Kopi Hitam Jeng Ratna

Ida Cholisa

 

Setiap kali selesai “nyupir” bus jurusan Jakarta-Pemalang, aku menyempatkan diri mampir ke kedai kopi di terminal Pemalang. Tak pandang itu pagi, siang atau bahkan malam, kakiku tak pernah lupa menyambangi kedai yang terletak di ujung terminal.

“Jeng Rat, kopi hitam, ya?” kupesan segelas kopi sambil kucolek pantat Jeng Ratna yang sexy. Ia mengelak geli.

“Monggo unjukane Mas…,” tangan putih Jeng Ratna menyodorkan segelas kopi hitam yang mengepul dengan aroma khas wanginya.

“Bade dahar nopo, Mas?” ia menawariku makan.

“Ah, masih pagi, Jeng. Nantilah agak siangan.”

Kusruput kopi hitam panas itu. Sekujur rasa hangat menjalari segenap tubuhku. Hari masih pagi. Baru saja azan subuh berkumandang.

“Sholat rumiyin, Mas. Nek bade sare monggo mriki mawon,” ia mengingatkanku untuk sholat subuh dan leyeh-leyeh di kursi panjang yang ada di warungnya.

“Nggak enaklah tiduran di sini, nanti kalau ada yang mau makan gimana?” sergahku.

“Nggih mboten nopo-nopo, nek taksih enjing sepen koq Mas…,” ia mengatakan tak apa-apa, sebab saat pagi pengunjung kedainya masih sepi dari pembeli.

“Hm, aku maunya istirahat di dalam, boleh?” tanyaku sambil nyengir.

“Ah Mas Dono niki lho, mangke pripun nek digrebek satpam…,” ia menolak halus permintaan “ngaco”-ku.

“Ya sudah, pijitin saja punggungku. Nanti kubayar mahal, Jeng…,” rayuku.

“Mboten ah, Mas…., wedos….,” katanya.

“Takut sama sapa? Lha wong mijitin doank aja…,” aku masih merayunya. Tapi si Jeng Ratna kukuh menolaknya.

***

Aku kembali menyupir bus jurusan Jakarta-Pemalang. Seperti biasa bus yang kubawa dari terminal Pulogadung tepat pukul tujuh malam akan tiba di terminal Pemalang sekitar pukul dua malam. Aku bersorak dalam hati. Akan panjang waktuku ditemani sang dewi, Jeng Ratna yang elok dan menawan hati. Hm.

Sambil melajukan bus pikiranku melayang-layang. Wajah Jeng Ratna datang timbul tenggelam. Jujur kuakui, ada desir tersendiri saat membayangkan paras ayu sang dewi hati. Ingatanku pada sang istri yang telah peyot di kampung seolah terkunci. Dadaku dipenuhi sosok Jeng Ratna, perempuan sintal dengan dada penuh yang membuat hatiku bermandi guruh.

“Pelan-pelan, Pir…!” terdengar teriakan para penumopang. Aku tak begitu peduli dengan teriakan mereka yang bersahut-sahutan. Bayang wajah Jeng Ratna memaksaku untuk menancap gas hingga bus serasa terbang ke angkasa raya…

Teriakan berhamburan di mana-mana. Tapi bagiku teriakan itu laksana derap seribu kaki kuda yang akan membawaku pada cinta seorang wanita; Jeng Ratna! Aku seolah melihat wajah cantiknya terlukis di pekat malam. Tubuh sintalnya bergoyang membuat kelaki-lakianku tertantang. Jantungku berdetak kencang. Hasrat itu sungguh tak terperikan.

Kelamnya malam kembali memunculkan wajah ayu Jeng Ratna. Sekuat tenaga aku berusaha mengejarnya. Aku sangat tak kuat menahannya; hasrat hati begitu menggelora…

Tiba-tiba….

Bum!!!!

Teriakan menggema di mana-mana. Jerit tangis memanuhi jagat raya. Aku terkesiap. Tuhan! Badanku terjepit di antara badan bus yang hancur; kenapa ini? Di mana Jeng Ratna? Di mana?

***

Rasa bersalah itu terus saja ada, menghantui langkahku di mana pun aku berada. Aku telah menjadi pembunuh atas lima puluh delapan penumpang busku. Aku dinyatakan bersalah atas kelalaianku, mengantuk saat mengemudi kendaraan. Hingga akhirnya penjara menjadi tempat tinggal untuk beberapa lama.

Istriku hanya sesekali menjengukku. Tubuh payahnya bermandi penat mengurusi tiga orang anak, sementara suami yang menjadi tulang punggungnya meringkuk di dalam penjara. Ah, mendadak ada rasa bersalah di hatiku pada istri yang melahirkan anak-anakku. Ini semua karena pikiranku dipenuhi wanita sintal Jeng Ratna, hingga kecelakaan maut tak bisa dielakkan…

Hari-hariku terasa sepi. Dingin dan beku memanggul sunyi. Tak ada kopi hitam yang dahulu selalu kujumpai. Tak ada tubuh kusintal Jeng Ratna yang dahulu mampu mendesirkan hati. Semua tak ada lagi.

Tiba-tiba seorang sipir membuka pintu terali besi ruangan tahananku. Terkesiap dadaku.

“Ada seseorang mencarimu. Cepat!”

Bergegas aku mengikuti langkah sang sipir. Tiba di depan ruangan pembesuk, dadaku berguncang kencang. Seorang wanita cantik bertubuh sintal tampak memegang cangkir dengan aroma kopi hitam yang pahit, kental dan sangat merangsang. Kepul panasnya bergoyang-goyang membelai hidung dan segenap perasaan.

“Jeng Ratna!” seruku.

Ia tersenyum di balik terali besi itu. Tangan putihnya menjulurkan kopi hitam ke depanku.

“Ngunjuk, Mas. Njenengan mestine kangen ngunjuk kopi, kan?”

Kusruput kopi hitam itu. Bercampur aduk perasaanku, berdentang lonceng hatiku. Aku ingin memeluknya, aku ingin mengulumnya, sebentar saja…

“Jeng…, mendekatlah…,” kataku.

Ia menyodorkan wajah lembutnya di balik terali besi itu. Mataku melirik sipir penjara yang ada di belakangku.

“Aku kangen, Jeng…”

“Sami, Mas. Kulo nggih kangen kaliyan Mas Dono…”

Kugenggam erat halus tangannya. Pada celah terali besi itu, kucoba menangkap indah bibirnya…

Tiba-tiba…

“Mas Dono…., aku datang bawa anak-anak….”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tampak olehku di samping Jeng Ratna, istri peyotku bersama tiga anakku; Tole, Genduk dan Nanang.

“Pak’e…., pulang Pak’e…!” anak-anakku berteriak bersahut-sahutan. Sementara ibu mereka menatapku dengan pandangan penuh cemburu yang berkobar-kobar.

“Minem? Aku kangen, Minem…..”

Istriku hanya diam mematung. Ditariknya ketiga anak kami, dan ia pun pergi meninggalkanku yang terkaget-kaget dengan wajah yang pucat pasi.

“Monggo diunjuk, Mas…,” Jeng Ratna meminumkan secangkir kopi pahit ke mulutku. Jari halusnya sempat menyentuh ujung kumisku.

Dan aku menggelepar, tak mampu menahan hasrat besarku!***

 

Ilustrasi: KFK Kompas

 

18 Comments to "Kopi Hitam Jeng Ratna"

  1. Kornelya  8 December, 2011 at 00:22

    Penjual kopi pahit, penyebab kepahitan hidup. Salam.

  2. Lani  8 December, 2011 at 00:02

    14 AKI BUTO emank kamu ndak suka soto krompyangan……grombyangan????? halah ngaku wae……ora ming disruput tp diuntal sak pancine……..wahahaha

  3. Dj.  7 December, 2011 at 23:49

    Hhhhhmmmm……!!!!!

  4. Handoko Widagdo  7 December, 2011 at 22:08

    Kopi pahit yang jual manis

  5. J C  7 December, 2011 at 22:04

    Lho? Kok malah soto grombyangan?

  6. Lani  7 December, 2011 at 14:38

    wadoooooh! sopirrrr gilaaaaaaa…….!

  7. kembangnanas  7 December, 2011 at 13:51

    wewww…

  8. Lani  7 December, 2011 at 13:35

    wadoooooooh SOTO GROMBYANG (cekangkang……… wuenaaaaaak je……..sayang ndak ada di KONA……hrs ngluruk ke PEMALANG……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *