Tuesday, 20 December 2011
Linda Cheang
Hari baru di Salatiga
Ira dan Mas Tono sudah bersedia membawaku ke tempat yang aku sudah minta jauh-jauh hari, Ronde Jago plus ada satu tempat kuliner yang mau aku jajal, Sego Kutuk Bu Jono Reksa. Tentu permintaanku bikin heran karena rupanya Ira sebagai warga Salatiga kurang paham mengenai apa itu Sego Kutuk. Nasi Ikan Gabus, deh. Selain Sego Kutuk ada satu tempat wajib kunjung untuk berenang, yaitu Sumber Air Muncul.
Tapi hari itu Ira dan Mas Tono mau bawa kami pergi ke satu tempat sunyi. Mumpung ada Romo yang datang, biasanya suka ke tempat pertapaan. Namanya Pertapaan Gedono. Padahal aku sudah bikin jadwal mau ke Ambarawa ke stasiun Bedono untuk kemudian ke Museum Kereta Api, tapi rencana ke Gedono juga bukan hal yang buruk.
Menuju ke sana tentunya perlu kendaraan dan Ira bisa mendapatkan pinjaman kendaraan Toyota Kijang Grand Extra 1987 dari kampus Sekolah Tinggi Theologia Jemaat Kristus Indonesia (STTJKI) tempatnya mengajar. Kondisi kendarraannya sangat terawat, laslu siapa yang mau nyetirin? Sebelumnya direncanakan kami akan pakai kendaraan milik ayah Mas Tono, tetapi ternyata situasi jadi lain. Jadilah saya, yang jadi supir. Situasi jadi sudrun. Bagaimana situasi tidak sudrun? Saya jadi supir, Ira jadi kenek saya, sedangkan para cowok, Mas Tono dan Romo Budiman duduk di kursi tengah mobil menjaga anak-anak, hahahaha…. Ini emansipasi yang sudrun, ya.
Ira membonceng saya untuk ambil mobil ke kampus dan rupanya memang diperlukan supir yang sudrun untuk bisa membawa Kijang keluar dari halaman kampus yang jalannya menanjak curam, masuk dan parkir ke halaman Balai Desa di depan rumahnya Ira tanpa harus menyenggol tiang listrik yang tepat ada di tikungan jalan masuknya yang sempit. Belum lagi kala masuk kampus yang jalan masuknya juga curam, harus ada supir sudrun yang bisa membuat Kijang tidak sampai menggelosor terbawa turunan. Intinya, ada bagusnya juga saya jadi sudrun…
Mobil sudah ada, kami berangkat sekalian jemput Si Ragil pulang sekolah. Sebelum ke Gedono, kami kembali ke kampus karena Ira ingin memperkenalkan kami, utamanya, sih, memperkenalkan Romo Budiman dengan para dosen dan mahasiswa di sana, sekalian lihat-lihat situasi kampus. Kami sempat diskusi sebentar dengan beberapa mahasiswa yang sedang kerjakan skripsi dan berbagi pengalaman. Dan sebenarnya juga, ketika berkeliling kampus, saya sudah merasa ngantuk…
Menuju Gedono, melewati jalan luar kota yang sempit tapi sudah beraspal hotmix. Melewati jalanan Salatiga yang cukup sejuk dan jalan kampung yang masih banyak hijauan, membuat saya jadi segar kembali. Sempat di setengah perjalanan menuju Gedono, kami harus ambil jalan memutar karena ada ruas jalan yang dihalangi tenda untuk pelayat yang datang ke sebuah rumah dan ternyata di dalam rumah itu ada orang yang baru meninggal dunia. Dari situ masih lumayan jauh juga perjalanan sebelum akhirnya tiba ke sebuah kompleks yang tertata rapi, hening dan sejuk. Itulah Pertapaan Gedono. Tuh, bia dilihat mobil merah yang kami tumpangi, tidak sengaja ikut nampang di gambar ini.
Seorang Suster menyapa dan menyambut kedatangan kami, dan itu artinya, bagian Romo Budiman yang maju, untuk acara perkenalan. Suster itu Sr. Martina, OSCA, sangat ramah menyambut kami. Olehnya kami diajak berkeliling, menikmati bangunan yang arsitekturnya dirancang oleh alm. Romo Mangun (Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr) terlihat dari bentuk tanda geometris pada ornament jendela, dan bangunan tsb tidak gunakan tiang beton, hanya batu-batu kali disusun dari dua sisi dan tengahnya diisi semen. Kami juga sempat menikmati heningnya bagian dalam gereja sebelum tiba jam berdoanya para suster di situ.
Juga ambil kesempatan berfoto a la sudrun saya, Romo dan Ira. Moga-moga saja Romo tidak kena marah pimpinan paroki, yah, ada foto Beliau lagi merangkul dua cewek. Di foto itu kami sebagai alumni SMK. Untung saja belum sempet Ira dan saya menggandeng lengannya Romo, bisa-bisa banyak cewek penggemarnya Romo Budiman, khususnya yang ibu-ibu, pada protes.
Kemudian kami diajak melihat situasi toko. Ternyata menyenangkan bisa menemukan Kefir Gedono dan semua produk hasil karya para suster yang tinggal di pertapaan. Saya juga menemukan kartu Natal dengan gambar Maria Yusuf dan Bayi Yesus versi Orang China. Belum lagi ada hiasan Natal dibuat dari sisa blok Hosti (roti tidak beragi untuk Perjamuan Kudus) yang bolong-bolong, di mana salah satu lubangnya yang terbesar, diletakkan boneka bayi. Sayang sekali saya benar-benar lupa memotretnya saking takjubnya lihat hiasan itu. Sementara Romo Budiman asyik beli biskuit terbuat dari singkong berbagai rasa, kartu Natal, dan Kefir. Saya malah jepret Romo, Suster dan Pendeta yang sedang dialog.
Selama di Gedono, Si Ragil berceloteh begitu ramai. Sampai Romo Budiman juga diharuskan mengikuti Ragil berdoa. Cuma anak kecil yang bisa membuat Romo Budiman untuk menuruti apa kemauannya. Lalu, selesai Si Ragil berceloteh, kami mengikuti jalur Jalan Salib, semuanya ada 14 stasi, tapi yang saya jepret hanya beberapa stasi termasuk Pieta. Di Pieta ini Romo Budiman berniat bikin lukisannya. Selesai di Jalan salib, Si Ragil sudah bosan ingin segera pulang, tapi terdengar suara lantunan doa siang dari dalam gereja yang dilantunkan para suster. Romo mau dengarkan dulu lantunan doa para suster sebelum kami balik ke rumah untuk makan siang.
Kembali ke rumah Ira, makan siang, sambil diskusi dan persiapan untuk ke Muncul. Saya dapat kabar Si Tengah, Tia, sempat menangis karena dikira tidak diajak pergi. Rupanya kami habiskan waktu cukup lama di Gedono. Setelah Si Tengah tenang, kami berangkat menuju Muncul. Niatnya tetap berenang meski sudah mulai hujan. Berangkatlah kami menuju Muncul dengan situasi jalan luar kota yang kadang-kadang ajaib. Diingatkan bahwa ada penumpang 2 orang Hamba Tuhan, jadi enggak boleh terbawa slebor oleh pengguna jalan lain yang memang pada slebor.
Sampai kami di Muncul dan kami menikmati renang kami. Sumber air yang benar-benar air muncul dari mata air dengan derasnya sampai meluber banjir ke luar kolam. Airnya jernih, bersih dan segar sebab minus kaporit. Hanya ruang ganti pakaiannya tidak dirawat dan tidak ada kapstok untuk menggantung pakaian. Nah, khusus untuk kisah di Muncul ini, tidak ada foto yang akan dipasang karena penampilan saya yang syurrr, serasa lagi di Hawaii. Mestinya Yu Lani ikutan menemani pakai bikini kiwir-kiwir, merasakan segarnya air tawar asli gunung. Sudrun ketemu sudrun, ya, hasilnya menularkan virus sudrun. Saya sudah pernah bilang sama Romo kalo saya kedinginan karena berenang, minta Romo yang angetin, ya. Jawabnya Romo, iya, diangetinnya, pake…………………….. Wedang Jahe!
Sayang sekali ketika kami beranjak pulang dari Sumber Air Muncul, Mas Tono terpeleset sampai jatuh, kabarnya sampai tiga kali berdebum. Ya, itu tandanya kami harus segra pulang dan ketika tiba di depan rumah, Si Ragil yang duduk bersama Ira di kursi depan, sudah tertidur berat, akhirnya harus digendong oleh Romo. Kalau saja saat itu saya sempat jepret, Romo mengendong Si Ragil, terlihat sangat manusiawi.
Laporan berikutnya, ditunggu, yah.
Salam jalan-jalan,
Linda Cheang
Desember 2011
December 21st, 2011 at 01:08
Hallo Linda….
Terimakasih untuk siaran jalan-jalan yang sangat menyenangkan….
Ini mata air Gendono ada di salatiga kah…???
Jadi ingin kesana juuga…..
Salam manis dari Mainz…
December 21st, 2011 at 00:40
Jeng Laniiii dan zusje Linda, carinya nggak usah jauh-jauh…. Tinggak berdiri di depan kaca teruuuuussss lihat bayangan yang ada disana… Teruuuuussss, rampungké dhewé ceritanya… ha, ha, haaaa, Nu2k
December 21st, 2011 at 00:09
MBAK NUK : 16 wakakak….mbak, ditanya malah nanya balik………hehehe yo emboh turunnya kemana tuh……..
December 20th, 2011 at 23:36
elnino : huahahaha…. ayo, mikir apa, tuh? memang enak disikepi Romo Crispi, tapi aku masih kalah canggih sama Yu Lani, yang sikepi dia itu 4 irang Romo, lho!
Cris : yak, Romo sudrun sudah mampir memberikan komentar. Lanjut!
Yu Lani : iya, dong, sadar sesadar-sadarnya….
Bu Nunuk : itu dia, ke mana, yah? *sambil celingak-celinguk*
December 20th, 2011 at 23:20
Jeng Laniiiii, lhooooooo… Memangnya kacamatanya bisa turun ya tempatnya.. Di sebelah mana???? Ha, ha, haaaaa…. Gr. Nu2k
December 20th, 2011 at 23:12
LINDA : woalaaaah, nyadar malah sikepan Romo bikin addict!
MBAK NUK : 8 aku mo tanya itu kacamatanya yg disebelah mana? wakakakak
December 20th, 2011 at 21:13
Setuju Romo Crispi, tempat retretnya tenang n adem keliatannya… Pasti betah berlama2 di situ ya….
December 20th, 2011 at 20:47
Paling asyik dari perjalanan ini adalah ke Gedono dan berenang. Terima kasih Ira dan Mas Tono dan supir Linda yang membawaku ke sana.
December 20th, 2011 at 20:32
Pasti penuh perasaan nih menikmati sikepannya Romo…sampai puas gitu…hihihi lagi…..
December 20th, 2011 at 19:01
elnino : iya, dong, hihihihi… kan, setelah itu doa berkatnya memuaskan.
kalo disikep Buto, aku malah takut. hahaha…