Kehidupan di Suatu Kompleks

Adhe Nita

 

Sudah bukan pemandangan baru bagi ku melihat ibu-ibu kompleks mengumpul setiap sore di depan rumah bu Lely, karena memang rumah itulah yang dibilang memiliki halaman cukup lumayan besar sehingga para ibu-ibu nyaman untuk berkumpul dan bertukar informasi apa saja di sana.

Pemandangan yang sangat berbeda aku saksikan di daerah yang masih sangat asri dan masyarakatnya pun masih primitip, sehingga mereka hanya tahu pagi hari mereka keladang atau sawah untuk bekerja lalu sore harinya mereka pulang kerumah dan malamnya mereka gunakan untuk beristirahat begitu saja setiap harinya yang mereka lakukan, sangat berbanding terbalik dengan para ibu-ibu kompleks yang hobi sekali ngumpul-ngumpul untuk bertukar informasi walau terkadang berujung membicarakan orang lain atau bahasa kerennya bergunjing (bergosip).

Suatu sore yang sangat cerah, aku melewati rumah bu Lely berbeda dari biasanya rumah ini sangat sepi bagai tidak berpenghuni mungkin bu Lely dan keluarga memang sedang tidak ada di rumah, sehingga ibu-ibu kompleks tidak berkumpul di sini. Akhirnya aku lanjutkan perjalanan ku ke desa yang tidak jauh dari kompleks tempat aku tinggal bersama keluarga. Aku adalah Halimah putri ke dua dari tiga bersaudara, kebiasaan ku setiap sore adalah mengajak adik laki-laki ku yang bernama Galuh untuk bermain bola bersama anak-anak di desa dekat kompleks tempat kami tinggal.

Galuh sangat menyukai kegiatan sorenya sebab dia merasa memiliki banyak teman dan bisa bermain dengan banyak orang, tidak seperti anak-anak kompleks yang bermainnya memilih-milih teman dan terkadang mereka terlalu asik dengan mainan yang mereka miliki yang dibelikan oleh ayah dan bundanya sehingga tidak terbentuk karekter anak yang bersosialisasi dan mereka tidak merasakan suatu keindahan yang sebenarnya dimana mereka dapat benar-benar menikmati masa kecilnya yang tidak akan bisa terulang, tapi Galuh amatlah beruntung ayah dan bunda di rumah tidak mengatur dengan siapa dia harus bermain dan harus bagaimana dia, ayah dan bunda selalu berpesan pada anak-anaknya kalau mereka bisa menjaga diri dan kepercayaan atas kebebasan yang ayah dan bunda mereka berikan.

Sudah empat bulan, aku selalu mengantar Galuh bermain dengan teman-temannya di desa ini berati sudah empat bulan pula aku selalu melewati rumah bu Lely yang megah itu setelah kepindahan ku dan keluarga dari Jogjakarta.

Keanehan terjadi di rumah bu Lely awal bulan lalu, ibu-ibu yang biasanya berkumpul kini bergantian keluar masuk rumah itu dan sang pemilik rumah tak terlihat batang hidungnya, ”Kemana dia?”tanya ku dalam hati.

Namanya juga berita dari mulut kemulut itu lebih cepat sampai dari pada berita dengan tulisan, entah itu kabar burung atau apa namanya sampailah berita tidak sedap di telinga ku bahwa bu Lely sakit karena diguna-guna orang yang merupakan saingan bisnis suaminya, suami bu Lely adalah pengusaha tekstil yang sukses.

Berita yang ku dengar kemarin semakin jelas dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan antara ibu Yanita , ibu Dewi , dan ibu Poppy di warung kelontongan milik ibu Rindi.

“Ibu-ibu, tahu gak si bu Lely sakit karena diguna-guna sama rekan kerja suaminya aduh hari gini masih ada saja ya yang pakai ilmu hitam seperti itu”ibu Rindi sang pemilik warung memulai percakapannya.

“Ya jeng, masih ada saja yang seperti itu di jaman yang semodern ini di mana teknologi sudah semakin canggih setiap harinya”bu Poppy yang memang ibu gaul diantara ibu-ibu yang ada di warung itu mengiyakan ucapan bu Rindi.

“Bener banget bu” “Ya, bener banget deh” ibu Yanita dan bu Dewi saling mengiyakan bergantian.

Sekitar lima menit dari obrolan itu mereka telah selesai dan membawa belanjaan mereka menuju rumah masing-masing.

Hari-hari berlalu, rumah itu masih lengang hanya ada tamu yang bergantian datang menjenguk ibu Lely yang masih sakit. Keadaan suasana kopmlek ini berubah empat puluh lima derajat dari suasana biasanya yang ramai saat sore itu tiba, semua berubah semenjak sakitnya bu Lely yang biasanya paling heboh kalau lagi kumpul-kumpul sekarang sepi dan lenggang.

Dua bulan sudah bu Lely dirawat di rumahnya, tiba-tiba kondisi bu Lely memburuk dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keluarga panik dan tetangga yang mengantar pun tegang menunggu kabar dari dokter yang memeriksa di dalam ruang ICU termasuk aku waktu itu yang mengantar bu Lely, sekitar satu setengah jam dokter yang memeriksa bu Lely pun keluar dari ruang ICU, pak Dani menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan istrinya.

“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?”pak dani bertanya pada sang dokter

“Istri anda harus dirawat di sini, agar saya dapat memeriksa perkembangannya. ” Dokter pun memberi tahukan agar ibu Lely melakukan rawat inap.

“Baiklah dok, saya akan mengurus administrasinya untuk rawat inap istri saya, permisi dok. ”pak Dani mengiyakan dan permisi pada dokter hendak ke ruang administrasi.

Sekitar empat puluh menit pak Dani mengurus administrasi rawat inap, bu Lely di pindahkan keruang perawatan biasa tidak di ruang ICU lagi.

Tiga hari sudah bu Lely dirawat di rumah sakit ini, keadaannya sedikit membaik segala tes laboratorium dilakukan hasilnya harus menunggu kurang lebih empat hari lagi. Saat ini hanya obat dan suplemen untuk memulihkan keadaan bu Lely.

Empat hari pun sudah berlalu, hasil tes yang dilakukan bu Lely pun sudah keluar dokter memanggil pak Dani ke ruangannya.

“Silakan duduk pak, ada yang ingin saya sampaikan dan jelaskan tentang penyakit yang menyerang istri bapak”ujar dokter pada pak Dani.

“Terimakasih dok, hmm. . istri saya sakit apa ya dok?”tanya pak Dani penuh kecemasan.

“Begini pak, istri bapak itu menderita tumor yang ada di bagian mulut rahimnya nama penyakit ini lebih dikenal dengan istilah kanker servik, memang sekarang ini sedang banyak sekali penyebaran penyakit ini dan penyebabnya ada banyak yaitu diantaranya adalah kurangnya perawatan dengan bersih pada bagian vagina sehingga virus ini aktif bekerja dan daya tahan tubuh istri anda yang lemah tidak dapat melumpuhkan virus-virus tersebut, memang penyakit ini tidak ada gejala awal tetapi kalau tumor itu membesar akan membuat rasa sakit saat buang air kecil dan keputihan yang sangat tidak wajar, sebaiknya bu Lely mendapatkan perawatan di rumah sakit ini dulu kalau sekiranya kondisi sudah membaik barulah dilakukan rawat jalan karena ini baru stadium dua kalau sudah parah bisa menyebabkan kematian”penjelasan dokter pada pak Dani atas penyakit yang diderita istrinya.

“Oh begitu ya dok, baiklah saya akan ikuti saran dokter yang penting istri saya sembuh”begitu jawab pak Dani.

Kurang lebih tiga minggu bu Lely dirawat, akhirnya di perbolehkan pulang untuk rawat jalan, dan berobat dengan rutin akhirnya penyakit itu pun sedikit demi sedikit mulai menghilang dan bu Lely bisa sehat kembali.

Ternyata selama ini bukan diguna-guna tetapi bu Lely menderita sakit kanker servik karena dia kurang merawat kebersihan vaginanya, ibu-ibu pun mulai berkumpul dan bergunjing tentang apa yang mereka dengar tentang penyakit yang diderita oleh bu Lely. Memang ibu-ibu kompleks berita apa pun selalu cepat sekali menyebarnya, dan pastinya berita itu samapilah ke telingaku juga.

Sangat berbeda dari sebelumnya rumah megah yang berhalaman luas itu kini tak lagi ramai oleh ibu-ibu kompleks karena sekarang ibu-ibu kompleks mulai menjauh dari bu Lely dan mereka lebih senang bekumpul saat ada arisan ibu-ibu komplek saja yang diadakan sebulan sekali di rumah yang mendapatkan arisan jadi selalu bergilir dan berpindah-pindah rumah.

Kini, aku dan keluarga ku sudah satu tahun tinggal di kompleks perumahan ini dan aku masih seperti biasanya mengantar Galuh bermain bola di desa yang berada tidak jauh dari kompleks.

 

24 Comments to "Kehidupan di Suatu Kompleks"

  1. adhe nytha  4 December, 2011 at 22:21

    @ka linda: ya kak tp semoga saja komplek tmpat kk gk bgtu ya ka

  2. anoew  2 December, 2011 at 00:06

    Waaaaah…. Ada V (virus) di miss V(vagina)… Jadinya vivi dong, atau viva..

    Dulu saya juga sempet lewat di suatu komplek di daerah jakart timur, bukannya ngrumpi tapi kebanyakan penduduknya ramah-ramah dan agresif.

  3. Linda Cheang  1 December, 2011 at 23:27

    tinggal di komplkes, ya, mesti siap dengan berbagai macam isu dan gosip, ya?

  4. adhe nytha  1 December, 2011 at 17:00

    Bunda nu2k: ya bun walau dhe gak tinggal di komplek tp sebagian besar hampir seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.