Edan-edanan (5): Mari Tidur dan Menjemput Maut

Kang Putu

 

Mari Tidur dan Menjemput Maut…

DASAMUKA murka. Dia memboyakkan saran Kumbakarna dan Gunawan Wibisana agar mengembalikan Sinta dan mengelaki peperangan melawan Rama dan bala tentara kera. Dia malah mengultimatum mereka: membela dia atau memihak Rama. Kumbakarna gusar. Dia tinggalkanpisowanan ageng, mengungsi ke pucuk gunung, dan…  tidur!

Adegan itu nancap benar dalam benak saya, sampai kini. Meski, saya lupa siapa dalang di balik wayang itu. Saya cuma ingat, pertunjukan itu saya saksikan ketika belum berumur 12 tahun. Sungguh, keberanian Kumbakarna untuk tidur dalam situasi kruasial itu amat mengesankan. Apalagi, siapa pun tahu, tak sembarang orang berani dan bisa membangunkan dia dari kelelapan.

Boleh jadi kesan itu berpangkal dari kenyataan betapa saya nyaris tak pernah bisa tidur nyenyak, tanpa gangguan mimpi buruk yang menakutkan. Tidur, bagi saya saat itu sampai berbelas tahun kemudian, adalah sarana untuk lari dari kenyataan pahit: gubalan rasa tak aman yang seolah-olah bisa tiba-tiba datang dari segala penjuru dan selalu menyergap. Tidur juga pelarian dari rasa tak terlindungi. Anda tahu, Bapak meninggal saat saya belum genap berusia enam tahun. Dan, Ibu? Ibupoyang-payingan mencari nafkah, sejak fajar menjelang hingga matahari hampir tenggelam.

Maka menjelang tidur malam hari, setelah mendengar dongeng yang dikisahkan Ibu, saya kerap berharap bisa mimpi indah, atau terlelap tanpa mimpi sama sekali. Lalu, esok pagi bangun dengan segar dan riang.

Namun, celaka, tidur sebagai suaka pun tak terbebas dari intervensi kesengkarutan dunia tak sadar. Tak pelak, saya pun kerap terbangun gemetaran dengan tubuh letih. Kenapa begitu sulit untuk sekadar bisa menikmati tidur? Kini, berpuluh tahun setelah adegan wayang kulit itu terlewat, keinginan saya untuk tidur seperti Kumbakarna terkadang muncul.

Serentak dengan itu saya berpikir: kenapa mesti tidur, jika keterancaman dalam jaga pun kerap menyelinap dan menjadi mimpi buruk? Saya jadi terbiasa menahan kantuk dan tertidur saat batas kemampuan terlewati. Tidur tak lagi relaksasi. Tidur seolah-olah mesti saya hindari: agar tak tenggelam dalam ketaksadaran yang mencemaskan.

Saya menjadi gemar rengeng-rengeng, melantunkan sepotong tembang tanpa tahu siapa sang pengarang. Dengarlah, “Aja turu sore kaki/ana dewa nganglang jagad/nyangking bokor kencanane/isi donga tetulak/sandhang lawan pangan….”

 

Tirakat atau Ibadah

Saya pun terpikat saat membaca pupuh sinom dalam Wedhatama karya Mangkunegara IV tentang laku utama ksatria. “Nulada laku utama/tumraping wong tanah Jawi/wong agung ing Ngeksiganda/Panembahan Senapati/kapati amarsudi/sudane hawa nepsu/pinesu tapa brata/tanapi ing siyang ratri/amemangun karyenak tyasing sasama//Samangsane pasamuwan/mamangun marta martani/sinambi ing saben mangsa kala-kalaning asepi/lelana teki-teki/nggayuh geyonganing kayun/kayungyun eninging tyas/santyasa pinrihatin/puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.”

Jadi, menahan kantuk, menahan lapar adalah laku prihatin yang mengasah kepekaan rasa dan nalar? Itulah laku tirakat? “Ya, itu menjadi tirakat jika sejak semula diniatkan. Tirakat, sebagaimana asal katanya dari bahasa Arab – taraka, berarti meninggalkan. Jadi jika kita memaksudkan tidak tidur untuk meninggalkan berbagai perbuatan buruk atau berlebihan – makan berlebihan, tidur berlebihan – itu ibadah,” ujar Ustad Muhammad Irsyad.

Namun jangan lupa, kata dia, tidur pun ibadah. Tentu saja bila memenuhi persyaratan. Pertama, sebelum tidur bersuci. Kedua, berdoa atau berniat bangun tengah malam untuk salat malam atau salah hajat. Ketiga, tubuh membujur ke utara dengan wajah menghadap kiblat – seperti posisi orang mati di liang kubur. Makna simbolis yang terkandung, kita siap lahir-batin sewaktu-waktu ajal menjemput.

Tidur, ucap alumnus Pesantren Salafiah Ringinagung, Pare, Kediri, itu, bernilai ibadah karena merupakan pula mekanisme untuk menjaga kesehatan tubuh, perasaan, dan pikiran. Karena itu, sebagaimana dianjurkan Imam Ghazali, sebaik-baik tidur adalah delapan jam dalam sehari-semalam. Tidur berlebihan justru tidak menyehatkan. Selain, tentu saja, cermin kemalasan. Dengan konsekuensi logis, terjauhkan dari rezeki.

Sesaat sebelum tidur, terlelap dalam “wilayah yang tak terkuasai kesadaran”, merupakan momentum untuk tafakur, mengevaluasi diri, dan mengukuhkan tekad untuk menjadi lebih baik, lebih beriman, lebih takwa. Jika itu bisa kita lakukan, kata dia, tidur sungguh merupakan ibadah menyehatkan. Karena itulah ada tidur qailullah, yang berhukum sunah, yakni tidur sebentar dan bangun sebelum zuhur menjelang. Bisa jadi cuma setengah jam, atau bahkan beberapa menit. Namun begitu bangun, tubuh dan pikiran kita pun segar.

 

Tertib Tidur

Tertib tidur dikemukakan pula oleh Yasadipura II dalam Serat Sana Sunu (Jumeiri Siti Rumidjah, 2001). Dia, sama seperti Ghazali, menyatakan dalam sehari-semalam, yang terbagi menjadi 24 jam, sebaiknya kita tidur delapan jam. Orang yang bisa melakukan hal itu akan beroleh pahala, menjadi orang istimewa, karena tak terlalu banyak tidur. Apalagi setiap menjelang akhir sepertiga malam, menurut kitab Insankamil, Tuhan turun ke langit-dunia. Langit adalah badan kita, sedangkan dunia adalah zat Tuhan yang meliputi jagat raya.

Sebaiknya kita pun bangun antara pukul 01.30 dan 03.00 untuk berdoa, memohon ampun kepada Tuhan. Dan, malam Jumat pada waktu yang sama seyogianya salat hajat. Jika saat itu tubuh kita benar-benar suci, segala penyesalan atau permohonan bakal dikabulkan Tuhan.

Pada waktu subuh, setelah bangun, sebaiknya segera membersihkan diri agar tak tertidur kembali. Orang yang enak-enak tidur saat matahari meninggi adalah orang malas, kebluk. Jelas perilaku itu menghambat keterwujudan keinginan, menjauhkan rahmat, dan mempersempit pikiran.

Kita pun sebaiknya bangun dari tidur siang hari pada waktu asar. Jika bangun antara pukul 16.30 dan 18.00, kita bakal gusar, gampang marah seperti orang gila atau kehilangan nalar. Hal itu menjauhkan pikiran baik dan mendekatkan pikiran buruk. Segala pekerjaan pun mengabur dan mengurangi rahmat Tuhan. Kecuali jika sangat lelah dan mengantuk, bolehlah kita agak melanggar agar badan tetap sehat.

Tidur membujur ke utara menghadap kiblat membuat orang gampang beroleh rezeki. Membujur ke timur memutus rahmat Tuhan dan menghilangkan rasa kasih sanak saudara. Membujur ke selatan memempatkan hati, sedangkan ke barat akan berumur panjang.

Yang menarik, Yasadipura menyatakan bahwa kita dilarang menikmati tidur. Sebisa mungkin kita menahan kantuk yang mendorong keinginan untuk segera tidur. Orang yang mampu menahan kantuk adalah orang yang berpandangan luhur. Orang yang mampu menahan lapar adalah orang yang berketeguhan hati. Orang yang tahan tidak minum bakal kebal bisa binatang. Dan, orang yang melakukan semua itu secara sungguh-sungguh akan mendapat pahala dan bisa mewujudkan keinginan. Itulah, ujar dia, sifat orang bertapa. Orang menjadi pandai, luar biasa (sakti), dan menjadi priayi karena tekun bertapa.

 

Mampir Turu

Paradoks yang menarik: bukankah tidur bagi Kumbakarna justru merupakan laku tapa? Kumbakarna adalah raksasa. tentu saja sedikit atau banyak, sadar atau tidak, keperiraksasaan dia terbawa pula dalam hidup keseharian. Kalaupun tidak secara batiniah, tentu secara lahiriah. Betapa tidak?

Sebagai raksasa, yang digambarkan terbesar dan terkuat, tubuh Kumbakarna jelas menyita tempat jauh lebih lapang ketimbang siapa pun. Dia membutuhkan pula logistik jauh lebih banyak ketimbang siapa pun. Bagaimana pula jika dia berlaku umbar-umbaran, dumeh raseksa, adigang, adigung, adiguna? Maka pilihan cerdas dan bijak adalah tidur! Karena, tidur bagi dia adalah taraka, meninggalkan segala kemungkinan berbuat buruk. Bukankah tidur, dalam konteks ini, menjadi sebenar-benar ibadah?

Tidur dalam perseptif ini pun menjadi sarana pembersihan diri, menghadapi elmaut yang sekonyong-konyong bisa saja menjemput. Urip kuwi amung mampir turu?

Dan, saya? Saya cuma bisa melek, lek-lekan, menahan kantuk, menahan lapar, sembari terus berharap suatu malam bisa tidur tanpa mimpi buruk yang menakutkan. Namun sampai kapan? Wahai, Gusti Allah,Panjenengan ora sare bukan?

 

29 September 2002

 

9 Comments to "Edan-edanan (5): Mari Tidur dan Menjemput Maut"

  1. Lani  23 December, 2011 at 12:44

    yg aku tangkap adl org yg tdk bs tidur nyenyak sgt menyiksa…….krn bangun badan malah jd terasa sakit semuanya……lah utk soal lek2-an aku ndak bs…….klu ngantuk dan kecapaian langsung mak blekkkkkkk klengeeeeeeeer……..tp bangu sll tepat wkt krn badan sdh dibiasakan………

  2. Dj.  23 December, 2011 at 02:00

    Kang Putu….
    Terimakasih untuk cerita, saran dan pengalamannya.
    Menurut Dj.
    Orang yang dalam kehidupannya sehari-hari tidak tenang, maka dalam tidurpun terbawa ikiran siang hari.
    Kebalikan dengan orang yang santai, dia akan tidur nyenyak….
    Mungkin juga pengaruh dongen-dongen buruk yang nancap dalam otak kita, maka itupun bisa terbawa dalam
    tidur. Sehingga orang akan mimpi dengan apa yang dia pikirkan.
    Sebaiknya memang, sebelum tidur, serahkan semua beban seharian ketangan TUHAN dalam doa.
    Puji TUHAN….!!!
    Sampai sekarang Dj. selalu tiidur nyenyak, bahkan pagi bisa cerita ke istri apa yang Dj. impikan…
    Contohnya mimpi mudik, hanya kadang mimpinya loncat-loncat…
    Maksudnya, walau mimpi ada di Indonesia, tapi bisa bertemu dengan teman-teman kerja dan ngobrol soal kerjaan.
    Tapi semuanya selalu menyenangkan….
    dan yang paling sering, mimpi mancing atau nangkap ikan dikali…
    baru kemarin cerita ke istri, nagkap ikan dikali, tapi dapat ikan tuna dan ikan hiu…
    Istri sampai tertawa, lho bukannya ikan tuna dan hiu hidup dilaut…???
    Nah…itulah indahnya mimpi….

    dan menurut kepercayaan kami, bahkan saaat tidur itu, berkat dicurahkan….
    Contohnya saat ADAM tidur nyenyak, maka diambilnya tulang rusuk yang menjadi Hawa…
    Coba Adam tidak tidur nyenyak, maka Hawa mungkin tidak akan ada….

    Salam Sejahtera dari Mainz…

  3. J C  22 December, 2011 at 20:26

    Kang Putu, luar biasa! Saya mendapatkan refreshment dari beberapa prinsip kejawen yang saya pernah coba belajar, dan serasa deja vu – membaca serial Senopati Pamungkas, dengan tokoh utama Upasara Wulung berbelas tahun lalu. Sarat sekali petuah, pesan dan filosofi sejenis seperti dalam artikel ini. Tirakat, lelaku, continuous-introspection, semeleh…wuuuuaaahhhh masih banyak lagi… (saya semakin “edan-edanan” menunggu sambungan serial ini)

  4. Titin  22 December, 2011 at 16:55

    Buatku lihat bantal saja sudah berat rasa mata ini …

  5. Linda Cheang  22 December, 2011 at 16:48

    sulit, kalau ingin bisa tidur tanpa mimpi buruk.

  6. Handoko Widagdo  22 December, 2011 at 10:28

    Setuju Kang Putu. Harus ada sesuatu yang membuat manusia merenungkan akan dirinya. Mulat sarisa hangrasaweni.

  7. kang putu  22 December, 2011 at 10:17

    bung handoko widagdo, bukankah online atau tidak online, korupsi atau tidak korupsi, bisa pula menjadi makan atau tidak makan, tidur atau tidak tidur bagi orang lain? intinya pada tindakan tirakat, taraka, asketisme bukan?

  8. Handoko Widagdo  22 December, 2011 at 07:58

    Saat ini ujian terberat adalah menahan untuk tidak online, bukan urusan makan dan tidur.

  9. Dj.  22 December, 2011 at 03:45

    Maaf….nr. 1 meneh….!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.