Tragedi Kemiskinan

Meitasari S

 

Membaca koran seperti menelusuri jejak kemiskinan harta, juga iman.

Seperti halnya pagi ini. Setelah anak – anak berangkat sekolah, aku membaca koran. Mataku tertuju pada sebuah judul. “Seorang napi bunuh diri, gara-gara hutang.” 

Segera saja pikiranku berimajinasi. Aku membayangkan diriku berada pada posisi napi tersebut. Ia tersangkut beberapa kasus penipuan, bukan saja saat ia berada diluar penjara, tapi juga saat dia sudah berada dalam penjara. Ya, kasus penipuan selalu saja erat kaitan nya dengan kemiskinan.

Aku masuk ke dalam pikiran napi itu. Kubayangkan saat aku ingin menyenangkan hati orang yang kucintai, tapi apa daya tak ada biaya. Ditambah lagi iman yg tak pernah diajarkan dan diteladankan orangtua. Salah siapakah? Entahlah, tak berani aku menghakimi.

Kulanjutkan lagi membaca berita yang lain. “Seorang Ibu penderita kista tak bisa operasi karena biaya.”

Padahal tumor nya seberat +/- 20kg. Ditambah lagi ia juga harus merawat suaminya yang sakit stroke. Untuk mencukupi kebutuhan hidup ia hanya berjualan di rumahnya. Itu pun para pembeli mengambil sendiri kebutuhan mereka karena keterbatasan gerak si ibu. Dia hanya mengandalkan tetangga yang baik hati untuk membeli barang yang hendak dijualnya.Huffftttt….

Aku terpekur… 
Ah kemiskinan… 
Mengapa aku tak berbuat apa – apa. ? 
Apa yang bisa kulakukan? 
Benarkah Tuhan itu kejam? 
Ataukah kita saja yang tak memahami kehendakNya? 
Kubiarkan hati kecilku bertarung. 

Kututup koranku dan kuhela nafas panjang .
Ah ….

Smg 12.09.11 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

39 Comments to "Tragedi Kemiskinan"

  1. Meitasari S  22 December, 2011 at 06:12

    ODB : wow indah skali analoginya! Benar n stuju. Tuhan adalah sang Maha Guru yg sgt adil …

  2. Meitasari S  22 December, 2011 at 06:10

    Kang Iwan Goja, Betul! Tp yg perlu dijaga jgn sampe mjd sebuah tragedi dan menganggap ini adalah hal biasa …

  3. Oscar Delta Bravo  21 December, 2011 at 22:21

    Meita,pertanyaan saya ttg ras manusia didunia,untuk Itisme tidak terbaca olehnya,Baiklah saya singkat saja dan ambil yang pokok dan sesederhana mungkin yaitu ras kulit putih dan ras kulit kuning(Asia) Apakah Tuhan bodoh dan tidak tahu akan kedua ras ini?Tidak ….Tuhan tahu semuanya.Seandainya Tuhan waktu menciptakan manusia pertama “Adam” diambil dari ras Asia/Chinese,maka yang dimakan adalah sang ular(cia po)dan bukan sang apel Maka tidaklah akan terjadi,segala malapetaka didunia,karena sepertinya hidup disurga.Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadiJadi sepertinya manusia diberi tantangan supaya bisa memakai pikirannya untuk dapat menjadi berhasil dan sukses dan mandiri

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 December, 2011 at 20:22

    Miskin perlu supaya ada orang yang disebut kaya. Org pintar ada krn ada org bodoh.

  5. Meitasari S  20 December, 2011 at 19:39

    wydha : thx

  6. Meitasari S  20 December, 2011 at 19:38

    mb dew crita dong biar kt makin brsyukur

  7. Meitasari S  20 December, 2011 at 19:38

    itsmi, sy blm pernah melihat Tuhan menyiksa bayi.

    Mgkn manusia nya yg menyiksa..

  8. R. Wydha  20 December, 2011 at 14:56

    haru juga dengar kabar ttg kemiskinan… apalagi sudah berumur tua,,, hemmmm……

  9. Itsmi  20 December, 2011 at 11:58

    Dewi, Korea utara dari dulu parah, juga Kim Jong-il dia melihat dirinya sebagai Tuhan, jadi dia tidak senang kalau ada persaingannya,……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.