Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Macet dari 1994 – 2011 (Tua di Jalan)

Monday, 19 December 2011

Viewed 1533 times, 1 times today | 28 Comments |

Bamby Cahyadi

 

Saya benar-benar menjadi penghuni tetap kota Jakarta, tepatnya pada Oktober 1994. Ketika itu saya diterima bekerja di McDonald’s. Sebelumnya saya hanya menumpang sementara, yaitu saat saya bekerja sebagai reporter Majalah Pramuka dan dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik. Sebagai reporter Majalah Pramuka Kwarnas, saya tak wajib berada di Jakarta, saya cukup mengirimkan naskah berita melalui pos dari kota tempat tinggal saya di Tasikmalaya.

Jakarta sebagai kota yang semrawut dan macet adalah sebuah kenyataan, sebuah fakta yang tak terbantahkan. Ya, sejak saya benar-benar menjadi penghuni tetap kota metropolitan ini di tahun 1994, kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, ketika saya beralasan, saya kena macet, sewaktu saya telat datang ke lokasi training, atasan saya menjawab, sudah tahu Jakarta dari dulu macet, pakai telat segala, makanya bangun lebih awal dan pergi lebih awal. Padahal saya berangkat dari Kebon Jeruk menuju Kelapa Gading pada waktu itu pukul 05.00 Wib, dan kelas training dimulai pukul 08.00 Wib, dengan menggunakan kendaraan umum berganti-ganti waktu yang saya butuhkan dari Kebon Jeruk ke Kelapa Gading adalah 3 jam! Itu tahun 1994.

Tahun 2011. Tepatnya pada 15 Desember, pukul 18.50 WIB. Dari Bundaran HI saya menggunakan jasa taksi menuju Tebet, Jakarta Selatan. Untuk mendapatkan taksi yang kosong perlu perjuangan, karena jumlah taksi di seputaran jalan Thamrin dan Sudirman, akhir-akhir ini jumlahnya menyusut.

Jalan Thamrin lengang, maklum kebijakan three in one masih berlaku. Namun di depan Hotel Mandarin mengarah ke Jalan Sudirman terlihat jalanan dipenuhi oleh mobil dan motor yang berjalan lambat sekali, kemacetan sudah terjadi di sana. Maklumlah, Fauzi Bowo tak tahu anak buahnya bikin gorong-gorong di sepanjang Jalan Sudirman. Sehingga Fauzi Bowo harus meninjau langsung, melihat dengan mata kepalanya sendiri akibat perbaikkan gorong-gorong itu sebelum perhelatan Sea Games dimulai. Jadi sudah pasti, kemacetan di Jalan Sudirman akibat adanya proyek gorong-gorong.

Karena Jalan Sudirman macet total, maka taksi mengarah melewati Jalan Imam Bonjol dan Diponegoro. Alamak!!! Ternyata kedua ruas jalan itu juga dilanda kemacetan parah. Saya menoleh kiri-kanan, walaupun dalam keadaan remang karena hari sudah malam, saya melihat mobil-mobil pribadi yang terjebak macet, rata-rata isinya paling banyak 2 orang.

Entah apa yang membuat semua jalanan mampet, singkat cerita saya sampai di depan gang rumah saya pada pukul 21.05 Wib. Jadi itu adalah 2 jam lebih saudara-saudara menempuh waktu dari Bundaran HI ke Tebet yang notabene secara jarak sangat dekat. Begitulah tulisan ini saya buat untuk Anda iseng-iseng baca. Dari tahun 1994 hingga tahun 2011 mau berakhir, urusan macet tak ada satu Gubernur pun yang berhasil menuntaskannya. Malah tambah tahun, tambah parah. Dulu naik motor (ojek) tidak macet, sekarang mau naik apa saja pasti kena macet.

Jadi kalau Anda berminat menjadi Gubernur DKI Jakarta, tugas Anda cukup mengurai kemacetan jalanan Jakarta. Maka warganya akan sejahtera. Percayalah!

 

Share This Post

Posted by Monday, 19 December 2011 on 07:36.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

28 Responses to “Macet dari 1994 – 2011 (Tua di Jalan)”

Pages: « 3 [2] 1 »

  1. 20
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Solusi untuk kemacetan hanya satu… kerja di rumah.

  2. 19
    Lani Says:

    NEGRO : tossssss! Mmg betoooool adanya, sorooooo…..dimana-mana macet…macrettttt……mencretttttttttt!
    Tp ngomong2 apa hubugane, dikau meninggalkan JKT sebelum kena impotent? Mmg nya kemacetan mengakibatkan IMPOTENT? Baru tau……hehehe
    DA : dasar wong kenthir……macet aja dihubungkan dgn ngglendot ke pentulise, biar macet 1000 jam ya monggo waelah……woalah sudrun…….sudrun bablassssss…….
    AY : nah, klu cm dolan ya msh ok lah……apalagi mampir di PONDOL…..heheh tp jg ada kenangan pait, ampir aja DUUUUUUT dirumah juragan PONDOL je…..
    Untung msh dikasih urip ampe skrng….dan ndak kapok, pasti datang lagi ke JKT buat menyerbu Pondol hahaha
    EL-NANO-NANO : yo sing sabaaaaaaar wae, tiap kali mendpt macet, dielus dadamu……jd jantungmu tetep cemanthel ora rontok wakakaka…….la wis pie mmg adanya baru segitunya.

  3. 18
    Wahnam Says:

    Masalah utamanya adalah : Pertambahan jumlah kendaraan (mobil dan motor) TIDAK SESUAI dgn pembangunan jalan baru (jalan layang ). 1 keluarga ada yg bisa memiliki 3 mobil. atau 2 motor

  4. 17
    NEGRO Says:

    14: SETUJU……….MAKANYA SEBELUM IMPOTEN AQ TINGGALKAN JAKARTA……..MBALI NDESO MBANGUN DESO

    KATA YUK LANI SOROOOOOOOOOOO….PANCEN BENER….

    TAPI TETEP AJA TIAP LEBARAN MESTI KUNYANYIKAN “JAKARTA KESANA KU KAN KEMBALI” KWEKEKEKEKEK

  5. 16
    Dewi Aichi Says:

    Hanya bersabar dan menikmati kemacetan yang bisa dilakukan oleh teman teman yang mengalami macet, habis mau gimana lagi, teriak teriak malah stress sendiri, mungkin bisa bawa buku, atau cari kenalan yang ehem ehem…biar ngga bosan, yang diangkot, coba cari orang yang bening bening, biar ngga bete meski macet, pokoknya diri sendiri saja yang bisa bisa mensiasati kemacetan agar tidak stress…

    Bamby…kalau macet pas naik bus, atau angkot, sebelahnya dirimu, oke sajalah…betah wkwkw….

  6. 15
    elnino Says:

    Aku tiap hari rata2 3 jam membuang waktu di jalan, pergi-pulang kerja. Semoga diberi kesabaran spt Cikdhe bilang, sampai mendapat alternatif yg lbh baik…

  7. 14
    Itsmi Says:

    akibat dari kemacetan, bukan hanya lalu linta yang jadi IMPOTEN tapi pemakai juga begitu….. tidak heran jakarta banyak orang yang menderita gangguan jiwa….

  8. 13
    Anastasia Yuliantari Says:

    Untung engga pernah menetap di Jkt sehari pun. Paling hanya liburan suka2, jd biar macet juga dinikmati aja, kan liburan….hehehe.

  9. 12
    Adhe Says:

    Mengerikan kalo lihat macetnya Jakarta…..aku meninggalkan Jakarta tahun 1988, sejak itu tidak pernah menetap lama selain hanya liburan atau kunjungan kerja. Di Jakarta paling hobby naik Ojek, kalau tidak hujan. Thanks mas Bamby buat artikelnya, semoga tetap sabar dan istiqomah jadi penduduk Jakarta, hehehe…….aku say goodbye dg Jakarta karena sadar tinggal di Jakarta waktuku banyak terbuang di jalan.

  10. 11
    Lani Says:

    Jakarta oooooooh Jakarta……….kapoooooook tuek, krn pernah tinggal dan bekerja disana setaon……….pokok-e ora krasan! soroooooooo……….

Pages: « 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)