Gue Bukan Elo (7)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Artikel sebelumnya:

Gue Bukan Elo (6)

Gue Bukan Elo (5)

Gue Bukan Elo (4)

Gue Bukan Elo (3)

Gue Bukan Elo (2)

Gue Bukan Elo (1)

 

Akhirnya Maryati duduk manis di dalam sedan mewah milik Ibu Melody. Ibu menyetir sendiri mobil itu. Maryati hanya memandang aneka tombol yang dia sama sekali tidak tahu kegunaannya.Dan di luar dugaan Bu Melody menyalakan radio dan tak lama berkumandang lagu dangdut ‘Pacar 5 Langkah’, Yati nyengir ke arah Bu Melody dan berujar ” Ibu tau juga ya lagu dangdut ?? “. Bu Melody tersenyum lalu menjawab ” Iya donk, gini-gini Ibu tau hahaha, dari Pak Dayat supir kita “, dan keduanya tertawa riang sambil ikut menyanyikan lagu dangdut tersebut.

Tour ke beberapa mall merupakan pengalaman pertama bagi Yati, dia kagum melihat betapa pertokoan di Jakarta begitu megah dan mewah. Tak pernah bermimpi kini ia tengah menjelajahinya. Bu Melody memantau semua toko rotinya dengan rutin, dan Maryati bagaikan tamu istimewa, semua staf di toko-toko kue Ibu Melody menyukainya. Gayanya yang polos dan ceplas ceplos bagaikan menonton lenong secara non-stop. Bu Melody juga tidak merasa terganggu, dengan sabar ia menjelaskan segala hal pada Yati.

Tampilan Yati yang sangat sederhana dan Bu Melody yang begitu terawat sangatlah kontras, namun Bu Melody dengan bangga mengenalkan Yati sebagai ‘putri’nya. Dan semua yang mengenal Jennifer menyadari bahwa sosok Yati lebih ramah dan apa adanya.

Yati diajak masuk ke sebuah toko pakaian. Bu Melody dibantu petugas sibuk memilih aneka busana. Yati sebenarnya merasa semua itu tak perlu, baju-baju indah yang diperuntukkan baginya lebih ke tampilan gadis manis nan modis. Sedang dirinya lebih suka baju-baju yang seadanya namun enak dipakai manjat pohon, naik sepeda, main layangan dan segala aktivitas rutin kegemaran Yati. Namun ia tak berani membantah. Di mata Ibu Melody Yati sebenarnya cantik, tampilannya saja yang harus dibenahi, Yati bukanlah gadis yang buruk rupa walau serba sederhana.

Saat Bu Melodi memaksa Yati mencoba sepatu setinggi 5 cm, itu adalah siksaan. Yati tak bisa melangkah dan kalaupun dipaksakan dirinya mirip robot. Bu Melody terpingkal-pingkal melihat Yati begitu repot melangkah. Akhirnya sepatu keds menjadi pilihan Yati juga beberapa sepatu platform feminin aneka model, saat memakai sepatu keds bahkan ia mendemokan gerakan salto dengan lincah.

Tingkah laku Yati mirip gadis sirkus, lincah dan lentur. Seharian bersama Yati menyadarkan Bu Melody bahwa lama sekali ia tak tertawa sebanyak hari itu. Ada saja ulah Yati yang norak namun mengundang tawa.

Akhirnya Yati berada di sebuah toko yang menjual aneka model komputer juga aneka benda kecil namun canggih. Ternyata Bu Melody akan membelikan iPod berikut docking-nya yang mampu mengumandangkan ribuan lagu. Yati heran, dia ingin radio kenapa Ibu malah membelikan HP?

Bu Melody menyodorkan benda tipis mirip HP kepada Yati, ” nak, ini kamu suka gak ? Apa mau model lain ? “. Yati memegang benda itu dan tak mengerti bagaimana menggunakannya. Yati berbisik ke arah Bu Melody ” Bu, hmmm Yati pan kagak butuh tilpun, radio aja yak ? Bakal Yati goyang ” ujar Yati sambil menyerahkan “HP” yang dipegangnya kepada Bu Melody. Ibu tersenyum dan menjelaskan pada Yati bahwa benda itu bukan HP tapi sebagai alat pemutar musik. Dan selanjutnya dengan sabar Bu Melody mengajari Yati cara memakai alat itu. Yati kagum benda sekecil itu bisa menyimpan banyak lagu. Apalagi saat benda kecil itu diletakan di-docking-nya, segera mengalun lagu dengan suara canggih, beda sekali dengan radio kesayangannya yang hanya 2band.

Dalam perjalanan pulang Yati sibuk memencet iPod itu, ia memang tak pernah berurusan dengan benda canggih itu namun ia gadis yang cerdas, ia mulai mengerti fitur-fitur yang ada di iPod itu, selain dapat memuat ribuan lagu juga dapat memuat aneka video.

*****

Jennifer sedang duduk di sofa dengan wajah cemberut, pulang pergi ke kampus naik busway dengan uang jajan pas pas-an membuatnya merasa lelah. Ditatapnya Mami yang meletakan dus isi kue di atas meja pantry. Tatapan Jen dibuat sesedih mungkin, namun Jen bukan gadis yang pandai ber-acting, ekspresinya lebih mirip orang lapar dan tanpa ampun Mami memaksanya makan aneka kue. Jen kesal sekali, dirinya paling takut menjadi gemuk dan lebih kesal lagi Mami tak mendapat kesan bahwa dirinya sangat lelah dan sengsara.

Yati ingat pesan Bu Melody, agar meminta bantuan Jen untuk memasukkan lagu-lagu mp3 juga video kegemarannya ke dalam iPod barunya, namun jujur saja, melihat wajah cemberut Jen sama saja dirinya dengan sengaja berendam di kolam buaya yang sudah 2 minggu tidak makan. Diurungkan niatnya, ia menyusun pakaian-pakaiannya di walking closet di kamarnya. Rak sepatu yang tadinya kosong kini berisi sekitar 12 pasang sepatu yang feminin dan beberapa sneakers.

Bagi Yati menjalani kehidupannya yang baru adalah sebuah kisah dongeng. Kalau boleh jujur ia lebih suka berada di kampungnya dan bebas melakukan segala hobinya. Di rumah Kel Tanudjaja semua serba indah dan tertata namun Yati merasa kehilangan jati dirinya. Pelan-pelan dirinya menyerupai Jennifer yang serba tertata bagai seorang putri, dan Yati tidak menyukai hal itu. Ingin ia berkata tidak, namun dirinya tak ingin melukai perasaan Bapak dan Ibu Tanudjaja yang begitu baik dan tulus padanya.

Di kamar sebelah, Jen duduk di meja tulisnya dengan mata berkaca kaca. Bayangkan, Mami dengan seenaknya menyuruhnya membantu Yati mengisi iPod baru-nya dengan lagu-lagu dangdut kesukaannya. Belum lagi aneka video clip dangdut yang harus di download melalui youtube. Apa kata teman-temannya kalau sampai tau hal ini, bisa jadi bahan ejekan satu kampus dirinya. Jen mengutuk Yati dalam hati, kenapa dari sekian banyak aliran musik Yati justru suka lagu dangdut, norak banget !

*****

Esoknya saat sarapan Mami dengan ceria memberi kabar bahagia kepada Yati, bahwa Jen bersedia membantunya men-download aneka lagu & video dangdut. Yati nyaris melompat kegirangan, namun untung berhasil ditahannya, dilihatnya wajah Jen cemberut. Jen ingin sekali berteriak bahwa dirinya tak sudi membantu Yati tapi lebih baik mengalah, dari pada dirinya dibanjiri hukuman oleh Papinya.

“Kalo gw pura pura perduli sama anak udik ini, gw yakin Papi & Mami akan kembali memanjakan gw, butuh strategi untuk mengenyahkan bocah udik sialan ini” begitu pikir Jen sambil tersenyum, tenggelam dalam lamunannya. Dirinya tak sadar kalau Papi sempat menangkap senyum itu. ” Wah Papi seneng deh, putri cantik Papi tersenyum juga akhirnya, Papi kira kamu bakal keberatan nak, membantu Yati “. Jen nyaris menyemburkan sereal yang baru saja masuk mulutnya, ahh ceroboh betul, untung Papi salah duga arti senyumnya tadi. Jen memandang Papi sambil tersenyum semanis mungkin, ” Ya iyalah Pi, aku sadar aku ini manja dan beberapa hari ada Yati ternyata membuatku belajar dewasa lho ” Ujar Jen penuh dusta, ” Aku bakal bantu deh si Yati, apapun Ia kan sudah jadi menjadi bagian keluarga kita Pi ” Lanjut Jen semanis madu.

Wajah Mami berseri-seri, anak tunggalnya ternyata bisa juga berfikir bijak, Papi pun memeluk Jen dengan penuh kasih. Bahkan tanpa diduga Papi menyodorkan kunci New Beetle kepada Jane, ” Nih nak kunci mobilmu, hukumanmu sudah dicabut ” Ujar Papi, Jen tak mengira sandiwaranya berbuah semanis ini, hukuman baru satu hari ehh sudah diberi remisi.

Yati tersenyum tulus, melihat satu keluarga di depannya begitu mesra, dan Jen tersenyum penuh arti, dia harus menyusun rencana dengan rapih, jangan sampai orang tua-nya sadar dirinya hanya berdusta. Membuat Yati tidak betah ternyata tidak perlu dengan sikap kasar, nantilah akan difikirkan cara apa saja yang penting sekarang Papi dan mami mulai manis kembali padanya.

 

16 Comments to "Gue Bukan Elo (7)"

  1. J C  7 December, 2011 at 21:56

    Ini sepertinya tidak setragis Tumpuk Aichi ceritanya. Walaupun si Jennifer emang culas dan dengki…semoga endingnya Jennifer dan Yati jadi saudara beneran…

  2. HennieTriana Oberst  7 December, 2011 at 18:15

    Waduh bersambung lagi. Ditunggu lanjutannya.

  3. Sasayu  7 December, 2011 at 16:50

    Sasayu mengalah nih demi Pam2 untuk kumpul2 Baltyra….daripada resiko Pam2 dibalang sutil sama si Mbok…hahahahaha

  4. Lani  7 December, 2011 at 14:52

    waaaaaaah, culas banget nih anak…….

  5. Linda Cheang  7 December, 2011 at 09:27

    ditunggu lanjutannya

  6. Lani  7 December, 2011 at 08:51

    PAM-PAM : la kamu ngapain? ongkang2 makan2, setor mulut doank? wakakak…….sambil lirak lirik hayooooooo……itu kerjaanmu persis sama kang Anuuuuuuuuu……..liat yg kemplink2….istri ada disamping ndak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.