Banjarmasin Selayang Pandang (2)

Adhe Mirza Hakim

 

Artikel sebelumnya: Banjarmasin Selayang Pandang (1)

 

Pulau Kembang

Pulau Kembang ini berada di tengah-tengah sungai Barito, sekilas ingat denga pulau Kemaro yang ada di muara sungai Musi. Pulau Kembang ukurannya sedikit lebih kecil, jika diperhatikan sekilas pulau ini merupakan sekumpulan hutan bakau yang mengelompok membentuk gugus pulau kecil.

Ada rumah di pulau itu yang merupakan posko penangkaran monyet Kalimantan yang dilindungi habitatnya. Saat perahu mendekati pulau, mba Tini menawariku untuk turun, tapi aku menolak, pertama harus kuakui agak trauma dengan monyet, 23 tahun yang lalu pernah ditemplok monyet saat di Sangeh, kenangan itu begitu membekas sampai detik ini, jadi mending jauh-jauh dari monyet deh! Kedua, waktu yang terbatas karena masih mau melihat makan Sultan Suriansyah (Pangeran Antasari), harus dibagi jatah waktunya.

Aku hanya melihat dari atas perahu, tampak beberapa monyet berkeliaran di atas jerambah kayu sepertinya cukup jinak, ada beberapa pengunjung pulau terlihat tidak kuatir dengan keberadaan monyet-monyet tersebut. Biar deh…asal jangan aku judulnya hehe… aku mengabadikan beberapa foto dari kejauhan, jadi kami hanya melewati saja, tampak ada seekor monyet yang memandang ke arah kami, menatap dari jerambah, mungkin dia mikir “Takut nie yeee” hahahaha….

Perahu yang kami tumpangi akhirnya tiba juga di dermaga kecil tempat awal kami berangkat, setelah membayar jasa persewaan perahu sekitar Rp. 300.000,-  (thanks mba Tini sudah treat perahunya).

 

Makam Pangeran Antasari

Perjalanan dilanjutkan ke Makam Keluarga Sultan Suriansyah, masih berada di daerah Kuin, Banjarmasin. Kompleks makam ini tidaklah besar, hanya terdiri dari 4 makam besar dan beberapa makam-makam kecil yang berada di sekitarnya. Di depan makam ini ada satu rumah kecil yang fungsinya mirip museum, tapi asli kecil banget, aku menilai ini seperti ruang yang berisi informasi tentang silsilah keluarga Pangeran Antasari, serta asal usul keberadaan komplek makam dan beberapa benda-benda antic berupa pecahan keramik berikut beberapa tempayan kuno. Ada foto-foto yang terpajang di dinding ruangan, semua bercerita tentang sejarah Pangeran Antasari secara selintas.

Masuk ke kompleks makam ini tidak dikutip retribusi, hanya kesadaran kita untuk bersedekah ke kotak amal yang tersedia. Saat aku masuk kedalam makam, ada 2 orang bapak tua yang sepertinya bertugas sebagai kuncen makam, aku tidak sempat ngobrol dengan mereka, lagi-lagi soal waktu, aku hanya berkirim surah Al-Fatihah buat alm. Sultan Suriansyah beserta keluarga, semoga Allah SWT memberi mereka tempat yang baik disisi-NYA, aamiin… Sebelum meninggalkan makam aku menyelipkan infaq ke kotak amal yang tersedia, salam sejahtera selalu buat keluarga Pangeran Antasari dimanapun berada.

 

Masjid Sultan Suriansyah

Tidak jauh dari lokasi kompleks makam yang letaknya ditepi sungai (tampaknya cabang dari sungai Barito), ada masjid yang bangunannya sangat khas, dengan arsitektur Banjar yang unik khas dengan warna-warna cerah, terbuat dari kayu yang solid faham deh sama Kalimantan terkenal dengan hasil kayunya yang kuat dan bermutu.

Aku menyempatkan diri untuk sholat di sini, jadi inget acara “Jelajah Masjid” yang suka tayang di TV saat bulan Ramadhan, hehe… Tempat ambil air wudhunya berada agak jauh dari masjid, di areal yang terbuka. Masjid ini berada satu lokasi dengan kompleks pendidikan, semacam madrasah kalau gak salah ya, soalnya aku hanya selintas memperhatikannya. Selesai berwudhu aku masuk ke dalam masjid, bertemu dengan bapak penjaga masjid yang ramah, langsung mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam.

Saat berada di dalam masjid, Subhanallah…suasananya sejuk sekali, koq jadi berasa berada dalam masjid di Tanah Suci ya..?! aku melihat ada seorang bapak yang sedang berdo’a dekat mihrab masjid, sepertinya bapak itu baru selesai sholat sunnah. Aku mengambil posisi shaf sholat agak jauh di belakang, setelah sholat sunnah Dhuha, aku menyempatkan diri membidik interior dan eksterior masjid, buat bahan tulisanku ini, hehe… biasalah setiap berkunjung ke satu tempat pasti selalu ditodong tulisan sama teman-teman tercinta jiaaah….hihihi.

Keluar dari masjid, aku sempat bercakap-cakap dengan bapak penjaga masjid, beliau bertanya aku darimana, aku sampaikan asalku dari “Lampung”, “Jauh juga ya,” sahutnya sambil tersenyum, lantas beliau berkisah bahwa orang yang membuat lukisan kaligrafi di dalam masjid asalnya dari Lampung, tetapi kini sudah menjadi warga Banjarmasin, hmm…effek minum air sungai Barito, hehe…

Untung banget mba Tini sabar menanti aku memotret masjid dan sekitarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, harus segera pulang nie, apalagi jarak tempuh 27 km ke hotel tempatku menginap tidaklah dekat, mobil yang aku tumpangi meluncur ke arah Banjar Baru, melalui jalan yang berbeda kali ini jalurnya melalui kota bukan by pass yang subuh tadi kami lalui. Ada sedikit kemacetan yang kami temui maklumlah namanya juga masuk kota.

Kami sempat berhenti di satu kedai makan yang menjual soto Banjar (wadeeew…nggak sempat jelajah kuliner nie asli kurang waktunya, next time ya Banjarmasin, balik ke sini lagi). Mencoba merasakan soto banjar yang kata orang Banjar enak rasanya, aku memesan 1 sama teh manis hangat, apapun makanannya selalu ditemani minuman teh aku memang tea mania. Kesanku tentang soto Banjar, rasa kuahnya light/ringan pake santen tapi encer, trus lumayan seger, sepertinya orang Banjar kalau makan senang pakai jeruk nipis, sekali lagi ini pengamatan selintas kilat, kalau salah mohon maaf.

Selepas sarapan pagi Soto Banjar (lha bukannya tadi sudah sarapan di warkop terapung? Hihihi…iya sarapan yang kedua kalinya), kami melanjutkan perjalanan pulang ke hotel.

Di tengah perjalanan hand phoneku berdering, de’ Miftah mengingatkanku untuk mampir ke Museum Lambung Mangkurat yang lokasinya di Banjar Baru, kebetulan letaknya tidak jauh dari hotel tempatku menginap.

 

Museum Lambung Mangkurat

Jadilah aku mampir ke Museum Lambung Mangkurat, sepintas besarnya tidak jauh berbeda dengan Museum Lampung, ada retribusi masuk ke dalam, kalau tidak salah Rp.2.500/orang, ada kenikmatan tersendiri jika kita masuk ke suatu museum, kita bisa belajar mengetahui sejarah dari suatu tempat berikut latar belakang budayanya. Simple nya, kita bisa mendapat pengetahuan tambahan jika masuk ke suatu museum.

Ada 3 perahu yang di jejer dalam satu gubuk di halaman museum, ketiga perahu ini bewarna coklat kehitamanan mirip kayu tembesu kata orang Palembang (istilah kayu yang kuatnya seperti besi, tidak mempan dimakan rayap dan kuat dari cuaca yang paling ekstrim sekalipun, nggak kuatnya paling kalau kebakaran hehe..).

Ada sedikit sejarah yang aku kutip dari papan keterangan dekat perahu jukung, “Jukung Sudur – ditemukan terpendam dalam tanah di tepi sungai Tarasi, di desa Kaludan Besar, kec. Amuntai Tengah, kab. Hulu Sungai Utara, tahun 1994. Jukung Sudur ini diperkirakan dibuat pada abad ke-15, bahannya terdiri dari batang pohon tunggal yang digali cekung membujur, panjangnya mencapai +/- 17 m sedangkan ukuran biasanya panjangnya hanya +/- 3 m s/d 5 m. Melihat pada ukurannya yang demikian besar diduga bahwa perahu lesung ini dahulu digunakan sebagai sarana pengangkutan barang.”  Kalau mau jelas lagi soal perahu ini, hayuuu….datang ke Museum Lambung Mangkurat.

Aku masuk ke bangunan utama museum, yang atap bangunannya menggambarkan atap rumah adat suku Banjar, menaiki tangganya merasakan suasana sepi dan senyap, khas museum. Pertama kali kulihat adalah papan display yang berisi tentang sejarah dan asal usul dari beragam suku yang tinggal di Kalimantan Selatan, lalu melihat display aneka rumah adat, perlengkapan adat berupa pakaian, alat masak, alat music, alat untuk bekerja sebagai nelayan maupun  perajin batu mulia, serta aneka benda-benda keramik yang berupa tempayan, piring-piring dan teko-teko antic. Ada juga beberapa perhiasan kuno yang terbuat dari batu-batu mulia, seperti kita ketahui para perajin batu mulia di Martapura adalah perajin-perajin ulung yang mendapat ketrampilan mengasah dan mengukir batu mulia secara turun temurun dari keluarganya.

Lalu masuk kebagian yang menggambarkan perjalanan para ulama-ulama Banjar yang pergi menuntut ilmu ke tanah suci lalu kembali ke tanah air untuk menyebarkan ilmunya ke masyarakat. Ada foto-foto dari para ulama salah satunya yang termasyur yaitu “Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari”. Sedikit mengutip dari tulisan yang kupotret,“Kebesaran nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, selain tulis tangan kitab suci Al-Qur’an yang indah, Beliau juga membuat karya sastra islam yang diangkat dari ajaran tauhid, fiqih dan aqidah, beberapa kitab-kitab penuntun keagamaan seperti Sabilal Mukhtadin. Usuluddin, Kitabun Nikah, Faraidh dan Tuhfatur Ragibin. Syiar agama dengan Bil Khitab ini disampaikan dan diajarkan didalam pesantren-pesantren serta pengajian”.

Aku juga menjumpai kitab Al-Qur’an kuno yang umurnya sudah ratusan tahun. Semua menjadi bukti sejarah bagaimana relijiusnya masyarakat Banjar.

Setelah puas berputar-putar dan memotret benda-benda yang berada dalam museum, aku bergegas untuk pulang ke hotel, tak terasa sudah pukul 11 siang, pihak hotel sudah menelponku memastikan aku harus check out pada pukul 12 siang. Mba Tini dan suaminya mengantarku ke hotel, sekalian membantuku packing semua oleh-oleh yang kubeli di Martapura, biar tidak memberatkan isi tas ranselku, alasan kenapa pakai tas ransel  biar praktis saja dalam perjalanan singkat di Borneo.

Pukul 12 siang aku check out hotel, sempat mampir ke jasa cargo untuk mengirim paketku ke Lampung, lalu makan siang dulu di resto cepat saji yang ada di dalam bandara Syamsudin Noor. Setelah makan siang, mba Tini dan suaminya berpamitan pulang, makasih banyak ya saudaraku semoga semua urusanmu dimudahkan oleh-NYA, karena telah menyenangkan dan melancarkan segala urusanku disini. Tak lupa salam persahabatan selalu buat de’ Miftah dan de’ Azizah, keep our Silaturahim yaa… Jadwal penerbanganku kali ini tidak ada delay,  Pesawat Sriwijaya Air take off pukul 14.00 meninggalkan Banjarmasin dengan sejuta kenangan manis

Bye…bye…Banjarmasin.

 

 

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Banjarmasin Selayang Pandang (2)"

  1. Muhammad imran  11 September, 2012 at 19:22

    Coba anda keliling pedalaman kal sel d sana jg masih byk sejarah2 tentang penyebaran islam dan makam2 syekh,pasti seru lagi,slm dari kal sel,sy tinggal d pedalaman kal sel

  2. ilhampst  8 December, 2011 at 23:20

    Satu lagi, klo mesennya pengen pake nasi , jangan bilang soto, tapi sop. Soalnya klo soto pasti pake lontong hehehe

  3. ilhampst  8 December, 2011 at 23:19

    Wah, asik jalan-jalan

    Cuma sedikit bingung, setahuku Sultan Suriansyah itu Pangeran Samudra sesudah beliau masuk Islam dan menjadi Sultan Kerajaan Banjar, bukan Pangeran Antasari.

    Kalo soal jeruk nipis, masih lebih kental di Makassar Mbak. Disana nasi goreng aja pake jeruk nipis hehehe…
    Kalo sarapan yang paling populer sih nasi kuning masak habang nyam nyam

  4. Adhe  7 December, 2011 at 22:04

    Dear Alvina, tetep buka Baltyra.com ya…kisah2 perjjalananku akan selalu tayang disini hehe…soto banjar itu aslinya mirip sama soto ayam biasa, tapi rasanya lebih light, apa ya…lebih encer kuahnya dan rasanya lebih segar karena orang banjar kalo makan selalu pake jeruk nipis hehe. Thanks yaa sdh mampir baca.

  5. Alvina VB  7 December, 2011 at 21:45

    Mbak Adhe,

    Terima kasih utk ceritanya, seakan-akan ikutan jln2 ke Banjarmasin begitu.
    Ditunggu cerita2 perjalanannya yg lain.
    Itu soto Banjarnya kelihatannya enak ya?
    Isinya apa sich mbak? (he..he…malah ngomongin makanan)

  6. Adhe  7 December, 2011 at 16:33

    @Pak Han, hahaha…becanda nie….

  7. Handoko Widagdo  7 December, 2011 at 15:43

    Lani, aku pinter loncat kok…lagipula aku juga pinter cari makan.

  8. Adhe  7 December, 2011 at 15:08

    @JC……….makasih yaa…selalu posting coretanku seputar jalan2, ini juga berbarengan dg urusan kerja, yah bisa2nya menyisipkan waktu utk mengamati hehe… semoga gak bosen aja dg trip journal ku.

    @mba Meitasari, makasih yaaa sudah mampir.

    @Leonny, makasih yaa sudah mampir baca,

    @cik Lani, iyaa disana memang tempat penangkaran monyet, jadi sudah pasti dikasih makan oleh pihak pemda yang mengelola pulau itu. Jadi dijamin habitat itu monyet2 dan pastinya tidak akan mati kelaparan hehehe….

  9. Lani  7 December, 2011 at 14:56

    ADHE : klu si monyet gak berani meloncat……..apakah mrk tinggal disana? la trs cari makannya gimana? mmg ada yg ngasih makan? dipelihara gitu?

  10. Leony  7 December, 2011 at 13:02

    waah Banjarmasin, kota kecil penuh kenangan dan keragaman..
    klo saya paling suka wisata kuliner disana.. ada soto banjar, ketupat sayur, nasi itik, nasi kuning.. pokoknya semua enakk..hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.