Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Mahasiswa Kok Brutal?

Monday, 12 December 2011

Viewed 1970 times, 1 times today | 27 Comments |

Sumonggo – Sleman

 

Tidak mengenakan helm, bisa membahayakan keselamatan, bila terjadi kecelakaan saat berkendara. Tetapi gara-gara ingin mengenakan helm, ternyata bisa juga membahayakan keselamatan. Seorang mahasiswa meregang nyawa karena pengeroyokan, akibat dituduh hendak mencuri helm. Salah ambil helm bisa berakibat fatal.

Tragisnya, para pelakunya adalah rekan-rekan satu kampus. Lebih memprihatinkan lagi, peristiwa tersebut terjadi di kampusnya sendiri, tak terlalu jauh tentunya dari tempat di mana para dosen dan profesor menyampaikan ajaran-ajaran luhur. Tak terbayang jerit hati orang tua, mendapati anak yang dilepas belajar dengan segenap dukungan dan memeras keringat orang tua, pulang tak bernyawa. Orang tua para pelaku pun, tentulah tak kurang gundah hatinya, mengetahui sang anak yang didamba menjadi kebanggaan keluarga, bakal mendekam di jeruji besi, dengan masa depan yang entah tak jelas lagi. Bahkan bila yang menjadi pencurinya adalah orang dari luar kampus, apakah layak rasanya para mahasiswa ini menghakimi pelakunya sesuka hati? Apakah kultur kekerasan memang bagian dari dunia kampus? Sebandingkah nilai helm itu dengan nyawa manusia? Begitu mudahnya diprovokasi untuk melakukan pengroyokan.

Teringat dulu sewaktu kasus meninggalnya praja IPDN, para pelakunya kakak kelasnya sendiri. Entah bagaimana sekarang kelanjutannya, tak jelas apakah masih berlanjut kekerasan di sana, setelah media terlupa. Begitu pula sewaktu ada mahasiswa meninggal karena orientasi studi. Sejumlah perguruan tinggi sudah merubah diri, tak lagi menyelenggarakan orientasi studi berbasis kekerasan. Pelatihan motivasi, pelatihan emosional dan spiritual, outbound, dan juga mendatangkan tokoh-tokoh yang mampu memberi inspirasi, merupakan pilihan yang lebih bijak. Meski ada saja yang tetap bebal menjadikan budaya kekerasan di kampusnya sebagai suatu kebanggaan.

Pada masa pra-reformasi, bila ada polisi masuk kampus, karena mengejar mahasiswa yang melakukan unjuk rasa menentang rejim Orde Baru. Sekarang pada era reformasi, polisi terpaksa masuk kampus untuk melerai para mahasiswa yang tawuran. Sebenarnya kepolisian juga menghadapi dilema, masuk kampus dipersalahkan, tidak melerai dianggap pembiaran. Pak Polisi bisa kena batu nyasar, dicaci maki, dituduh melanggar HAM, bahkan konyolnya bisa kejadian mereka yang tadinya saling berhadapan malah beralih menyasar polisi. Kalau Pak Polisi mau cari aman bisa saja membiarkan kaum intelektual nan terdidik ini gebuk-gebukan gontok-gontokan hancur-hancuran sendiri.

Yang lebih mengenaskan bukan sekedar lempar batu, tetapi gedung kuliah dirusak, sampai laboratorium dibakar. Mungkin ilmu yang diperoleh di bangku kuliah itu diberdayakan untuk membuat tawuran lebih “hebat”, bila perlu dengan bom molotov. Seandainya ada para siswa SD yang kelasnya tempat bersekolah hampir roboh melihat kakak-kakak mereka berkelakuan seperti itu, apa yang terpikir di benaknya? Sudah punya gedung bagus-bagus kok dirusak sendiri? Atau mungkin sekali waktu perlu, kakak-kakak mahasiswa ini merasakan belajar di kelas bekas kandang kambing, yang atapnya bocor, temboknya sewaktu-waktu bisa runtuh tanpa peringatan, atau yang lantainya selalu berlumpur menjadi langganan banjir, agar lebih pandai bersyukur ketimbang getol melanggengkan rantai kekerasan.

Lain kampus tawuran, lain fakultas tawuran, lain jurusan tawuran. Masih ada saja alumni yang bangga tradisi tawuran di kampusnya, menyebutnya sebagai hal yang lumrah. Okelah bila sebatas adu jotos saja mungkin masih bisa diterima, tapi mengapa mesti merusak ruang kuliah dan menghancurkan laboratorium. Terbayang berapa banyak praktikum tersendat, kelulusan terhambat, biaya terbuang untuk mengganti peralatan laboratorium yang pastinya tak murah. Semoga saja tak benar bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik.

Nuwun.

Sejumlah link berita terkait dan ilustrasi:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=292690
http://www.tempo.co/read/news/2011/12/07/063370387/Dituduh-Curi-Helm-Mahasiswa-Tewas-Dikeroyok

 

 

 

Share This Post

Posted by Monday, 12 December 2011 on 07:47.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

27 Responses to “Mahasiswa Kok Brutal?”

Pages: « 3 2 [1]

  1. 10
    tammy Says:

    ya ini bukti kalo sekolah2 di indonesia gagal mendidik siswa. seperti bbrp artikel ttg pndidikan akhir2 ini, yg terjadi adalah penjejalan materi sebanyak2nya. gunanya apa ya tanya aja sama para mentri yg ngaku pinter.

  2. 9
    Dewi Aichi Says:

    Seven wonders? Tentang?????

  3. 8
    Sumonggo Says:

    Mas Josh Chen dan Mbak Dewi Aichi, lho kalau warga negara ngendonesia bagaimana, ha ha …….
    Mbak Dewi Aichi: Nomer siji yoben …..
    Mas Josh Chen: Lho kan sudah menjadi seven wonders .. he he …
    Linda Cheang: Begitulah

  4. 7
    Dewi Aichi Says:

    ha ha ha…yo rasah karo sewot to….yo wis I bukan E…

  5. 6
    J C Says:

    Lho jelas WNI – I’nya Indonesia…coba lihat passport’ku…mosok WNE?

  6. 5
    Dewi Aichi Says:

    Trus mas JC warga negara Endonesia atau Indonesia?

  7. 4
    Dewi Aichi Says:

    Mas Sumonggo, benar benar memprihatinkan kelakuan mereka yang disebut MAHAsiswa, kasihan sekali mereka, manusia-manusia yang patut dikasihani karena kelakuannya yang brutal..

  8. 3
    J C Says:

    Lha itulah identitas dan ciri khas pelajar dan mahasiswa Endonesa (bukan Indonesia lho, mas Sumonggo)

  9. 2
    Linda Cheang Says:

    yang brutal itu bukan mahasiswa, tapi mahasiksa!

  10. 1
    Dewi Aichi Says:

    Yoben..!

Pages: « 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)