Edan-edanan (1): Pasarean dan Sejarah yang Terkubur

Kang Putu

 

Pasarean dan Sejarah yang Terkubur

CUMA segunduk tanah. Namun segunduk tanah yang bermakna simbolis senilai perbawa tokoh yang terkubur itu selagi hidup. Itulah pasarean Sultan Agung Hanyakrakusuma di Imogiri.

Cerita bermula dari perintah Raja Mataram, Susuhunan Mangkurat, pengganti Sultan Agung, ke aparat kerajaan untuk membantai sekitar 6.000 orang santri Kajoran beserta istri dan anak-anak mereka. Dia menilai para santri itu mbalelo dan berpotensi berbuat makar.

Pangeran Purbaya, paman Raja dan kakak mendiang Sultan Agung, memprotes. Sebab, dia sebagai penasihat tak dimintai pertimbangan. Wujud protes sang pangeran: mangkir dari pisowanan ageng di istana sang raja. Padahal, ketidakhadiran bangsawan istana dalam acara itu berarti pemberontakan. Dengan sanksi, hukuman mati!

Kanjeng Ratu Ibu, ibu suri, permaisuri mendiang Sultan Agung, amat prihatin. Dia, dengan keris terhunus tertuju ke tubuh sendiri, menemui Purbaya. Dia meminta paman sang raja berangkat ke Imogiri malam itu juga. Ketika dengan berat hati Purbaya menyanggupi, dia pun bersegera menemui putranya, Mangkurat, dan mengajukan permintaan yang sama. Ya, dia ingin mempertemukan mereka di makam Sultan Agung.

Dini hari, menjelang ayam berkokok, Purbaya dan Mangkurat bertemu di depan pusara Sultan Agung. Purbaya mencium kaki dan memohon maaf pada Raja, disaksikan Kanjeng Ratu Ibu. Raja balas merangkul sang paman. Dia menyatakan di hadapan semua bangsawan yang hadir, Purbaya bebas dari kewajiban menghadap Raja setiap pagi – kewajiban bagi para bangsawan tinggi. Terserah sang paman memilih hari, kapan mendampingi Raja bila ada upacara bersinggasana.

Fragmen, yang dikisahkan Romo Mangunwijaya (dalam novel Lusi Lindri, Jakarta: Gramedia, 1987), itu memperlihatkan betapa wibawa Sultan Agung belum luntur. Meski, sang raja telah terkubur. Pertemuan Purbaya dan Mangkurat di kuburan itu merupakan resolusi konflik pada tataran simbolis yang sangat dramatis. Lewat pertemuan itulah perpecahan di kerajaan, yang bisa berkembang menjadi perang saudara, tertangkal.

 

Kuburan Sejarah

Kisah itu memperlihatkan betapa wingit kuburan. Justru di kompleks kuburan, di depan jasad sang mati, benih perpecahan luar biasa di Kerajaan Mataram terpenggal, tak telanjur tumbuh dan membesar.

Sepeninggal Sultan Agung tampaknya tak ada lagi sosok hidup yang berwibawa dan karismatis. Karena itulah Kanjeng Ratu Ibu bertindak cerdas dengan mempertemukan Purbaya dan Mangkurat di depan manifestasi “kesaktian” mendiang Sultan Agung. Tak ada lagi orang hidup mampu menjadi “daya penarik” bagi orang-orang yang berseteru untuk datang, bertemu, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog, perundingan. Pada titik krusial semacam itu, sang mati justru jadi pilihan.

Selain kewingitan, pekuburan juga menyimpan kenangan, sejarah. Bukan cuma sejarah trah, garis keturunan sebuah keluarga atau klan. Kuburan juga menyimpan sejarah sebuah bangsa. Itulah makna di sebalik penggalian sebuah kuburan di hutan Siturup, Desa Dempes, Kaliwiro, Wonosobo, 16 November 2000. Kuburan itu adalah saksi sejarah kelam yang menguarkan bau darah membarah.

Di sana, di kawasan hutan, di bawah batang sebatang pohon kelapa, terkubur 21 orang dalam satu liang. Mereka adalah korban pembantaian akibat pertikaian politik kekuasaan pada masa awal “orde baru”, 1965. Penggalian yang dilakukan YPKP dan Solidaritas Nusa Bangsa atas permintaan Sri Muhayati, ahli waris salah seorang korban, itu adalah upaya menelusuri kebenaran sejarah – lewat pekuburan. Karena, sebagaimana dikatakan Pramoedya Ananta Toer (dalam film dokumenter penggalian kuburan massal itu, Mass Grave Indonesia, garapan Lexy Junior Rambadeta, 2001), pemerintahan “orde baru” dibangun di atas mayat para pendukung Bung Karno. Para pendukung itu termasuk anggota PKI, kaum nasionalis, dan kaum agama.

 

Kubur yang Hilang

Pramoedya mengatakan, “Pers Barat menyebutkan antara 500.000 dan sejuta orang dibunuh. Kata Domo dua juta. Dan Sarwo Edi yang menjalankan pembantaian itu atas perintah Harto mengatakan dengan bangga telah menghabisi tiga juta nyawa.”

Ketika pembunuhan demi pembunuhan belum lagi berhenti hingga kini, kuburan massal pun terserak di berbagai belahan negeri ini. Di Papua, Aceh, dan di mana lagi?

Tanah Jawa (atau Indonesia), sejak Arok, Mangkurat, (Westerling) sampai Soeharto adalah kuburan massal – korban pembantaian akibat pertikaian politik dan kekuasaan? Kalau mau jujur, itulah yang sesungguhnya.

Celakanya, banyak, sangat banyak, kuburan semacam itu belum ditemukan sampai saat ini. Itulah pula nasib kuburan belasan aktivis politik yang  diculik pada masa akhir kekuasaan “orde baru”, jika memang mereka dibunuh. Boleh jadi kuburan mereka disembunyikan. Karena, sejarah pun mengajarkan tindakan serupa. Kubur Tumenggung Wiraguna, misalnya.

Mangunwijaya mengisahkan, Panglima Perang Mataram itu berebut perempuan dengan Putra Mahkota, yang kemudian menjadi raja. Wiraguna dan seluruh keluarga pun dibunuh, tumpes tapis, lalu dikubur di suatu tempat tersembunyi, sampai kini. Pula, di mana kuburan ratusan atau ribuan prajurit Mataram yang dibunuh justru oleh perintah sang raja setelah mereka kalah dalam penyerbuan ke Batavia?

Kubur yang hilang atau dihilangkan adalah penghilangan sejarah. Karena itulah ketika belasan desa dari tiga kecamatan di Boyolali, Sragen, dan Grobogan ditenggelamkan menjadi Waduk Kedungombo, sebagian warga geram dan gusar. Sebab, mereka harus pergi dari kampung halaman. Mereka harus kehilangan segalanya. Juga kehilangan pekuburan nenek moyang, yang tenggelam ke dasar waduk.

Rasa kehilangan ikatan dengan masa lalu itu, sebagaimana digambarkan Agam Wispi, begitu mencekam: “selamat tinggal, kampung halaman/selamat tinggal, kuburan nenek moyang//kalian tenggelam/dalam “durjana” pembangunan//atap dan kelapa tenggelam dalam air/baginya air mata kami mengalir//di bawah air rumah kami tampak bagai bayang-bayang/beranda masa kecil kami, keranda berjuta kenangan.”

Kalaupun sebagian warga ngotot bertahan di daerah genangan, mereka akan selalu menyadari betapa“sudah tenggelam segala tersayang/dan cinta kampung halaman remuk redam”.

Mencari kubur yang hilang sesungguhnya adalah merunut jejak sejarah yang kelam. Dan, barangkali kelak kita pun tak lagi punya kuburan, tak lagi punya sejarah. Semua tenggelam, semua ditenggelamkan.

 

14 Juli 2002

 

Ilustrasi: http://www.flickr.com/photos/kristupa/

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Kang Putu. Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada Kang Putu…

 

 

 

11 Comments to "Edan-edanan (1): Pasarean dan Sejarah yang Terkubur"

  1. lili pondol  8 December, 2011 at 22:44

    selamat bergabung… salam kenal… kami kaum awam pingin denger banget artikel2 ttg sejarah yang terkubur… he he e “denger2″ memang ” yang terhilang ” itu ga dikubur kok… dibuang ke laut….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.