I’m a nervous freak o.O

Juwita Setiono – Sydney

 

Sampai juga harinya… Sabtu, 30 April 2011, jam 11.10 siang. Lokasi Shire Blood Service Centre, Miranda. Sekitar 17 menit (menurut GPS yang tidak memperhitungkan kondisi lalu lintas).

Cari parkir mudah, cari gedung nomer 29 susah. Akhirnya, aku mampir ke kantor Polisi dan tanya alamat. Di jalan tidak terlihat satu manusia pun, karena sedang hujan… pastinya lebih enak tinggal di rumah saja.

Hujan rintik-rintik berubah jadi hujan cukup deras. Tanpa berbekal payung aku lari-lari menuju ujung jalan lalu belok ke kanan, seperti petunjuk dari pak Polisi.

Lima menit aku sudah sampai di depan gedung dan segera menuju pintu utama yang bertuliskan AUSTRALIAN RED CROSS BLOOD SERVICE CENTRE.

Langsung dag-dug-dag-dug… Jantung berdetak lebih cepat. Aku merasa senang akhirnya bisa menepati janji yang sudah aku buat 3 tahun lalu. Janji untuk menyumbang darah! Entah kenapa waktu itu aku bukannya janji akan menyumbangkan uang tabunganku (yang memang tidak seberapa, tapi kan bisa aku kumpulkan), atau janji untuk bekerja sukarela di satu yayasan (tenaga bisa aku siapkan).

Menyumbang darah!? Prosesnya bagaimana? Seberapa banyak yang akan diambil? Apa efek sampingnya? Berapa lama jarum menancap di lenganku ya? (nadi tampak jelas di lengan kiri atau kanan?) Kalau setengah jalan aku pingsan bagaimana?

Belum sempat aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang melintas di pikiranku, aku sudah harus masuk menuju meja receptionist.

Ruangan yang rapi, resik, terang benderang, full musik! Di ruangan ini ada tiga orang sedang duduk santai sambil membaca buku, mengirim SMS dan yang satu lagi sedang mengambil segelas air minum.

Oh yaa.. aku sudah siap dari sehari sebelumnya. Sesuai petunjuk aku harus banyak minum, setengah galon sudah aku habiskan. Pagi hari juga aku sudah minum 4 gelas dan juga sudah sarapan.

Pertanyaan pertama dari receptionist adalah: “Can I have your Donor card?”. Hah? Aku belum pernah… Sungguh pengalaman pertama ini! Lalu aku disuruh mengisi formulir. Macam-macam pertanyaannya, tapi mudah kok menjawabnya.

http://www.donateblood.com.au/become-a-donor/am-i-eligible-to-give-blood

Tidak lama aku dipanggil menuju ruang Interview, dicek tekanan darah dan ditanya golongan darah. Jawabku: “I think I’m Type O… No… Maybe, Type O. Ohhhh, I am sure it is Type O. I know it is Type O, yess.. Type O”

Yang mewawancaraku malah tersenyum sambil mengambil kotak kecil (ada jarumnya di dalam). Lalu ‘klik’, jari tengah dijepret. Satu tetes darah disimpan untuk pengecekan golongan darah.

Tekanan darah normal, juga dicek berat badan/tinggi badan. Aku lolos persyaratan. Legaa…

Lalu aku disuruh menunggu lagi. Di ruang ini nanti proses penggambilan darah berlangsung. Aku perhatikan ada 8 kursi di ruangan yang cukup luas. Empat kursi terisi.

Tiba giliranku. Masih deg-degan. Duhh.. aku pikir, aku kok norak sekali ya.. Lihat tuh.. orang2 di dalam ruangan, santai saja mereka sambil baca buku dan ngobrol sama suster yang ramah-ramh. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan lengan mereka yang ditancapi jarum guedhe yang ada sambungannya ke selang dan ohhhh… di atas meja kecil ada sebungkus plastik berisi cairan berwarna merah pekat.

Dengkulku lemas…

Aku diminta duduk di kursi yang bisa dinaik-turunkan dan disesuaikan sandarannya. Setelah terlihat nyaman, suster mulai siapkan peralatan dan sementara itu aku siapkan iPod (Playlist: USHER), Blackberry (Silent mode) dan majalah Reader’s Digest edisi terbaru… demi menyingkirkan pikiran ke jarum yang baru saja di ‘cus’ menancap di lengan kanan.

Sambil mengajak ngobrol, si Suster sibuk mengatur selang kecil yang mengalirkan darah Type O –ku ke kantong steril dan aku diberitahu bahwa prosesnya kira-kira sepuluh menit.

Lalu aku sibuk ber-sms-an, ber-BBMan, sambil mendengarkan musik di ruangan “Tonight I’m Loving You”.. pas banget lalu kesukaanku, Enrique Iglesias, hihi… (nggak perlu iPod!)

Lalu berikutnya “Invincible”, Kelly Rowland. Dan beberapa lagu lagi… Ohh, akhirnya aku bisa merasa santai, menarik nafas legaa.. sementara proses pengambilan darah berlangsung.

Rasa takut dan kuatir yang selama ini menggangguku, tidak ada lagi. Prosesnya berjalan dengan sangat teratur.

Ketika proses berakhir, Suster menghampiriku sambil tersenyum “Did you take enough photos?”, yaah… ngeledek. Aku bilang, iya sudah puas motret, maklum ini pertama kalinya (janji lain kali nggak ribet begini).

Ditanya: “Are you feeling alright”, jawabku: “I’m feeling happy”

Tentu saja beralasan kalau aku merasa ‘happy’, karena aku sudah memenuhi janjiku dan juga karena mengetahui “It saves three lives!”, seperti yang dituliskan di pamphlet.

http://www.donateblood.com.au/

Ketika Suster membawa kantong berisi cairan merah pekat itu, aku sempat kaget. Suster memberitahu: “It’s 470ml” – oww hampir setengah liter!, lalu dilanjutkan: “You cannot take it back”, sambil tersenyum.

Lalu aku diminta istirahat setengah jam, karena memang aku merasa sedikit pusing. Lengan kanan hanya ada bekas tusukan jarum, tanpa rasa sakit.

Di ruangan dapur, aku segera disuguhi minuman dan roti supaya merasa segar dan baru diijinkan pulang. Sungguh satu pengalaman baru untukku dan aku pastikan pengalaman ini akan aku ulangi! (God’s will)

 

Ilustrasi: http://www.donateblood.com.au/

 

13 Comments to "I’m a nervous freak o.O"

  1. Juwii  27 January, 2012 at 04:12

    +Oscar, apa kabar Flo-rai-da Wah, memang diperiksa sih… Memang syarat2 ketat yah…

  2. Juwii  27 January, 2012 at 04:11

    Agatha: I miss you so… Apa kabar? +Nia, hahah… temanku juga ada yang takut sama jarum suntik. +pak Handoko, ayooo lanjuut… It feels good to do something good, ya.. +elnino, setuju! +Ibu Nunuk, terima kasih. + Lani, kenapa? +Linda, hehehe… I knowww… I’m a nervous freak by defaut, hehehe… +Dewi, good! +Adhe, good to know… +JC. mbuh… lah aku sendiri ya kaget kok, hampir setengah liter!

  3. Oscar Delta Bravo  22 December, 2011 at 02:37

    Juwita,kalau di Amrik donor darah(hanya 300-350CCyang diambil) biasanya didalam bis chusus untuk donor dan datang ketempat parkiran seperti diGereja paroki,Thn 1995 pernah sehabis misa mau donor,ditanya oleh perawat yang sudah berumur: apakah dalam 3 bulan terahir pernah keluar dari Amrik yang saya jawab : Ya ke Jakarta Indonesia.Lalu beliau melihat kebuku pintarnya dan sempat saya lirik beliau melihat Irian dengan penyakit demam berdarah akibat gigitan nyamuk,Akibatnya saya ditolaknya karena ketidak tahuan beliau akan Irian dan Jakarta tahunya hanya Indonesia.Maka loloslah beberapa jiwa karena donor saya tidak diterima dimana kemungkinan ada yang membutuhkan darah.Salam dari Florida

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.