Dere

Anastasia Yuliantari

 

Keindahan suasana kampung yang selalu membuatku rindu pulang adalah suara dere (nyanyian) yang dilantunkan oleh para tetangga atau mama mertua. Biasanya saat dere adalah ketika petang mulai tiba. Kegelapan malam menyelimuti kampung. Lampu minyak tanah menyusupkan cahayanya di antara lobang bambu cacah, papan kayu, atau anyaman gedeg. Melalui celah itu pula kiranya suara-suara bergema mengisi malam.

                Awalnya aku tak mengerti mengapa para tetangga, biasanya lelaki, menyanyi demikian keras menyambut malam. Orangtuaku selalu mengajarkan untuk selalu bersuara rendah, jangan terlalu berteriak jangan pula berbisik tak jelas. Terutama bagi perempuan, suara tinggi identik dengan cewawakan (tak sopan). Paling pol kami hanya diperbolehkan menyanyi di kamar mandi, mungkin karena suaranya toh tertelan deburan air mandi yang diguyurkan ke tubuh.

Saat mendengar nyanyian tetangga itu aku bertanya pada Max. Dia mengatakan hal itu dilakukan untuk menghibur diri karena listrik belum masuk kampung, dalam masyarakat Amerika bagian selatan dulu dikenal dengan work songs yang merupakan cikal bakal dari music Jazz dewasa ini. Setelah bekerja seharian mereka tentu lelah secara jasmani dan rohani. Bernyanyi atau dere merupakan sarana untuk menghilangkan kelelahan itu dan menumpahkan segala unek-unek yang membebani sekaligus mengajarkan nilai-nilai pada anak-anak, syukur-syukur juga mengingatkan diri sendiri akan ajaran para leluhur.

Sesuatu yang unik dan mengundang tawaku adalah bila dalam sebuah rumah ada seorang bapak dengan enam anak, nyanyian mereka jadi tak fokus. Alih-alih menyanyikan lagu yang sama secara serempak, Si bapak menyanyi lagu yang berbeda dengan lagu yang dinyanyikan oleh anak-anaknya. Awalnya aku heran dan sedikit bingung, well sebagai pendengar tentu saja aku ingin konser yang menarik karena suara mereka cukup bagus. Bila kompak menyanyikan sebuah lagu bersama terlebih dahulu sampai habis baru kemudian melantunkan lagu berikutnya pasti serasa memutar radio tanpa baterai, kan? Keriuhan itu belum berakhir karena tetangga lainnya juga mulai mengalunkan irama lagu lainnya, demikian juga anak-anaknya. Akhirnya jadilah konser malam hari itu lebih mirip stan-stan di pasar malam yang memutar lagu-lagu berbeda.

Salah satu tetangga favorite kami yang bersuara lumayan bagus dan lagunya selalu disela celetukan lucu atau komentar menirukan gaya para penyiar adalah Rius. Setiap dia menyanyi kami akan lebih menyimak lagu-lagunya dibanding lengkingan suara lainnya. Kadang kalau lama tak terdengar nada suaranya aku akan menanyakan padanya pagi hari saat dia membawa sapinya untuk merumput. Dan dia akan menjawab kalau sedang sibuk sambil tertawa-tawa. Sibuk apa, sih? “Do sibuk, ta Ibu. Sibuk pika tahu, kompiang, ba ampas tahu latang pakang ela (Banyaklah kesibukannya, Bu. Berjualan tahu, kompiang, membawa ampas tahu, untuk dijual lagi, untuk pakan babi)“ Wah, kalau begitu bakalan lama, nih tidak mendengar suaranya? “Nanti malam saya menyanyi lagi, Ibu.” Wah, saya sudah akan kembali ke kota. “Kalau begitu minggu depan waktu Ibu ada di sini lagi.” Janjinya sambil berlalu pergi setelah meminta sebatang rokok pada Max.

Saat liburan tiba dan para keponakan datang, mereka juga mulai menyanyi begitu mendengar teman-teman bermainnya, yaitu anak para tetangga, mulai tarik suara menjelang senja sambil menunggu makan malam. Berhubung keponakan sendiri maka aku bisa menginterogasi mereka tentang judul lagu bahkan penyanyinya. Mereka akan serempak menjawab, “Lagu Becang, Ibu.” Saat aku menanyakan lagu yang dinyanyikan oleh salah satu tetanggaku mulailah keributan antar mereka sendiri karena konser di luar rumah memang menghidangkan banyak pilihan lagu. “Lagu Ikang Goreng” jawab salah satunya cepat, “Toe e, hitu lagu Molas Sekolah (Bukan. Lagu yang sedang dinyanyikan itu berjudul Molas Sekolah).” Jawab lainnya. “Toe dere de Sare, dere eman (Bukan lagu yang dinyanyikan Sare, tapi lagu yang dinyanyikan bapaknya)” Lalu suasana akan semakin ramai membicarakan pengetahuan mereka akan lagu-lagu.

Darimana mereka tahu lagu sebanyak itu? “Mereka suka menonton pesta-pesta.” Jawab para iparku setengah bersungut pada anak-anak mereka yang hanya meringis.

Bila para keponakan telah pulang biasanya sambil membaca buku dan berbaring-baring aku serta Max tertawa-tawa sendiri saat mendengar nyanyian para tetangga. Setelah mulai paham bahasa Manggarai dan tahu beberapa judul lagu,  sekarang aku tahu siapa yang menyanyi secara ngawur atau siapa yang membuat syair sendiri bagi lagu orang sesuai dengan suasana hati mereka saat itu.

“Ya, sekarang mereka menyanyi Olong Anor.” Max mengomentari sambil tertawa. Tak lama sebuah suara lagi muncul dengan lagu yang berbeda. Lagu apa lagi, tuh? “Beti Nai.” Max menjawab cepat. Kami akan tertawa-tawa setelahnya.

Maka malam-malam di kampung menjadi semacam acara tebak lagu seperti salah satu program TV bertahun-tahun lalu. Tapi tebak lagu kami plus komentar dan bahkan ikut menyenandungkannya. Tak jarang rasa geli akan meledak begitu tahu mereka mulai mengganti lagu mendadak sementara kami masih berusaha menebak judulnya.

Semakin lama aku semakin mengenal lagu Manggarai, terutama yang sedang top dan menjadi kegemaran banyak orang. Apalagi saat siaran sering juga Ucique Jehaun memutar lagu-lagu Manggarai. Salah satu lagu yang sedang popular sekarang adalah Can Cai Imus. Ketika Kraeng Ervin Dion mengantar CD lagu yang dinyanyikannya ke studio, Ucique memberitahuku sang penyanyi dan lagunya. Artinya apa, sih Can Cai Imus itu? Dengan sedikit kesulitan dan ekspresinya yang selalu semangat dan meledak-ledak Ucique menjawab, “Pokoknya setiap kali datang senyum, gitu lho Mbak.” Oh gitu, tak heran Max sampai terpana melihatku tahu judul lagu Manggarai terbaru.

Namun lagu yang selalu membuatku tertawa dan kelihatannya menjadi nyanyian kegemaran para keponakan adalah Lagu Cinta Sial yang dinyanyikan oleh Anton Bagul. Lagu yang bentuknya lebih klasik dibanding lagu-lagu terakhir ini lebih sesuai dengan senseku. Musik dan lagunya yang sederhana terasa sangat Manggarai.

Hanya saja setiap kali aku tertawa-tawa saat keponakan-keponakanku menyanyikannya, Max akan berkomentar.” Heyy, neka dere Cinta Sial (Jangan menyanyi lagu Cinta Sial). Bikin yang sedang bercinta jadi sial nantinya.” Tapi aku akan menyuruh mereka tetap menyanyikannya, dan biasanya mereka lebih menurut pada Ibu Tia dibanding Oom Max. Dan berkumandanglah paduan suara mereka menyanyikannya, “Cinta Sial, sial ho’o ge…

 

49 Comments to "Dere"

  1. Marsel  11 January, 2012 at 07:32

    Jadi ingat d kmpung ne. .Yang ibu crita ne di kmpung mana. ?

  2. Dj.  17 December, 2011 at 14:27

    Anastasia Yuliantari Says:
    December 14th, 2011 at 16:09

    Pak DJ, banyak benar keahlian Pak DJ, nih udah pinter melukis, fotografi, plus uro2 juga. Alangkah senangnya Bu Susi…hehehe.
    —————————————————-
    Mbak Annastasya….
    Terimakasih, semua adalah talenta yang TUHAN beri.
    Masih banyak orang yang lebih dari Dj.
    Tapi kan seperti nonton pilem, bukan hobbya Dj. jadi waktu untuk nonton, Dj. pakai untuk yang lainnya.
    daripada tidur di gedung bioskoop….hahahahahaha…!!!!
    Kalau Susi ada disamping, ya kami nyanyi lagu-lagu rohani, karena lagu pop juga jarang yang kenal, kecuali yang tua-tua.
    Kadag Dj. mainkan gitar dengan melodi ” Bulan Indah berkilauan “, taunya Susi nyanyi didapaur, lama-lama dia mendekat dan kami nynanyi berdua.
    Nah itulan kehidupan kami, apalagi saat ini, musim dingin, malas keluar rumah, jadi aktivitas ya didalam rumah saja….
    Salam manis dari Mainz, juga untuk mas Max….

  3. Anastasia Yuliantari  16 December, 2011 at 09:59

    Yoakim, halo….dari Manggarai juga, ya? Ato dari Flores?

  4. Anastasia Yuliantari  16 December, 2011 at 09:58

    Kakak Kornel, saya dulu blom tahu, sampai acara Paskah dan Mas Max bilang menyanyi saat duka begitu namanya Lorang. Oleeee….lorang orang Manggarai hebat tu’ung kaka, bikin jiwa bergetar.

  5. Yoakim  15 December, 2011 at 22:40

    Menarik skali tulisannya bu. Bikin ingat kampung saja. terima kasih

  6. Kornelya  14 December, 2011 at 22:20

    Tia, tulisanmu membuat aku ingat kampung. Di Manggarai, meratapi orang meninggalpun dengan menyanyi.
    Salam, Tenang Tana Ge.

  7. Anastasia Yuliantari  14 December, 2011 at 16:48

    Pak Hand…hahaha, saya sendiri malah ga pernah ikut jai. Max juga hanya ja’i kalo saya ga hadir di tempat pesta, soalnya kalo sama saya jadinya hanya duduk2 liat yg jai…hehehe.

  8. Handoko Widagdo  14 December, 2011 at 16:37

    Ayla…lha Jai-nya di Rumah Retreat bagaimana bisa minum sope? Kalau anggur perjamuan memang ada. Tapi kan harus menunggu kebaktian.

  9. Anastasia Yuliantari  14 December, 2011 at 16:34

    Pak Hand…weehhh kalo gitu kurang orisinil…hahaha. Harusnya sarungan plus menenggak sopi…wkwkwkwk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.