[Roman Sepicis] Dua Diana

Dian Nugraheni

 

Kisah sebelumnya: Deja Vu

 

Kisah tentang mawar coklat, tentang dansa bersama dengan pemuda bernama Ghorghe, atau mawar dua warna yang dia temukan di pagi hari, dengan kartu kecil putih bertuliskan, “Love, Ghorghe..”,  membuatku  penasaran untuk menemukan, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Maka Winter kali ini pun, aku berencana menuju Snowshoe lagi, untuk menginap barang satu malam bersama teman-teman. Kali ini, aku berhasil berbicara langsung dengan sang pemilik pondok yang setahun lalu kami sewa ketika berwisata ke Snowshoe, Mr. Smith.

Aku juga menceritakan sedikit tentang pengalaman yang aku alami setahun lalu di pondok Mr. Smith, dan karenanya, Mr. Smith berjanji untuk menceritakan mengenai hal-hal yang mungkin ada kaitannya dengan apa yang  aku alami.

Demikianlah, tanggal yang telah ditentukan, aku bersama teman-teman telah sampai kembali ke Pondok Mr. Smith. Dan Mr. Smith menyambut kami dengan hangat, bahkan beliau memelukku dengan penuh kasih sayang, seolah-olah aku adalah anak perempuannya yang sudah satu tahun merantau tanpa pernah pulang. “Welcome home, Dayana..,” katanya dengan mata berkaca. Aku agak terkejut melihatnya, tapi rasa itu segera kusimpan agar tak tertangkap mata oleh Mr. Smith..

Seperti tahun lalu, aku pun tak ikutan berhuru-hara, beramai-ramai bersama rombonganku yang datang untuk  berlibur di pondok atas bukit yang dipenuhi salju tebal. Dingin yang menggigit membuat semua orang mengeriung di  sekitar perapian di ruang utama untuk berkaraoke dan makan makanan bekal yang dibawa dari kota tadi. Tapi aku berdua dengan Mr. Smith sengaja berdiang di perapian dekat dapur di  bagian belakang pondok.

Mr. Smith bilang, bahwa dia tidak tau apa yang sebenarnya aku alami, yaa, tentang “pertemuanku” dengan Ghorghe di musim salju tahun lalu di pondok ini. Tapi Mr.Smith mulai menceritakan sedikit tentang keluarga besarnya, “dahulu kala, pondok ini adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga besar kakek buyutku,dan nenek buyutku bernama Diana, dan orang-orang imigran Spanish menyebut nama Diana menjadi Dayana. Juga dalam kehidupannya waktu itu, ada seorang pemuda yang dekat dengan Diana, yang bernama Ghorghe. Kisah ini merupakan kisah yang bukan lagi menjadi rahasia dalam keluarga kami, karena waktu itu kisahnya memang cukup heboh.”

.

Setelah berhenti sejenak untuk menambah kayu di perapian, Mr. Smith melanjutkan kisahnya,”Ghorghe adalah seorang pemuda desa yang bekerja pada keluarga orang tua nenek buyut kami. Menurut cerita yang aku dengar, Ghorghe adalah seorang pemuda tampan, punya banyak bakat, berbudi baik.., hanya sayangnya dia hanya anak seorang buruh imigran Spanish yang sangat miskin. Diana, sebenarnya tidak mau dijodohkan dengan Morgan Junior, tapi akhirnya Diana menikah juga dengan Morgan Junior. Diana, meninggal setelah melahirkan satu-satunya putranya, yaitu Kakekku yang bernama Julio Morgan…”

.

“Apakah anda juga ada darah keturunan Spanish, Mr. Smith..?” tanyaku.

.

“Ya, tentu saja, Dayana, sesuai dengan sejarahnya, negara ini kan negara imigran, otomatis lama kelamaan pun terjadi perkawinan campur antar bangsa. Demikian pula dengan leluhur kami, sudah terjadi percampuran darah dengan bangsa-bangsa lain yang ada di Amerika..,” sambil berkata demikian, Mr. Smith mengeluarkan sesuatu dari sebuah rak, sebuah lukisan dalam frame berwarna keemasan yang sudah nampak tua dan memudar. “May I…?” pintaku. Mr. Smith tua mengangguk, dan mengangsurkan lukisan itu kepadaku.

Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan muda, rambutnya ikal dikepang dua, wajahnya cantik namun sedikit  sedih, pandangan matanya menatap jauh kosong, sedang duduk di sebuah kursi dengan memangku karangan bunga mawar.

Tiba-tiba aku merasa seperti masuk dalam cairan berwarna silver menyilaukan. Hal itu membuatku  menggeragap serasa susah bernafas. Selintas aku  hanya  mendengar suara Mr. Smith memanggil namaku sedikit panik, tapi setelah itu, aku seperti melihat seorang gadis, berambut ikal berkepang dua, dalam baju panjang berimpel-rimpel, sepatu boot, dan topi yang dihiasi bunga-bunga. Dia berlari-lari di sebuah padang. Di belakangnya, seorang pemuda mengikuti langkahnya.

Dalam pandanganku, nampaknya, gadis itu sungguh kelelahan dan tak kuat lagi berlari, dia berjalan dengan sedikit mengangkat gaunnya yang berlapis-lapis, dan segera menyandarkan dirinya di sebatang pohon Oak besar. Dilepasnya topinya, dan tiba-tiba, pemuda itu telah berdiri amat dekat dengannya. Dia berbaju putih dengan rimpel di lengan bagian atasnya, dan vest kulit berwarna coklat yang sangat halus, dengan rambut blondenya yang ikal dan terikat ke belakang. Sedikit geraian rambut di wajahnya tersibak tertiup angin perbukitan. Tangan kiri pemuda itu diletakannya pada batang pohon yang disandari oleh gadis itu. Tangan kanannya memegang tangan kiri sang gadis, “Lelahkah kamu, Dayana..?”

Gadis berkepang dua itu mengangguk, “aku mau pulang, aku capek, Ghorghe…”  Di tangan gadis itu tergenggam beberapa tangkai mawar coklat.

Tapi pemuda yang disebut Ghorghe tak segera beranjak, dia mengurung gadis yang dipanggilnya sebagai Dayana dengan kedua tangannya. Dayana masih terpaku bersandar pada pohon Oak. Jantungnya berdebar kencang akibat lelah sisa berlari. Dan semakin bergelora detaknya ketika  menyadari bahwa Ghorghe sangat dekat dengan dirinya.

“Kamu sudah terlalu lama main di hutan, Dayana.., aku khawatir Kakakmu akan cemas dan mencarimu…,” kata Ghorghe, sambil ditatapnya gadis itu dalam-dalam.

“Aku tak bisa melihatmu seperti ini, Dayana. Aku mengerti, bahwa lelahmu, sebenarnya bukan karena kau terlalu lama bermain di hutan, atau karena kita main kejar-kejaran.., tapi kelelahan itu justru datang dari dalam batinmu. Biarkan aku bersamamu, Dayana, aku akan  melindungimu, aku akan selalu memberimu dekapan  sayang yang akan membuatmu nyaman sepanjang hidupmu, dan aku akan selalu menemanimu bermain-main di hutan, bersenang-senang, memetik apel atau buah berry, berlarian di atas rerumputan, memunguti bunga mawar, bercanda dan tertawa riang…, apa pun yang kau suka..,” kata Ghorghe.

Hampir saja Ghorghe memeluk dan mencium Dayana, ketika suara kaki kuda mendekat mengagetkan Ghorghe dan Dayana, “Dayana, cepat pulang..!” hardik pemuda itu.

.

Wajah Dayana nampak sangat ketakutan, mulutnya menggumamkan sebuah nama, “Maxi…”

Dalam sikap penuh ketakutan dan kepatuhan, Dayana membebaskan diri dari kungkungan tangan Ghorghe, dan segera ditarik naik  mengendarai kuda yang sama denga Maxi. Sebuah kuda tunggangan berwarna putih yang sangat kekar.

Sebelum menarik tali kekang, Maxi menatap tajam pada Ghorghe, “aku tak ingin melihat mukamu lagi.., pergi jauh dari sini..!”

Ghorghe tak kalah tajam menatap mata Maxi, seolah ingin Ghorghe mengajaknya berkelahi satu lawan satu, tapi  demi melihat Dayana mulai menangis, Ghorghe memilih tak membuat keributan, “Ghorghe.., tolong.., pergilah…,” seru Dayana dalam tangisnya. Ghorghe hanya menatap pada Dayana tanpa tau harus berbuat apa, sebab Ghorghe yakin, apa yang dikatakan Dayana, bukan murni dari apa kata hatinya.

“Dayana…, Dayana…, wake up, please…!” terdengar suara Mr. Smith di telinga Dayana.

Perlahan mata Dayana terbuka, masih samar dalam pandangan matanya, seorang lelaki tua berada sangat dekat dengannya, sedang menepuk-nepuk pipinya, “ohhh…, di mana aku..?”

Mr. Smith tersenyum lega, “Thanks God.., akhirnya kamu terbangun juga..”

Setelah tersadar, Dayana merasa bahwa dia baru saja tertidur di sofa depan perapian di dapur, sambil memeluk sebuah benda. Dan ketika ditengoknya, benda yang didekapnya itu adalah lukisan yang tadi diberikan Mr. Smith kepadanya.

“Apakah aku tertidur, Mr. Smith..?” tanya Dayana.

“Aku tidak yakin, Dayana. Tadi aku sedang menceritakan sedikit tentang nenek buyutku, dan memberikan lukisan itu padamu, ketika tiba-tiba kamu tampak susah bernafas dan jatuh tergeletak di sofa ini. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu, aku pikir kamu pingsan…, tapi setelah aku amati, ternyata kamu tertidur, nafasmu nampak teratur, mungkin kamu capek dalam perjalanan tadi yaa,” kata Mr. Smith.

“Aku buatkan teh buatmu. Ini teh buah kesukaan keluarga kami, teh yang dicampur dengan sari buah blueberry, juga  masih ada sisa Apple pie di kulkas, suka kah..?” tanya Mr. Smith lagi.

“Tentu saja, Mr. Smith, Blueberry Tea adalah teh buah kesukaanku, juga Apple pie, terimakasih banyak..,” jawab Dayana.

Tak terasa, malam semakin larut, Mr. Smith pamitan akan naik ke lantai tiga di pondok tersebut. Pondok Mr. Smith ini memang rumah tinggal, tapi sekaligus juga disewakan, karena bila musim salju tiba, di daerah ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin bermain luncuran salju pada siang harinya.

Aku pun segera mendapatkan teman-temanku di ruang utama pondok itu, mereka tak bosan-bosannya ngemil sambil berkaraoke.

“Dayana, nih bukumu, tadi aku baca.., kok bacaanmu berat amat to, buku tentang karma, reinkarnasi, apa lagi nih, aku nggak mudeng..,” kata Budi sambil memberikan buku yang baru sebagian aku baca. Yaa, buku yang berbicara banyak tentang jiwa, ruh, soul, reinkarnasi, karma..bla..bla..bla…

Anganku kembali melayang pada lukisan wajah Diana, nenek buyut Mr. Smith. Serasa aku melihat lukisan diriku di sana.  Miripkah wajah Diana dengan wajahku, apakah mungkin aku reinkarnasi dari Diana, nenek buyut Mr. Smith, maka Ghorghe datang menemuiku..? Lalu siapa tadi yang aku lihat dalam “mimpiku”..? Gadis yang disebut Dayana itu, apakah itu nenek buyut Mr. Smith..?

Ataukah itu aku pada kehidupan di masa lalu sesuai dengan teori reinkarnasi seperti yang baru aku baca dalam buku kiriman sahabatku ini..? Siapakah maxi..? Dan mengapa “penglihatan-penglihatan” itu datang padaku..? Apa yang harus aku lakukan buat Ghorghe, Diana, atau untukku sendiri..? Pertanyaaan-pertanyaan itu berjubel-jubel menyerang otakku. Mengapa kepalaku selalu merasa berat setelah aku “bertemu” dengan kisah ini…? Aku tak bisa langsung menjawabnya….

Salam re-inkarnasi…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

25 November 2011, jam 11.16 malam..

(dizy..dizy…dizy…).

NB: Orang-orang Spanish, yaitu orang-orang yang berbicara bahasa Espanyola, biasanya menyebut nama Diana dengan Dayana…

 

10 Comments to "[Roman Sepicis] Dua Diana"

  1. Dewi Aichi  20 December, 2011 at 09:36

    Mu Ammar wkwkwkwk…..mosok jagoanku anak kecil gitu ha ha….Neymar kan wajah anak kecil, imut gitu, baru 19 tahun…, ya wajar kalah, Barcelona dilawan he he he…

    Jagoanku cuma Wesley Snaidjer, sebagai gantinya Zidan..!

  2. J C  19 December, 2011 at 09:51

    Wuuuiiiiihhhh…keren, keren…ditunggu lanjutannya lagi ya…jangan lama-lama lho Dian…

    Bagi yang baru baca, artikel sebelumnya adalah: http://baltyra.com/2011/03/18/deja-vu/

  3. [email protected]  19 December, 2011 at 09:09

    NICE!!!!!

  4. Mu Ammar  18 December, 2011 at 20:52

    Wah mbak DA, jagoanmu kalah telak tuh ama mas messi cs

  5. Dewi Aichi  18 December, 2011 at 17:26

    Halo Titin, memang tanggal itu dibuat sesuai tanggal penulisan notes Dian…jadi bukan tanggal terbitnya di baltyra.

    Eh nonton bola dulu he he…Santos vs Barcelona.

  6. Linda Cheang  18 December, 2011 at 16:00

    begitu, ya.

  7. probo  18 December, 2011 at 14:05

    bikin penasaran…….

  8. Titin rahayu  18 December, 2011 at 12:44

    Sekarang sudah Desember !!!! , mata belom melek sepenuhnya udah baca Baltyra

  9. Titin rahayu  18 December, 2011 at 12:42

    25 November 2011 ??? Apa gak salah tanggal ?? BTW nice story, di tunggu lanjutannya

  10. James  18 December, 2011 at 09:38

    ONE SUNDAY

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.