Badut

Seroja White

 

Setelah memoleskan bedak yang cukup tebal, kini aku menggunakan pemerah bibir pada wajahku, membentuk pola polkadot pada kedua tulang pipi, juga bibir. Tidak lupa kukenakan bantalan busa pada perut dan bokong, finishing kukenakan baju khas dengan aneka warna dan sepatu super gede berwarna pink.

“Mas…mas acaranya sudah mau dimulai tuh!”.

Seorang panitia acara memanggilku untuk segara keluar. Lalu aku tergesa keluar dari ruang ganti yang disediakan sang tuan rumah. Doaku hanya satu, semoga penampilanku malam ini dapat mengundang gelak tawa dan anak-anak itu suka denganku.

Kumasuki ruangan tempat acara berlangsung. Alunan lagu anak-anak berkumandang dengan gegap gempita, segera kehadiranku mencuri perhatian para undangan yang hadir, rata-rata anak-anak dan beberapa orang dewasa. Tentu saja inikan acara ulang tahun anak-anak. Mana mungkin acara kawinan hiburannya badut.

Lalu aku melengak-lengok mengikuti alunan lagu, sesekali melambaikan tangan pada anak-anak itu dengan ekspresi wajah ramah dan selucu mungkin. Seorang anak usil, menarik-narik ujung bajuku. Hampir saja aku terjatuh, karena keseimbangan tubuhku yang kurang kokoh, sepatu yang kupakai ini kebesaran.

Tak lama acara puncak dimulai, acara tiup lilin dan potong kue. Sekilas mataku menatap tulisan besar yang terpampang pada dinding, SELAMAT BERULANG TAHUN REYNATA SURBAKTI YANG KE- 7.

Awalnya aku tak mengindahkan tulisan nama di dinding itu. Kini mataku tertuju pada si tuan rumah yang berulang tahun. Seorang gadis kecil dengan dua kepang di mbutnya serta pita berwarna-warni sebagai penghiasnya. Lucu dan juga menggemaskan.

Seorang wanita cantik sepertinya ibunya si Rey, tampak ramah menyambut para tamu. Terlihat dandananya sangat berlebihan, seluruh lengan dan jarinya berhias perhiasan berkilauan, sudah sepeti toko emas berjalan saja. Gaunnya juga tampak mahal.

Acara selesai para tamu juga sudah pulang, Rey memintaku untuk berfoto bersama.

“Rey, lihat itu papa datang!” Gadis kecil itu segera berlalu dariku, berlari menuju sosok yang di sebutnya papa. Merasa tugasku sudah selesai segera aku bergegas dan berkemas,

“Om badut, sini dulu om!” teriakan Rey mengurungkan lankahku.

“Rey mau foto bareng sama om badut dan papa.” Jemari mungilnya menarik-narik lenganku dengan tergesa, aku turuti saja kemauan gadis kecil itu.

Mataku nanar, kerongkonganku terjekat seperti ada yang mencekik. Lelaki itu yang disebut papa oleh Rey adalah….

***

Senja tinggal seteguk lagi, langit mulai menghitam, tapi aku masih terpaku di sini, di pusara ibu.

“Ibu, kau tahu dengan siapa aku bertemu tadi. Aku bertemu dengan laki-laki itu bu..”

Laki-laki yang sepuluh tahun lalu kusapa ayah, namun setelahnya aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan si bangsat.

“Ibu tahu? Ternyata bangsat itu menyiakan kita demi wanita demit yang menjanjikan kecantikan dan kebeliaannya.”

Gigiku bergemeretuk, bukan karena gerimis sore ini yang mulai merinai, tapi pada wajah-wajah mereka yang serupa hantu dan membayang di kepalaku. Perlahan muncul sosok Rey silih berganti, ternyata gadis kecil itu adalah adikku.

“Ibu andai saja tadi aku tak ingat pesanmu, sudah kuhabisi si bangsat itu, biar dia tahu bu, rasa sakit yang kita rasakan!”

***

Dahulu bertahun-tahun setelah ditinggal pergi ayah, tidak pernah kulihat ibu tersenyum dengan bahagia. Suatu hari ada rombongan badut keliling lewat di depan rumah, badut itu melenggak lenggok dengan iringan musik dangdut, lucu sekali. Ibu sampai tergelak tawa.

Aku berpikir kalau saja aku jadi badut pasti ibu akan tertawa sebahagia itu setiap hari dan mulai saat itu cita-cita terbesarku ingin menjadi seorang badut. Tapi sayang sebelum kulihat tawa itu membingkai di wajah ibu, ia pergi untuk selamanya, karena sakit dan tak terobati. Kini aku telah menjadi seorang badut ,

Suatu pagi ada berita yang menghebohkan tentang pembunuhan di surat kabar ibu kota, “SEORANG PENGUSAHA BERINISIAL TS TEWAS DI PELATARAN PARKIR, DIDUGA DI BUNUH SESEORANG YANG BERPAKAIAN BADUT” Kejadian ini terekam oleh camera cctv yang ada di tempat kejadian.

 

14 Comments to "Badut"

  1. Seroja  6 December, 2011 at 01:00

    [email protected] semoga bukan si anak, biarkan itu badut lain…

  2. J C  5 December, 2011 at 13:41

    Waduh, waduh, endingnya mengejutkan lagi…tapi apakah benar yang membunuh si anak yang sekarang jadi badut? Jangan-jangan orang lain? Ah… cerita Seroja White selalu dahsyat endingnya…

  3. Seroja  4 December, 2011 at 11:19

    [email protected] salam jabat erat hati…^_^

  4. Rosda  4 December, 2011 at 01:44

    Tarik nafas setelah membacanya…salam kenal Seroja White.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.