Edan-edanan (3): Gedan, Edan-edanan pada Zaman Edan

Kang Putu

 

Gedan, Edan-edanan pada Zaman Edan

SAK beja-bejane wong waras, isih luwih beja wong edan ning kuasa.” Sungguh, kalimat itu menohok benar pokok permasalahan: pengelolaan kehidupan bernegara dan berbangsa yang amburadul, edan-edanan. Saat itu penguasa, menurut istilah Kluprut, memang micek, mbudheg, membutakan mata, menulikan telinga.

Dan, kalimat itu adalah salah satu tulisan dalam kaus oblong “serial zaman edan”. Kaus itu buatan M. Thoriq, kawan saya, eks wartawan Detik, pascapembredelan Detik, Editor, dan Tempo, Juni 1994. September 1995 dia mengirimkan 40 helai kaus serial itu dan meminta saya menjualkan di Semarang. Saya agak waswas karena beberapa mahasiswa penjual kaus oblong itu di Solo dan Yogya ditangkap dan ditahan. Namun, alhamdulillah, kaus habis terjual dan saya selamat.

Kalimat di kaus oblong itu jelas pelesetan dari secuplik karya Ranggawarsito (III) dalam Kalatidha. Kuplet yang lengkap: Amenangi jaman edan/Ewuh aya ing pambudi/Melu edan ora tahan/Yen tan melu anglakoni/Boya keduman melik/Kaliren wekasanipun/Ndilalah kersa Allah/Beja-bejaning kang lali/Isih beja kang eling lawan waspada (Zaman edan telah datang/Akal budi telah hilang/Ikut edan tidak tahan/Jika tidak ikut edan/Tidak bakal kebagian/Akhirnya kelaparan/Namun karena kuasa Tuhan/Semujur-mujur orang yang lupa/Masih lebih mujur orang yang sadar dan waspada).

Kaus oblong “serial zaman edan” jelas telah menjadi salah satu media perlawanan politik terhadap penguasa otoriter pada masa itu.

 

Zaman Edan

Kini, muncul berita kontroversial: Menteri Agama Said Agil Husin Al-Munawar menunggui penggalian situs purbakala Prasasti Batutulis untuk mencari harta karun. Konon, harta karun itu cukup untuk melunasi utang negara kita.

“Edan!” desis Kluprut, seraya membanting koran.

Siapa yang edan? Menteri Agama? “Saya tak bilang menteri agama kita edan, karena itu penghinaan. Saya cuma prihatin: betapa mencemaskan kehidupan bernegara kita. Petinggi setingkat menteri pun telah memboyakkan undang-undang dan mengobok-obok situs bersejarah atas dasar klenik. Itu terjadi justru saat ini, saat mereka bilang menjalankan amanat reformasi,” ujar dia.

Ya, ya, tentu saja mencemaskan mempertaruhkan nasib dua ratus juta jiwa manusia di negeri ini jika semata-mata bertumpu pada irasionalitas. Jika perahu “Indonesia” dinakhodai wong edan ning kuwasa– sebagaimana dipersepsikan kawan saya dalam kaus “serial zaman edan” – tentu mengundangkecemasan teramat-amat-sangat.

Inikah zaman edan yang digambarkan sang pujangga Ranggawarsito? Zaman ketika segala nilai kemanusiaan dijungkirbalikkan? Dan, Indonesia, rumah sakit jiwa raksasakah negeri pusaka, tanah air beta ini?

Bukankah pada masa “orde baru”, yang nyaris belum berubah sampai kini, negara telah kehilangan wibawa, penguasa kehilangan etika, masyarakat kehilangan pranata, dan alam terus melahirkan bencana? Dalam perspektif inilah, Kalatidha memperoleh bukti pembenar sebagai jangka, ramalan. Celaka memang, karena ramalan jelas tak disertai langkah pemecahan konkret spasial dan kondisional. Ranggawarsito cuma bilang, beja-bejaning kang lali, isih beja wong kang eling lawan waspada.

Namun berapa lama kita mampu terus-menerus eling, sadar, dan waspada, justru ketika penguasa, ganti-berganti, senantiasa tak pernah eling lawan waspada? Berapa lama kita tahan tidak ikut-ikutan edan?

 

Ngedan: Modus Perlawanan

Pada zaman edan, kekuasaan seolah-olah lebih memancarkan lagi daya pukau luar biasa. Hampir setiap orang ingin menjadi penguasa, dengan segala cara, segala daya. Bukankah dengan menjadi penguasa, Anda bisa dengan enteng menyatakan lupa di mana meletakkan cek Rp 40 miliar untuk membeli beras yang bakal dibagikan kepada rakyat yang kelaparan? Bukankah dengan secarik kertas keterangan bahwa Anda sakit bisa membebaskan diri dari jeratan hukum? Apalagi kalau Anda sakit di luar negeri. Lebih mewah bukan? Ya, orang-orang “yang tidak sabar, tidak eling… menggunakan kekuasaan untuk korupsi” (Kevin O Browne, 2001).

Dalam perspektif ini, eling lawan waspada jelas tawaran asketis ngayawara. Solusi pragmatis ala manajemen kontemporer tentu jauh lebih memesona. If you can’t beat them, join them. Jika tak mampu melawan saat diperkosa, nikmatilah!

Atau, berpura-pura gila, edan, hingga bisa berbuat apa pun sesuai dengan keliaran imajinasi Anda. Bukankah wong edan bisa hidup di luar sistem nilai, norma, hukum, dan pranata masyarakat?

Ngedan, nggendheng pernah diterapkan komunitas Samin. Mereka ngedan sebagi modus perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Jika suatu saat diperintah mengangkat kayu, misalnya, mereka mengangkat kayu itu tanpa membawanya ke mana pun. Jika diminta memindah onggokan batu, mereka cuma memindah sebutir batu. Jika diminta menerakan cap jempol ke sebuah surat, mereka bilang sudah ada yang mesti mereka cap. Yakni, istri mereka (Paulus Widiyanto, 1983). Sikapngggendheng, ngedan, menurut pendapat Suripan Sadi Hutomo (1996), adalah sifat Prabu Puntadewa dalam jagat pewayangan.

Ngedan juga metode peniadaan diri (dari tatanan manusia “waras”). Ngedan model ini, misalnya, pernah dilakukan seseorang yang sampai akhir hidup kehilangan hak perdata sebagai warga negara sah negeri ini. Pakde Mitro, begitulah namanya, pada tahun 1965 adalah opas sebuah instansi pemerintah di Blora. Dia dituduh pengikut komunis dan dipecat tanpa uang pensiun. Dia tak diperbolehkan mengikuti pemilihan ketua RT, RW, kepala desa, pemilihan umum. Kartu tanda penduduk (KTP) yang dia perbarui pun memiliki tera khas: OT.

Anak-anaknya kesulitan menjadi pegawai negeri. Masyarakat jeri bergaul dengan dia sekeluarga. Ketika dia menawarkan keahlian manjak dan mereparasi mesin jahit untuk mencari nafkah, amat-sangat jarang warga yang berani memanfaatkan jasanya. Setiap kali ditolak, seraya terus memanggul stigma politik yang dilekatkan “orde baru”, dia merasa dibunuh berkali-kali. Namun, celaka, dia merasa tak mati-mati. Akhirnya Pakde Mitro tak tahan. Dia pun ngedan. Dengan ngedan, dia meniadakan diri. Namun sebenarnya peniadaan diri itu bisa dimaknai sebagai perlawanan, perlawanan terhadap konsep kewarasan.

Karena, sebagaimana dicatat Kevin O Browne (2001), “… pribadi orang Jawa paling tepat dilihat sebagai termotivasi oleh berbagai pertimbangan, oleh tujuan-tujuan personal dan sosial, selalu dalam proses untuk mencapai keselarasan. Hidup di tengah struktur sosial dan lingkungan yang keras terhadap perjuangan hidup dalam mencapai koherensi ini, diri pribadi melakukan improvisasi, berhadapan dengan distres-distres sosial, menjumpai nilai-nilai ideal di masyarakat dalam usaha mencari makna diri.”

Pertanyaan yang tersisa, apakah sepanjang masa, dari abad ke abad, sejak Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar, rakyat jelata memang harus senantiasa menjadi korban? Apakah, sebagaimana Kluprut, rakyat cuma bisa menggerendeng? “Dumeh kuwasa. Tansah daksiya marang sapepadha, nak-kepenak pek-pinek colong jumput, mbedhog, nggedhor….”

Atau, sebaiknya kita ngedan saja bersama-sama? Karena, ngedan ala Samin sesungguhnya justru sarat harapan akan perubahan: terbebas dari penjajahan. Jadi, ayo saiyeg saeka kapti ngedan nglawan wong edan?

 

25 Agustus 2002

 

 

26 Comments to "Edan-edanan (3): Gedan, Edan-edanan pada Zaman Edan"

  1. probo  18 December, 2011 at 13:57

    Anastasia Yuliantari Says:
    December 14th, 2011 at 16:32

    Jadi belajar Kalatidha tanpa harus punya bukunya. ..

    belajar dari pita kasetnya aja….tambah asyik, sambil nglaras…….bareng Ki Narto Sabdo…..

  2. kang putu  18 December, 2011 at 11:15

    matur nuwun, Dewi Murni, sampean sudah share klarifikasi saya. kawan-kawan, sekali lagi, kalau toh saya tetap dianggap melecehkan: saya minta maaf, meski saya tak akan pernah mencabut bagian itu dari tulisan saya. sepenggal kalimat dalam tulisan itu semestinya dipahami, dimengerti, dan dikontekstualisasikan dengan isi dan spirit keseluruhan tulisan. dan, jika perlu dikonfrontasikan dengan sikap saya sebagai penulis dalam keseluruhan tulisan lain melalui pendekatan intertekstual. salam setengah merdeka!

  3. Dewi Aichi  18 December, 2011 at 03:12

    Masih penjelasan dari Kang Putu:

    “walah, berarti aku yang gak bisa mencari, gak menemukannya, lalu dengan gampangan bilang gak ada lagi. maaf, dewi, maaf. (aku anak kemarin sore di fb dan gagap teknologi. sungguh!) tolong deh, sampean yang share. aku manut, dan tentu saja matur nuwun banget. soalnya, aku gak ingin terjadi kesalahpahaman. dalam setiap pelatihan jurnalistik — yang menjadi bagian dari pekerjaanku — selalu saya tekankan agar jurnalis punya kesadaran tentang keseteraan gender, sehingga tidak melakukan “pengadilan” lewat pemberitaan. perspektif gender ini penting karena, acap kali, tanpa sadar jurnalis bisa saja memperlakukan secara tak senonoh korban pemerkosaan. lihatlah, misalnya, dalam judul: turu mekangkang, digrumut tangga. bukankah korban yang sudah diperkosakan, dalam perspetif kembali disalahkan dalam pemberitaan karena “turu mekangkang”? padahal, dia tidur di kamar sendiri, di rumah sendiri, tertutup pula. lihat pula konstruksi kalimat pasif “digrumut tangga”. bukankah seolah-olah sang pemerkosa berbuat kriminal karena “terpancing” oleh ulah korban. itu penghinaan, itu pembunuhan karakter: seolah-olah korban menantang untuk diperkosa. itu justru yang saya tentang, dewi. plis, tolonglah aku agar klarifikasi itu tak menimbulkan kesalahpahaman berkepanjangan.”

  4. Dewi Aichi  18 December, 2011 at 02:54

    KLARIFIKASI DARI KANG PUTU SEBAGAI PENULIS:

    ” ketika tulisan ini dimuat di sebuah grup, ada yang tersinggung. karena, menilai saya melecehkan: yang dipersepsi dari ungkapan “Dalam perspektif ini, eling lawan waspada jelas tawaran asketis ngayawara. Solusi pragmatis ala manajemen kontemporer tentu jauh lebih memesona. If you can’t beat them, join them. Jika tak mampu melawan saat diperkosa, nikmatilah!”. terutama, bagian “Jika tak mampu melawan saat diperkosa, nikmatilah!” padahal, dalam esai ini: itu bukan pendapat dan sikap saya, melainkan sikap kalangan yang saya sebut punya “solusi pragmatis ala manajemen kontemporer”. penerjemahan “jika tak mampu melawan saat diperkosa, nikmatilah” atas kalimat “If you can’t beat them, joint them” saya ambil dari ucapan seorang pengusaha dalam suatu seminar tentang konglomerasi dan etika bisnis yang saya ikuti. jika dicermati, justru sikap itulah yang saya tentang. pelecehan, dalam bentuk apa pun, adalah perkara yang selalu menjadi bagian dari keprihatinan saya. dan, secara konsisten itu saya ungkap dalam berbagai tulisan. pelecehan, terutama stigmatisasi, adalah pembunuhan karakter yang terus-menerus saya lawan. namun, saya maklum jika ada yang menyalahpahami: mengira saya melecehkan! kawan-kawan yang membaca tulisan ini dalam buku saya, edan-edanan pada zaman edan (semarang: cpns, 2008 ), tahu benar sikap saya. namun ketika saya bermaksud memberikan penjelasan agar ketersinggungan itu tak berkelanjutan, tulisan saya di grup itu tak lagi saya temukan. saya sudah dua kali mencari, tetapi tetap tidak saya temukan. mungkinkah tulisan ini sudah dihapus dari grup itu? kini, bagaimana cara saya mesti mengklarifikasi sehingga “kesempatan bagi saya untuk berbagi kisah, menyemai saling pengertian” tak terputus dalam grup itu tak terpenggal? namun, kalau toh saya tetap dianggap melecehkan: saya minta maaf, meski saya tak akan pernah mencabut bagian itu dari tulisan saya. sepenggal kalimat dalam tulisan ini, semestinya dipahami, dimengerti, dan kontekstualisasikan dengan isi dan spirit keseluruhan tulisan. dan, jika perlu dikonfrontasikan dengan sikap sang penulis dalam keseluruhan tulisan lain melalui pendekatan intertekstual.”

  5. Anastasia Yuliantari  14 December, 2011 at 16:32

    Jadi belajar Kalatidha tanpa harus punya bukunya. Tapi agak gawat nih kata tida ga pakai “H” dalam bahasa Manggarai….hehehe (hanya kaka Kornel, Ucique, dan AT yg tahu)

    Namun Mas Putu, sebenarnya di sini sdh banyak yg edan2an, yaitu group alumnus Pakem. Sayangnya mungkin masih ngedan sak dalan2 jdnya blom kelihatan…hahaha (mlayu sik rikat ben ora dibalang sandal karo Pakem Group)

  6. Agatha  14 December, 2011 at 16:06

    Maaf
    bukan penutur bahasa JAWA
    jadi diriku sulit membedakan bunyi O dan O tidak penuh… …. roso.. rosa.. Rossa si cantik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.