Kembalikan Payungku!

Lembayung – SOLO the Spirit of Java

 

Cenil & Lik Gembus

Hujan riwis-riwis, tidak begitu dingin tetapi terasa lembap, saya berjalan setengah berlari kecil menuju angkringan Lik Gembus, hanya bertopikan tas kresek hitam di kepala, persis seperti batman. Tangan kanan saya membawa tas kresek  putih, berisi sekotak serabi Notosuman.

Ketika sampai di angkringan Lik Gembus, kaos saya terasa dingin karena tetesan air hujan. Segera saya mengambil posisi duduk di depan tungku arang yang sedang digunakan oleh Lik Gembus untuk menjerang air dalam ketel.

“Kok ya ndak mau pakai payung lho Mbak Cenil ki. Sudah ampuh ya? Otot kawat balung wesi? Tidak takut masuk angin?” omel Lik Gembus sambil segera menuangkan air mendidih dalam gelas yang sudah diberi jahe bakar gepuk dan gula jawa plus gula batu. Saya geli melihat ekspresi Lik Gembus yang mengernyitkan kening dan bibirnya mecucu.

Saya nyengir dan menjawab,”Payung saya dipinjam teman kost Lik, belum dikembalikan sejak seminggu lalu. Sebenarnya saya setiap hari ketemu sih. Tapi teman saya kok ndak inisiatif mengembalikan ya? Saya mau tanya itu malu jhe. Mosok payung wae dioyak-oyak dibalekke.”

“Lho, lho, lho….., ya ndak bisa begitu to Mbak Cenil. Itu kan kepunyaannya Mbak Cenil, hak nya panjenengan. Jadi ya sudah seharusnya diminta kembali. Tapi seharusnya ya yang meminjam itu ada kesadaran untuk segera mengembalikan ketika sudah selesai memakainya. Masih mending ada yang mau meminjami. Ckckck…. “ respon Lik Gembus sambil mengangsurkan segelas jahe gepuk panas yang diberi alas piring kecil.

“Oh iya Lik, ini ada oleh-oleh serabi Notosuman. Tadi pagi saya baru datang dari Solo. Tapi itu isinya Cuma 5 biji Lik, harap maklum ya, mahasiswa duitnya cekak. Hehehe…” kata saya sambil memberikan kotak serabi Notosuman dalam tas kresek warna putih.

Lik Gembus menerimanya dengan ekspresi terima kasih yang tulus. “Matur nuwun Mbak Cenil, isi 5 biji itu sudah kebanyakan, wong saya Cuma sama mbokne thole dan Thole Kenthus saja kok. Total kan 3 orang. Ya sudah, nanti biar mbokne sama thole ndobel saja. Saya cukup satu saja, idep-idep icip-icip. Hehehe… Matur nuwun nggih…..”

“Sama-sama Lik, wong itu juga saya belinya karena baru saja dapat rejeki honor asisten praktikum saya sudah cair. Yo ndak banyak, tapi ya bisa buat berbagi dengan sampeyan. Hehehehe…” jawab saya sambil menyomot bakwan tauge yang kepleh-kepleh karena terlalu banyak minyak.

Soal pinjam-meminjam itu memang hal yang sudah biasa dalam kehidupan berkost-kost-an. Bahkan mungkin biasa juga dalam kehidupan bertetangga. Mungkin bisa saja tetangga sebelah meminjam gula, minyak goreng, bahkan uang. Asal jangan sampai tetangga sebelah meminjam suami saja. Bisa repot dan panjang urusannya nanti. Lumrahnya pinjam-meminjam ini bahkan bisa menjadi masalah besar jika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijaksana.

Atau malah kita perlu mempersiapkan diri dipergunjingkan di arisan ibu-ibu kalau kita termasuk orang yang kurang suka direcoki orang lain (orang lain menyebutnya dengan kata “pelit”). Hanya saja bila kita terlalu sering memberikan kesempatan untuk meminjam entah barang atau uang kepada kita, maka tak jarang kita kerap kali menjadi tubrukan manakala mereka membutuhkan bantuan. Sekali dua kali mungkin tidak apa, tetapi kalau orang jawa bilang “dijagakke” itu kan repot nantinya. Tak heran bila nanti panci berkurang sedikit demi sedikit, persediaan gula tak cukup untuk sebulan, atau uang belanja cepat habis hanya demi menjaga hubungan dengan tetangga dan menghindari penyematan predikat pelit pada diri kita.

Tiba-tiba Lik Gembus menyela lamunan saya, “Ngomong-ngomong soal pinjam-meminjam nggih Mbak Cenil, saya jadi ingat kalau tetangga saya minggu kemarin meminjam uang 20 ribu. Katanya minggu ini mau dikembalikan. Sudah telat dua hari sejak tanggal perjanjian pengembalian kok belum dikembalikan ya? Mbok e thole sudah ngomel-ngomel Mbak, dua hari ini saya dimasakkan nasi sama sayur bening thok! Ndak pakai lauk. Katanya duitnya sudah habis. Tapi saya kok ya sama dengan Mbak Cenil, mau nagih kok yo pekewuh ya? Saya jadi dilematitis…” ucap Lik Gembus sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Saya tersedak mendengar kata terakhir Lik Gembus, “Dilematis Lik, bukan dilematitis! Hahaha….” protes saya sambil terkekeh-kekeh.

“Lha ya itu maksud saya,Mbak. Terus bagaimana coba solusinya itu?” tanya Lik Gembus pada saya.

“Wah… saya juga ndak bisa menjawab jhe Lik. Wong sampeyan juga tahu sendiri, saya saja sungkan mau nagih payung yang dipinjam teman kost saya itu. Itu saja payung, apalagi uang. Pasti lak yo lebih sungkan lagi to Lik?”tanya saya pada LIk Gembus.

Nggih leres Mbak. Rasanya kok aneh ya, kalau kita ngoyak-oyak orang, meskipun itu hak kita. Kok kesannya kita jadi merasa seperti tukang tagih kartu kredit gitu ya Mbak, yang beritanya di koran itu sampai mau membunuh nasabahnya. Amit-amit Mbak, ndak mau ah saya kayak gitu.” cerocos Lik Gembus.

Ah, entahlah, apakah memang hanya saya dan Lik Gembus saja yang masih sungkan dan ewuh-pekewuh menagih barang uang dipinjam dari kita, atau memang masih banyak juga orang di luar sana yang berperasaaan sama. Apakah memang hanya saya dan Lik Gembus yang masih berharap kesadaran dari orang yang meminjam kepada kita. Apakah hanya saya dan Lik Gembus yang berpikiran positif bahwa tanpa ditagih pun mereka tetap akan mengembalikan pada kita. Tetapi apakah pikiran saya dan Lik Gembus ini masih relevan di jaman sekarang? Apakah orang yang meminjam barang kepada kita bisa membaca pikiran kita? Ah, sepertinya tidak. Buktinya, sudah telat dari batas tempo pengembalian yang disepakati tetapi barang tetap belum dikembalikan. Dan…., apakah saya dan Lik Gembus harus tetap merasa ewuh-pekewuh untuk menagihnya?

“Lik, mbok uang sampeyan itu ditagih saja. Daripada kurus kering makan sayur bening thok setiap hari..” saran saya.

Punnn mboten Mbak…, saya malu nagih-nagih!”respon Lik Gembus.

Wah, dunia sudah terbalik, yang malu bukan yang meminjam tetapi yang meminjami.

“Ya wis LIk, saya tak pulang dulu, mau nagih payung saya. Daripada saya meriang gara-gara kehujanan terus. Sampeyan juga, besok pagi ditagih saja uang 20 ribunya. Minta bunga kalau perlu. Daripada sampeyan gering awake karena makan sayur bening terus. Hahaha…” pamit saya pada Lik Gembus, sekedar member saran pada Lik Gembus untuk meminta uangnya kembali agar tidak terjadi ketidak-harmonisan di dalam dompetnya.

Saya pulang ke kost masih dengan topi ala batman. Berpapasan dengan teman saya yang meminjam payung itu di selasar kost. Saya malah mengajaknya masuk ke kamar untuk membuat kopi panas bersama. Ngobrol ngalor-ngidul tetapi saya tidak menyinggung masalah payung sama sekali…..

 

Salam,

Lby (16/12/11;14:03)

 

Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

 

28 Comments to "Kembalikan Payungku!"

  1. Lani  23 December, 2011 at 07:30

    LEMB : yo mengko tak utangi, ning jok lali mbayar balik+bunga yo kkkkkk………..

  2. Linda Cheang  22 December, 2011 at 16:42

    payung jelek juga, Yung

  3. lembayung  22 December, 2011 at 15:58

    @ilhampst,udaaa…. Ikhlasin ajahhh… Hhahahah…
    @mbakyu lani,pinjamin!!!!

  4. Lani  22 December, 2011 at 12:43

    19 LEMB :betooooool…..namanya PINJAM ya HARUS DIKEMBALIKAN…….

  5. ilhampst  22 December, 2011 at 07:46

    Saya pernah punya masalah gara2 meminjamkan uang ke teman yang lagi butuh bantuan. Lumayan besar buat saya yang waktu itu masih pelajar. Mau ditagih, dia menghindar terus. Mau datangi ortunya, sungkan karena dia anak guru SMP saya. Mau bilang ke ortu pasti bakal diomelin. Serba salah, akhirnya gak balik2 juga sampai sekarang. Jadi sekarang agak malas kalo ada yang mau minjem duit agak banyak. Kalo cuma 10-20 ribu gak dibalikin masih bisa dianggap ntraktir, klo udah lebih dari itu sih berat hehehe

  6. lembayung  22 December, 2011 at 07:23

    @oma nunuk,wah saya lebih baik nyekeli pramugaranya saja.
    @oom iw, wahhhh…. Sampeyan itu gimana, wong saya nggak menyebutkan sayur bening itu melarat jhe!

  7. Dj.  21 December, 2011 at 23:07

    Yung….
    Nyindir nih ya…..
    Dj. ingat selalu bawaan srabi Notosuman yang Yung bawa ke hotel, saat kami ada di Jogja.
    Nanti awal agustus, tgl. 3 kami ada di Jogja lagi, bawain lagi ya Yung…hahahahaha….!!!
    Yang jelas pancen enak tenan itu srabi.
    kalau di Semarang, srabinya kecil-kecil dan dimakan dengan santen….

    Lho Yung, kan baru nikah, kok sudah mau pinjam suami, bagaimana sih Yung….
    Diitiunggu cerita ” lik Gembus ” nya lagi Yung….!!!

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 December, 2011 at 19:28

    Wooi…Jeng Yung..jangan menghina makan sayur bening itu sebagai “melarat”. Kamu mau makan KFC atau junk food tiap hari? Yang ada malah larmelar plus beli baju lagi, karena pd gak muat.

    Ya wis, aku mau ambil payung dulu… Permisiiii…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.