Jogja: Surganya Pecinta dan Penggiat Seni

Probo Harjanti

 

Jogja adalah surga bagi pecinta seni, apalagi seni tradisional. Di Jogjakarta seni apa pun ada, dari yang tradisional sampai kontemporer, bahkan modern ada. Berbagai even seni dan sastra silih berganti digelar di kota istimewa ini . Secara berkala berbagai pertunjukan seni digelar. Dari Festival sendratari  (seni drama dan tari) yang sudah berusia 30 tahun lebih, sampai yang masih Balita, seperti JIPA (jogja International Perfoming Arts) . Juga Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), gelar seni Pertunjukan sepanjang tahun di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jagongan Wagen di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK),  dengan  sajian beraneka,  musik, tari, teater, juga pantomime.

Untuk tari, selain  Festival Sendratari, ada Festival Wayang Orang, festival Seni Tradisi Kerakyatan, Festival Keraton, dan lain-lain.  Sementara kethoprak meski bukan lagi model konvensional, termasuk sering   dipergelarkan. Pertunujkan musik apalagi, mau  tradisioal, kontemporer,  mau pun modern selalu ada pementasan. Seni rupa apa lagi, selalu ada pameran, selain yang ada di galeri-galeri seni profesional, di berbagai tempat juga tempat lain seperti di TBY, Bentara Budaya, karta Pustaka, Juga di Lembaga Indonesia Perancis.

Salah satu yang bisa saya tonton adalah Gelar budaya etnik ini. Satu acara yang mengajak penonton untuk mengapresiasi berbagai seni pertunjukan dari beberapa daerah, dengan keunikan masing-masing. Penonton tumplek bleg (tumpah ruah) lesehan  di pelataran Monumen Serangan Oemoem Satu Maret. Acara menjadi lebih menarik, karena di samping pementasan juga didampingi acara pameran dan kwaliner (acaranya semacam kuliner). Tahun ini ada tambahan embel-embel ‘Internasional’, karena ada peserta dari luar negeri, yakni Chile dan  Belanda, dan satu lagi lupa.

Usai gelar etnik sudah disambut dengan hiruk-pikuk pernikahan kraton yang ‘ngedab-edabi’, atau menakjubkan!  Bayangkan ribuan warga berjubel memadati jalan Malioboro untuk menyaksikan pasangan pengantin keraton Jogja melintas, kerumunan yang nyaris tak tersibak.  Untuk yang ini sudah saya tulis di Baltyra juga, http://baltyra.com/2011/10/25/exclusive-yogyakarta-royal-wedding-pawiwahan-ageng-panggih-dan-kirab/ , juga http://baltyra.com/2011/10/19/exclusive-yogyakarta-royal-wedding-pawiwahan-ageng-kraton-yogyakarta-2/.

Masih dalam pekan yang sama, sudah disusul even berikutnya, yakni   JJC (Jogja Java Carnival), yang hiruk pikuk tapi saya cukup menikmati dari rumah saja, toh disiarkan langsung.  Meski saya harus kecewa karena yang lebih sering terlihat bukan pertunjukannya, melainkan pembawa acaranya.  Entah siapa yang salah ‘menerjemahkannya’ , yang jelas banyakan tayangan pembawa acaranya dari pada tariannya.

Minggu terakhir Oktober, ada gelaran seni karawitan, pedalangan, dan teater di pendapa SMKI, yang merupakan tugas akhir semester gasal. Disusul wayang wong  tiga malam berturut-turut. Kegiatan di pendapa SMKI ditutup dengan Festival Sendratari Propinsi DIY, yang merupakan even tahunan juga, dan sudah berlangsung 39 kali, libur sekali saat Jogja dilanda gempa. Paginya, 30 Oktober Taman Budaya ada pentas akhir bulan, yang diadakan sepanjang tahun 2011. Tahun ini terakhir dilaksanakan 18 Desember pagi, malamnya pementan drama tari dari Swagayugama, dengan judul Sang Maha Dewa Bharata. Di waktu yang sama, di Padepokan Bagong, saya dan teman-teman  akan me-launching beberapa tarian   baru karya kami.

Sekarang ini, persiapan Pasar Malam Sekaten di Altar (alun-alun utara) tengah dilakukan,  yang puncaknya adalah pemberian sedekah dari keraton untuk rakyatnya berupa gunungan, Garebeg Maulud. Sebelumnya Pasar Malam Mbah Demang di Modinan ( Jalan Godean), dan akan disusul Saparan, dengan Penyembelihan bekakak, dan….banyak lagi.

Eh ya, sekarang ini sedang berlangsung Biennale  Jogja 2011, itu adalah pameran seni rupa, yang bakal berlangsung sebulan lebih. Kalau melintas di titik Nol, di pojok kanan Gedung Agung  atau di depan Monumen 1 Maret, anda akan terlihat patung merah terang yang keberadaanya sangat menyolok. Baik karena warna, ukuran, mau pun bentuknya. Itu, dalam rangka biennale. Dari situ sekalian bisa  pula pameran foto di Benteng Vredeburg yang diadakan Pewarta Foto Indonesia, dalam rangka setahun erupsi Merapi.

Nah…..siapa yang tidak jatuh hati dengan Jogja Istimewa? Meski sekarang ini mulai macet, juga  banjir sesaat, tetapi tetap memikat.  Tak heran banyak pendatang sangat kerasan di Jogja, hingga enggan pulang setelah selesai studinya.

Nah teman-teman,silakan menikmati foto jepreten misoa, Pawai Ramayana di jalan Malioboro, dan pemetasan lain.

Rama, Sinta, dan Lesmana di saat bahagia

 

Permintaan yang berbuah petaka, menangkap kijang kencana, di latar belakang

 

Anakku tiba-tiba jadi ganteng dan berkumis

 

Anakku yang berperan menjadi raja-raja, ‘penekan’ di atas pundak temannya.

 

Wajah Dasamuka si wajah sepuluh, atau Rahwana

 

Foto junior sebelum pentas tari Sekar Pudyastuti (bonus nih….maksa)

 

Pembukaan PMPS ( Pasar Malam Perayaan Sekaten) tahun lalu

 

Salah satu peserta festival wayang orang gaya Yogyakarta 2011.

 

30 Comments to "Jogja: Surganya Pecinta dan Penggiat Seni"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 December, 2011 at 18:38

    Ya gimana bisa dibilang pusat seni? Lha wong sultane jago nari dan bikin tarian….

  2. nu2k  13 December, 2011 at 16:25

    Jeng Probo, bentjirih. Jadi agak allergisch udara yang lembab atau allergisch debu dan mungkin allergisch makanan? Obatnya terus apa ya jeng? Mungkin pakai obat-obatan yang homeopathisch atau jamu-jamuan kita? Sudah dicoba? Anakku kalau sakit perut, selalu saya kasih jamu kunyit asem… Manjur tuh….
    Achhh, Yogya khan gudangnya jamu-jamuan… Salam, dan turut prihatin, Nu2k

  3. probo  13 December, 2011 at 14:10

    wah……kangen bekakak mbak DA,
    nek ketemu ya…..angel nggoleki fotone sing sa-hereh-hereh

  4. probo  13 December, 2011 at 14:08

    SU Says:
    December 10th, 2011 at 18:32

    Masa sih. Ibu bisa ciptain tarian begitu berati sangat pandai Bu.

    ah…itu sih belum apa-apa….

  5. probo  13 December, 2011 at 14:07

    Mbak Nunuk, cerita tentang ragil agak2 sedih gitu, kasihan……dia agak bencirih ……
    sering terganggu kesehatannya.
    akhir bulan november opname di lagi…..

  6. Dewi Aichi  12 December, 2011 at 04:11

    Wuihhh..mantap sekali, aku percaya itu percayaaaaa he he…mana dulu dong..Jogjaaaa…memang istimewa, gudangnya seni dan budaya, juga budayawan…dagelan juga he he..dulu Didik Nini Thowok juga sering ngamen di Malioboro, Minggu pagi, bukan untuk cari duit, tapi untuk memasyarakatkan budaya Jogja, agar lebih diminati, dilestarikan,

    BU Gucan…request BEKAKAK dong, aku lihat BEKAKAK terakhir tahun 2008, itupun hujan derasssss….aku yakin banyak yang belum tau apa itu BEKAKAK, makanya aku minta BU Gucan memposting tentang BEKAKAK di baltyra……

  7. SU  10 December, 2011 at 18:32

    Masa sih. Ibu bisa ciptain tarian begitu berati sangat pandai Bu.

  8. nu2k  10 December, 2011 at 17:05

    Jeng Proboooo, oleh-oleh cerita tentang si ragil saja biar lengkap dan semua bisa turut merasakannya… Nggak cuma saya saja…. Ha, ha, haaaa… Aq baru dapat dodol duren buaaaanyak dari adikku yang kebetulan baru mampir, setelah dari Warsawa dll….
    Selamat berweekend ya jeng.. Saya mau sepedahan seperti biasanya.. Mumpung matahari sedang menebarkan senyumnya… Ha, ha, haaaa… Tot zo, Nu2k

  9. probo  10 December, 2011 at 15:49

    PakDj terima kasihh…..
    tapi yang tukang protes mungkin nggak banyak….tapi jelas termasuk saya hehehe
    bulan agustus mungkin ada juga..tetapi tak sebanyak bulan lain, karena bulan puasa…..
    saya tunggu ya PakDj…….
    masak suara saya kayak remaja sih…ada-ada saja…..
    kalau cempreng…emang iya……
    diams JC atau mbak Nunuk sudah pernah dengar suara cempreng saya heheheh

    makasih PakDj…salam istimewa dari Jogja istimewa…..buat PakDj sekeluarga

  10. probo  10 December, 2011 at 15:41

    Handoko Widagdo Says:
    December 7th, 2011 at 21:39

    Luar biasa Mbakyu Probo. Ayo njoget bareng
    la ayo to Dimas Hand…..

    SU Says:
    December 7th, 2011 at 21:47

    Bakat tarinya sdh diturunkan ke anaknya semua kah Bu?
    bakat saya juga cuma dikit mbak…sudah saya kasih semua hehehe

    J C Says:
    December 7th, 2011 at 22:09

    Mbakyu Probo, luar biasa, luar biasa, sekeluarga yang dianugerahi bakat seni yang luar biasa. Panjenengan dan ananda menari dengan apik, mas Effy membingkainya dengan apik dan penuh seni juga dengan cameranya…luar biasa…

    Matur nuwun sudah berbagi di sini…

    halah dimas JC memang suka memuj dan pinter nyenengke wong…..i

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.