Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku Ingin Sekolah

Saturday, 3 December 2011

Viewed 811 times, 1 times today | 14 Comments |

Dwi Klik Santosa

 

Bip bip bip ….

… “Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini hanya seorang biasa saja dan sahaja. Dunia sekolah kita, dunia yang antah dan belantara. Jangan kau pintakan kepada emakmu ini, jangan kau rengekkan untuk mendaftar ke salah satunya yang mentereng dan mahal itu.”

Hmm .. kenapa begitu Mak Kodok. Kenapa begitu?

Ya, Mas Badut. Mungkin saja ini salah. Tapi menurutku itu dunia yang berjarak. Dunia yang malah menjauhkan anak-anak kita dari realita kehidupan itu sendiri. Apakah cita-cita tentang kesejahteraan itu melulu materialistis belaka? Kenapa pendidikan yang merujuk pada nilai dan guna melulu ditandai dari besar biaya untuk menempuhnya. Kenapa segalanya serba teknis belaka. Jika kelak lulus cumlaude misalnya, tapi suatu saat tersesat di tengah hutan, mungkinkah anak-anak itu sabar untuk mengerti bagaimana caranya kembali menemukan rumah?

Bip bip bip …

“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini memang tua dan hanya seorang perempuan. Tapi tataplah mata emak, anakku. Mata yang kelabu dan sudah mulai rabun. Kepadamu, Nak, yang memiliki mata kejora. Carilah apa yang hendak kau temukan. Kehidupan begini luas. Masyur dan mentereng janganlah selalu menjadi keinginan. Berpegang kepada kejujuran akan menemukan kejujuran. Jangan mudah silau dengan hal-hal yang sementara dan semu …”

Kenapa begitu, Mak Kodok. Kenapa begitu?

“Iya, Mas Badut. Zaman semakin maju. Semakin pesat dunia sains dan teknologi menandai kebudayaan. Namun, setiap saja kita membaca berita-berita di media, sepertinya dunia tak benar indah sebagaimana jargon-jargon sekolahan, kuliahan, seminar, pidato atau khotbah-khotbah itu. Inikah peradaban modern yang adiluhung dan suka dilafalkan para pandai itu?”

Bip bip bip ….

“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang kau inginkan?
Emakmu ini …

Bip bip bip …
“Apa yang hendak kau katakan, Nak. Apa yang ……”

Bip bip bip …
“Apa yang hendak kau …. “

Bip bip bip ….

“Nak …. “

Bip bip bip …

Mak Kodok yang baik. Barangkali saya memahami perasaan Kodok Junior. Sepertinya ia ingin mengatakan hal yang sederhana. Sebagaimana hal itu juga menjadi keinginan saya kiranya. Dan juga anak-anak yang lainnya. Dapat bersekolah dengan baik dan menemukan tempat untuk menempa diri secara baik pula. Agar kelak nanti punya bekal dan bahan yang cukup untuk memasuki kelayakan-kelayakan dalam menempuh kelangsungan hidup. Mohon maaf, Mak. Mungkin benar belaka apa yang emak katakan. Namun, memang kahanan begini adanya. Mari Mak, kita semangati saja sesyahdu mungkin diri kita. Untuk tetap optimis, untuk tetap dinamis melangsungkan hidup. Menggali kearifan itu dari kesahajaan keseharian. Belajar dan terus belajar. Melatih dan terus melatih. Sekolah dan terus sekolah ….. hingga senja usia kembali ke haribaan.

Bip bip … cikulah. cikulah. Hole cikulah!

Zentha
28 Oktober 2011
: 10.oo

 

Share This Post

Posted by Saturday, 3 December 2011 on 06:12.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

14 Responses to “Aku Ingin Sekolah”

Pages: « 2 [1]

  1. 10
    Linda Cheang Says:

    karena aku masih sekolah sampe sekarang, itu artinya aku mengakui kalau aku ini masih bodoh, makanya perlu sekolah terus.

  2. 9
    Sumonggo Says:

    Sekolah itu sekul (nasi) sak-kolah (bak)

  3. 8
    Dewi Aichi Says:

    Lani setuju…apa saja yang ada di sekitar kita, bisa untuk belajar, apakah itu berupa benda mati, atau kehidupan manusia…

  4. 7
    Lani Says:

    DA : sekolah itu bukan berarti hrs duduk dibangku sekolah……..hehehe…..belajar bs drmn saja to……..kecuali urut2-an spt SD, SMP, SMA bs jg ambil kejuruan…….trs kul, udah gitu msh panjang pake embel2…….dr S1 ampe kwadrat pitulikurrrrr……heheh yg nulis jik mabokkkkk

  5. 6
    Dewi Aichi Says:

    Renungan yang sangat sejuk di akhir pekan mas Dwi….

  6. 5
    Dewi Aichi Says:

    Selama nyawa masih nyentel ditubuh, ya itulah sekolah

  7. 4
    Dewi Aichi Says:

    Aku males sekolah..wis akeh sik pinter .

  8. 3
    Anastasia Yuliantari Says:

    Belajar pada sekolah kehidupan. Tentang kearifan yang mungkin tak sempat tertulis dalam buku-buku.

  9. 2
    Meitasari S Says:

    ah skolah sepanjang hayat.,krn hidup adalah skolah tanpa bangunan dan ruang dengan jutaan bhkn milyaran guru tanpa gaji ., teruslah skolah. Bip bip bip. Salam kenal mas DKS yg slalu mereject request friendshipku. He he he

  10. 1
    Handoko Widagdo Says:

    Jika peradaban bergerak demikian cepat, apakah masih ada gunanya menetapkan kearifan?

Pages: « 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)