Sebuah Jendela

Ayu Sundari Lestari

 

Akulah bingkai dari tiap potret kehidupan yang kautorehkan pada dinding waktu. Akulah salah satu pemujamu dari sekian banyak orang. Bahkan, aku telah menjadi pemujamu sejak kaudatang ke bumi ini. Akulah yang pertama kali mendengar suara lengkingmu saat kau terlahir ke dunia.

Akulah dan akulah yang merekam semua tentang dirimu. Yang setiap paginya memasukkan bulir cahaya matahari ke dalam ruang mungilmu. Kamarmu yang hanya mampu menampung sebuah tempat tidur yang berukuran tiga kaki tepat berada dihadapanku dan sebuah lemari pakaian yang terletak di samping kananku.

Aku pulalah yang selalu mendengar lantunan suara merdumu tiap pagi, tiap siang, tiap sore, tiap malam. Begitulah seterusnya hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Hingga kini berubah menjadi seratus delapan puluh derajat.

Hanya ada aku dan kau. Terjerat dalam ruang yang kumal ini. Entah ke mana perginya tempat tidur dan lemarimu yang semulanya menemanimu. Bersyukurlah kau, karena masih ada aku di sini yang menemanimu. Bahkan menghubungkan kau dengan dunia luar. Ya, akulah sebuah bingkai jendela yang terpaut di antara dinding kamarmu. Setidaknya, dengan adanya hadirku, kau bisa melihat dunia di luar sana. Sedangkan, selembar pintu itu hanya dibuka tiga kali saja dalam sehari. Dan darikulah roda waktu berputar pada porosnya.

Awalnya, ruang yang kumal ini, berudara aroma parfummu yang setiap hari tercium olehku. Kamarmu tak ubahnya seperti alam minimalis. Membuatmu betah berada di dalamnya. Betapa tidak? Semua benda yang ada di kamarmu didominasi oleh warna hijau. Mulai dari dinding bercat hijau, lemari dan tempat tidur juga berwarna hijau hingga seprai bercorak hijau yang sering membungkus kasurmu yang empuk.

Tidak ketinggalan juga sebuah papan yang terbuat dari gabus berwarna hijau melekat pada dinding kamar yang antara lainnya adalah barang kesayanganmu. Bagaimana tidak? Kau sering menempelkan kertas berwarna-warni berbentuk bintang yang tergores tinta tentang mimpi dan perasaanmu. Kini, ruang ini bukan lagi alam yang minimalis melainkan alam yang gersang.

Suara merdumu yang biasanya melantunkan syair yang  indah. Kini, berubah menjadi lengkingan histeris yang menyeruak. Terkadang kau tersenyum sendiri dan kadang pula kau menangis sendiri. Kau yang selalu suka menarik rambutmu sendiri. Hingga, sang mahkotamu mengalami kegundulan. Saat, kau menmgingat tentang cerita kelam itu.

Entah sampai kapan sejurus cerita ini mengalir dari balik jendela. Cerita yang membuatmu terkurung di sini sejak tiga bulan yang lalu. Cerita yang mampu meneteskan bulir air mata di pipimu. Dan cerita yang selalu berputar dalam episode kehidupanmu.

Tiga bulan lalu. Kau adalah sang bintang. Semua orang memuji dirimu. Setiap gerak-gerikmu selalu tersorot kamera. Ya, begitulah kau dulunya yang dipanggil Nora. Kau mampu menyihir semua telinga untuk menyukaimu. Suaramu selalu terdengar  di mana-mana. Single perdana yang kaunyanyikan selalu berada di peringkat pertama dalam semua acara musik baik televisi maupun radio. Apalagi album kasetmu juga laku keras di pasar industri musik. Itu semua telah menunjukkan identitasmu sebagai penyanyi terkenal.

Berkat anugerah suara emas yang kaumiliki, kau mampu menaklukkan kerasnya ibu kota dalam kurun waktu yang singkat. Siapa sangka? Kau yang semulanya seorang gadis sedehana yang berasal dari Sukabumi. Kini, kau mampu berdiri sejajar dengan penyanyi yang lebih senior. Ya, kaudatang ke ibu kota dengan modal nekad dan mimpi. Yang membuatmu meraih kesuksesan. Bahkan, kau meraih penghargaan dalam festival musik awards sebagai penyanyi terbaik. Ini memastikan kau sebagai kandidat terkuat sebagai sang Diva.

Noragreen. Begitulah, sematan nama bagi para fansmu. Gabungan dari namamu dan warna kesukaanmu, hijau. Sungguh, mereka tergila-gila padamu. Ini terbukti dari penjualan tiket konser tunggalmu yang sudah ludes. Bahkan, harga tiketnya sangat tinggi. Selain itu, konsermu yang diselenggarakan kemaren di lapangan terbuka dipenuhi para penonton yang rela diguyur hujan. Kau benar-benar berada di atas puncak kariermu.

Sungguh, kau sangat sempurna. Bagaimana tidak? Kau yang masih berumur 16 tahun telah mampu merengguk kesuksesan. Segalanya telah berada dalam genggamanmu. Membuat orang lain yang sebaya denganmu merasa iri hati. Kertenaran telah kauraih. Uang terus mengalir. Ditambah lagi kau seorang gadis berperawakan tinggi yang ramah. Membuatmu mudah berbaur dengan orang lain dari berbagai kalangan. Kulitmu yang putih sawo dengan rambut lurus yang tergurai panjang. Selalu menguapkan aroma semangat.

Walaupun begitu, kau tetap menjadi sosok yang bersahaja. Tidak ada terlihat kemewahan dari dirimu. Celana jeans, kaos oblong dan sandal jepit masih setia kaukenakan ke mana-mana. Langkah kakimu pun tidak segan datang ke pasar tradisional. Mondar-mandir mencari sayur dan ikan. Sifatmu yang ramah pada ibu-ibu pedagang membuatmu sering berlama-lama di pasar. Ada saja bahan obrolan yang kauciptakan.

Tapi, bila kau berada di atas panggung, kau terlihat berbeda. Betapa tidak? Gaun rancangan desainer terkenal selalu membalut lekuk tubuhmu. Ditambah lagi aksessoris yang bermotif bling-bling. Membuat penampilanmu tampak glamor. Itu semua kaulakukan semata-mata demi tuntutan pekerjaanmu sebagai penyanyi.

Kau juga masih betah tinggal di rumahmu yang lama. Hingga, kau tak pernah meninggalkan aku. Padahal, materi yang kaumiliki mampu membeli rumah yang lebih besar. Kau justru menyimpan uangmu untuk biaya ibadah haji orang tuamu. Ah, semoga mimpi itu lekas terwujud.

Malam itu, seusai sorak pesta atas penghargaan yang baru kauraih. Kau pulang menggunakan Nova Avanza yang disetir oleh pak Drama, supir pribadimu. Keadaanmu yang lelah menyuruhmu tidur sejenak dalam mobil.

Nova Avanza terus melaju melewatui jalan setapak yang sempit. Sisi jalannya banyak dihiasi oleh pepohonan yang rimbun.

Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah kijang hitam berhenti mencegat. Seketika kau terpaksa bangun dari lelah. Beberapa lelaki bertubuh kekar keluar dari mobil bersama seorang lelaki berdasi. Pak Drama pun keluar dari mobil. Sebelum sempat melontarkan sepatah kata, sebuah pukulan melayang menghantam kepala pak Drama. Seketika tubuhnya yang renta roboh mencium tanah.

Dan dua lelaki mencengkram dirimu. Kedua tanganmu diikat dengan tali tambang. Mulutmu disumpal dengan kain. Kau dibawa masuk ke dalam mobil kijang hitam itu. Kau dimangsa oleh srigala berdasi.

Demi menghilangkan jejak, pak Drama dimasukkan ke dalam mobilmu. Nova Avanza ditabrakkan pada pohon besar.

Selembar episode yang terus berputar dalam otakmu. Episode saat bajingan itu menelan bulat lekuk tubuhmu kemudian mengubahmu dari kembang ranum menjadi liar.

Dunia KOMA, 02 Agustus 2011

*Sebuah cerpen yang sebenarnya, tak ingin saya rampungkan. Tapi, terpaksa untuk saya selesaikan juga dalam kurun waktu seminggu. Itu semua karena saya sudah terlanjur terikat janji.

 

6 Comments to "Sebuah Jendela"

  1. Ayu Sundari Lestari  12 December, 2011 at 22:41

    wuih! ada posting baru ne!

    mas J C & mbak Linda: ya, seprti tu lh hebatnya sebuah kata yg terangkai dengan imaji
    mbak Dewi: memang mbak, bbrp hr ne bulan tampak bgtu indah, sngat cocok mnikmatinya dr jendela
    mas Sumonggo: ehemmm……gk tw mas. tp, kalo gk slh jdul film ada
    mbak seroja: setuju banget mbak!

  2. Seroja  12 December, 2011 at 12:51

    jendela, mata dunia, mata hati, mata kita….good story

  3. Sumonggo  12 December, 2011 at 08:39

    Adakah rumah tanpa jendela? …

  4. Linda Cheang  12 December, 2011 at 08:05

    jendela yang seperti berjiwa….

  5. Dewi Aichi  12 December, 2011 at 08:02

    Sedang melihat bulan dari jendela kamar…

  6. J C  12 December, 2011 at 08:02

    Sepotong jendela bisa jadi cerpen apik seperti ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.