Terkoyak

Ida Cholisa

 

Tuan Andro menelponku lagi. Seperti kemarin-kemarin.

“Nyonya Rika, tolong kasih peringatan ke putri Anda. Jangan lagi dekati anak lelaki saya. Dalam waktu dekat saya akan datangi rumah Anda jika Anda tak menggubris ultimatum saya!”

Aku tercenung. Anakku lagi, anakku lagi! Ada apa dengan anak perempuanku? Sepengetahuanku, Sasha anak gadisku yang telah menginjak umur tujuh belas tahun itu tidak memiliki masalah apa pun di sekolahnya. Di rumah pun ia anak yang baik. Aku tak pernah melihatnya jalan bareng dengan lelaki mana pun, apa lagi dekat dengan anak Tuan Andro yang terkenal kaya di kampung ini.

“Sasha, Mama mau tanya sesuatu. Duduklah,” aku meminta anakku untuk duduk di dekatku saat ia hendak melangkahkan kaki memasuki kamar tidurnya. Gurat lelah membayangi wajah ranumnya. Ia baru saja pulang sekolah.

Sedikit ragu, gadis cantikku melangkahkan kaki mendekati tempat dudukku.

“Ada apa, Ma?” tanyanya.

“Mmm…, Sasha, boleh Mama tahu siapa teman dekat Sasha di sekolah?” tanyaku dengan hati-hati.

Ia memandangku beberapa jenak.

“Banyak sih Ma teman dekat aku. Memangnya kenapa, Ma?” ia tampak penasaran.

Ada nggak teman spesial yang selalu jalan bareng sama Sasha? Maksud Mama, yah…teman yang paling dekat gitu lah…”

Sasha terdiam. Mata beningnya sedikit meredup.

“Teman dekat cowok maksud Mama?” ia mulai menebak arah pembicaraanku.

“Ya begitulah…,” jawabku singkat.

“Kenapa Mama tiba-tiba menanyakan soal itu?” ia balik bertanya.

“Enggak…, cuma iseng aja sih. Mama cuma pingin tahu aja,” jawabku.

Sasha tak langsung menjawab. Aku menunggunya dengan sabar, berharap ia mau segera menjawab pertanyaanku.

“Ada sih Ma teman sekelas Sasha yang suka ngajak bareng Sasha.”

“Siapa itu, Nak?” tanyaku tak sabar.

“Heru, Ma. Anak Om Andro yang rumahnya besar itu.”

“Mm…, besok lagi Sasha nggak usah jalan bareng sama Heru lagi, ya?” kataku hati-hati.

Ia tampak terkejut.

“Kenapa, Ma? Heru kan anak baik. Dia selalu membantu Sasha setiap ada kesulitan matematika.”

“Iya, tapi berusaha untuk tidak terlalu dekat, ya?” bujukku lagi.

Meski setengah terpaksa, gadis yang sebenarnya penurut itu menganggukkan kepala. Aku sedikit lega.

***

Beberapa hari ini Sasha selalu terlihat murung.  Ia sering terlihat tak bergairah dan kerap mengurung diri di dalam kamar. Tiap kali kupanggil untuk makan jawabannya hanya singkat; “Entar Ma, masih kenyang”.

Sekali, dua kali, berkali-kali, lama-lama rasa khawatir membelit hati ini. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa takut menguasai hati ini.

Malam ini aku menyudahi aktivitas menjahitku. Kegiatan rutin menjahit baju yang bertahun-tahun aku jalani dari pagi hingga malam aku hentikan dulu. Aku ingin berbincang dengan anak semata wayangku.

Kuketuk pintu kamar anak gadisku.

“Sasha…, makan dulu, yuk….!”

Tak ada jawaban. Kuketuk lagi. Tetap tak ada jawaban. Kucoba mendorong pintu lebih keras agar bisa dibuka, ternyata terkunci dari dalam. Rasa takut dan khawatir benar-benar menguasai hati ini.

“Sasha, tolong buka pintunya, Nak. Ibu kangen makan bareng sama kamu…”

Tetap tak ada jawaban. Aku kehabisan akal. Dengan kekuatan tenaga yang kumaksimalkan, kudobrak pintu kamar anak perempuanku.

Aku terperangah. Kudapati anakku dengan badan lemah dan wajah yang sangat pucat.

“Kau kenapa, Nak? Sakit?”

Ia diam tak menjawab. Aku mulai panik. Tak biasanya anakku seperti ini. Pikiranku mulai dipenuhi berjuta kekhawatiran. Jangan-jangan…

Tiba-tiba mataku menangkap benda putih kecil yang menyembul di bawah bantal. Kuambil benda mungil berwarna putih itu. Bola mataku serasa mau melompat. Tespek!! Dan…, jantungku seperti mau copot saat kubaca tanda dua strip merah pada benda itu. POSITIP!

“Sasha, milik siapa ini?” tanyaku berang.

Lagi-lagi ia tak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Emosiku menjalar memenuhi  kepalaku.

“Jawab Sasha! Milik kamu??!!”

Ia beringsut hendak menjauh dariku. Anggukan lemah kepalanya membuatku naik pitam. Tiba-tiba saja tanganku melayang…

“Plaaakkk!!!”

Tamparan tanganku mengenai pipi ranum anakku. Ia mengaduh kesakitan. Tak cuma itu, aku menjambak rambut anakku dan menghajarnya habis-habisan.

Aku kalap. Aku kalah memenangkan keteguhan.  Anak yang kujaga siang dan malam telah terrenggut kesuciannya. Ibu macam apa aku?

“Ampun Ma…., ampun….,” Sasha berlutut di kakiku. Kutepiskan tubuhnya. Aku keluar kamar meninggalkannya.

***

Aku sedih bukan kepalang. Anak semata wayang titipan suamiku, Hardi, yang belasan tahun lalu membawa bayi.

 

 

 

21 Comments to "Terkoyak"

  1. Lani  6 December, 2011 at 02:53

    17 KANG ANUUUU…….betoooooool DA udah ambyaaaaaaaar ket biyen/sejak dr duluuuuu kala hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.