Macet dari 1994 – 2011 (Tua di Jalan)

Bamby Cahyadi

 

Saya benar-benar menjadi penghuni tetap kota Jakarta, tepatnya pada Oktober 1994. Ketika itu saya diterima bekerja di McDonald’s. Sebelumnya saya hanya menumpang sementara, yaitu saat saya bekerja sebagai reporter Majalah Pramuka dan dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik. Sebagai reporter Majalah Pramuka Kwarnas, saya tak wajib berada di Jakarta, saya cukup mengirimkan naskah berita melalui pos dari kota tempat tinggal saya di Tasikmalaya.

Jakarta sebagai kota yang semrawut dan macet adalah sebuah kenyataan, sebuah fakta yang tak terbantahkan. Ya, sejak saya benar-benar menjadi penghuni tetap kota metropolitan ini di tahun 1994, kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, ketika saya beralasan, saya kena macet, sewaktu saya telat datang ke lokasi training, atasan saya menjawab, sudah tahu Jakarta dari dulu macet, pakai telat segala, makanya bangun lebih awal dan pergi lebih awal. Padahal saya berangkat dari Kebon Jeruk menuju Kelapa Gading pada waktu itu pukul 05.00 Wib, dan kelas training dimulai pukul 08.00 Wib, dengan menggunakan kendaraan umum berganti-ganti waktu yang saya butuhkan dari Kebon Jeruk ke Kelapa Gading adalah 3 jam! Itu tahun 1994.

Tahun 2011. Tepatnya pada 15 Desember, pukul 18.50 WIB. Dari Bundaran HI saya menggunakan jasa taksi menuju Tebet, Jakarta Selatan. Untuk mendapatkan taksi yang kosong perlu perjuangan, karena jumlah taksi di seputaran jalan Thamrin dan Sudirman, akhir-akhir ini jumlahnya menyusut.

Jalan Thamrin lengang, maklum kebijakan three in one masih berlaku. Namun di depan Hotel Mandarin mengarah ke Jalan Sudirman terlihat jalanan dipenuhi oleh mobil dan motor yang berjalan lambat sekali, kemacetan sudah terjadi di sana. Maklumlah, Fauzi Bowo tak tahu anak buahnya bikin gorong-gorong di sepanjang Jalan Sudirman. Sehingga Fauzi Bowo harus meninjau langsung, melihat dengan mata kepalanya sendiri akibat perbaikkan gorong-gorong itu sebelum perhelatan Sea Games dimulai. Jadi sudah pasti, kemacetan di Jalan Sudirman akibat adanya proyek gorong-gorong.

Karena Jalan Sudirman macet total, maka taksi mengarah melewati Jalan Imam Bonjol dan Diponegoro. Alamak!!! Ternyata kedua ruas jalan itu juga dilanda kemacetan parah. Saya menoleh kiri-kanan, walaupun dalam keadaan remang karena hari sudah malam, saya melihat mobil-mobil pribadi yang terjebak macet, rata-rata isinya paling banyak 2 orang.

Entah apa yang membuat semua jalanan mampet, singkat cerita saya sampai di depan gang rumah saya pada pukul 21.05 Wib. Jadi itu adalah 2 jam lebih saudara-saudara menempuh waktu dari Bundaran HI ke Tebet yang notabene secara jarak sangat dekat. Begitulah tulisan ini saya buat untuk Anda iseng-iseng baca. Dari tahun 1994 hingga tahun 2011 mau berakhir, urusan macet tak ada satu Gubernur pun yang berhasil menuntaskannya. Malah tambah tahun, tambah parah. Dulu naik motor (ojek) tidak macet, sekarang mau naik apa saja pasti kena macet.

Jadi kalau Anda berminat menjadi Gubernur DKI Jakarta, tugas Anda cukup mengurai kemacetan jalanan Jakarta. Maka warganya akan sejahtera. Percayalah!

 

28 Comments to "Macet dari 1994 – 2011 (Tua di Jalan)"

  1. Kornelya  23 December, 2011 at 02:41

    Mas Bamby, macetnya itu karena pengendara ngga ta’at lalu lintas. Traffic lightnya masih merah, pengendara sudah nyosor melewati zebra cross line. Kemacetan di Jakarta bukan saja rugi secara ekonomi, tetapi juga membuat urat ngamuk pengguna jalan siaga satu setiap sa’at. Hahaha. Salam.

  2. Lani  22 December, 2011 at 14:28

    25 BAMBY : wah yg kayak gini WOKEHHHHHHHH……….wakakakak

  3. Lani  22 December, 2011 at 14:27

    AKI BUTO : cm 5 menit soko omah????? klu gitu nginep pisan wae nang kantor…….apa pindahan…….hahahah

  4. Bamby Cahyadi  22 December, 2011 at 14:01

    Pengennya di rumah aja, gak kerja, tapi dapat gaji banyak hahaha….

  5. Dewi Aichi  21 December, 2011 at 20:56

    Wah kok tawuran sih Pak Iwan?

  6. Dewi Aichi  21 December, 2011 at 20:54

    Komen 20, wah…kerja di rumah ngga bakal tuntas kalau belum mati he he…capekkkk….tiap hari kerja di rumah, siang malam kerja…

    Komen 21…kantor yang paling dekat dari rumah ya paling kantor polisi, sama kantor kecamatan wkwk…di tempatku lho..

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 December, 2011 at 20:34

    Hahahaha..itu aku dulu. “Sepelemparan batu” kata Khoo Ping Ho

  8. J C  21 December, 2011 at 20:31

    Mas Iwan, gak juga lho, salah satu solusinya cari kantor yang 5 menit dari rumah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.