Makna Sebuah Kegigihan

Meitasari S

 

Suatu sore sepulang mengajar, aku termangu di depan layar televisi di kamarku. Terpukau mengikuti kisah seorang ibu renta bernama, Waginah. Ia berusia 80 tahun, kegigihannya bertahan hidup membuat aku merasa malu pada diriku yang seringkali manja. Kepanasan sedikit saja sudah membuatku mengomel. Hmmmm…..

Ibu Waginah, seorang yang telah termakan usia, namun tak menyerah pada kerasnya hidup. Tak mau menyandarkan hidupnya pada belas kasihan. Di usianya yang ke-80, ibu Waginah masih bekerja sebagai buruh gendong di sebuah pasar di Solo, naik turun tangga, merupakan hal yang biasa buatnya. Ahhhhh…. Betapa sebuah kegigihan yang harus kuteladani.

Seringkali putra-putrinya, meminta beliau untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh gendong. Tapi tetap saja ibu Waginah menolak. Bahkan seorang putrinya yang bekerja di tempat yang sama dengan profesi yang sama, cukup kewalahan membujuknya untuk pulang ke rumah mereka setiap harinya, sekedar melewatkan kebersamaan dengan keluarga dan melepas lelah bersama suami dan anak cucu.

Ia memilih tidur di emper toko pasar. Ibu Waginah hanya pulang ke rumahnya 2 minggu sekali. Itu pun hanya 2 hari saja. Alasannya adalah tubuhnya yang renta tak mampu diajak bolak-bolak, pulang-pergi, juga katanya sayang, uang transport untuk bolak-balik itu bisa dikumpulkannya untuk membeli beras dan oleh-oleh untuk cucunya.

Sebuah keinginan yang sederhana, yang membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Ketabahan menerima keadaan dan berdamai dengan segala kekurangan, inilah hal yang harus kupelajari…… Terimakasih Ibu Waginah, yang mengajarkan padaku arti sebuah kegigihan juga pengorbanan.

 

Semarang, 29 November 2011

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

92 Comments to "Makna Sebuah Kegigihan"

  1. Meitasari S  6 December, 2011 at 03:55

    Kakang DJ : wow, luar biasa! Kalo rencana kakang benar maka mei akan coba minta tlg pak han, krn pak han tgal dsana. Kalo tdk salah pasar klewer. Atau kalau pas k solo akan mei cari..

    Ah kakang baik bnget sih….

  2. Meitasari S  6 December, 2011 at 03:51

    Wanham : yah kebahagiaan itu relatif bukan?

  3. Dj.  6 December, 2011 at 02:54

    Hallo….hallo…hallo…..

    Selamat Pagi dari Mainz, untuk anda semuanya…
    Mbak Kornelya dan ibu Matahari yang Dj. kasihi……
    Maaf kalau Dj. ikutan nimbrung sharing anda berdua….
    Kalau tidak salah, maka Dj. pikir Dj. bisa mengerti jalan pikiran anda berdua.
    Dj. anggap mbak Kornelya benar dan ibu Matahari juga benar…

    Mbak Kornelya….

    1. Kita tidak tau situasi ibu waginah yang sesungguhnya, mengapa dia menolak permintaan anak-anaknya.
    Bahkan memilih tidur diemperan toko.
    2. Memang banyak ( tidak semua ) orang tua, yang merasa bangga, bahwa masih bisa berusaha sendiri, tanpa bantuan orang lain.
    Bisa jadi, memang itu sudah menjadi rutinitas kehidupan yang dia inginkan, selama dia masih kuat.
    Kalau hidup turut anak-anaknya ( yang barmaksud baik ), “mungkin” beliau malah jadi sakit-sakitan.

    Ibu Matahari….

    Perasaaan kasihan, tentu saja ada, kalau melihat orang tidur diemperan toko, dengan menahan angin dan dinginnya malam.
    Jangankan yang sudah tua, yang mudapun Dj. juga tidak tega melihat tidur di emperan toko.
    Dj. sangat mengerti perasaan ini, apalagi untuk ibu Wagina yang sudah sangat lanjut umurnya.

    Nah….
    Oleh sebab itu, mari kita tanyakan ke Mei, apa dia tau atau bisa cari informasi, dimana ibu Wagina tersebut bekerja sebagai kuli gendong.
    Kita cari tau dan kita bantu dia dengan mencarikan kontrakan kamar ( indekos ) , yang dekat dengan tempat dia bekerja.
    Dengan demikian, beliau tidak harus pulang kerumah dan yang paling penting tidak harus tidur diemperan toko.
    Bangun tidur, beliau bisa pergi kerja yang cukup dekat.
    Nah kita iyuran bersama, Dj. akan ikut andil dalam hal menolong ibu Wagina.
    Kalau mbak Kornelya dan ibu Matahari, belum mau, maka Dj. bersedia membiayai, asal tau dimana ibu Wagina hidup dan bekerja.

    Maaf…bukan Dj. mau sok tau, tapi….
    Daripada kita hanya diskusi saja, tapi tanpa ada yang mau bergerak untuk menolong ibu Wagina.

    Hal ini Dj. anggap serius, kalau mbak Kornelya dan ibu Matahari memang kasihan dengan ibu Wagina, agar tidiak tidur diemperan toko
    dan bisa bekerja setiap harinya seperti yang beliau inginkan.

    Maaf bila kata-kata Dj. diatas tidak berkenan dihati anda semua.

    Salam Sejahtera dari Mainz.
    Dj. 813

  4. Wahnam  5 December, 2011 at 10:46

    Menurutku Ibu Waginah memang sudah seharusnya pensiunan melihat saran putra putrinya untuk meninggalkan perkerjaan buruh gendongnya. Tetapi… kayaknya dilihat dari sisi Ibu Waginah yg memiliki konsep berpikir lain, yah kadang memang susah merubah pola berpikir ortu apalagi sudah berumur 80 tahun.

  5. matahari  3 December, 2011 at 15:48

    Kornellya..apa ada orang bahagia tidak hidup ditengah tengah keluarga …apalagi orang Indonesia? seperti Ibu Waginah itu.. usia DEALAPAN PULUH TAHUN !!!! .tidur di emperan…pagi ke sore jadi buruh gendong….perasaan anda dimana sih ??? dan kembali ke keluarga hanya beberapa hari dalam 2 minggu…Ibu itu TIDAK ADA PILIHAN HIDUP….harus seperti itu supaya dia bisa bertahan hidup….

  6. Lani  3 December, 2011 at 08:19

    MEITA : yo kuwi…makane aku kan udah ngomong bolak-balik, kamu udah punya soale aku udah komentar di artikelmu…..hayooooooo cepet kutunggu ngirim email test……..

  7. Meitasari S  3 December, 2011 at 07:12

    lya : btul skali. Aku jg yakin mbah waginah sngat bahagia dgn pilihan hdupnya. Luar biasa ya! Aku harus belajar dr dia.

  8. Meitasari S  3 December, 2011 at 07:10

    matahari : ya memang tgantung drmana kt mau membidik potret mbah waginah. Kalo aku yg kubidik adalh kegigihan nya. Luar biasa.! Tp aku yakin ia bahagia, sangat bahagia.! Dalan tayangan sore itu, tiada airmata keluh ataupun airmata spt yg biasa ku lhat dlm acara2 sejenis.

    Tx ya sdh membaca dan membidik mbah waginah dr sudut yg lain. Salam!

  9. Meitasari S  3 December, 2011 at 07:05

    yu lani : yu apa btul email yu lani yg dpn nya ada her… itu?

  10. Kornelya  3 December, 2011 at 05:27

    Matahari, jika dia tidak bahagia dalam menekuni pekerjaannya, pastilah dia sudah meletakan bakulnya dan mengikuti saran anak-anaknya. Nonsense for you, but possible for others. Measurement of happiness is not one size fit all. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.