Sebilah Pisau di Bawah Bantal

Seroja White   Obet tak tahu sejak kapan istrinya punya kebiasaannya seperti itu. Ia mengetahuinya kemarin malam, ketika ia mengajak istrinya untuk tidur. Gina-istrinya-tampak sibuk mencari sesuatu di dapur. Mata Obet terbelalak ketika melihat istrinya itu memegang sebilah pisau dapur. “Gin, untuk apa pisau dapur itu? Kitakan mau tidur.” Dalam hati ngeri juga Obet melihat kelakuan istrinya itu. Sementara Gina hanya tersenyum, tak menjawab. Lalu di letakkan pisau itu di bawah bantal tidurnya. Obet semakin terheran-heran dibuatnya. Malam itu musnah hasratnya untuk bermesraan dengan istrinya itu, Dia membalik badan lalu lelap dalam alam tidur. Keesokan paginya seperti biasa, rutinitas pagi yang selalu berburu dengan waktu melupakan Obet atas peristiwa semalam. Gina juga tampaknya tak ingin membahas hal itu. Paginya seperti biasa Gina menyiapkan sarapan dan menghantar suaminya itu bekerja. Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Obet masih menimbun rasa penasarannya. Untuk apa Gina menyimpan sebilah pisau di bawah bantalnya? Apa mungkin dia berencana membunuhku? Obet berusaha menghalau pikiran ngaco itu dalam benaknya, biar tak cantik-cantik amat, Gina itu istri yang baik. Itu terbukti selama lima tahun ini dia telah setia melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Gina istri yang baik setia sekaligus penurut. Di tempat lain, seorang perempuan sedang mengasah sebilah pisau. Pisau itu berkilatan terkena pantulan mentari pagi, wajah perempuan itu menyeringai. Puas hatinya melihat pisau itu kini telah setajam samuarai, berkali diasahnya kembali. Dengan penuh perasaan. Dibelai-belainya pisau itu dengan hasrat tersembunyi. Entahlah apa itu… **** Pukul sepuluh pagi, tapi Obet sudah menguap berkali-kali, kantuk menyerangnya bertubi-tubi. Lalu dia mencari hiburan untuk menghalaunya. Diraihnya ponsel, face book-an sebentarlah pikirnya, mumpung kantor lagi sunyi. Lagi tak ada pekerjaan, hari ini belum ada klien yang hendak bertransaksi, maklum tanggal tua. Obet bekerja pada sebuah perusahaan leasing otomotif, pendanaan kredit kepemilikan sepeda motor. Jadi kalau tanggal segini biasanya kerjaan lagi tak banyak. Setelah memasukkan id dan pasword mulailah lelaki itu bergerilya di dumay-dunia maya-istilah anak jaman sekarang. Pertama mengonfirmasi pertemanan. Wuihh, jejeran cewek cantik minta berteman, dari foto profilnya sih boleh juga nih, langsung dikonfirmasi. Padahal belum tentu itu foto asli mereka, Lelaki itu saja memasang foto profil seorang model pria yang ia tak kenal siapa. Foto-foto itu ia dapatkan dari hasil hunting di google. Melihat kolom pemberitahuan, lalu kabar terkini. Kasih komentar di sana sini, tebar pesona dan sedikit sapa nakal di wall cewek-cewek cantik yang berparade mengumbar syahwat, lelaki itu benar-benar terhanyut. Tak jarang berawal dari intensnya ber-fb-ria, hubungan berlanjut ke dunia nyata. Saling bertukar nomer hp, dan tahu sendirilah kelanjutannya. Tapi sejauh ini belum ada yang berlanjut sampai kopi darat. Obet belum siap melihat reaksi mereka yang bakal tahu kalau tampangnya sangat pas-pasan, bakal kabur mereka. Mereka kan mengenalnya dengan nama account ‘si penyair tampan’. Sering buat status puitis menggoda maka Obet lah sang pengeran di komunitasnya, dikelilingi para bidadari-bidadari fecebooker. Ahh, inilah dunia maya, walau semu tapi mampu menjadikan kita sosok yang berbeda, imitasi. Tanpa sadar seorang ibu sejak sepuluh menit yang lalu telah duduk di depan mejanya dengan tampang cemberut. Budi, teman kantorku sampai menepuk bahuku, “Bang Obet, tuh klien. Layani dulu!” Ia tergagap, lalu segera me-off-kan face book-nya. Pasang muka seramah mungkin kepada ibu yang sudah menunggu sedari tadi, untung saja kekesalan ibu itu belum naik sampai ke ubun-ubun. “Fb-an terus sih bang, pegal saya yang menunggu dari tadi.” Obet hanya menjawab dengan senyum menyeringai. Semoga ibu ini tidak mengadu pada bos-ku, bisa gawat aku, pikirnya. *** Wanita itu terus mengejar Obet, kilatan pisau yang terkena pantulan sinar purnama semakin buatnya kalut. Wajahnya menyeringai, tampak dua taring tajam menyembul di antara gigi-giginya, liurnya menetes, memandangnya sepertinya ia adalah santapan yang lezat buatnya. Kali ini Obet bener-benar tersudut, gang itu buntu. Wanita itu hanya tinggal beberapa meter lagi di depanku. Tampaknya perempuan itu siap mengulitinya, memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian, mengoyak dada dan mencopot jantungnya, membayangkan perempuan itu memeras jantungnya dan mengirup tiap tetes darah dengan penuh dahaga. Lututnya lemas, lalu lunglai. Terjerebab. Lalu kedua tangan wanita itu terjulut ke arahnya, tubuhnya terguncang, “Bang bangun! Sudah siang, mimpi apa pula kau!” Gina menguncang-guncang tubuh suaminya. Obet setengah tersadar dan terbangun, tersentak mengetahui Gina tengah berada di sampingnya. Sepertinya wanita dalam mimpinya tadi mirip dengan… *** Suara guyuran air dari dalam kamar mandi memastikan dirinya kalau suaminya Obet, benar-benar sedang mandi. Gina tahu benar kebiasaan suaminya itu, kalau mandi pasti lama, bisa sejam lebih. Segera di carinya hp di saku celana suaminya yang tergantung di balik pintu. Dibukanya kotak masuk, benar beberapa sms masuk masih tertera. Dibacanya satu persatu. Semuanya dari para perempuan, Amel Imoet, Bidadari Senja, Penelope Namaku, Embun Pagi dan masih banyak yang lainnya lagi, entahlah. Hati wanita itu begitu nelangsa. Selama ini Obet tak tahu kalau sebenarnya sejak lama Gina mengetahui kebiasaannya yang gemar bernakal-ria di dunia maya. Obet pikir istrinya yang hanya tamatan SMP itu bakalan tidak tahu mengggunaan alat-alat dan sarana canggih telekomunikasi. Obet salah, Gina ternyata tahu banyak tindak tanduknya. Ia tidak sadar salah satu di antara bidadari-bidadari yang sering dikencaninya di dunia maya itu adalah Gina, istrinya. Tentu saja dengan nama account berbeda ‘ bidadari bermata biru’. Dikembalikannya hp suaminya itu di tempatnya semula. Pura-pura tak tahu apa-apa, hanya berharap semoga suaminya itu segera sadar dan berubah. *** Malam ini kembali Obet melihat Gina menyimpan kembali sebilah pisau di bawah bantalnya. Obet begitu penasaran, kali ini keingin tahuannya itu harus tuntas. “Gin, untuk apa kau setiap malam menyimpan pisau di bawah bantalmu?” Lagi-lagi Gina hanya tersenyum, tak menjawab sepatah pun. “Itu bahaya Gin, tak baik menyimpan senjata tajam. Kalau ada setan lewat bagaimana?” Obet menakut-nakuti Gina agar segera mengenyahkan pisau itu dari balik bantalnya. Sejujurnya Obet sangat was-was, ia mencoba mereka-reka apa yang ada dalam pikiran Gina. Apa mungkin Gina tahu kelakuanku selama ini, kembali dicobanya menghalau pikirannya itu. Tiba-tiba Gina menyeringai buas, matanya menyala-nyala penuh kebencian. Ia meraih pisau itu dari bawah bantal dan mengacung-acungkannya di udara. Tiba-tiba tawanya pecah, suaminya hanya mampu terpana, menatapnya tak percaya. Tubuh Obet mengigil. “Pisau ini untukmu suamiku!” Obet tak pernah menduga Gina akan bertingkah seperti ini. Tak tampak sedikit pun di wajahnya kalau ia sedang bercanda seperti biasa. “Kau bercandakan sayang?” bujuknya. “Ha..ha..ha! Pisau ini buatmu suamiku!” Lagi-lagi kata itu yang diucapkanya. Pisau itu sekarang terhunus tepat di depan hidungnya. Kini Obet baru sadar kalau ternyata Gina tak main-main, Ia hanya bisa berharap semoga ini hanya mimpi.

*****

23 Comments to "Sebilah Pisau di Bawah Bantal"

  1. Seroja  12 December, 2011 at 15:53

    mb DEWI @ untung ndak pake nama bidadari berdarah-darah..heheheheh

  2. Seroja  12 December, 2011 at 15:52

    mba [email protected] BIDADARI INVISIBLE? wakaakakka……jadi iku sampaean toh….hahahahaha

  3. Dewi Aichi  12 December, 2011 at 03:29

    Wah untung Gina ngga membaca smsku yang kukirim untuk Obet, wkwkkw…nama facebookku BIDADARI INVISIBLE.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.