Ritual Jalan Bisu: Kredo Sebuah Sikap Kebudayaan

Dwi Klik Santosa

 

Menuju Pementasan “Mastodon dan Burung Kondor” Ken Zuraida Project

Aula Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung, 12 – 13 Januari 2012 

Aksi Jalan Bisu yakni jalan massal dari pusat kegiatan dan latihan Teater “Mastodon dan Burung Kondor” Jl. Cipayung Jaya, Pancoran, Depok, Jawa Barat hingga ke tempat atau gedung pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat, (kira-kira 55 KM), Minggu, 7 – 8 Agustus 2011 mulai pukul 23.00 WIB.

KAMI BERSAUDARA : jika hati, kaki dan tangan telah kami satukan, mantaplah tekad itu menjalankan.

Kegiatan ini disebut ritual karena menjadi bagian dari penghayatan mementaskan karya besar Rendra itu, mencoba mencari jejak dari elan pikir sang seniman. Diperkenalkan pertama kali oleh Rendra dan Bengkel Teater Rendra pada awal dasawarsa 1970. Pada waktu itu para anggota Bengkel Teater Rendra berjalan kaki bersama di jalan raya, ketika keadaan lalu lintas reda, dari kampung Ketanggungan Wetan ke Jalan Malioboro dan berkumpul di Alun-alun Utara. Mereka bercaping dan berkaos bertuliskan Bengkel Teater. Selama ritual, semua langkah kaki tak berbunyi, mulut tanpa suara. Membisu. Bila ada yang menyapa atau bertanya, mereka tak menjawabnya.

DILEPAS SUTRADARA : semangat Ken Zuraida, murid dan isteri mendiang Rendra, seperti api yang membakar proses.

Jalan bisu merupakan ungkapan protes atas keadaan terbekapnya kesegaran hidup bersama. Protes ini terarah kepada pemerintah karena tidak mampu menjalankan amanah dalam menyelenggarakan regulasi yang baik dan memihak rakyat kebanyakan. Begitu pula kritik kepada masyarakat pada umumnya, karena mudah menyerah kepada keyakinan. Seakan-akan, teknologi bisa mengganti semangat dan roh hidup yang hilang itu.

SEMANGAT ITU NYALA DAN LURUH : sepanjang jalan, sepanjang malam kaki dan hati menuju.

Cara protes ini mewarisi tradisi lama masyarakat Jawa mengungkapkan sikap perlawanan terhadap penguasa. Protes tertuju kepada penguasa, namun ritual Jalan Bisu justru merogoh naluri berdialog  dengan diri sendiri. Ritual ini berarti juga menahan diri tidak melempar bensin ke arah mereka yang memeram bara amarah, ketidakpuasan, dan keresahan.

TERIMA KASIH TUHAN : Mas Edy Haryono memimpin para muda itu sampai pada tujuan.

Bravo! Foto-foto : Emil Ondo

 

9 Comments to "Ritual Jalan Bisu: Kredo Sebuah Sikap Kebudayaan"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 December, 2011 at 20:29

    Asli. ini artikel kejawen sekali. Saya suka. Saya Ronggowarsito.

  2. Dewi Aichi  20 December, 2011 at 06:51

    Kalau aku diam dan bisu, itu tandanya aku sedang punya duit, tetapi ternyata aku tiap hari ngoceh ngga karuan di baltyra wkwkw…berarti ngga pernah punya duit he he…

  3. Dewi Aichi  20 December, 2011 at 06:43

    Ayo ngaku, siapa yang menerima buku dari mas Dwi “Mastodon Dan Burung Kondor” ..!

    Keren mas Dwi…..!

  4. NEGRO  19 December, 2011 at 14:29

    AQ DIAM KALO LAGI PUASA…SOALNYA KALO NGOMONG BAU MULUT …

  5. Handoko Widagdo  19 December, 2011 at 07:26

    Ada saatnya diam itu dibutuhkan.

  6. Itsmi  18 December, 2011 at 21:28

    di amerika waktu tahun 60an jamannya feminis, banyak yang beraksi dengan cara membisu sampai ada yang ekstrim, memotong lidahnya….

  7. Dj.  18 December, 2011 at 16:55

    Terimakasih mas Dwi….
    Jadi ingat, kalau kami ke satu biara di dekat Mainz, nama kotanya Darmstadt, disana ada satu biara Kristen, yang mana dikelola oleh biarawati-biarawati dibawaah pimpinan ibu Basiliasling.
    Biara ini sangat besar dansangat tenang, di sebut ” TANAH KANAAN KECIL “.
    Cabangnya ada diseluruh dunia, ya…bahkan ada di Ungaran, selatan kota Semarang.
    Tanah kanaan kecil didirikan oleh 7 orang biarawati, yang mana mereka dapat tanah tersebut dari pemerintah Jerman, karena tanah tersebut sagat gersang.
    Mereka berdoa dan satu saat keluar mata air dari tengah tanah tersebut dan sekarang tanah tersebut sangat subur.
    Semua pengunjung disana disaambut dengan bahasa asal tamu, juga orang Indonesia yang kesanna, disambut dengan bahasa Indonesia, oleh wakil seorang biarawati. Diajak keliling biara, tapi tidak boleh berkata-kata. kebanyakan orang yang berjalan saambil berdoa. Jadi sangat tenang, bahkan tidak kedengaran suara apapun, baik kendaraan yang diluar biara, juga suara pesawat terbang.
    Sungguh sangat damai….
    Siapa tau lain kesempatan Dj. bisa bikin oret-oretan tentang tanah Kanaan ini.
    Ini salah satu photo dimana Dj. membawa persekutuan Kriten Indonesia yang ada di Mainz.

    Semoga semua usaha jalan bisu, akan mencapai tujuan.
    Salam Damai dari Mainz….

  8. Linda Cheang  18 December, 2011 at 16:08

    wah, betah juga membisu

  9. James  18 December, 2011 at 09:39

    UNO Domingo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.