi langganannya. Jelas barang dan harganya kalau tahu langganan.  Aku, Azizah serta mba Tini langsung menuju toko souvenir tersebut (toko ‘Permata Nilam’), aku yang awalnya hanya mau lihat-lihat saja ternyata tak kuasa untuk berbelanja souvenir godaan belanja memang tidak kuasa aku hindari.

Apalagi tiba-tiba masuk request via bbm dari adikku yang minta dibelikan tas anyaman rotan khas Banjarmasin, hadeeuuw…gimana mau traveling ala Backpacker kalau harus bawa oleh-oleh segambreng hehehe….. aku meminta Azizah memilihkan aneka cinderamata yang tersedia, sangking beraneka ragamnya, aku malah bingung mau milih yang mana, yasuud…trima jadi aja dipilihkan Azizah hehe…trims ya adinda, sudah sabar menemani dan memilihkan souvenir buatku.

Sempat ditawari aneka souvenir yang harganya murah banget, saat aku tanya ini produk mana, dijelaskan sama pedagangnya ini buatan China (hebat ya…pedagang Banjar itu kasih tau dengan jujur bahwa itu bukan buatan local, bener kata de’ Miftah, ini salah satu best value dari pedagang Banjar, kejujuran dalam berniaga). Tau itu bukan buatan local (Banjar) aku langsung tolak, jauh-jauh ke Martapura aku justru mencari produk local yang original handmade from Banjar. Akhirnya diberi tahu benda-benda yang asli Banjar, ternyata jauh lebih berkualitas dengan harga yang sangat bersahabat, hehehe…. I love Indonesian product.

Miftah sempat kembali menemui kami, ada cinderamata yang dia serahkan buatku, ternyata ada kain sasirangan khas Banjarmasin dan buku motivasi karyanya yang sudah di tanda tangani nya, Alhamdulillah….waduuh seperti menjawab apa yang aku pikirkan, makasih banget ya Miftah (resensinya belum sempat digarap hikkss sorry ya bro..). Karena harus mengantar bundanya pulang ke Banjarmasin, Miftah berpamitan pulang, memang tidak ada waktu buat diskusi soal buku, maklum deh waktunya memang gak memungkinkan, tapi sudah bersyukur banget bisa silaturahim dengan Miftah bersama bunda.

Azizah menemaniku belanja cinderamata sampai sore, aku senang bisa menemukan tas dan topi dari anyaman rotan, dengan harga yang bersahabat banget, padahal aku muter-muter cari topi ala si Udin nggak ketemu di kotaku, eh di Martapura malah nemu yang bagus. Tibalah waktu untuk berpisah, aku menyempatkan diri untuk berfoto kembali, senang sekali bertemu denganmu de’ Azizah, semoga lain waktu kita berjumpa kembali ya…kalau mau main ke Lampung dengan senang hati aku tunggu ya, hehehe.

Hari sudah semakin sore, aku harus segera check in hotel, beberes barang dulu. Trus… aku milih istirahat di hotel saja, tidak mau keluar malam karena lelah, aku mempersiapkan fisik menunggu subuh, mau ke pasar terapung ceritanya. Alarm BB ku berbunyi pk.3.30, sengaja aku set jam seperti itu.

 

Hari Kedua – Jalan-jalan – Pulang

Menjelang subuh alarm-ku berdering, langsung bersiap-siap untuk menanti jemputan, pk. 04.15 wita aku sudah keluar hotel. Mba Tini bersama suaminya menjemputku, kami menuju pelabuhan Trikora untuk melihat pasar terapung, sengaja dipilih jalan bypass yang jaraknya 27 km dari Hotel tempatku menginap. Jalanan masih sepi…hmm mau ke pasar terapung kudu rela bangun sebelum subuh jadi inget di Bromo bela-belain lihat sunrise sambil kedinginan, kini aku bela-belain mau ke pasar hehehe… tapi ini kan Banjarmasin lho…asli jauh jadi sudah pasti dibelain bangun pagi.

Tibalah kami di dekat pangkalan perahu kelotok, sayup-sayup kumandang adzan subuh terdengar, aku meminta sholat subuh dahulu sebelum ke lokasi pasar terapung, masjid yang aku kunjungi letaknya di tepi sungai, ini masjid letaknya di kampung lho..tapi bangunannya apik. Kalau aku perhatikan, di Banjarmasin masjid-masjid dibangun lebih indah dari rumah penduduknya.

Sepertinya masyarakatnya lebih rendah hati untuk menempatkan masjid jauh lebih bagus dari rumah mereka, bukan sebaliknya, dimana rumah penduduk jauh lebih bagus, suka miris kalau lihat masjid kumuh dan dekil, padahal rumah yang ada dekat masjid terlihat mentereng. Di Banjarmasin justru masjidnya bagus-bagus, sorry ini survey sekali lewat lho…kalau asumsiku ini salah mohon maaf namanya juga melihat selayang pandang hehe…

 

Pasar Terapung – Kuin

Selesai sholat subuh, aku langsung menuju ke pangkalan perahu untuk segera bersiap menuju lokasi pasar terapung di daerah KUIN, Banjarmasin. Perahu kelotok yang disewa mba Tini sudah siap, kami naik ke atas perahu, yang pelan-pelan mulai berjalan menyusuri riak-riak air sungai Barito. Udara pagi terasa dingin apalagi perahu kelotok ini melaju dengan kencang, cipratan air sungai membasahi wajahku. Barisan rumah, masjid, dan bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu dan sebagian beton terapung berada di kanan dan kiri sungai. Harum udara pagi dan uap air sungai menyatu mengingatkan aku pada sungai Musi di kota Palembang, kalau sekilas lintas lebar sungai ini hampir sama, tapi lebih lebar Barito dari Musi.

Sungai Barito menjadi urat nadi kota Banjarmasin, terlihat sungai ini tidak pernah sepi, kapal-kapals besar kecil terlihat melintasi sungai ini, dari jenis kapal tangker, tongkang batubara, log-log kayu gelondongan, perahu nelayan, perahu yang menjadi transportasi sungai sampai perahu-perahu sampan para pedagang sayur dan buah, semua menghidupkan aliran sungai ini. Barito tidak pernah tidur, dia setia menemani orang-orang yang menggantungkan mata pencariannya di sini.

 

Langit masih bewarna agak gelap, tapi suasana di sungai Barito sudah meriah, aku langsung berdiri sambil berusaha menyeimbangkan badan agar tidak jatuh, karena aku sedang berdiri di atas perahu yang berayun di atas riak air sungai. Setelah bisa menguasai keadaan, aku mulai membidikkan cameraku, merekam semua wajah-wajah yang penuh semangat menjemput rizki. Mereka menjajakan barang dagangannya dengan beragam ekspresi, ada yang tersenyum adapula yang acuh, untungnya tidak ada yang pasang muka jutek hehe… bisa nggak disamperin pembeli.

Pasar terapung semakin siang semakin ramai, baik pedagang maupun pembeli, nah pembeli yang kumaksud disini adalah turis domestic yang sengaja menyempatkan diri menikmati suasana pasar terapung, lha gimana nggak tahu, para pembeli ini rata-rata pegang camera buat jeprat-jepret, apa bedanya dengan yang kulakukan.

Mba Tini membeli buah jeruk yang ditawarkan pedagang buah, sedang aku lebih tertarik untuk mencoba warkop (warung kopi) terapung, ingat masa kecilku dulu yang suka beli jajanan dari pedagang kue yang menjajakan dagangannya lewat sungai di belakang rumah nenekku (di Palembang). Orang Banjar menyebut kue-kue itu dengan istilah “Wadai”, cukup unik cara mereka menjajakan wadai ini.

Pembeli diberi sebilah tongkat rotan yang ujungnya diberi  paku, yang gunanya untuk ditancapkan di Wadai yang dipilih, kalau sudah tertancap di paku, tongkat rotannya tinggal di tarik. Kecuali kalau kita mau beli teh atau kopi hangat, harus mendekatkan badan ke perahu warkop, supaya si penjual bisa menyerahkan minumannya tanpa kuatir tumpah.

Aku memesan teh manis hangat dan wadai terdiri dari pisang goreng dan bakwan goreng, nikmat banget menyeruput teh hangat di atas perahu sambil menikmati pagi yang cerah. Nggak kebayang bisa kesampaian juga menyaksikan pasar terapung di Banjarmasin, jadi ingat sama iklan RCTI OK, beberapa tahun yang lalu, begitu terkenal menggambarkan seorang ibu yang menjajakan dagangannya lalu mengacungkan jempolnya sebagai tanda OK. Saat aku memberitahukan niat berkunjung ke Banjarmasin, salah seorang teman menyarankan untuk mengunjungi pasar terapung, tapi harus pergi subuh-subuh, karena pukul 7 pagi pasar itu sudah bubaran. Kebayang aku harus bangun subuh, hehe…masih ngantuk sudah kelayapan menyusuri sungai.

Senang rasanya sudah menyaksikan pasar terapung secara langsung. Mentari pagi sudah mulai terlihat, teringat kalau pagi hari ada sunrise yang bisa diabadikan, aku meminta pak perahu bertahan sejenak.

Mentari pagi mulai memunculkan wajah manisnya, amboiii….indah sekali, semburat warna jingga mencuat dari balik atap rumah yang berjejer rapih di tepi sungai membentuk siluet yang indah, sinar mentari berpedar di air sungai memantulkan kelap kelip cahaya seolah-olah berkata “Selamat Pagi…” aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan Sunrise di tepian sungai Barito ini, kini aku punya kebiasaan baru, jika traveling kesuatu tempat berusaha mencari sunrise dan sunset, lebay banget kesannya hehehe…

Teringat waktu sudah mendekati pukul 7 pagi, aku harus disiplin dengan jadwal padat merayap yang aku susun, teringat harus sudah di Bandara pukul 13.00 Wita, perahu yang kami tumpangi segera meninggalkan lokasi pasar terapung yang masih tampak ramai. Pak perahu menawari kami untuk mengunjungi pulau Kembang.

bersambung…

 

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

30 Comments to "Banjarmasin Selayang Pandang (1)"

  1. Fatso  9 December, 2011 at 22:53

    Dulu dekat bandara ada rumah makan yang khusus menjual udang galah goreng. Saat itu saya berani membawa tim survai saya yang semuanya bule Kanada untuk makan di situ dan semuanya puas, walaupun tempatnya sangat sederhana. Masakan khas yang unik adalah kembang Tegaron yang tentunya akan semakin nikmat jika dipadu dengan udang galah rebus. Ada bau khas kembang Tegaron yang bagi saya wangi, tapi bagi orang kebanyakan di Jawa menyebutnya langu. Saat terakhir kali ke sana saya sangat menikmati wadai Palang Pintu.

  2. Adhe  30 November, 2011 at 11:08

    @pak Han, melas……nelongso…..hehehe itu toh maksud mas JC hehe

    @Uci, iyaaaa ntar kapan2 mampir ke CMX Chiangmai kan??? Hehehe…..asal ada liburan, soal sumbang tulisan buat buku, mauuuu dunk ikutan hehehe.

  3. uci  30 November, 2011 at 11:04

    Pariwisata Di Indonesia harusnya nomor satu tujuan di Lonely planet travel guide, setiap ketemu turis yang baca lonely planet saya selalu bilang, kalau mau lonely, sono keIndonesia, masih banyak tempat yang belum pernah dikunjungi , hayo Balytra, kita terbitin travel Guide Lonely planet Indonesia, hayo siapa yang mau ikut ngerjain buku ini!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. uci  30 November, 2011 at 11:00

    Mau mau kebanjar masin, ikut!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. uci  30 November, 2011 at 10:59

    Adhe,, kalau mau kethailand jangan ke Bangkok atuh, kesini aja, CNX, jamin kering, kecuali nyemplung ke sungai ditengah kota baru basah, so dont worry Thailand masih banyak kog daerah yang kering, buktinya aye masih kering

    salam
    uci

  6. Handoko Widagdo  30 November, 2011 at 10:26

    JCsalah ketik. Mestinya melas bukan malas. (Perlu dikasihani).

  7. Adhe  30 November, 2011 at 09:16

    @mba DA, makasih yaa….commentnya. Hanya mengisahlkan ulang suasana yg terekam melalui foto2 ini sejujurnya lebih banyak foto yg bercerita hehe….

    @JC, bukan malas mas JC tapi hanya soal waktu dan kesempatan hehe

    @cik Lani, halaaah……mau ke Thailand, banjirnya blum surut bener kek nya banyak buaya lepas dari kandangnyaberkeliaran di genangan air banjir hihihi,

  8. Lani  30 November, 2011 at 06:31

    17 AKI BUTO klu belum pernah mengalaminya……hayo mabur, pilih yg mana dl????? BANJARMASIN? THAILAND????

  9. J C  30 November, 2011 at 06:07

    Yang membikin “malas” adalah kok aku belum bisa ke sana…hahaha…malas tenan wis…hihihi…kapaaaannn bisa ke situ…

  10. Dewi Aichi  30 November, 2011 at 05:39

    Komen 17, wah…yang ini asli…laporan mba Adhe…kalau yang di tv itu kan pesanan sponsor wkwkwkw….

    Tapi bener kok mba Adhe….setiap laporan perjalanan selalu dikemas dengan apik….mempesona…tidak bikin malas untuk membaca setiap cerita mba Adhe…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.