Perjalanan Bersama Sahabat (3): Solo – Salatiga

Linda Cheang

 

Perjalanan Bersama Sahabat (3): Solo – Salatiga, Kalau Romo Jadi Orang Biasa

Hari terakhir di Solo yang panas.

Semalam sepulang dari ngangkring di Wa Po, keluarga Pak Hand menyempatkan mampir ke Gramedia Solo, yang menempati salah satu gedung antik kota itu. Saya dan Romo gunakan kesempatan itu untuk mencari buku yang kami kehendaki, Gunung Jiwa, karya Gao Xing Jian. Buku ini referensi dari Pak Hand, tapi rupanya kami belum beruntung, di toko itu belum ada. Harus di lain waktu mencarinya. Kami pun pulang. Setiba di rumah,  saya segera menata ransel saya supaya pagi harinya tidak terburu-buru membereskan bawaan, meski dengan  resiko, waktu tidur malam berkurang.

Senin pagi hari, sudah rapi, mau berangkat sempatkan ambil gambar dulu di bawah pohon Buah Naga di halaman depan rumahnya Pak Hand. Buah Naga sudah berbuah, tetapi buahnya masih kecil sehingga kami ini bengkok tikoro lagi.

Sekalian mengantar kami ke Terminal Bus Tirtonadi, Pak Hand dan istri membawa kami mencicipi Timlo Solo di kedai yang bernama Timlo Sastro. Kabarnya kedai ini adalah kedai timlo tertua se-Solo. Tentu saja Romo Budiman senang, bisa memenuhi saran dari temannya yang info tentang Timlo Sastro ini. Laporan selengkapnya nanti di edisi special wiskul, ya.

Kami berpisah dengan keluarga Pak Hand di terminal bus dan kami tidak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan bus ke Salatiga. Saya segera kontak teman kami, Ira, bahwa kami sudah jalan dari Solo. Ira adalah rekan seangkatan saya di SMK, jadi bersama saya, Ira adalah adik kelasnya Romo Budiman. Bagi Romo, ini perjumpaan pertama kalinya dengan Ira setelah 20 tahun berlalu. Perjalanan ke Salatiga sekira 1 jam dan bagusnya, bus yang kami tumpangi cukup nyaman.

Kami jumpa juga dengan Ira sambil membawa Si Ragil di satu tempat yang bernama Pasar Sapi di Salatiga.  Benar, di situ memang dulunya pasar untuk jualan sapi. Namun ketika kami tiba, sudah tidak ada lagi bentuk pasar apapun di sana. Sudah jadi perempatan jalan yang sibuk. Perjalanan menuju kediaman Ira masih harus gunakan angkutan kota lagi, karena Ira tidak punya kendaraan lain selain motor. Cuaca cerah saat itu dan ketika akhirnya tiba di rumahnya Ira, sebuah rumah yang sederhana tetapi ada kehangatan keluarga di sana. Ditingkahi  Si Ragil Teo(filus) yang celotehannya ramai sekali. Selain dengan Si Ragil, saya boleh jumpa lagi dengan ibundanya Ira, yang sudah berubah banyak penampilannya sejak terakhir bertemu, 20 tahun lalu. Senang rasanya berhasil mempertemukan Ira dengan Crispi, panggilan akrab dari Ira untuk Romo Budiman. Iya, karena Romo yang satu ini sejak zaman sekolah dulu memang renyah dipandang, :D …mission accomplished!

Sambil menanti kepulangan Pendeta Martono alias Mas Tono, suaminya Ira, teman kami itu berhasil mendapatkan pinjaman sebuah motor, yang bikin saya dan Romo Budiman cukup was-was, karena rem depannya kurang pakem. Padahal kami akan melewati jalanan Kota Salatiga yang ada turunan curam. Kami berlima termasuk anaknya Ira, Si Mbarep Tio, makan siang bersama di Warung Bu Wati. Di situ menurut rekomendasi Ira, Ayam Bakarnya enak. Pada akhirnya Romo dan saya tiba juga dengan selamat di tempat setelah lumayan deg-degan. Kami makan sampai kenyang dan memang Ayam Bakarnya enak sekali, murah pula. Apalagi ketika kami makan cuaca sedang hujan deras. Sayang sekali, saya lupa menjepret ayam bakarnya, karena sudah keburu lapar. Ketika sadar, hanya bisa jepret bakul-bakul berisi potongan ayamnya. Tunggu saja gambarnya di edisi wiskul.

Usai makan siang, mampir dulu sejenak ke pasar setempat. Ira membeli cemilan kacang tanah buat acara persekutuan rumah tangga malam harinya. Acara nanti diperkirakan akan banyak yang datang karena ingin lihat Romo yang dari Roma mau memberikan renungannya. Ternyata Ira sudah jauh hari “booking” Romo untuk jadi pembicara di depan para tetangga dari antar denomiasi gereja dan untung, Romonya mau.

Tiba di rumah Ira kembali, praktis sepanjang hari itu kami tidak bisa pergi ke mana-mana karena hujan turun nyaris tiada henti. Maka yang bisa kami kerjakan adalah tinggal di rumah dan bersama anak-anak Ira sudah pulang dari sekolah, jadilah saya lebih banyak menjepret kegiatan Romo Budiman yang sedang bercerita tentang gambar-gambar dari buku sketsanya kepada anak-anak, Romo yang sedang mewarnai gambarnya bersama Si Ragil dan menggambar tampang Si Ragil, dan Romo yang akhirnya bertemu juga dengan Pendeta, kemudian terlibat diskusi menarik antar keduanya.

Persekutuan rumah tangga jadi terlaksana. Tikar sdihamparkan di ruang tamu yang tidak seberapa luas, setelah sebelumnya geser dulu perangkat furnitur ke ruangan lain. Saya sempat membantu nyonya rumah menggorengkan kerupuk udang yang saya bawa buat oleh-oleh. Jadi untuk kami makan sudah ada teman makan nasinya.

Tanda-tanda Romo sudah ikut jadi sudrun terlihat ketika persekutuan doa RT dilaksanakan. Di gambar yang saya lampirkan memang hanya terlihat Romo sedang memberikan renungan dari Kitab Yohanes, mengenai pernikahan di Kana. Kata Romo, idenya diambil dari isi kotbah sewaktu ikut kebaktian di Solo. Di tengah renungan sempat juga Romo “membalas” kritikan saya beberapa waktu sebelumnya,   dengan membela diri (hehe…Romo baru bisa bela diri, belum  menjawab, toh, Mo?). Itulah tanda kesudurunan Romo yang pertama terlihat.  Di renungan yang disampaikan, bercerita mengenai rumah tangga dan berkat adanya Romo, ada pemahaman baru mengenai Bunda Maria dalam perannya terhadap kehidupan Kristus. Di persekutuan itulah kami semua dari setiap denominasi menjadi cair.

Selesai renungan, di acara ramah tamah, ternyata Romo menikmati benar ketika digoda oleh ibu-ibu yang ikutan persekutuan. Apalagi ada topik diskusinya mengenai tentang wanita cantik yang kata Romo, meski di Indonesia memang banyak wanita cantik tetapi masih lebih banyak wanita yang lebih cantik di Italia. Pantas saja Romo betah berlama-lama di Roma. Kelihatan, deh, sudrunnya Romo renyah (Crispi) ini, karena Romo, masih manusia, jadi masih bisa ketularan sudrun.

Ada bagusnya juga seorang Romo mau datang. Didaulat memberikan doa berkat untuk rumah tangga agar yang sudah berumah tangga bisa terus harmonis. Kabarnya, sih,  ada pasutri yang ketika datang ke persekutuan sedang bermasalah, setelah dengar renungan Romo lalu pulang ke rumah, jadi mesra lagi. Hahay….

Usai sudah persekutuan, kami masih melanjutkan beberapa saat untuk ngobrol sebelum kantuk datang benar-benar menyerang kami. Sebetulnya saat itu saya sudah siap ingin ajak Ira dan Mas Tono bersama Romo untuk menikmati sebotol red wine Médoc buatan Prancis yang saya bawa sebagai hadiah persahabatan kami. Tapi ada daya, ternyata Mas Tono juga sudah jadi sudrun. Mau buka gabus cocoknya wine dengan pembuka tutup botol biasa yang tidak ada pewter spiralnya. Lha? Saya cuma bisa ingin tepok jidat jadinya. Selidik punya selidik, ternyata Mas Tono dan Ira belum pernah minum wine dan bisa dikatakan baru saat itu lihat wine pertama kali. Lha, kenapa bilangnya wine-nya bawa ajah, ya? Dijanjikan akan beli pewter, tapi sampai kami pulang ke Bandung lagi, pewter gagal dibeli, karena keburu terjadi musibah kecil pada Mas Tono.

Baca terus, ya, di edisi selanjutnya.

Salam,

Linda Cheang

Desember 2011

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

43 Comments to "Perjalanan Bersama Sahabat (3): Solo – Salatiga"

  1. Lani  18 December, 2011 at 14:17

    MAS DJ & LINDA : ketauan mas ngarang hahahha…….aku se77777 sama Linda…….guyon mas guyon ya……..

  2. Linda Cheang  18 December, 2011 at 06:43

    hahahaha, ketauan Oom Dj ngarang, hahahaha.

    yang bikin ambrol ranjang bukan aku, lho. huahahahahaha…
    Ini benar-benar Oom Dj menganiaya aku, hahahaha. Oom sudrun!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.