Surat dari Banda (2)

Ary Hana

 

dear Raya,

Di antara banyak kisah yang ingin kutuliskan, kisah tentang Pongki kuanggap paling penting untuk kuceritakan. Bayangan tentang Pongki –Pongki yang lain di belahan bumi Maluku begitu menggangguku akhir-akhir ini. Membuntuti setiap langkahku kemana pun aku menapak.

Raya, aku hanya sekejap berpapasan dengannya, belum pernah bertegur sapa, atau sengaja mengadakan pembicaraan dengannya. Aku belum mampu. Hatiku masih kurang tegar. Namun aku sudah mengetahui kisah hidupnya dari orang-orang yang tak sengaja kutemui. Di antaranya Pak Otje, kepala sekolah sebuah SD di Kei pedalaman, juga mantan guide selam yang kujumpai di Mandre dalam perjalanan menuju Salamun.

“Kalau bicara soal kerusuhan agama di Ambon dulu, kamu harus jumpa Pongki. Harus,” kata Pak Otje berapi-api saat kami berbincang di atas kapal Ciremai.

“Kenapa begitu?” tanyaku ingin tahu.

“Dulu, waktu Bapak mengajar di Neira, Pongki itu pemilik kebun pala yang kaya. Sekali panen dalam hitungan ton. Dia jadi salah satu korban kerusuhan agama di Banda.”

Pongki, biasa lelaki itu dipanggil. Masih peranakan Belanda. Kurasa dia keturunan tuan perek –pemilik perkebunan pala Belanda- yang terakhir di Kumber. Iya, rumahnya menghadap ke pelabuhan, dekat pos polisi, sebelum perkebunan pala peninggalan Belanda yang bertuliskan ‘Tanah Ini Milik PT Banda Permai’.

Pongki, nama lelaki paruh baya itu. Asam garam kehidupan lengkap sudah dirasakannya. Ketika kerusuhan Ambon meletus pada tahun 1999-2002, pulau-pulau kecil nan jauh seperti Banda kena juga imbasnya. Bukan karena ada gerombolan dari luar yang datang menyerang. Sama sekali bukan. Tapi dari kabar tentang saudara di Ambon atau di Masohi, Seram sana. Kabar yang datang via telpon, tentang saudara muslim yang terbunuh oleh orang nasrani, atau sebaliknya.

Mayoritas orang Banda kepulauan itu muslim. Ada juga satu dua yang nasrani. Pongki dan keluarganya di Banda Besar, misalnya. Ketika kerusuhan Ambon meletus, mereka punya sebutan sendiri. Kaum putih atau muslim disebut aslam. Sedang kaum merah atau nasrani disebut obeth.

Pada saat orang aslam di Banda mendengar keluarganya dibantai di Ambon, amarah pun naik. Mereka ingin balas membantai ‘sedikit’ orang Banda yang obeth. Mulai Rhun, Banda Besar, Hatta, dan Neira. Orang obeth di pulau-pulau ini pun menyelamatkan diri, mengungsi ke Kei kepulauan atau Papua. Mencari selamat. Seperti yang dilakukan Pak guru Otje.

Hanya satu pulau yang memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada 7 keluarga obethnya, Pulau Ay. Para obeth dilindungi kepala desa pulau itu, setelah gereja mereka dibakar. “Tapi saya curiga karena gereja mirip dibakar dari dalam, bukan dari luar. Tak satu penduduk muslim pun memiliki kunci gereja itu,” kata seorang Kaur yang rumahnya kuinapi malam itu di Ay.

Apapun alasannya, orang Obeth di Ay selamat. Bahkan kini, hanya Ay yang memiliki gereja selain Neira yang dikenal dengan cagar budaya Gereja Tua-nya.

Entah mengapa Pongki terlambat mengungsi. Mungkin dia merasa Banda Besar itu tanah airnya, tempat dia hidup, dilahirkan, dibesarkan, juga mungkin tempatnya menjemput ajal. Tak mungkin penduduk setempat yang dianggapnya saudara hendak membunuhnya. Rupanya perhitungannya keliru. Amuk massa yang dipicu sentimen agama begitu kuat gaungnya. Mengalahkan akal sehat atau pun kemanusiaan. Untuk menyelamatkan diri, Pongki masuk semacam lubang bawah tanah. Di atas lubang, dia tutup dengan dedaunan untuk menyamarkan jejak.

Pongki merasa dirinyalah yang dikejar massa yang mengamuk, bukan istrinya yang keturunan Jawa, atau kedua anaknya. Lagi-lagi perhitungannya salah. Tak menemukan Pongki, massa lalu membantai istri dan kedua anaknya. Istrinya tewas dengan leher tergorok. Dua anaknya pun sama.

“Satu anaknya yang lelaki ditemukan di pantai. Lehernya nyaris putus. Tapi anak itu masih hidup, lalu kami selamatkan. Anak itu tetap hidup sampai sekarang. Sudah kawin malah,” kata seorang perempuan, mantan guide selam yang kutemui di Mandre. Bersama adiknya, dia sedang mengupas pala untuk dijadikan manisan pagi itu saat kami berbincang.

Aku tak tahu bagaimana perasaan Pongki setelah itu. Ketika berpapasan di rumahnya siang itu, aku tak berani menanyakan masa lalunya itu. Bagiku saja terlalu pahit pengalamannya untuk dikisahkan, apalagi buat Pongki. Aku masih terlalu ‘shock’. Jadi kulanjutkan saja keterangan Pak Otje.

“Setelah itu Pongki mengungsi di Neira. Lama kemudian dia kawin dengan perempuan keturunan Arab, seorang pegawai negeri. Pongki masuk Islam.”

Banyak obeth yang menyelamatkan diri dengan menikahi orang Islam di Banda. Tak hanya obeth, tapi juga keturunan Tionghoa. Jika kita berada dalam kelompok mayoritas dengan tekanan dan pengaruh masyarakat yang kuat, mau tidak mau kita anut pandangan dominan kelompok itu agar bisa survive. Mungkin itu yang dilakukan Pongki dan para obeth yang tersisa.

Kelak Pongki pulang lagi ke Banda Besar, mengurus perkebunan pala peninggalan orangtuanya. Namun dia tidak sekaya dulu lagi, begitu kata orang. “Hutangnya dimana-mana. Entah apa yang diperbuatnya dengan segala uang dan kekayaannya dulu. Padahal hidupnya biasa saja. Rumah dan bajunya pun biasa,” tambah perempuan guide itu.

Yang lebih seru, “Pongki kawin lagi. Katanya ingin punya anak lelaki. Aneh juga, sudah tua dia. Anaknya dengan istri pertama dulu pun ada.”

Entah apa yang dipikirkan perempuan guide itu. Bagiku Pongki seperti kehilangan sesuatu paska tragedi itu. Mungkin kasih sayang istrinya, mungkin kebahagiaan masa lalu. Memang kejadian itu sudah lebih 10 tahun berlalu. Bagi sebagian orang itu masa lalu, sudah terlupakan. Bagi Pongki mungkin seperti baru terjadi kemarin. Lukanya masih menganga, menetes darah. Pongki kini menurut mereka lebih pendiam. Dia banyak tinggal di rumah mengurus pala-pala. Membuat pembibitan, mencoba membuat sirup dan selai pala. Ada niatku tuk mampir dan menanyakan cara pembuatan sirup dan selai pala. Namun tidak pada hari itu. Mungkin lain kali. Kupastikan itu.

Raya, kemana pun kumelangkah di bumi maluku ini, entah Morotai di ujung paling utara, Halmahera seperti di Galela, Tobelo dan Jailolo, di Ternate, Ambon, hingga Banda, selalu kujumpai wajah-wajah traumatik paska kerusuhan agama. Selalu. Di Ternate kujumpai banyak orang gila yang tak sanggup menanggung beban kehilangan anggota keluarga karena kerusuhan agama. Di Morotai, tukang ojek yang kutumpangi hanya menggambarkan peristiwa itu sebagai “Aduuuh.. aduuh.. bagaimana ya..”. Di Tobelo ibu pemilik warung tempat kumakan hanya melukiskannya sebagai, “Ngerii.. dimana-mana suara ledakan dan tembakan. Banyak bangunan dibakar.” Sedang sebuah keluarga di Galela menunjukkan kepadaku sebuah danau tempat mereka menemukan senjata peninggalan Jepang untuk mempersenjatai diri.

Bagi mereka di luar sana, kerusuhan agama itu gaungnya lebih pelan dari lagu-lagu badboys atau hingar berita ponar istana negara. Tapi di sini, di bumi Maluku, jika kau masuk ke pulau-pulau terpencil, ke pelosok, wajah takut itu masih ada. Tak melulu di Ambon, tapi juga Banda. Pertanyaan pertama mereka selalu, “Panei muslim?” Seolah jika obeth yang datang, dia bakal mendatangkan kekacauan di sebuah desa.

Baiklah kukisahkan sedikit kunjunganku ke Pulau Rhun. Ketika aku datang ke sana, bersamaan dengan waktu pemilihan kepala desa. Ada dua kandidat, keduanya sama kuat. Namun penduduk lebih memilih kandidat yang mengusung ide ‘jika saya yang terpilih, tak saya biarkan gereja berdiri di pulau ini’. Gila bukan?

Atau saat persinggahanku di Pulau Ay. Pulau yang agak ‘aneh’ menurutku. Di sini perempuan disarankan tidak shalat di masjid, tapi cukup di dalam rumah. Masjid hanya untuk kaum adam dengan baju potongan panjang dan janggut terpelihara. Sebagian perempuan muslim di sini bercadar. Padahal di Ay ada juga orang obeth. Semua obeth tinggal di desa bawah, RT 01, dekat ujung utara pantai. Mereka nampak guyup dan bersahaja. Kurasa mereka merasa aman di sini terlepas dari aturan kaku buat sebagian muslim.

Karena menerima kaum obeth, orang sering memanggil orang Ay warmus. Artinya, tak punya identitas, mau dengan siapa saja. Kawin dengan islam oke, kawin dengan obeth pun tak menolak. Aku tahu isu agama begitu peka di timur, tapi jangan salahkan pemikiran mereka yang mirip ‘dangkal’ ini. Mereka hanya korban perang agama, kerusuhan Ambon atau Tobelo yang ternyata ditiupkan para elit politik sendiri, entah di tingkat lokal maupun nasional. Sudah banyak hasil penelitian kerusuhan Ambon maupun Tobelo yang kuterima. Data-dataku tentang kerusuhan ini menggunung di rumah. Beragam data digali, baik dari kaum muslim, nasrani, gereja, lsm, organisasi pemuda, studi keilmuan. Ah, semua membuatku semakin mumet.

Yang kuherankan, mengapa hasil penelitian yang menelan dana tidak sedikit ini tidak disosialisasikan secara menyeluruh ke masyarakat korbannya? Apa gunanya kita berteriak di tingkat masyarakat internasional, atau lingkup nasional –yang seringnya hanya didengar makhluk perkotaan di Jawa dan sedikit pulau dengan akses koran, teve, atau internet- tapi tak bisa mencakup pulau-pulau kecil yang justru merasakan langsung akibat kerusuhan tersebut? Kadang kupikir, advokasi kerukunan agama di pulau-pulau kecil mirip Banda perlu dilakukan. Agar kebencian tidak membukit, sehingga memicu kerusuhan yang sama di masa depan.

Aku tahu, tak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, memangsa, dan membunuh sesama manusia. Tapi lihatlah, begitu banyak perang yang dikobarkan atas nama agama. Bukan Tuhan yang salah, tapi pemahaman manusia akan ketuhanan dan keyakinan yang perlu dibenahi. Bertuhan itu sudah naluri, membunuh dan mempertahankan diri juga naluri, sama seperti berbuat baik dan tolong menolong. Sekarang, mana yang akan menjadi pemenang di dalam diri kita?

Ah, kuakhiri saja kisahku. Aku sedang memandang Pongki yang berjalan perlahan menyongsong siang bendearng. Langkahnya pendek, berayun, mirip keberatan beban. Andai dijual pensieve Dumbledore, mungkin dia akan membelinya, sama sepertiku. Pensieve akan membantu kita meletakkan ingatan-ingatan pahit yang terlalu sakit tuk dikenang, hingga yang tersisa adalah ketenangan, mirip tak pernah ada apa-apa. Ah.. andai kudapat pensieve itu, kan kuletakkan semua ingatan tentangmu, agar sisa jalan hidupku tak lagi pincang menyakitkan begini. Aku lelah hidup kesakitan, Raya. Lelah dan nyaris ingin menyerah.

(bersambung)

 

28 Comments to "Surat dari Banda (2)"

  1. AH  21 December, 2011 at 17:35

    thanks ratna elnino atas koreksinya, saya sempat ke galela tahun lalu dan melihat kebun pisang yang terbiar, sedih juga..

    mbak lani n dewi achi, semoga kisah setelah ini lebih optimis dan penuh harapan

  2. elnino  21 December, 2011 at 08:48

    Pisang cavendis mungkin maksudnya, Ri? Kalo galvanis kan pelapisan anti karat, hehe… Salah satu debiturku yg usahanya perkebunan pisang cavendis di Galela sekarang juga jadi debitur macet karena kebunnya dijarah dan ditinggalkan pekerjanya….

  3. Lani  21 December, 2011 at 06:52

    wadooooh…….syereeeeeem……memedihkan……mirissss……..cm bs deleg2 speecless!

  4. Dewi Aichi  21 December, 2011 at 03:55

    Seperti juga Pauline dan juga mas Jc, aku baca dari pertama sampai yang ini, tercekat, sampai ngga bisa berkomentar, serasa melihat sendiri semua kejadian itu…

  5. AH  21 December, 2011 at 03:45

    JC : thanks.. memang banyak investasi hancur karena kerusuhan, termasuk pabrik makanan bayi yang memanfaatkan 40 ribu kebun pisang galvanis di galela. akibatnya, puluhan ribu penduduk menganggur paska kerusuhan

    pauline : yoi.. nunggu wangsit dari langit dulu, bulan depan semoga

  6. pauline  20 December, 2011 at 13:20

    Bu, surat banda 1&2 sama-sama menghanyutkan. Sangat menantikan yang ke-3!!! Tapi harus tunggu ‘wangsit’ yah….?

  7. J C  17 December, 2011 at 10:05

    Ary Hana, terima kasih untuk surat luar biasa ini. Sungguh miris dan mengerikan membacanya. Dari kemarin mau berkomentar tapi sedang di sela-sela kerjaan, jadi lebih baik ditunda ketika benar-benar duduk tenang dan membacanya ulang.

    Aku serasa kau bawa menyusuri tempat-tempat dalam tulisan ini. Melihat dan mengamati serta mendengar cerita dari orang-orang yang kau ceritakan di sini. Belum pernah hal-hal seperti ini ada di media manapun. Di mainstream media, biasanya hanya bernuansa politis dan menjual nilai kehebohan berita. Analisa politik di sana sini, mengulas dan menyoroti konfliknya saja, conspiracy theory yang diangkat. Belum pernah berisikan seperti tulisan ini.

    Aku ingat cerita teman baik yang ada proyek di sana ketika itu. Proyek dia adalah proyek cold storage. Peralatan berat, ringan, bahan bangunan, bahan cold storage sudah didatangkan semua dari Jawa, sebagian mulai terpasang, peralatan beratnya sudah mulai disetel, Suatu malam ketika kerusuhan (yang diatasnamakan agama) meledak. Para pekerja perusahaan itu berlarian menyelamatkan diri karena dikejar oleh penduduk setempat yang beragama berbeda. Semuanya lari tunggang langgang, loncat ke kapal dan segera kabur meninggalkan apapun yang ada. Teman saya kebetulan sedang di toilet atau sedang agak jauh, dia berlari paling belakang sambil dikejar orang-orang beringas yang mengacungkan dan mengayunkan segala macam senjata.

    Golok, batu, pedang menyambar-nyambar di sekeliling teman saya dilempar-lempar dari orang-orang beringas tsb. Teman saya sudah pasrah sambil terus berlari bahkan tanpa alas kaki. Hanya mengenakan celana pendek dan kaos tidur. Dialah yang terakhir meloncat ke kapal yang sudah mulai bergerak. Selisih 10-20cm saja, dia tidak dapat mencapai kapal, dia bisa tercebur laut dan mungkin selesailah ceritanya di situ dihabisi orang-orang beringas.

    Proyek tsb ditinggalkan begitu saja, tidak ada yang berani ke sana sampai beberapa bulan berikutnya. Terakhir saya tanyakan bagaimana nasib proyek tsb, dijawab teman saya bahwa perusahaan merelakan semuanya ditinggal di sana saja, rugi biarlah rugi. Entah berapa miliar nilai proyek, termasuk peralatan yang ditinggalkan di sana.

    Ngenes, sedih dan miris bacanya. Semoga ke depannya tidak terulang lagi.

  8. Lani  17 December, 2011 at 07:47

    12 NEGRO : jempol buatmu…..betoooool, semua hrs balance………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.