[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (5)

Andi Mangesti

 

Artikel sebelumnya:

[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (4)

[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (3)

[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (2)

[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (1)

 

Suara telepon yang berdering tiada henti sepanjang pagi hingga siang hari ini membuat pengurus rumah dan sekaligus tante Cinne dari pihak ibu, Renie juga tidak berhenti menggerutu, mengomel dan mendumal pada setiap telepon yang masuk atau setiap kali telepon itu berbunyi sebelum akhirnya dibanting hingga hancur berantakan.

“Akhirnya tenang juga…syukur kita semua tidak ada yang memakai gadget komunikasi macam telepon seluler ataupun BB…” kata Renie dengan nada lega.

Cinne menatap Renie dengan pandangan aneh, “Tidak perlu dibanting hancur, kan Renie… dicabut saja kabel teleponnya sudah cukup. Sekarang kita harus memesan pesawat telepon ke kantor telepon.”

“Mungkin kita berhenti langganan telepon saja.” Balas Renie dengan tenang.

“Dan merepotkan keluarga Isaka atau bahkan merepotkan Rinko Obaa-san? Karena beliau tidak bisa menggunakan handheld atau membuka e-mail seperti kita?” Jawab Cinne sambil tertawa menggoda Renie.

Renie terdiam di tempatnya dan menoleh ke arah Cinne dengan pandangan kesal dan menuduh. Cinne nyengir memperhatikan Renie yang memang selalu emosional dan mudah meledak.

“Kau… perusak kesenangan orang.” Kata Renie sambil meninggalkan ruangan perpustakaan rumah sekaligus ruang belajar Cinne. Ruang perpustakaan yang besar dan koleksi yang cukup membuat para ahli dan cendikia iri dengan isi koleksinya. Koleksi literatur yang telah dikumpulkan dari sekian generasi yang bahkan bisa ditelusuri hingga masa Mpu Sindok lebih dari seribu tahun lalu; walaupun sebagian besar dari koleksi itu kini ada di perpustakaan milik Hajo di Luxe untuk perlindungan bagi kondisi literatur tersebut.

Cinne melirik tumpukan kardus dan buku-buku yang dikeluarkan dari dus-dus tersebut. Dia dan Renie sudah mengeluarkan dan membaca sepintas apa yang telah dikirimkan oleh Hajo padanya terkait dengan kasus ini. Dari surat elektronik dan telepon yang menyertai buku-buku dan data digital yang dikirimkan dari Luxe tersebut, Hajo mengindikasikan makhluk apa yang tengah Cinne hadapi saat itu.

Sudah sepuluh hari sejak terakhir dia menemukan korban dan secara tidak sengaja telah membebaskan anak yang terperangkap dan kini makhluk itu menjadi-jadi dan merajalela dengan memangsa satu anak gadis setiap malam. Dan bagi Cinne yang kini tersambung secara mental merupakan siksaan karena dia harus “menyaksikan” pembunuhan demi pembunuhan setiap malamnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Renie mencegahnya agar tidak keluar dari rumah Isaka secara rumah itu merupakan benteng utama bagi keluarga Isaka.

Hajo yang mengkhawatirkannya telah mengirimkan banyak referensi yang dibutuhkannya dan terus menerus menghubunginya, bahkan bila tidak dicegah, dia berniat meninggalkan semua urusannya dan terbang untuk membantunya atau mungkin boleh dikata, beliau akan langsung memusnahkan makhluk itu sendiri dengan mudah.

Bagaimanapun juga beliau adalah Redja Hajo. Dan orang mengenalnya sebagai Sang Hajo. Orang mengira beliau adalah seorang godfather mafia, tetapi bagi yang mengenalnya, sebutan itu sungguh menggelikan, karena beliau adalah pemimpin organisasi rahasia yang berpengaruh di dunia.

Cinne tahu, makhluk itu hendak memancingnya keluar dengan segala cara dan dia senang sekali menggunakan perasaan bersalahnya, dan bahkan amarahnya. Dia mengejeknya, dia mencacinya dan mengatai-ngatainya. Seorang Penjaga yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi wilayah tanggung jawabnya. Seorang Penjaga yang lemah.

Cinne mendengus sendiri. Tidak perlu dihina-hina seperti itu, dia juga menyadari kemampuannya yang masih taraf belajar. Tetapi perasaan bersalahnya tidak hilang. Bukan amarah yang ada di hatinya tetapi perasaan tidak berdaya. Dia merasakan semuanya, dia ikut mengalaminya, tetapi dia tidak berdaya. Dan itu membuatnya lebih frustasi daripada marah.

Perhatiannya teralihkan saat terdengar suara Renie yang ditimpali suara Khasimir. Mmm, pikir Cinne, sudah waktunya Khasimir mengunjunginya. Dan dia memerlukan orang itu untuk membicarakan sesuatu.

Pintu ruangannya terbuka dan Khasimir masuk sendiri tanpa ditemani oleh Renie. Cinne mengangkat kepalanya dari buku yang tengah ditekuninya dan menganggukkan kepalanya agar Khasimir memilih tempat duduknya sendiri.

“Aku memerlukan bicara denganmu.” Kata Cinne sambil menandai apa yang tengah dibacanya.

“Dan Komisaris Irwin setengah mati ingin memasuki rumahmu, dan entah mengapa dia tidak bisa mencapai rumah ini sejak tiga hari yang lalu. Diteleponpun hanya nada tut-tut yang panjang…” Khasimir menghela nafasnya saat dia melihat telepon satu-satunya rumah itu yang terletak di ruangan itu hancur berantakan dibanting oleh seseorang. Dan pinggiran mulutnya terangkat sedikit hendak tertawa.

“Tertawa saja kalau kau mau, Khasimir… tidak baik buat pencernaan kalau ditahan-tahan begitu…” komentar Cinne tajam sambil berdiri dari kursinya dan menghampiri Khasimir yang masih berdiri menjulang sambil memperhatikan telepon yang hancur di lantai.

“Aku anggap kau juga tidak tahu berita di televisi?” Khasimir menoleh dan memiringkan kepalanya sedikit agar bisa melihat Cinne yang berdiri di sampingnya. Gadis kecil itu terkekeh mentertawakan pertanyaannya yang dianggap Cinne pertanyaan retorika. Rumah ini boleh dikatakan rumah yang sangat modern tetapi di sisi lain seperti rumah masa lampau yang tanpa dilengkapi oleh benda-benda hiburan kecuali mungkin gramophone peninggalan kakek tua itu.

“Dan?” ajuk anak itu dengan lirikan tajam yang tidak sabar.

“Namamu dan keterlibatanmu dalam penyidikan ini bocor ke media.” Kata Khasimir pelan.

“Ah.”

Khasimir memutar tubuhnya benar-benar menghadapi Cinne, alisnya terangkat, Ah? Dan dia melirik sisa-sisa telepon yang teronggok tak berdaya di lantai.

Pintu ruangan itu terbuka lagi, dan Renie memasukinya dengan mendorong kereta saji, yang terdapat teko teh, cangkir-cangkir dan beberapa piring kue.

“Mantra dan jimatmu berhasil dengan baik, Renie…” kata Khasimir sambil mengambil alih kereta dan mendorongnya ke meja kopi yang berada di dekat meja kerja Cinne yang besar di tengah-tengah ruangan itu.

“Komisaris dan awak media tidak bisa menemukan rumah ini; bahkan Komisaris yang sebenarnya bukan orang sembaranganpun tidak berhasil menemukan rumah ini.”

Renie melirik Khasimir tajam, “Tampaknya tidak berhasil untukmu, Khasimir-san. Kau berhasil menemukan rumah ini, mungkin aku harus minta jimat penolak bala yang baru dari Okaa-san…lagipula aku hanya bertindak atas perintah Hajo-sensei.”

Khasimir tertawa kecil, dianggap bala oleh Renie. sementara yang bersangkutan  menuangkan teh dan menyerahkannya pada Khasimir.

“Komisaris Irwin yang membocorkannya?” Tanya Cinne sambil menghampiri mereka dan menerima cangkirnya dari Renie lalu menuju mejanya sendiri dan duduk di kursinya.

Dia membongkar-bongkar map-map dan buku-buku yang tersusun di atas mejanya. Lalu menemukan apa yang dicarinya. Cinne membiarkan kedua orang itu berbicara sendiri di sekitarnya karena dia terlalu asik menelusuri data dan berita yang diberikan Khasimir.

“Kalau saja ada televisi kita bisa menonton berita yang dimaksudkan, Renie. Seharusnya kau tidak terlalu kaku dengan mengelola rumah ini… Kupikir Hajo juga tidak menyuruh Cinner berada dalam kegelapan,” ucapan Khasimir menerobos pendengaran Cinne dan dia mengangkat kepalanya.

“Televisi dan berita yang disajikan hanya membuat provokasi dan sampah!” balas Renie dengan sengit.

“Berita? Tidak perlu pesawat itu juga kita bisa mendapatkannya. Berita yang mana yang perlu kulihat?” Tanya Cinne dengan wajah serius.

Khasimir dan Renie memandang Cinne bersamaan dengan wajah bingung. Cinne menyeringai.

“Renie… Kau lupa kalau Hajo sering kemari dan bulan lalu baru saja dia tinggal di sini dengan jangka waktu cukup lama setelah kepindahanku kemari setahun yang lalu?”

“Oh… @#*$%…” sahut Renie tak begitu jelas gerundelannya. “Aright! Kalau kau punya televisi, layar atau apapun itu, tolong tunjukkan,”

Cinne menekan beberapa tombol di mejanya dan sebuah layar hologram muncul di tengah-tengah mereka. Cinne bangkit dari duduknya dan mendekati mereka. “Kalau kau mau marah, Renie, tolong alamatkan ke Hajo yang meninggalkan teknologinya di sini.”

Khasimir menyentuh layar hologram itu dan mulai mencari-cari berita yang dimaksudnya dengan jari-jari terampil.

Polisi masih belum bisa menjelaskan misteri pembunuhan yang akhir-akhir ini mengincar anak-anak sekolah, terutama anak-anak remaja perempuan. Orang-orang tua mulai mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka. Penemuan kembali mayat anak remaja perempuan tadi pagi di halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan merupakan korban ke sebelas dalam sejak ditemukannya kasus yang sama dua belas hari yang lalu. Para orang tua dan keluarga korban berkumpul di kantor polisi menuntut polisi segera menuntaskan kasus pembunuhan ini sebelum semakin banyak anak-anak menjadi korban.

“Kedatangan mereka yang diterima oleh Inspektur polisi Ingrid Soleman dari satuan khusus polisi pimpinan Komisaris Irwin Gonda.”

“Pembunuh anak-anak kami memang bukan manusia, dan kami menuntut agar makhluk itu segera ditangkap dan ditindak!”

“Dalam peristiwa Monas waktu itu, ada seorang anak remaja yang bisa memberikan keterangan ataupun membantu penyelidikan ini. Kita tanya sama inspektur cantik itu kalau anak itu bisa membantu atau kita minta namanya biar kita bisa menghubunginya, kalau dia minta uang, akan kami kumpulkan. Yang penting anak-anak kami tidak mati sia-sia”

Televisi menyiarkan kembali rekaman peristiwa malam itu saat Cinne secara tidak sengaja membebaskan korban ketiga dalam kasus itu dari jeratan ilmu hitam dan terhindar menjadi mangsa. Peristiwa yang tertangkap oleh kamera dan mereka berdua lupa untuk mengatasi semua film dan kamera itu sampai keesokan harinya Khasimir menelpon Renie untuk tidak mengantar Cinne ke sekolah karena semua wartawan mulai mencari tahu seluruh sekolah dengan rok motif yang dipakai Cinne malam itu.

Cinne memandangi foto-foto korban yang kini ditayangkan oleh stasiun televisi itu dan keluarganya yang emosional melebihi ledakan emosional Renie. Khasimir mematikan siaran itu tanpa berkomentar, Cinne memandangi layar hologram yang kini berwarna biru polos. Lalu dia kembali ke mejanya.

“Hajo mengirimkan banyak referensi mengenai makhluk yang kita hadapi ini,” kata Cinne sambil menyerahkan selembar kertas hasil coretannya pada Khasimir. “Besok kita ke kantor polisi, ada sesuatu yang harus kupastikan sebelum aku mengambil keputusan dan menghadapi orang itu dengan terbuka.”

“Kau sudah tahu?” Tanya Khasimir kaget dan dia menelusuri kertas yang diberikan Cinne dengan seksama.

“Aku rasa kau mungkin tidak menduganya karena dia bisa menjadi siapa saja, karena itu aku perlu memastikannya. Dua malam lagi tilem, bulan mati. Waktu yang pas untuk menghadapi makhluk pemuja bulan itu. Dan dia tidak akan bisa menolak apa yang akan aku tawarkan untuknya.”

Renie mengerutkan keningnya dan hendak buka mulut tetapi Cinne menggelengkan kepalanya dengan wajah serius.

“Dia sudah berusaha memancingku keluar, Renie. Dan kali ini aku akan menjawabnya dengan kekuatanku, kita tidak bisa membiarkan si pemuja bulan ini merajalela dan dia harus dihentikan untuk keseimbangan.”

Khasimir meremas kertas yang diberikan Cinne dengan geram, “Sulit mencari buktinya, Cinner…”

“Laporan polisi yang aku minta mengenai beberapa kejadian setelah malam purnama menguatkan dugaanku. Tetapi memang, aku perlu menemuinya dulu untuk memastikan.”

Layar hologram itu kini menampilkan gambar seorang wanita cantik dalam seragam yang tampil penuh percaya diri dan berbicara dengan wartawan dengan penuh keahlian dan membuka apa yang diminta Renie terhadap pihak kepolisian atas bantuan yang diberikan untuk tidak diungkapkan kepada publik.

Layar itu terus menampilkan gambar wanita itu tanpa suara yang diperdengarkan sementara tiga pasang mata memandangi wajahnya dengan ekspresi yang berbeda-beda. Pandangan murka dari Renie, penuh pertimbangan dan emosi yang dalam dari Khasimir dan pandangan penuh tekad dari Cinne.

***

-end of part 5-

 

12 Comments to "[Kisah Sang Penjaga] Gula dan Rempah-rempah dan Semua Yang Manis (5)"

  1. Lani  22 December, 2011 at 14:25

    AM : ditunggu lanjutan crita syereeeeeem nya

  2. Lani  22 December, 2011 at 14:25

    AGATHA : hikkkkkkks jahate puoooooool…….malah dikasih gambar wedong ndongo…….ndak ada je di KONA

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.