Mahasiswa Kok Brutal?

Sumonggo – Sleman

 

Tidak mengenakan helm, bisa membahayakan keselamatan, bila terjadi kecelakaan saat berkendara. Tetapi gara-gara ingin mengenakan helm, ternyata bisa juga membahayakan keselamatan. Seorang mahasiswa meregang nyawa karena pengeroyokan, akibat dituduh hendak mencuri helm. Salah ambil helm bisa berakibat fatal.

Tragisnya, para pelakunya adalah rekan-rekan satu kampus. Lebih memprihatinkan lagi, peristiwa tersebut terjadi di kampusnya sendiri, tak terlalu jauh tentunya dari tempat di mana para dosen dan profesor menyampaikan ajaran-ajaran luhur. Tak terbayang jerit hati orang tua, mendapati anak yang dilepas belajar dengan segenap dukungan dan memeras keringat orang tua, pulang tak bernyawa. Orang tua para pelaku pun, tentulah tak kurang gundah hatinya, mengetahui sang anak yang didamba menjadi kebanggaan keluarga, bakal mendekam di jeruji besi, dengan masa depan yang entah tak jelas lagi. Bahkan bila yang menjadi pencurinya adalah orang dari luar kampus, apakah layak rasanya para mahasiswa ini menghakimi pelakunya sesuka hati? Apakah kultur kekerasan memang bagian dari dunia kampus? Sebandingkah nilai helm itu dengan nyawa manusia? Begitu mudahnya diprovokasi untuk melakukan pengroyokan.

Teringat dulu sewaktu kasus meninggalnya praja IPDN, para pelakunya kakak kelasnya sendiri. Entah bagaimana sekarang kelanjutannya, tak jelas apakah masih berlanjut kekerasan di sana, setelah media terlupa. Begitu pula sewaktu ada mahasiswa meninggal karena orientasi studi. Sejumlah perguruan tinggi sudah merubah diri, tak lagi menyelenggarakan orientasi studi berbasis kekerasan. Pelatihan motivasi, pelatihan emosional dan spiritual, outbound, dan juga mendatangkan tokoh-tokoh yang mampu memberi inspirasi, merupakan pilihan yang lebih bijak. Meski ada saja yang tetap bebal menjadikan budaya kekerasan di kampusnya sebagai suatu kebanggaan.

Pada masa pra-reformasi, bila ada polisi masuk kampus, karena mengejar mahasiswa yang melakukan unjuk rasa menentang rejim Orde Baru. Sekarang pada era reformasi, polisi terpaksa masuk kampus untuk melerai para mahasiswa yang tawuran. Sebenarnya kepolisian juga menghadapi dilema, masuk kampus dipersalahkan, tidak melerai dianggap pembiaran. Pak Polisi bisa kena batu nyasar, dicaci maki, dituduh melanggar HAM, bahkan konyolnya bisa kejadian mereka yang tadinya saling berhadapan malah beralih menyasar polisi. Kalau Pak Polisi mau cari aman bisa saja membiarkan kaum intelektual nan terdidik ini gebuk-gebukan gontok-gontokan hancur-hancuran sendiri.

Yang lebih mengenaskan bukan sekedar lempar batu, tetapi gedung kuliah dirusak, sampai laboratorium dibakar. Mungkin ilmu yang diperoleh di bangku kuliah itu diberdayakan untuk membuat tawuran lebih “hebat”, bila perlu dengan bom molotov. Seandainya ada para siswa SD yang kelasnya tempat bersekolah hampir roboh melihat kakak-kakak mereka berkelakuan seperti itu, apa yang terpikir di benaknya? Sudah punya gedung bagus-bagus kok dirusak sendiri? Atau mungkin sekali waktu perlu, kakak-kakak mahasiswa ini merasakan belajar di kelas bekas kandang kambing, yang atapnya bocor, temboknya sewaktu-waktu bisa runtuh tanpa peringatan, atau yang lantainya selalu berlumpur menjadi langganan banjir, agar lebih pandai bersyukur ketimbang getol melanggengkan rantai kekerasan.

Lain kampus tawuran, lain fakultas tawuran, lain jurusan tawuran. Masih ada saja alumni yang bangga tradisi tawuran di kampusnya, menyebutnya sebagai hal yang lumrah. Okelah bila sebatas adu jotos saja mungkin masih bisa diterima, tapi mengapa mesti merusak ruang kuliah dan menghancurkan laboratorium. Terbayang berapa banyak praktikum tersendat, kelulusan terhambat, biaya terbuang untuk mengganti peralatan laboratorium yang pastinya tak murah. Semoga saja tak benar bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik.

Nuwun.

Sejumlah link berita terkait dan ilustrasi:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=292690
http://www.tempo.co/read/news/2011/12/07/063370387/Dituduh-Curi-Helm-Mahasiswa-Tewas-Dikeroyok

 

 

 

27 Comments to "Mahasiswa Kok Brutal?"

  1. Lani  14 December, 2011 at 07:42

    26 KANG MONGGO : jawaban yg jempol tenan wesss…….mrk hrs dikirim ke KONA utk belajar itu dr gurunya plg canggih hehehe

  2. Sumonggo  14 December, 2011 at 06:11

    Diajeng Lani: Solusinya perlu diberi kuliah umum Filsafat Sudrun dari Profesor Lani … ha ha …
    Bang Wahnam: Mungkin pelonconya ada tapi dengan tidak kekerasan, tapi kalau yang saya amati lembaga pendidikan sekitar saya, rata-rata kalaupun ada pelonco hanya tinggal lucu-lucuan saja tanpa kekerasan, tapi kurang tahu kalau di unit kegiatannya apakah masih ada semacam inisiasi juga
    Pak Handoko: Ha ha … nyindir nih …. lho kita bisa kan … bisa lari-lari …, baca ceritanya sih si atlet di ronde akhir itu cedera kaki sehingga dia berusaha menghindar, cuma ya agak norak saja karena sampai berlindung di belakang wasit
    Mbak Hennie: Tentu itu pengalaman yang kurang menyenangkan, untunglah tidak sampai seperti itu di sekitar saya

  3. HennieTriana Oberst  13 December, 2011 at 22:34

    Mas Sumonggo, masih banyak juga yang melestarikan kebrutalan ini.
    Dulu waktu di Jakarta, saya paling takut kalau sedang di kendaraan umum ada yang tawuran. Bisa-bisa kena lemparan benda nyasar.

  4. Handoko Widagdo  13 December, 2011 at 20:33

    Yang aneh, meski mahasiswanya jago tawuran tetapi atlet pencak silat bisa dapat emas dengan cara lari-lari

  5. Wahnam  13 December, 2011 at 19:41

    Sepertinya menjadi tradisi kalau para pelajar di Indonesia tawuran, apalagi pelajar SMA nya. Ngomong2 Orientasi study aka plonco aka mapras ya Pak Sumonggo ?. Kayaknya hanya ada di Indo. bener ngak sih ?

  6. Lani  13 December, 2011 at 09:30

    21 KANG MONGGO : kira2 solusinya gimana kang?????

  7. Sumonggo  13 December, 2011 at 09:28

    Pak Handoko: Kalau mahasiswanya tewas atau masuk penjara, jadi orang tuanya yang frustasi
    Kornelya, Bu Silvia: Tentulah, tiada orang tua yang menyekolahkan anak dengan niatan agar anaknya jadi jagoan tawuran, tapi jagoan kuliah, olahraga, seni, dan prestasi lainnya
    Diajeng Lani: Iya memedenikan tenan …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.