Belajar

Anwari Doel Arnowo

 

Saya pernah dibantah dengan suara dan nada yang setengah membentak, oleh seseorang yang dipandang sebagai pemuka agama. Pasalnya tidak lain dan tidak bukan karena pernyataan saya yang menyebutkan bahwa setiap orang itu mengalami perubahan berkelanjutan dalam kurun waktu dia menjalani seluruh kehidupannya di dunia, demikian pulalah pasalnya tentang berkembangnya akal. Pada waktu manusia masih bayi sampai berusia 10 tahun, ketergantungannya kepada manusia lain yang lebih tua, tinggi tingkatannya.

Ketika masih terlalu kecil, misalnya masa masih bayi itu, mereka yang meskipun telah memiliki akal akan tetapi karena tingkat kemampuan berdayanya amat terbatas, maka lebih banyak naluri yang dipakainya dari pada menggunakan akal. Contoh untuk hal ini bisa diberikan: waktu haus dia mengeluarkan suara tidak nyaman, bahkan tangisan. Kalau sudah agak besar maka peran akal akan lebih menonjol dari pada naluri. Pembicaraan seperti inilah yang mula-mula sekali menjadi penyebab sang pemuka agama tadi mulai menyimak kata-kata saya dengan penuh perhatian.

Saya meneruskan pernyataan saya bahwa saya yang sepuluh tahun umurnya tentu saja akan menerima saja apa kata mereka, termasuk orang-orang tua di sekeliling saya, mengenai agama dengan kisah-kisahnya yang menarik hati dan memukau, meskipun akal belum bisa menerima apa pesannya! Saya masih meneruskan bahwa saya yang 10 tahun itu berbeda dengan saya yang 20 tahun dan seterusnya, apalagi saya yang pada waktu itu sudah 65 tahunan umurnya.

Di titik inilah pernyataan saya dihentikan dengan kata-kata, antara lain: “ Pak, anda tidak boleh memakai akal kalau berbicara mengenai agama!!” dan seterusnya.

Biarpun dia berang dan kesal dalam mengemukakannya, saya menjawab dengan suara rendah: “Saya berpendapat bahwa akal adalah karunia dari Tuhan, Tuhan yang manapun yang disembah oleh agama manapun. Saya yakin yang disebut akal itu adalah kelengkapan karunia Tuhan yang sudah ada sejak terjadi pembuahan sebagai hasil hubungan satu pasangan suami istri. Jadi dengan demikian akal itu bukan dipasang setelah sang janin berubah menjadi bayi yang hendak  dilahirkan, baru dipasangi (diinstall) dengan “benda” yang bernama akal itu.

Karunia Tuhan yang istimewa ini amat patut kita hormati, dengan cara: menggunakannya.

Dengan mengabaikan fungsi dan peran akal maka kehidupan kita bisa lebih terpuruk.

Saya berani mengatakannya karena mungkin ikut terdorong oleh tambahan pengetauan dalam mengamati proses kelahiran cucu-cucu saya yang sekarang berjumlah enam orang itu. Orang Tua-Orang Tua mereka yang adalah anak-anak saya sendiri, pernah bercerita bagaimana para  Dokter ObGyn. (Ahli Kandungan), ada yang mengamati dengan menggunakan alat USG (Ultra Sono Graphy) dari sang janin yang sudah berbentuk lengkap (lebih 4 bulan?) ternyata bisa diajak berkomunikasi dengan verbal. Ada juga masukan kepada saya bahwa sang janin “bisa” menerima permintaan dokter untuk menggerakkan bagian tubuhnya yang tertentu, semua dengan bahasa lisan. Luar biasa komunikasi dari jenis yang satu ini. Getaran suara verbal merambat melalui udara menembus kulit serta organ-organ sang ibu dan juga menembus cairan yang membungkus serta melingkari janin di dalam kandungan, lalu ditrasformasikan menjadi medium yang bisa ditangkap oleh sistem yang ada di dalam sebuah janin.

Pada kesempatan lain dalam tahun ini saya juga membaca mengenai kecerdasan janin yang mungkin mempengaruhi kemampuan berkomunikasi seorang bayi. Bayi yang baru lahir itu tingkatannya dalam belajar bahasa komunikasi verbal, adalah paling tinggi setara genius, sehingga akan dengan mudah dan akan mampu berkomunikasi menguasai tiga bahasa sekaligus secara bersamaan. Selanjutnya kemampuan menguasai bahasa baru itu akan terus menerus menurun sampai ketika mencapai usia lanjut. Memang saya terkejut sekali membaca ini. Tetapi meskipun demikian saya ingat ketika saya sudah berhenti bekerja pada umur 60 tahun, saya mengambil les khusus pribadi: bahasa Arab. Saya ulangi: bahasa Arab, yang tentu saja tidak ada hubungannya dengan agama Islam, karena saya ingin mampu berkomuikasi dengan cara verbal meggunakan bahasa Arab secara umum dan sehari-hari.

Bagaimana hasilnya sekarang?? Sudah hampir 14 tahun yang lalu, saya tidak bisa menggunakan bahasa itu sama sekali, karena beberapa “alasan”.  Utamanya adalah tidak saya temui komuitas dan orang di sekeliling saya yang bisa saya ajak berlatih agar saya bisa bercakap-cakap. Bacaan umum yang bahasa Arab pun tidak saya temukan. Lalu bagaimana saya bisa mengembangkannya? Ya dengan menyesal saya memutuskan tidak meneruskan upaya saya dalam bahasa baru apapun, sejak saya membaca bahwa kemampuan menguasai bahasa baru setelah lanjut usia, tidak mudah bisa dilaksanakan karena kecerdasan makin berkurang.

Pada jaman saya masih belajar di SMA saya juga menambah dengan les pribadi bahasa Jerman dan guru privat saya adalah Pak Österhause yang mampu dan mahir aktif menguasai 11 (sebelas) bahasa. Saya bisa berkomunikasi verbal sebelum lulus SMA. Memang bahasa Jerman saya berkurang kualitasnya sejak saya belajar dan tinggal di Jepang selama sekian tahun lamanya. Sekarang yang saya kuasai hanya bahasa Jepang dan Inggris, bahasa daerah Sunda, Banjar dan Palembang serta Jawa, sedikit-sedikit dialek yang lainnya saya menyerapnya tergantung keperluan sesaat.

Sekarang saya sedang menggeluti lagi bahasa Jawa, bahasa dari suku asal saya, dan melengkapi diri saya dengan membeli buku-buku yang ada, di mana saya temukan segala nama-nama benda atau nama apapun, lagu-lagu Jawa serta huruf-hurufnya, yang pada jaman Sekolah Rakjat saya bisa menulis, memakai huruf ini, secepat saya menulis huruf latin. Sekarang saya masih harus belajar lagi agar bisa menguasai lagi bahasa Jawa dengan lebih baik, lebih lengkap dan semoga saja akan paripurna. Semua kegiatan ini akan mendorong kinerja serta sel otak saya dengan aktif.

Marilah kita kembali membicarakan AKAL.

Kata yang satu ini mewakili arti kemampuan untuk bisa dipakai sebagai alat penunjang agar hasil akhir upayanya akan menguntungkan sipengguna akal. Apakah itu akan berbentuk muslihat positif ataupun muslihat negatif, itu bukan persoalan. Yang penting menurut saya yang menyebabkan saya di “serang” oleh pemuka agama di atas, adalah akal itu memang telah dilekatkan ke dalam “tubuh” sang janin, bukan setelah bayi lahir.

Dua tiga hari lalu saya menerima email dari TED yang berupa video  TALKS yang menampilkan

Annie Murphy Paul berbicara mengenai topik menarik berjudul: What we learn before we’re born – Apa yang kita pelajari sebelum lahir?

Iyaaa … Kapan sih kita mulai belajar?

Silakan anda simak melalui link berikut ini dengan Ctrl+Click:

http://www.ted.com/talks/annie_murphy_paul_what_we_learn_before_we_re_born.html?utm_source=newsletter_weekly_2011-11-29&utm_campaign=newsletter_weekly&utm_medium=email

Annie Murphy Paul ini telah memudahkan saya dalam upaya mengemukakan pendapat saya di atas. Pada umumnya dia menerangkan bagaimana janin itu sudah mulai bisa belajar pada sekian lama setelah terjadi pembuahan atau pembentukan janin.

Saya juga membaca bagian di tulisan lain yang mengatakan bahwa bagian yang terbentuk paling awal dari “tubuh” janin adalah OTAK. Masuk akal sekali, karena otaklah yang menggerakkan semua kegiatan tubuh kita sepanjang hidup. Dan jangan lupa, saya sekarang hampir berani mengatakan bahwa seratus persen benar bila banyak dokter saat ini akan memberikan visum kematian dengan mengatakan bahwa seseorang akan bisa disebut mati secara biologis, apabila otaknya sudah berhenti berfungsi, bukan jantungnya berhenti berdetak.

Bukankah gerak jantung itu hanya bisa berhenti apabila sudah tidak ada lagi yang mampu  memerintahkannya untuk berdetak seperti selama ini dilakukannya kepada manusia yang hidup??

Yang menjadi pertanyaan bagi diri saya adalah apa dan bagaimana sebuah nyawa yang ada di dalam tubuh saya. Pernah memang terbersit dari dalam diri saya dan juga saya katakan berkali-kali dan dimana-mana bahwa nyawa itu “duduk’nya di di dalam otak. Tetapi melihat bagian tubuh hewan cicak yang terputus dan masih bisa bergerak-gerak, demikianpun ular dan ikan. Saya lihat bagaimana seorang koki masakan gaya China berupa ular yang sudah dipotong menjadi sekitar sepuluh potongan dan digoreng, kemudian setelah ditaruh di atas sebuah piring, seluruh potongan ular itu masih juga bisa bergerak-gerak. Masakan seperti ini juga dilakukan terhadap ikan yang digoreng di bagian kepala dan badan bagian belakang dipegang oleh tangan manusia yang dibungkus. Waktu dihidangkan di piring, maka ekornya masih bergerak-gerak juga.

Banyak hal-hal biasa di dunia ini yang belum bisa saya pahami cara menerangkannya

Inilah yang juga membuat sedikit lebih terang tentang apa yang disebut dengan istilah mati suri yang amat banyak terjadi kepada manusia ataukah juga binatang serta tanaman??.

 

Anwari Doel Arnowo

1 Desember, 2011

 

 

16 Comments to "Belajar"

  1. Dewi Aichi  11 December, 2011 at 21:57

    Pak Anwari, saya memang butuh dan harus belajar hidup, bukan sekedar bisa hidup, melalui tulisan Pak Anwari, saya juga belajar banyak, menurut saya, apa yang bapak tulis ini sangat dalam maknanya, pengalaman hidup, ide yang tertuan di setiap tulisan pak Anwari, bahkan tidak terlintas sedikitpun dalam otak saya, maka dari itu saya kagum dan ingin terus belajar. Dan yang paling saya sukai , tulisan bapak tidak berkesan mengguri, itu lebih nyaman rasanya.

  2. Anwari  11 December, 2011 at 05:36

    Yang saya tulis memang permintaan maaf melalui duta itu hanya untuk urusan Rawagedeh. Sdr. Pondaag itu dari KUKB brlanda bukan mewakili RI. Sayapun bersama KUKB bersama dengan para korban Rawagedeh berdemonstrasi ke Kedutaan belanda di jalan Rasuna Said Jakarta beberapa tahun lalu yang dipimpin oleh sdr. Batara Hutagalung dari KUKB Indonesia. Ada photo-photonya, diantaranya menyatakan persoalan bukan hanya Rawagedeh, tetapi juga soal Westerling dan Apra dan ada soal agresi yang telah saya sebutkan. Rawagedeh adalah hanya sebagian kecil dari Republik Indonesia.
    Salam saya,
    Anwari

  3. matahari  10 December, 2011 at 19:10

    Pak Anwari..sepertinya permintaan maaf negri kincir angin untuk para keluarga korban Rawagede walau lewat Dubes mereka..sudah merupakan permintaan maaf resmi dari pemerintah mereka.Tugas seorang duta besar menyampaikan itu..atas perintah pemerintahnya..kenapa saya berani katakan ini permintaan maaf resmi dari negri itu….akan saya copy paste beritanya dari NRW versi bahasa Indonesia….sebagai berikut:..”Ia mengatakan uang tidak bisa menjadi jawaban atas kerugian yang diderita para korban. Permintaan maaf dapat melengkapi semuanya.

    “Pemerintah Belanda sudah melaksanakan kewajibannya. Meski itu tetap meninggalkan luka tapi langkah yang dilakukan pemerintah Belanda ini sangat penting buat mereka,” demikian Liesbeth Zegveld.

    Jumat besok duta besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan akan menyampaikan permintaan maaf resmi pemerintah Belanda kepada para janda korban dan sanak keluarga di Balongsari. Ia didampingi pengacara para korban Liesbeth Zegveld dan ketua Komite Utang Kehormatan Belanda, Jeffry Pondaag.

  4. Anwari  10 December, 2011 at 18:04

    Terima kasih Matahari, sharingnya.
    Permintaan maaf sang duta itu belum sepenuhnya, karea tingkatnya hanyalah duta besar. Minta maaf itu mestinya resmi pemerintahnya dan dilakukan olek Perdana Menteri. Belum lagi secara resmi de jure amtar kedua negara. Selama belum ada itu maka sejak 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949 belanda itu mrasa berhak menyerbu Indonesia dan membunuhi orang Indonesia dan mengata-ngatai Soekarno sebagai bandit dan teroris. Padahal pemerintahan NICA yang bentukan dan memang dimotori belanda adalah agressor seperti Jerman terhadap belanda pada Perang Dunia II dahulu. Masa pemerintah belanda tidak mengerti bahwa apa yang dibuatnya di Indonesia itu serupa bahkan lebih dari Jerman dibawah Hittler !!??¿¿
    Salam,
    Anwari. 2011/12/10

  5. matahari  10 December, 2011 at 16:13

    Pak Anwari..saya juga ada membaca tentang pembantaian di Rawagede itu…sepertinya tahun 1947…menurut versie Indonesia yang terbunuh ada 431 dan menurut versie negri kincir angin 150 dan mereka pemerintah negri kincir angin telah memberikan bantuan 850.000 euro untuk perbaikan desa Rawagede yang sekarang bernama BalongSari (???)…Saya sendiri melihat kasus ini sebagai sifat”gentle”dari pihak negri kincir angin karena mereka mau meminta maaf secara terbuka..artinya mereka mengakui secara gentle kesalahan mereka…dan pemberian dana 20.000 euro per korban serta keluarga korban itu kurang penting dibanding permintaan maaf…karena kata kata maaf ini memang sangat berarti..Uang bisa lenyap tapi kata maaf sedikit banyak bisa membuat luka dalam di hati para korban dan keluarga korban sedikit berkurang ..walaupun luka itu pasti akan tetap menganga.Saya sering membaca juga bahwa negri kincir angin termasuk satu negara di Eropa yang sangat banyak memberikan bea siswa untuk mahasiswa Indonesia…Mungkin saja itu juga salah satu bentuk permintaan maaf mereka ke negri kita disaat mereka masih menjajah…sebuah permintaan maaf yang tidak diungkapkan..

  6. nu2k  10 December, 2011 at 07:16

    Kangmas Anwari, itulah fenomena nyata yang terjadi di Belanda… Pernah di salah satu artikel yang saat itu termasuk cukup panjang (kalau nggak salah Volkskrant atau NRC, salah satu) pernah dituliskan tentang “pernak perniknya”. Salah satu alasannya mereka “takut” menyinggung dan reaksi dari para veteran yang masih hidup, kalau mereka melakukannya saat kini. Jadi kemungkinan besarnya ya setelah generasi veteran Belanda “habis” baru akan diungkapkan pengakuan seperti yang dimaksudkan… Selamat beristirahat dan kita tetap berteman toch yoooo… ha, ha, haaaa… Nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.