Dwi Klik Santosa
Selamat pagi, sahabat. Sedang apakah dirimu? Sedang bercengkerama dengan daun-daun yang hijau bugar atau bergurau berkelakar bersama burung-burungkah? Atau jangan-jangan sedang kau renda ayat-ayat matahari yang berkisah tentang kesadaran yang hangatnya mampu menggetari setiap hati untuk bergelora mencintai hidup dan pencipta. Yupi! Betapa hepi hidupmu, sahabat.
Oh, ya, di tempatmu sekarang tinggal sedang musim apakah? Musim labuh, musim kemuning atau musim semi. Musim bercinta bagai para makhluk di sepanjang hayat, si sepanjang masa. Begitukah? Ah, ya, aku tahu. Di tempatmu tinggal, sudah tidak ada lagi musim rontok, musim gugur atau musim bencana. Di alammu yang abadi, betapa serba senyap, hawa dan iklim kau rasai, kau kenyami. Tidak seperti negeri dimana aku tinggal kini. Seperti tempat tinggalmu sewaktu engkau dulu pernah menjadi pejalan yang tak kenal lekang, juga …. sepertiku.

Wahai, sahabatku. Jika aku datang lagi kini. Engkau pasti tahu, apa yang terjadi. Ya, ya, … memang aku selalu mengiri kepadamu. Selalu tak berdaya, karena nasib dan perjalanan hidup yang tak pernah bisa kita tawar dan tolak. Aku mencoba tenang memasuki realitas. Mencoba hampa sebagai diriku sendiri. Tapi toh, tidak semudah konsep digagas dipikirkan. Alamku hidup sungguh beda dengan alammu sekarang hidup.
Baiklah, baiklah, kawan. Aku tidak akan memperlebar lagi kecemburuanku. Kuakui aku yang lemah dan cengeng selalu begitu. Selalu begitu. Maafkan aku, ya.
Kalau begitu, aku ingin bercerita saja kepadamu, tentang perjalanan tahun ini, 2010, masa dan musim-musim yang baru saja kualami. Bencana, musibah dan prahara, ya, ya, ya … masih melulu begitu. Kekuasaan dan pemerintahan yang gombal dan banal. Hegemoni asing yang munafik dan bisa membeli cerdik pandai kita juga masih begitu …. Dunia yang marah! Ah, kau tahu, bukan … kurasa itu hanya lampiasan dan ulah manusia banal yang kesal dan panik. Cipta dalam pikirnya: aleman dan ketidakberdayaan belaka. Politisasi begitulah, ketidakmampuan itu lalu masuk ke dalam ranah yang dangkal dan menjijikkan. Apa guna kita belajar moral, mendidik diri pandai akan banyak hal. Politisasi melulu mengelabui dan memperdaya saja. Ambisi dan nafsu manusiawi yang barbar!
Kerukunan dan kesejajaran antar manusia. Ah, ini wacana yang rumit, dan masih pelik diaktualisasi. Sifat manusia yang kehewanan masih menandai, mendominasi. Homo luden. Homo homini lupus. Betapa itu selalu begitu. Selalu begitu. Kearifan seperti yang ditulis-tulis para cerdik cendekia, masih rumit, masih pelik diekspresi, diaktualisasi, dan dijalani nyata. Apakah sejatinya …. Aduuhh … iya, iya, iya … maafkan aku sahabat. Masih selalu begini ceritaku. Masih begini.
Oh, iya. Aku ingin bercerita. Pagi ini aku disapa manis oleh seorang teman yang jauh sekali asalnya. Ia tinggal di negerinya Ronaldinho. Ramah, manis dan hepy sekali. Beberapa kali tulisanku bahkan dimuat di medianya. Dipamerkan, dibanggakan ke teman-temannya, hasil pegaulannya yang luas di seantero dunia. “Ayo, mas, masuk ke keluarga kami. Menulis lagi tentang keseharian yang indah dan asyik.” Aduuuhhh … betapa manis si mbak ini. Betapa ini mengesankan untuk dicerna dan diresapkan ke dalam sanubari. Setiap pagi. Ya, setiap pagi dalam beberapa hari ini, dia selalu datang di inboxku. Kau tahu, ini indah, bukan …
“Saya mengalir saja, mbak. Begitu tulisan saya, begitu hidup saya.” Kutuliskan begitu kepadanya. Dan betapa tidak mudah, kau tahu, menerima sebuah ajakan atau tawaran. Meski itu bernilai baik dan hebat sekalipun. Apakah senantiasa kita bisa mengiyakan atau bisa bilang tidak bahkan, kepada permintaan seorang teman baik?
Di alam kenyataan, realitas ruangku hidup, sebuah mimpi bisa diartikan banyak makna. Bisa berupa optimisme. Apriori bahkan sinisme. Kenyataannya, memang rumit bukan, memiliki sebuah mimpi. Jika kita terlanjur mengatakannya dan diketahui banyak orang, lalu kita hanya manyun dan melenguh saja bagai kerbau piaraan yang lupa diberi makan, tidak salah bukan, jika orang-orang ramai mengatakan mimpi itu hanya sebuah igauan atau bunga tidur saja yang suka digembar-gemborkan.
Sahabatku, sebagaimana hidup pernah kita jalani bersama. Kau pasti sangat memahami apa arti sebuah mimpi. Mimpi kita masih mimpi yang sama, bukan. Jika peluru panas itu sudah merenggutmu, lalu mengantarmu menuju, bukankah itu justru menjadi klimaks dari mimpimu. Menjadi pejuang yang tanpa pamrih, hanya demi ingin menyaksikan semua orang tersenyum. Betapa mimpi telah kau jalani sebaik-baiknya. Segagah-gagahnya. Tapi mimpi itu kini …. adakah dan masihkah menjadi mimpi-mimpi yang lainnya … apakah ini absurd. Apakah ini mengada-ada … sebagaimana dulu kita selalu ramai berdebat soal mimpi-mimpi HC Andersen atau Nietzche tentang nikmatnya era peradaban baru, dimana akan dihuni oleh para makhluk manis yang tak gemar melulu berpolitik untuk saling mengelabui dan memperdaya. Tentang sebuah negeri yang gemerlap dan gemilang karena dihuni para seniman dan pesastra yang indahnya tulisan dan karya tidak melulu digoreskan dengan menggombal dan menghayal. Tentang manusia-manusia elok penghuninya yang bisa bercakap-cakap mesra serta tak berjarak satu sama lain, begitupun dengan pohonan, burung-burung, matahari, bulan, bumi dan segugus planet di semesta ini.
Pagiku makin panas. Matahari kita sudah meninggi. Kenyataan harus dihadapi. Dan mimpi itu meskipun masih dan selalu mengandung misteri, harus dijalani .. harus diyakini. Wahai sahabatku yang baik dan agung, selamat beristirahat. Kusudahi dulu ya ceritaku. Eh, … curhat dan keluhku. Jika kini kau melotot dan marah kepadaku, aku maklum. Memang masih begini adaku. Jika kini kau senyum-senyum dan teduh menatapku, ya, ya … memang selalu begitu adamu. Engkaulah sahabat yang sempurna bagiku … semuanya yang kukagumkan tentang sebuah sosok ada padamu. Kejujuran, ketulusan, kepolosan, kegigihan dan keindahan sebagai makhluk pejuang. Terima kasih, sahabat … kau tahu, aku menangis kini. Aku masih menangis … maafkan, aku. Maafkan aku.
Depok
3 Januari 2011
: 06.45
December 1st, 2011 at 11:52
persahabatan memang tidak mudah, tetapi bisa dilaksanakan denqan dasar ketulusan.
November 30th, 2011 at 02:06
Saya tidak punya banyak sahabat…tidak sampai 10…Kenalan saya mungkin ribuan…tapi SAHABAT saya mungkin hanya 4- 5 orang
November 29th, 2011 at 22:39
Makin banyak sahabat-sahabatku di seluruh dunia…ada di lebih dari 120 negara…
November 29th, 2011 at 15:25
Elnino he he he….mudah mudahan memang iya, untuk aku ini surat, sebagian dari paragraf…iya kan mas Dwi? Awas ya kalau bukan, nanti tak suruh menek pohon jambu di kebunnya Pak Handoko…kan deketan,
Eh….Tumpuk sudah insap lho yaaaa…..insap dia…sudah masuk kursus…bahasa Inggris dengan rajin.
Tapi mas Dwiii……aku memang salah satu pengagum karya karyamu…..!
November 29th, 2011 at 15:20
Teimakasih kasih sahabatku, sebuah surat yang sederhana, tapi indah dan sangat menyejukkan hati. Persahabatan antara mudah dan tidak mudah, tapi betapa aku ingin..persahabatan ini nanti akan abadi.
Persahabatan hanya butuh senyum, jujur, dan tidak saling menyakiti, persahabatan selalu ada dalam setiap keadaan.
November 29th, 2011 at 09:37
Mas DKS, surat ini ditujukan pada si centil Tumpuk eh, Dewi Aichi ya… Dia memang sangat layak dijadikan sahabat, mas… Saya setuju itu…
November 29th, 2011 at 08:19
Terma kasih untuk suratmu sahabatku. Perjalanan hidup memang sebuah misteri. Kadang berjalan begitu saja tanpa kita sadari. Kadang penuh gejolak kegembiraan atau kesedihan. Jadi ya…seperti yang engkau bilang…kita jalani saja.
November 29th, 2011 at 07:00
satoe