Tentang Stigma (2)

Wesiati Setyaningsih

 

Artikel sebelumnya: Stigma (1)

 

Rabu, 23 Nopember 2011

Aku meraih buku kumpulan cerpen tulisan mas Putu yang aku beli waktu diskusi tentang kumpulan cerpen “Nyanyian penggali kubur” di FIB kemarin siang. Aku membeli dua buku, satu untukku dan satu untuk aku sumbangkan ke perpustakaan sekolah. Pagi tadi sebelum ke kantor aku raih buku yang rencananya aku sumbangkan untuk sekolah. Maksudku setelah aku baca di kantor nanti, bisa segera aku serahkan pada petugas perpus.

Aku buka halaman pertama. Ada tulisan mas Putu di situ.

“Untuk SMAN 9 Semarang, Salam setengah merdeka!” tulisnya.

Lalu ada tanda tangannya yang unik dan indah itu.

Masih pukul tujuh, aku mengajar pukul setengah sembilan nanti.

“Masih ada waktu,” pikirku.

Cerpen pertama cukup absurd tentang mayat-mayat yang dibuang ke sungai tanpa ada orang yang berani mengambil untuk merawatnya dengan layak karena mereka diasumsikan sebagai oknum PKI. Lalu pada perut mayat itu tumbuh bunga yang harum baunya. Cerpen ketiga, tentang suami istri yang ribut terus waktu hidup karena si istri merasa suami tidak mau bekerja sementara si suami sebenarnya memang tidak bisa bekerja lagi karena sebagai orang yang disangka sebagai anggota PKI, tidak ada lagi yang mau mempekerjakan dia.

Aku mulai makin paham betapa sulit orang yang sudah disudutkan dengan stempel PKI padanya. Padahal dia sama sekali tak tahu apa-apa. Hanya disodori kertas dan diminta tanda tangan, tiba-tiba dia sudah menjadi anggota PKI. Dan semua itu mempengaruhi seumur hidupnya, juga seluruh hidup anak cucunya.

“Saya tidak punya KTP!” kata mas Putu tegas.

Waktu itu aku sedang mengantri minta tanda tangan untuk buku yang akan aku sumbangkan ke perpus sekolah. Tampak garis penderitaan panjang di matanya. Luapan dendam tersembunyi dalam suaranya. Dan aku tahu, itu menyakitkan.

“Kenapa?” tanya mahasiswa yang menunggu bukunya ditandatangani oleh mas Putu.

Mas Putu menatap nanar.

“Karena KTP saya akan ditandai dengan ET atau OT. Tau apa itu?”

Dua mahasiswa di depannya diam.

“ET itu eks tapol. OT itu organisasi terlarang! Semua itu dihapuskan waktu Gus Dur jadi presiden tahun 99!”

“Saya baru bikin KTP tahun 2003 waktu saya akan menikah,” lanjut mas Putu sambil mulai menandatangani buku mahasiswa itu.

Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Rasa perih yang menusuk-nusuk relung hati ketika aku tahu bahwa dalam kehidupan manusia lain, yang ada di sekitarku, mengalami kesulitan yang begitu luar biasa, tanpa pernah aku ketahui.

Aku semakin menahan nafas saat membaca cerpen kedua. Seorang anak yang diajak saudaranya menengok ayah dan ibunya yang sedang hamil dipenjara. Anak yang tidak tahu menahu kenapa orang tuanya ditangkap paksa dengan cara yang mengerikan dan traumatis. Dadaku sesak. Airmataku hampir jatuh. Buku itu terpaksa aku letakkan di meja. Aku tidak tega meneruskan membaca.

Aku terlanjur menganggap semua cerita mas Putu itu nyata. Di kehidupan lain, di luar kehidupanku yang sejahtera sebagai anak PNS dan kemudian menjadi PNS juga, ternyata ada kehidupan-kehidupan yang begitu rumit dan tak selesai-selesai. Semua hanya karena penghakiman yang bisa jadi tak benar dan hanya hasil dari sebuah rekayasa.

Sebuah rekayasa tingkat dewa yang membunuh jutaan orang dan membunuh kehidupan anak-anak lain yang bahkan baru lahir. Betapa banyak anak yang tahu apa-apa tiba-tiba menemukan dirinya sudah menyandang stigma sebagai anak anggota PKI, bahkan cucu anggota PKI dan mereka dianggap tidak layak untuk hidup layak di negara ini.

Siang dua orang murid menemuiku. Salah satu melihat buku itu tergeletak di mejaku dan tertarik. Aku katakan buku itu tentang PKI dan dia mulai membuka halaman pertama.

“Lhah, kok dicoret-coret gini sih bu?”

“Itu bukan coretan. Itu tanda tangan dari penulisnya,”

“Ha? Wah..keren..!”

“Bawa aja kalo kamu mau baca. Entar kalo sudah selesai kasi ke perpus. Itu buat perpus kok,”

“Beneran, bu?”

“Iya lah..”

“Kok di sini tulisannya ‘setengah merdeka’ bu?”

“Kan memang sebenarnya kita baru setengah merdeka,”

“Kok kepala sekolah enggak pernah bilang kalo kita baru setengah merdeka?”

“Kepala Sekolah enggak tau. Dan justru baru kamu yang tau, sekarang ini…”

“Oh, gitu ya?”

Aku mengangguk yakin.

“Tega nggak ya bacanya…” gumamnya sambil membawa buku itu pergi.

Terngiang kata mas Putu di FIB, ketika seorang mahasiswa bilang, kenapa usaha-usaha untuk membuka mata masyarakat tentang kejadian tahun 65 itu tidak dilanjutkan dalam skala yang lebih luas?

“Itu bukan urusan saya! Kenapa saya yang sudah jadi korban ini harus menyadarkan orang banyak atas semua ini? Bahkan ini semua saja sudah membuat saya sakit..”

Aku cuma bisa menghela nafas panjang, berdoa agar buku itu dibaca murid-muridku. Lalu mereka mendapatkan kesadaran baru. Lalu menceritakan pada teman-teman mereka. Lalu menceritakan pada anak cucu mereka dalam dongeng-dongeng, bahwa pada suatu masa, di negeri ini pernah terjadi suatu rekayasa yang mengerikan. Sebuah pelajaran besar tentang penghakiman yang mengerikan. Penghakiman yang kemudian menjadi monster bernama STIGMA.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Tentang Stigma (2)"

  1. Dewi Aichi  11 December, 2011 at 22:06

    Apik sekali cerpennya, aku ingin bukunya nanti, bersyukur sekarang sudah tak ada cap PKI , yg menempel pada seseorang”..meski luka tak mudah terobati.

  2. wesiati  11 December, 2011 at 18:50

    mbak linda : iya.
    mbak nu2k : salam mbak.
    mas handoko : why not?
    mas JC : inbox alamatmu aja ke fb ku mas. nanti aku minta mas putu untuk kirim. juga urusan lain2 nanti aku balas lewat inbox.
    mbak SU : begitulah…

  3. SU  10 December, 2011 at 18:26

    Memang memprihatinkan sekali bagaimana sejarah bisa diubah2 dan org2 terkena imbas dr kepentingan dan keegoisan penguasa.

  4. J C  9 December, 2011 at 22:15

    Wesiati, buku Kang Putu pasti dahsyat ya? Bagaimana cara saya mendapatkannya? Salam takzim untuk Kang Putu – guru dari Wesiati…

  5. Handoko Widagdo  9 December, 2011 at 15:24

    Wesiati….membiarkan murid-muridmu membaca buku ini?

  6. nu2k  9 December, 2011 at 11:51

    Aduuuuhhh mbak Wesiati, lihat fotonya, saya lewati dulu ya….Salam, nu2k

  7. Linda Cheang  9 December, 2011 at 10:34

    stigma itu memang membebani.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *