Sajak Hari Libur

Khrisna Pabichara

 

1.

Kekasih, ini hari pertama aku tanggalkan benakku dari ingatan yang tunggal: Kamu. Aku tahu, kamu pasti sangsi bagaimana rindu ini bisa lesap. Tetapi, ketahuilah, telah kutemukan muasal sendu. Seperti katamu, kesempurnaan itu tak pernah ada, termasuk kesempurnaan merindumu.

 

2.

Kekasih, betapa kecemasan kerap diam-diam menelusup ke sumsum jiwaku. Bagiku, kamu adalah layang-layang yang tidak menjadikan angin sebagai penentu. Dan aku, ya, aku cemas tak pernah bisa benar-benar mampu mengejarmu, menjangkaumu, mendekapmu. Tetapi, ketahuilah, aku masih punya sedikit kecemasan agar sungguh-sungguh tidak terlalu cemas kehilangan kamu.

 

3.

Kekasih, rindu memang telah mengutuk aku dalam keabadian. Selalu begitu. Tetapi aku masih tetap suka merayakan kepedihan ketika rindu kepadamu memastikan rahasia kesunyian. Maka, kubiarkan saja rindu-rindu itu bepergian mencarimu, seberapa pun mustahilnya, karena aku yakin telah dipilih takdir sebagai perih yang paling merindumu.

 

4.

Kekasih, sesungguhnya, hari libur yang paling kutunggu adalah ketika kamu rehat menyesaki ingatanku.

 

Parung, Juni 2011

 

 

11 Comments to "Sajak Hari Libur"

  1. J C  5 December, 2011 at 13:46

    Lho, lho, lho, Itsmi dan Dewi Aichi kok sikat menyikat?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.