Kata Tuhan Dia Wanita

Ibnu Khamais-Wageningen

 

Ada gadis cantik datang kepada saya sambil bersungut-sungut. Ditelaah dan diamat-amati sang gadis mirip Manohara, gadis yang isu-isunya jadi korban kekerasan pangeran Kelantan. Otomatis saya senang. Sambil sedikit berkaca dan merapikan rambut sebagai penyambutan, saya persilahkan dia duduk. Bukannya terima kasih dia malah memukul-mukul meja, ritmenya mirip-mirip dengan mu’adzin yang memukul tabuh ketika hendak adzan.

Jelas saya bingung. Nampak konkrit saya sebagai tertuduh di sini. Saya pandangi hati-hati. Apa dia hamil lantas minta pertanggung jawaban saya? Ah tak mungkin! Rasa-rasanya kita tak pernah ada hubungan sejauh itu. Atau dia ingin saya cerai, boro-boro menikahi saja tidak.

Ah! Mungkin dia naksir saya yang tampan, manis, dan necis ini. Bisa jadi, kalau kemungkinannya dia ada masalah dengan mata. Semisal katarak. Terus saja saya menerka-nerka, sampai akhirnya dia mulai bicara.

“Saya benci Tuhan!!”

Nyaris saya terjungkal mendengarnya. Datang-datang tanpa senyum tiba-tiba menghardik Tuhan di depan lelaki alim yang calon ahli surga ini. Jelas itu salah besar.

“Beri tahu maksud kamu apa?” Bertanya saya meminta clearance.

“Tolong jelaskan kepada saya, kenapa Tuhan menciptakan saya sebagai wanita? Takdir macam apa ini? Aku benci KAU Tuhan!!”

Terdiam saya, bukannya hendak berfikir namun hendak tertawa.

“ HUAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAH!!!!” Tertawa saya lepas terpingkal-pingkal. Dunia ini memang konyol. Tak habis pikir saya ada orang berfikir macam dia.

“DIAM!!”

“HUAKAKAKAKAKAKAKKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKA!!!!” Tapi saya lanjut saja tertawa, tak ada kemampuan untuk diam. Terlalu kocak pernyataan sang gadis.

“Tolong jelas kan kepada saya kanapa kau tertawa? Ada yang lucu?” Dia menatap saya dalam yang tak henti-hentinya tertawa. Sudah lebih sepuluh menit tepatnya.

Saya tentu bisa menangkap pancaran kemarahan dari matanya. Saya mencoba diam.

“Tertawa itu sehat kata dokter” Asal saja saya jawab.

“??”

“Iya, 110% menyehatkan. Sampai-sampai saya terapi tertawa tiga kali sehari. Persis, mirip minum obat. Bahkan lebih intens dari pada minum suplement dan vitamin. Kata dokter kalau ingin sehat memang musti begitu.”

Lantas saya lanjut tertawa, “HUAHAHAHAHAHAHHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHA!!”

“PLAK!!” Sebuah tamparan tiba-tiba mengarah ke pipi kiri saya. Dasar wanita psycho!

“HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!!” Tetap saya tertawa.

Tiba-tiba wajahnya memerah, dan sang gadis menundukkan wajahnya. Tampak jelas buliran-buliran air turun dari matanya. ALAMAK! Dia menangis.

Luluh saya, dan terdiam seketika.

Memang kelemahan saya adalah melihat air mata wanita. Saya paling anti melihatnya. Mungkin kalau nanti saya benar-benar jadi presiden, tak perlu lah jutaan masyarakat turun ke jalan berdemo, dan beranarkis ria meminta diturunkan harga sembako. Cukup para gadis melakukan ”Gerakan Menangis Untuk Pak Presiden”. Tapi ingat, cuma para gadis! Jangan lah kau bawa Ibu-Ibu ikut aksi ini. Apa lagi kaum nenek, bisa berabe! Kalau kau melakukan ini, tak sampai satu jam jaminan harga beras serta antek-anteknya langsung turun di pasaran. Kalau pedagang murka, biar mereka saya subsidi sementara.

Mencoba saya menenangkannya. Menengadahkan wajahnya hingga mata kita saling bertautan.

“Menjadi wanita itu amanah” Berkata saya penuh arti seraya mengelus-elus rambutnya.

“Menjadi wanita itu titipan Tuhan untuk dijaga. Tuhan titip kecantikan untuk kau rawat. Juga suara merdumu. Diberikan juga kelembutan sebagai pelengkap. Serta kehormatan sebagai mahkota. Menjadi wanita adalah anugerah yang indah bukan untuk diperdebatkan, juga bukan untuk kau sesali.”

Dan dia tersenyum di hadapan saya, senyuman yang maniiiss sekali. Jujur itu lebih dari cukup wahai gadis. Tak perlu lah kau peluk apalagi mengecup-ngecup aku.

 

10 Comments to "Kata Tuhan Dia Wanita"

  1. Evi Irons  18 December, 2011 at 08:35

    nice article! ketawa nih bacanya

  2. Dj.  16 December, 2011 at 02:05

    Bung Ibnu….
    Dj. sangat salut dengan orang yang bisa mengarang tulisan yang indah ini.
    Enak dibacanya….
    Mending marah sama TUHAN, berarti percaya bahwa TUHAN itu ada.

    Salam dari yang juga pernah kena gampar 37 tahun yang lalu, tapi sekarang sudah 36 tahun jadi istri yang setia.

  3. ilhampst  16 December, 2011 at 01:23

    Seneng godain wanita yang lagi marah ya Mas? Hehehe… tosss

  4. Lani  15 December, 2011 at 12:40

    2 AKI BUTO : knpd kok cm hmmmmmmmmm………? jangan2 ada yg dipikirkan yak????

  5. Handoko Widagdo  15 December, 2011 at 12:15

    Salah satu yang aku cemburu kepada perempuan adalah karena mereka diberi hak prerogative untuk hamil.

  6. Adhe  15 December, 2011 at 10:49

    Padahal aku suka dengan alinea yang tertawa terbahak2 hihihi…..bikin penasaran si Gadis yang ngamuk2.

  7. Sasayu  15 December, 2011 at 10:43

    Hahahaha…si Ibnu berfilsafat mengenai wanita…mantap2…sudah menemukan wanitamukah di sana?

  8. Sasayu  15 December, 2011 at 10:40

    Ngabsen dulu sayaaa…Wahhhhh….si Ibnu mencungul lageeeeee….so far seneng2 aja to di Wage?

  9. J C  15 December, 2011 at 10:33

    Hhhmmmm…wanita….

  10. Linda Cheang  15 December, 2011 at 10:15

    aih, ujungnya menggantung nggak jelas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.