Melukis di Atas Keramik

Dian Nugraheni

 

Liburan Thanksgiving’s day di Amerika, seperti liburan hari raya Idul Fitri di Indonesia. Semua orang berlomba-lomba untuk mudik, sehingga kota-kota besar pun serasa lengang.

.

Begitu juga di seputaran Virginia, Washington, DC, jalanan nampak sepi, stasiun kereta bawah tanah tampak sunyi, dan toko-toko pun tak banyak pembeli, bahkan banyak yang tutup.

.

Bagi aku yang tidak mudik ke mana-mana, maka untuk mengisi waktu libur empat hari, satu hari ini aku sudah rencanakan untuk mengunjungi Toko All Fired Up by You, di dekat stasiun kereta api Claveland di Washington, DC. Toko ini adalah sebuah toko seni, yaitu seni melukis keramik.

.

Tokonya kecil saja, musik yang diputar pun hanya sayup-sayup terdengar, bagaikan percikan halus gerimis yang menimpa kulit wajah, serasa menyejukkan. Di dalamnya terdapat satu meja panjang dengan delapan kursi kayu yang mengelilinginya. Sedangkan di sekeliling ruangan itu, banyak lagi tersedia meja dan kursi yang ditata bergerombol, ada yang muat untuk dua orang, empat orang, tiga orang, dan seterusnya. Penataan ini akan memudahkan bagi pemilik toko untuk “mendudukkan” pengunjung sesuai jumlah rombongan yang dibawanya.

.

Meskipun toko ini tidak mewah, tidak besar, tapi pengunjungnya tak ada habisnya, maka sebelumnya, lebih baik kita buat janji dulu, booking dulu, reservasi dulu. Pengunjungnya juga bukan hanya orang tua, atau hanya anak-anak, tapi hampir semua umur suka berkunjung ke toko ini.

.

Toko ini memang unik, bukan toko yang menjual barang seni keramik lukis yang sudah jadi, tapi pengunjung dibawa untuk menjadi kreatif, yaitu, para pengunjung akan menjadi “seniman lukis” untuk keramiknya masing-masing.

.

Yaa, setelah kita mendapat meja dan tempat duduk, maka seorang petugas akan menerangkan, bahwa kita boleh memilih keramik dengan bentuk apa saja yang terpajang di lemari, kemudian dia juga menerangkan tentang jenis-jenis catnya, ada jenis cat dengan warna plain, artinya kalau hijau ya hanya hijau, biru ya hanya biru, dan seterusnya. Selain itu ada juga cat sparkling, atau ada bintik-bintik seperti gliter, kalau disapukan, misalnya berwarna hijau, ya akan nampak hijau, ditambah dengan pletikan kilau gliter. Ada juga cat yang khusus untuk menuliskan huruf.

.

Selain itu, ada juga “warning” yang tertempel di dinding, “don’t waste the paint”.., alias jangan boros-borosin cat, kalau nggak perlu, yaa jangan tuang ke palet, dan kalau ambil, harus diperkirakan seberapa banyak kebutuhannya, jangan sampai sisanya dibuang-buang…

.

Selain itu, juga dijelaskan sedikit mengenai teknik melukis di atas keramik, yaitu, boleh dibikin sketsa dengan pinsil atau ballpoint, dan kalau ada kesalahan, maka akan dihapus dengan menggunakan “sand paper” atau ampelas. Juga dijelaskan sedikit tentang cara mewarnai, bagaimana menggunakan cat untuk warna-warna “blok” atau tebal yang menutup semua bidang keramik, atau cat yang soft atau encer sebagai dasar, dan lain sebagainya.

.

Segera aku dan anak-anak memilih-milih keramik yang akan kami lukis. Aku pilih piring flat berbentuk square, Alma memilih piring bulat berbentuk bunga, dan Cedar memilih mug tempat pensil. Keramik “mentah” ini masih kasar dan berpori lebar, belum berkilau.

.

Aku merasa menemukan sebagian duniaku yang sudah lama tak aku kunjungi. Yaa, karena sejak kecil aku suka bermain warna dengan cat air, maka secara otodidak aku cukup memahami bagaimana menggunakan pewarna keramik yang berbasic air ini. Setelah aku gambari dengan ballpoint, kemudian aku sapukan cat warna soft yang cair untuk dasarnya. Setelah kering, baru aku cat detil motif yang sudah aku gambar.

.

Saking asyiknya, aku tak sempat memperhatikaan apa yang dilakukan Alma dan Cedar. Ternyata Cedar merasa kesulitan menggunakan cat keramik. Berkali-kali dia mengampelas mugnya untuk menghapus cat yang sudah terlanjur menempel. Sedangkan Alma, Sang Easy Going ini, dengan cueknya terus menggambar, menemplokkan warnanya sesuka hati tanpa takut keliru, tanpa takut nampak jelek. Kedua anakku memang baru punya pengalaman mewarnai dengan pensil warna dan crayon, tapi belum sampai pada cat air atau cat yang berbasic air. Kalau orang yang paham hal ini, pasti akan mengakui bahwa menggambar dan mewarnai dengan cat air, adalah yang paling sulit…

.

Akhirnya aku hanya bisa memberi semangat pada Cedar dan Alma, “Nanti, kalau sudah dibakar, warnanya akan nampak hidup, jangan khawatir. Lagian ini kan pertama kalinya kalian menggunakaan cat berbasic air, memang agak susah, nanti kalau sudah biasa, akan sangat menyenangkan..”

.

“Apakah aku boleh ambil keramik lagi..?” tanya Cedar.

.

“Tidak sekarang, waktunya hampir habis, banyak pengunjung yang belum dapat meja.., kapan-kapan kita ke sini lagi yaa..'” kataku. Anak-anak pun mengangguk setuju.

.

Tak terasa, waktu dua jam telah terlewati, seorang petugas menghampiri kami, dan memberikan instruksi-instruksi tentang finishing pada keramik yang telah kami lukisi.

.

” Tinggalkan semua di meja, nanti kami akan urus, nahh, keramik ini harus ditinggal selama satu minggu di sini, jadi, Sabtu depan baaru bisa diambil.., karena kami harus mengovennya. Sebelum meninggalkan toko, bill bisa dibayar di kasir depan. Kami harap kalian senang dengan apa yang kami sediakan di sini…'” kata mbak Petugas yang cantik itu.

.

Aku menuju kasir, dan aku sudah menyiapkan kartu debitku untuk membayar, karena aku tahu, masing-masing keramik ini harganya mahal. Punyaku, piring kotak kecil saja harganya $21, mug punya Cedar harganya $19, dan piring bulat berbentuk bunga punya Alma, harganya $21. Padahal kalau di toko, barang-barang yang baru saja kami lukis ini, harganya hanya berkisar $3 sampai $7, sudah bermotif, daan sudah dibakar kemilau, tinggal pakai…

.

Tentu saja itu tak akan pernah sebanding.., karena kami bukan bermaksud membeli perabotan keramik di toko pecah belah, tapi kami memang sengaja datang untuk bertemu dengan dunia menakjubkan yang akan membuat hati dan jiwa bertambah terang, berbunga-bunga, memperkaya rasa…, yaitu dunia cat yang mencerminkan tentang warna-warna cinta….

.

Salam…mahal tapi senaaaaang….he..he..he…,

.

Claveland, washington, DC.

.

Dian Nugraheni

Sabtu, 26 November 2011, jam 11.44

(Setelah bertemu kembali dengan a part of my wonderful world..dunia warna…)

 

Lukisan di atas keramik…sebelum dibakar…diambil seminggu kemudian…keburu pengen liat hasilnya…

 

Punya Alma..selalu mencerminkan tak takut salah dalam mencoret…tak takut nggak bagus…free ajahhh…

 

Kakak dengan pale colournya…hobbynya biru muda…

 

Liburan Thanksgiving’s Day…jalan-jalan ke Fired Up..menggambar di atas keramik…pilih sendiri keramik yang akan dilukis…tuhh..di lemari belakangku…

 

Yee…sudah selesai ngecatnya…

 

This is a part of my wonderful world…

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Melukis di Atas Keramik"

  1. Dian Nugraheni  18 December, 2011 at 03:41

    Makasih banyak…semua temans di Baltyra…iya nih, sebenere karena Emaknya yang kegedean keinginan alias nggak tahan diem aja.., kebetulan ada teman yang kasih tau tempat ini…asyik bener memang, meski agak mahal dikit tak apalah untuk kegiatan yang direncanakan (maksudnya duitnya dikumpulin dulu..he2..biar cukup buat beli keramiknya..), smoga di tempat teman2 juga ada yang beginian…, sebenere juga di sini ada yang mulai dari bikin keramiknya pakai yang diputer2 kayak di film Demi More Ghost itu, kapan2 tak cariin juga deh…selamat melukis yaa…di kertas dulu juga gak apa, bisa pakai krayon, pensil warna, atau cat air, ntar kalau sudah terbiasa, pasti asyik..pengen lagi..pengen lagi…hiixixi..salaaammm…

  2. HennieTriana Oberst  16 December, 2011 at 11:54

    Dian, asyik banget nih mengisi liburan anak dengan cara yang sangat kreativ.
    Bentar lagi libur sekolah 2 minggu, masih merancang mau menghabiskan waktu di mana yang membuat Chiara senang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *