Perjalanan Bersama Sahabat (2): Masih Solo

Linda Cheang – Bandung

 

Teman – temin Baltyra,

Ya, memang masih kisah perjalanan kami di Solo.

Seusai kelelahan ngangkring di emperan bersama teman-temin sudrun, kami dan Buto JC kembali ke kediaman Pak Hand, tapi tidak berani berharap lagi Cabuk Rambak bisa lewat, setelah semalam sebelumnya kami tunggu, tidak muncul juga, karena perut kami sudah tidak muat lagi. Jadilah perjalanan kami di Solo ini minus Cabuk Rambak. Kalau Orang Sunda bilangnya bengkok tikoro alias bukan rejekinya.

Kami bergegas tidur karena esok paginya pukul enam, kami dijadwalkan mengikuti ibadah di gereja yang dibom dengan bom bunuh diri pada 25 September 2011 lalu. Saya tadinya berpikir apa mau, ya, Romo ikutan ibadah di gereja non Katholik, ternyata ayo aja. Sipp! Romonya easy going, euy! Juga untuk saya, masih ada “PR” tambahan sebelum tidur karena harus melepaskan dulu benda-benda yang bling-bling di telinga dan leher saya, plus  melunturkan dulu “plesteran tembok” di wajah saya, demi menghadiri pesamuan agungnya Lembayung supaya terlihat pantas. Nah, Yung, dikau sudah sukses sekali bikin daku repot “nembok” segera setelah selesai mandi sore sesuai instruksi tuan rumah. Busyet, deh. Untuk “nembok” yang sederhana saja perlu waktu nyaris sejam. Untung enggak perlu pake sasakan apalagi sanggulan rambut, cuma dijepit seadanya….jiaaannn…

Minggu pagi, pukul empat subuh waktu setempat, sengaja saya bangun duluan supaya bisa mandi pagi dalu, mengingat kamar mandi yang bisa digunakan tinggal satu, sebelum nanti ada yang bikin siaran ulangan “cewek mandinya selalu lama!” hahahaha, padahal yang ngomongnya itu lebih lelet dari saya. Pada saat saya bangun subuh, ternyata ada Si Mbok pembantunya keluarga Pak Hand terheran-heran lihat saya sudah siap dengan perlengkapan mandi. Kenapa heran, ya? Siaran ulangannya batal, deh. Hehehe. Kami jadi pergi bersama JC, anak – anak Pak Hand yang tengah dan Si Ragil.

Tibalah kami di gereja dimaksud, GBIS Kepunton Solo. Dalam gambaran saya, lokasi gereja ini ada di jalan yang besar, seperti yang saya lihat di reportase berita televisi sewaktu bom bunuh diri terjadi. Ndilalah, ternyata lokasinya di dalam pemukiman yang padat dengan jalan yang tidak lebar. Kami bergegas masuk ke dalam ruang kebaktian karena ibadah sudah dimulai beberapa menit. Hari itu yang membawakan kotbah adalah pendeta tamu dari Salatiga dan tema kotbahnya begitu indah, mengenai peran Kristus dalam keluarga.

Sepertinya karena ada Romo ikut jadi jemaat padahal Si Pendetanya tidak ngeh kalau mau ada Romo datang, di dalam kotbahnya Si Pendeta tamu juga mengisahkan peran Bunda Maria dalam kisah tentang keluarga itu. Jadilah ada Romo yang biasa memberi kotbah, sekarang dikotbahi. Kotbah yang nantinya jadi ide untuk satu acara di Salatiga, karena Romo didaulat untuk jadi pembicaranya. Baguslah, Romo sepertinya bisa menikmati ibadat yang berlangsung. Bravo, Padre!

Usai kebaktian, usai pula ambil foto-foto, jepret plakat gereja dan  plakat kenangan di tiang tempat terjadinya biom bunuh diri, ternyata kami tidak bisa langsung pergi untuk makan. Kami mesti tunggu Si Ragil selesai dari kelas sekolah minggunya yang pada hari itu tidak biasanya lebih lama. Lumayan, sementara menunggu, ada angin sejuk berhembus ke halaman kompleks gereja. Sampai Si Ragil muncul, barulah kami bisa meluncur ke Café Tenda Biru untuk menyantap Dimsum. Menu yang dipilih Bakmi Ayam pakai toge, Bakmi Char Siew, Kay Chat, Kaki Ayam, Siomay, Hakau, ada lagi, nggak ya? Lupa, soale benar-benar blass, tidak satupun menu dimsum diabadikan, karena sudah keburu kalap.. :P

Dimsum selesai disantap, kami dibawa dulu ke tempat beli oleh-oleh, karena JC mau borong abon, dan beberapa kue, barulah kami blusukan ke Kampung Laweyan untuk cari produk batik. Saya sudah senang, terpikir untuk bisa melihat proses pembuatan batik terutama proses pewarnaan dan pelorodan, tapi sayang karena itu hari Minggu banyak pekerja industri batik libur dan saya hanya dapat sempat menyaksikan pembuatan batik tulis dari seorang perempuan muda menorehkan malam menggunakan canting di atas selembar kain mori.

Di salah satu toko batik, JC beli satu pakaian buat Nyonya JC, tapi tidak bisa menemukan hem yang pas buat badannya yang menjulang.  Romo Budiman membeli beberapa kain batik untuk teman dan kerabatnya dan di satu tempat lagi, Romo akhirnya menemukan jarik batik cap yang katanya untuk dipakai membungkus badannya di musim panas di Roma nanti. Mungkin supaya berasa semwriwing, ya, Mo? Atau supaya tidak digigit nyamuknya Italia? Saya diminta pilihkan motif jarik batik yang saya sukai, maka saya pilihkan motif dominan Truntum, mirip dengan Bunga Cengkeh tampak atas atau bintang. Mudah-mudahan dengan pilihan motifnya makin semriwing rasanya.

Berburu batik belum selesai. JC masih belum menemukan hem yang bisa ukurannya pas dengan badannya. Akhirnya dalam perjalanan pulang ke rumah Pak Hand, mampir di satu toko batik, rupanya di sana ketemu apa yang dimau, dan Romo juga minta saya pilihkan motif satu kain lagi untuk seorang temannya yang lain. Selesai sudah, pulang, karena saya juga sudah merasa perlu untuk ganti pakaian semi formil untuk ke gereja, dengan pakaian yang lebih kasual. Kemudian sekalian antar JC ke bandara, makan siang dulu di tempat ayam goreng dan ternyata Pak Hand punya hal lain untuk kami, mengunjungi Museum Sangiran bersama Si Ragil. Saya tetap antusias meski rasanya sudah lelah. JC sampai ke bandara, kami menuju Sangiran.

Perjalanan ke Sangiran lumayan makan waktu. Melintasi jalan kecil beraspal, melewati perbukitan yang masih diliputi pohon-pohon hijau, semestinya udara sejuk terasa, tetapi yang kami rasakan saat itu udaranya panas. Belum lagi saya sudah merasa ngantuk luar biasa, tapi harus tetap terjaga karena jangan sampai acara jalan-jalan terganggu gara-gara saya ngantuk. Untung, situasi Museum Sangiran yang masih tahap pembangunan cukup membantu saya terjaga. Informasi yang ditampilkan cukup baik, meski hanya dua ruangan pajang yang dibuka pada saat itu,  koleksi yang menarik perhatian saya adalah koleksi rahang buaya yang ditemukan di lokasi Sangiran. Salut juga kepada Si Mbak pemandu museum, pasti mahasiswi dari Antropologi, karena ketika saya menanyakan tentang Homo Floresiensis a.k.a Hobit, yang sudah pasti tidak ditemukan di Sangiran, dia bisa menjawabnya dengan baik. Tapi kalau mau menikmati seluruh koleksi Museum Sangiran, mesti tunggu pembukaan besarnya pada 15 Desember 2011.

 

Sebelum pulang, kami sempatkan dulu ke menara pandang untuk melihat film mengenai Sangiran, dan naik ke menaranya untuk melihat situasi Solo dari atas bukit. Baru memahami mengapa Solo yang ada di tengah-tengah Pulau Jawa terasa panas meski penuh dengan hijauan dan jauh dari pantai, karena Solo dan sekitarnya berada di dataran yang rata hasil proses jutaan tahun. Lihatlah gambar terlampir yang diambil dari menara pandang.

Bagusnya kelelahan saya bisa dibayar dengan tidur yang cukup sebelum kami mengakhiri hari itu dengan makan malam a la angkringan Wa Po di daerah Solo Baru, minus Sate Kere Yu Rebi. Di angkringan ini dengan pengelolanya warga Tionghoa Solo, kami bisa menikmati sajian Nasi Kucing Bandeng dengan porsi yang bisa mengganjal perut dengan baik dan sate-sate cemilan terbuat dari daging ayam dan “BlackBerry”. Gambar sajiannya nanti, ya, di spesial wiskul.

Segini dulu laporan kali ini. Berikutnya, perjalanan kami ke Salatiga. Harap sabar menunggu, ya.

Salam jalan-jalan,

Linda Cheang

Desember 2011

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

22 Comments to "Perjalanan Bersama Sahabat (2): Masih Solo"

  1. Linda Cheang  14 December, 2011 at 06:33

    Mak SU : ayo ke Solo. Nanti disambut Pak Hand

    Hennie : terima kasih sudah bersedia membaca dengan sabar. maih bersedia menunggu, kan?

    Oom ODB : pesan sudah kuteruskan ke Romo Budiman. Semoga cepat dijawab.

    Oom Dj : iya. tuh, Romo senang bisa merasakan suasana lain di rumah lain yang sebenarnya masih sesama saudara seiman. Cara boleh beda, tapi tujuan tetap satu Tuhan Yesus Kristus.

  2. Dj.  14 December, 2011 at 01:40

    Hallo Linda….
    Terimakasih untuk cerita pengalaman yang mengasyikan….
    Untuk Romo ikuti kebaktian dimana saja, Dj. rasa malah menambah wawasan beliau.
    Tidak hanya tau tenatng apa yang ada dirumah sendiri, tapi “mungkin” bisa melihat hal yang lain, yang sebenarnya tujuannya sama.
    Salam manis dari Mainz.
    Japrinya sudah Dj. balas. Kamsia…!!!

  3. Oscar Delta Bravo  14 December, 2011 at 00:30

    Buat Linda dan Romo Budiman,sejakpertamakali Linda memperkenalkan Rm Budi di Baltyra,saya pernah menanyakan keberadaan Rm Edison Tinambunan,yang saya kenal 9thn lalu di Amrik,Florida waktu membawakan kotbah digereja paroki kami Lady of The Lake dalam rangka cutinya dari Roma Italy sebagai pimpinan perpustakaan digereja Katolik Roma dengan alamat SForza Pallavicini 1000193 Roma Italy,sejak itu kami sering email dengan beliau,sampai beliau cuti ke Indopun baik saat di Sumut bertemu dengan orangtuanya maupun di Malang di” Homebase”nya,Tapi sejak 4thn lalu hubungan terputus dan tidak pernah dengar lagi.Apabila Rm ada kesempatan bisa tolong saya mengkontak beliau di Roma Terima kasih banyak sebelumnya and May God bless you always.Salam dari Florida

  4. HennieTriana Oberst  13 December, 2011 at 14:16

    Menikmati cerita jalan-jalannya, Linda. Laporan kulinernya ditunggu juga.

  5. SU  13 December, 2011 at 08:12

    Baiknya Pak Han dan keluarga menyediakan akomodasi buat teman2 Baltyra.

    Terbayang serunya berbelanja bareng-bareng begitu.

  6. Linda Cheang  13 December, 2011 at 08:06

    Kornelya : iya. tuh, sudah dijelaskan oleh Pak Hand. memang, saat itu suasananya lucu.

  7. Kornelya  13 December, 2011 at 02:40

    Hahaha, pa” Handoko, Buto emang harus hidup dihabitat kawanan size Buto di Eropa & USA. Kalau disini, kebalikan yang susah didapat itu size petite. Salam.

  8. Handoko Widagdo  12 December, 2011 at 21:28

    Kornel…memang lucu saat menemani JC beli baju. Dapat yang ukuran badannya pas tapi panjangnya kurang. Dapat yang panjangnya pas, tapi kebesaran. Lha tak suruh beli sarung saja.

  9. Kornelya  12 December, 2011 at 21:04

    Linda, aku tersenyum sudrun ketika membaca kalimat ini “JC beli satu pakaian buat Nyonya JC, tapi tidak bisa menemukan hem yang pas buat badannya yang menjulang”. Hahaha. Size matter. Salam.

  10. Linda Cheang  12 December, 2011 at 19:05

    Pak Hand, dimaafkan, koq. malah kami sudah banyak merepotkan Anda. Semoga kehadiran kami membawa banyak berkat but Pak hand sekeluarga. Terima kasih banyak!

    Cris, ciao! Si, e ..veramente! Kesempatna lain kita ke tempat lain lagi, lebih seru lagi, harapkan bisa lebih berkesan lagi, ya. Dio ci benedica.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.