PR, Pentingkah?

Wesiati Setyaningsih

 

PR, atau pekerjaan rumah, adalah tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah. Itu materi debat besok. Akan ada dua tim yang memperdebatkan motion ini. Dengan motion “This House Would ban homework at school”, maka tim affirmative atau government akan mengatakan betapa tidak pentingnya PR. Sedang tim negative atau opposition akan membela habis-habisan bahwa bagaimanapun PR itu penting.

Aku tidak akan tertarik menulis tentang hal ini kalau saja seorang muridku yang sudah maju debat kemarin tidak menulis note dan dia menautkannya di wall-ku. Keluhan panjang lebar betapa sekolah menjadi sangat berat dengan tugas-tugas dan ulangan. Dia membela diri dia tidak sedang membenci sekolah. Hanya dia merasa semua ini terlalu berat.

Kurasa dia benar. Aku sudah tahu ini sejak dulu. Aku tidak sedang membela teman-teman guruku tapi ini semua bukan salah para guru. Begitu banyak materi yang harus disampaikan. Kadang-kadang tidak semua bisa tersampaikan dalam satu semester. Bahkan minggu ini saja, beberapa teman mengeluh karena tiba-tiba jadwal semesteran dimajukan beberapa hari. Materinya belum selesai.  Beberapa guru tidak sempat menjadikan satu bab untuk ulangan karena waktunya mepet.

Maka kalau ada guru yang sangat menyayangkan kurikulum sekolah di negeri ini, akulah orangnya. Aku sampai menulis note ‘mau kemana negeri ini’ beberapa waktu lalu. Bagaimana negeri ini maju kalau kurikulumnya enggak pernah jelas? Sejak aku melihat pelajaran SD di buku anak bungsuku yang melebar kemana-mana tanpa esensi yang jelas, aku sudah seperti orang putus asa.

Sebelumnya, dari kasus kakaknya waktu duduk di kelas 6 SD aku sudah tahu bahwa kurikulum pendidikan kita sungguh mengerikan. Ceritanya, waktu itu aku minta teman kantor (guru matematikan SMA) untuk memberikan les privat bagi Dila, sulungku. Dengan terheran-heran dia bilang, bahwa materi yang dia lihat di buku Dila itu adalah materi SMA!

Rasanya aku ingin menangis dalam hati. Betapa jelas kurikulum kita tidak mempertimbangkan pendidikan itu sendiri. Mana bisa berhasil kalau pelajaran itu disampaikan seperti menuangkan sesuatu sampai habis? Memberikan ilmu itu mestinya ibarat membangun tembok. Membuat dasar yang kuat, lalu perlahan membangun ke atas. Bukan seperti menumpahkan sesuatu seperti itu.

Di Kumon, pelajaran matematika diberikan bertahap. Penjumlahan diberikan sampai benar-benar paham. Lalu pengurangan. Lalu kombinasi antara keduanya. Dan seterusnya. Tapi pelajaran di sekolah justru seperti tidak sabar ingin memberikan semuanya.

Dulu waktu aku praktek mengajar di SMK, aku terheran-heran ketika siswa-siswa tidak tahu apa itu ‘to be’. Kok bisa? ‘To be’ bentuk present : am, is, are, itu kan basic sekali. Mana bisa mereka membentuk kalimat tanpa tahu ‘to be’? Setelah melihat dari pelajaran bahasa Inggris SD baru aku tahu bahwa kurikulumnya yang salah. Para ‘penggede’ itu cuma peduli bahwa anak-anak harus bisa bicara atau memahami bacaan. Tata bahasa sangat diabaikan. Bisa paham darimana kalau grammar sama sekali tidak tahu? Dalam bahasa Inggris kala waktu itu memberi arti yang berbeda.

Ketika aku mengatakan “I love you”, artinya akan berbeda dengan “I loved you”. Karena kalimat yang pertama berarti aku masih cinta, tetapi untuk kalimat yang kedua berarti aku sudah tidak cinta lagi (cintanya kemarin, bukan sekarang). See? Nah, kalau grammar diberi porsi yang sangat sedikit, tahu darimana mereka tentang hal ini?

Aku sungguh menyarankan bahwa semua diberikan sama besar. Anak-anak tidak hanya disuapi dengan materi-materi ungkapan dan bacaan, tapi dengan grammar dengan persentase yang sama. Lebih baik sedikit tapi paham benar, daripada banyak tapi tidak paham apa-apa.

Ini untuk masalah kurikulum. Kembali ke masalah PR itu sendiri. Entah kenapa banyak orang menganggap belajar terus-terusan itu bisa bikin pintar. Sungguh aku ingin mengatakan ini omong kosong! (mohon maaf sudah mengatakan ini). Aku orang yang percaya bahwa relaksasi itu penting. Ketenangan, kenyamanan, itu sama penting. Memaksa anak untuk terus-terusan belajar itu tidak manusiawi. Anak itu juga manusia. Biarkan mereka menjalani semuanya dengan alami. Ketika mereka butuh bermain, biarkan bermain. Ketika mereka butuh istirahat, biarkan istirahat. Tak ada gunanya menganggap anak seperti perangkat komputer yang semakin lama dipakai untuk mengetik maka data yang tersimpan akan semakin banyak. Come on…! Anak itu manusia, bukan alat.

(Itulah kenapa aku tidak percaya jam sekolah yang lebih lama bisa mencetak anak-anak yang pintar.)

Waktu kelas enam SD Dila minta ikut les tambahan lagi di luar yang ditentukan sekolah, aku menolak. Dia memaksa setengah mati karena ingin ikut-ikutan teman-temannya, aku tetap bertahan. Dia itu manusia. Dan tak ada hasil yang baik yang bisa diraih dengan ngoyo seperti itu. Les dari sekolah sampai jam 2. Kalau dia minta tambahan lagi, berarti jam 3! Mana bisa otak berpikir dalam keadaan lelah seperti itu?

Sialnya, mitos seperti inilah yang dipercaya orang. Mereka menyamakan manusia dengan mesin. Semakin lama dipakai, hasilnya semakin banyak. Maka tidak heran ketika semester genap tahun lalu sekolah mengalami banyak libur karena digunakan untuk try out kelas tiga, pra UAn, ujian sekolah dan UAN, ada orang yang protes. Parahnya, orang yang protes itu mengaku dari LSM dan menyampaikan protesnya ke Dinas Pendidikan. Katanya, anak-anak kelas satu dan kelas dua terlalu banyak libur. Kapan sekolahnya? Lalu dengan tergeragap Dinas Pendidikan memerintahkan guru-guru untuk memberikan tugas selama siswa-siswa di rumah. Bahkan guru diminta melaporkan tugas yang diberikan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka benar-bener memberikan tugas semasa anak-anak libur. Ya Tuhan, please deh… Apa dia tidak pernah sekolah? Atau dia dulu anak yang “haus ilmu” waktu sekolah? Muna banget deh.

Belum lagi libur hari Raya, libur semester. Dengan logika yang sama, semua guru akan memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan selama liburan. Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Aku selalu bilang pada anak-anak bahwa aku tidak memberikan tugas. Mereka berhak untuk istirahat sejenak. Melepaskan kepenatan. Meliburkan diri sampai bosan dan saking bosannya akan kangen sekolah dan kangen belajar. Tapi anak-anak akan bilang, “iya, bu Wesi enggak kasi tugas, guru lain semua ngasi, bu…”

Well, aku bukannya anti PR. PR itu bagus. Benar bahwa tujuannya agar siswa belajar sendiri di rumah. Benar juga bahwa PR bisa membuat anak menjadi disiplin. Tapi itu semua hanya bila PR itu mendukung apa yang dikerjakan di sekolah. Dan tidak terus-terusan hingga memberatkan. Sangat tidak manusiawi kalau sudah memberikan PR yang sangat banyak pada siswa, padahal tidak punya waktu untuk koreksi. (maaf kalo buka rahasia) Anak-anak itu juga manusia. Kita dulu juga enggak terlalu suka dikasi PR. Kenapa sekarang memaksa murid-murid melakukan hal yang dulu kita benci? Pliss deh…

 

(untuk murid-muridku : mohon maaf kalau aku pernah memberikan PR dan tugas-tugas untuk kalian. well, toh enggak sering-sering banget, kan? :D )

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

32 Comments to "PR, Pentingkah?"

  1. wesiati  25 August, 2013 at 19:11

    PR nyalin buku paket? Gurunya harus diundang pelatihan lagi tuh. btw kamu kelas berapa sih cin? SD? kalo SD mungkin masih masuk akal. buat latihan nulis. hehe…

  2. Ruby  25 August, 2013 at 18:35

    Lha kalau saya sih prnya disuruh nyalin buku paket .Walau cuma 1 bab,tapi berapa mata pelajaran itu?Terus juga apa gunanya bawa buku paket yang tebel-tebel ke sekolah kalau di buku tulis udah ada salinanya?
    Terus masuk-masuk PRnya nggak dilihat sama gurunya :'( , padahal udah capek-capek nyalin,liburan tersita , jadi tambah males aja,
    Masuk sekolahnya aja jam 06.30,karena rumah jauh jam 4 harus udah bangun,terus pulangnya jam 13-15.Udah capek,ada PR lagi.Ya ampun,masa’ saya tiap hari cuma sekolah,ngerjain pr,tidur?nggak bisa main-main dikit?Cuma hari minggu aja bisa nyantai
    Dan jujur aja,kondisi fisik saya semakin lemah dibanding dulu,jadi sering sakit.Betapa beratnya PR buat saya,walaupun kalau orang lain menganggap biasa aja,tapi beda dengan saya yang notabene udah curiga punya penyakit.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.