Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku Ingin Sekolah

Saturday, 3 December 2011

Viewed 809 times, 1 times today | 14 Comments |

Dwi Klik Santosa

 

Bip bip bip ….

… “Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini hanya seorang biasa saja dan sahaja. Dunia sekolah kita, dunia yang antah dan belantara. Jangan kau pintakan kepada emakmu ini, jangan kau rengekkan untuk mendaftar ke salah satunya yang mentereng dan mahal itu.”

Hmm .. kenapa begitu Mak Kodok. Kenapa begitu?

Ya, Mas Badut. Mungkin saja ini salah. Tapi menurutku itu dunia yang berjarak. Dunia yang malah menjauhkan anak-anak kita dari realita kehidupan itu sendiri. Apakah cita-cita tentang kesejahteraan itu melulu materialistis belaka? Kenapa pendidikan yang merujuk pada nilai dan guna melulu ditandai dari besar biaya untuk menempuhnya. Kenapa segalanya serba teknis belaka. Jika kelak lulus cumlaude misalnya, tapi suatu saat tersesat di tengah hutan, mungkinkah anak-anak itu sabar untuk mengerti bagaimana caranya kembali menemukan rumah?

Bip bip bip …

“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini memang tua dan hanya seorang perempuan. Tapi tataplah mata emak, anakku. Mata yang kelabu dan sudah mulai rabun. Kepadamu, Nak, yang memiliki mata kejora. Carilah apa yang hendak kau temukan. Kehidupan begini luas. Masyur dan mentereng janganlah selalu menjadi keinginan. Berpegang kepada kejujuran akan menemukan kejujuran. Jangan mudah silau dengan hal-hal yang sementara dan semu …”

Kenapa begitu, Mak Kodok. Kenapa begitu?

“Iya, Mas Badut. Zaman semakin maju. Semakin pesat dunia sains dan teknologi menandai kebudayaan. Namun, setiap saja kita membaca berita-berita di media, sepertinya dunia tak benar indah sebagaimana jargon-jargon sekolahan, kuliahan, seminar, pidato atau khotbah-khotbah itu. Inikah peradaban modern yang adiluhung dan suka dilafalkan para pandai itu?”

Bip bip bip ….

“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini …

Bip bip bip …
“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang ……”

Bip bip bip …
“Apa yang hendak kau …. “

Bip bip bip ….

“Nak …. “

Bip bip bip …

Mak Kodok yang baik. Barangkali saya memahami perasaan Kodok Junior. Sepertinya ia ingin mengatakan hal yang sederhana. Sebagaimana hal itu juga menjadi keinginan saya kiranya. Dan juga anak-anak yang lainnya. Dapat bersekolah dengan baik dan menemukan tempat untuk menempa diri secara baik pula. Agar kelak nanti punya bekal dan bahan yang cukup untuk memasuki kelayakan-kelayakan dalam menempuh kelangsungan hidup. Mohon maaf, Mak. Mungkin benar belaka apa yang emak katakan. Namun, memang kahanan begini adanya. Mari Mak, kita semangati saja sesyahdu mungkin diri kita. Untuk tetap optimis, untuk tetap dinamis melangsungkan hidup. Menggali kearifan itu dari kesahajaan keseharian. Belajar dan terus belajar. Melatih dan terus melatih. Sekolah dan terus sekolah ….. hingga senja usia kembali ke haribaan.

Bip bip … cikulah. cikulah. Hole cikulah!

Zentha
28 Oktober 2011
: 10.oo

 

Share This Post

Posted by Saturday, 3 December 2011 on 06:12.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

14 Responses to “Aku Ingin Sekolah”

Pages: [2] 1 »

  1. 14
    J C Says:

    Menyentuh sekali…semoga si Kodok Junior mendapatkan apa yang dicitakannya…

  2. 13
    Dj. Says:

    Ibu Matahari….
    Dj. tidak ada apa-apanya….
    tapi Dj. sangat sedih kalau dengar anak tidak bisa sekolah, karena tidak ada biaya….
    Ada teman Dj. yang jauh melebihi Dj. dia bahakan bersama keluarganya berhasil mendirikan beberapa panti asuhan dan bahakan sangat berhasil.
    Pertama saat mereka akan keliling dunia, batal dan biaya keliling dunia bersama keluarganya dipakai untuk mendirikan yayasan untuk anak-anak yang tidak mampu. tapi lebih baik sedikit, daripada tidak sama sekali kan….???
    Dulu saat kanak-kanak Dj. sekolahpun tidak punya sendal, apalagi sepatu.
    Setiap hari Rabo, dapat pembagian susu panas di cangkir kaleng yang sudah karatan.
    Buku dapat pengasihan dari tetangga.
    Olehnya Dj. bisa merasakan, apa itu miskin dan Dj. telah berjajni, sebisa mungkin untuk menolong mereka yang senasib dengan Dj. duluuuuu.
    Tapi juga kenangan yang indah, kalau di kampoeng ada pertunjukan pilem, bisa suk-sukan dengan temaan-teman yang bau kambing atau kerbau….hahahahahaha….!!!
    Di Kampoeng Dj. ada orang yang berhasil dan dia selalu pulang kampoeng dan memanggil kuda kepang untuk anak-anak. Kadang kami ketakutan, kadang kami tertawa bersama….
    Dan Dj. selalu mimpi, satu saat harus bisa seperti orang ini, bisa menenangkan anak-anak yang tidak mampu.
    Puji TUHAN….!!!
    Walau hanya kecil saja, tapi Dj. sudah bisa menikmati kebahagiaan ini…..
    Apalagi, sekarang Dj. mendapat kabar, anak asuh kami yang pertama sudah selesai kuliahnya.
    Satu kebanggan tersendiri yamh tidak bisa orang lain ambil.
    Terpujilah nama TUHAN….!!!

    Jelas Dj. akan merasa bangga juga , kalau ada banyak yang berpikiran demikian dan mau menolong anak yang tidak mampu, walau HANYA SATU SAJA…..!!!
    Salam manis dari Mainz

  3. 12
    matahari Says:

    Salut dengan pak Djoko….Saya suka dengan orang yang sosial…dan saya sedang berusaha untuk menjadi manusia yang sosial juga walau masih dalam sekala kecil…

  4. 11
    Dj. Says:

    Mas DKS….
    Maaf Dj. tidak nyambung dengaan tulisan anda diatas…..
    Apakah anda tau ada anak yang ingin sekolah dan emaknya tidak sanggup membiayai…???
    Kalau hal ini benar, maka tolong beritahu kami alamat mak Kodok, maka nanti kalau Dj. mudik, akan Dj. cari dan bantu si Junior untuk bisa sekolah.
    tapi kalau ini hanya kiasan saja, ya maaf.
    karena Dj. tau, banyak sekalu anak-anak yang ingin sekolah dan memang orang tuanya tidak sanggup. Disini Dj. ingin membantu mereka, walau saat ini Dj. sudah ada 14 anak di semarang dan Solo.
    tapi kalau benar, maka si Junior, akan Dj. prioritaskan.
    Terimakasih dan salam Sejahtera dari Mainz.

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)