Taspo, Kartu Ijin Merokok

Dewi Aichi – Brazil

 

Kemarin saling berkomentar di statusnya Evi Widi, mengenai merokok, perokok, dan gambar yang ada di bungkus rokok. Evi menautkan sebuah link berjudul “Desain bungkus rokok di AS”, terus Alfin Novian dalam komentarnya “ahh..perokok mana bisa ditakut-takutin?” Aku sepakat dengan komentar Alfin. Kemudian aku ingat sebuah kartu ijin merokok yang diberlakukan di Jepang.

Di setiap sudut jalan di Jepang, sangat mudah ditemukan “vending machine” rokok dengan berbagai merk, ada juga yang kutemukan menyediakan rokok dari Indonesia yaitu Gudang Garam. Wah..rokok Indonesia mejeng juga juga di vending machine. Tapi, meskipun berbagai sudut tersedia vending machine rokok, tak semudah yang dibayangkan untuk membelinya. Sebelum diberlakukannya “taspo” akan dengan mudah siapapun membeli rokok, karena hanya dengan memasukkan coin sesuai harga, pencet, sebungkus rokok akan jatuh ke box, dan ambil deh…gampang banget.

Sekarang akan mengalami sedikit kesulitan bagi perokok, apalagi bagi pendatang.

Pemerintah Jepang membuat undang-undang “larangan merokok” bagi yang berusia dibawah 20 tahun. Terkait dengan peraturan itu dan untuk mengawasi para pelajar untuk tidak merokok, maka pemerintah Jepang mewajibkan semua “Tobacco Vending Machine” menambahkan sensor khusus yang akan membaca tahun, bulan dan tanggal lahir si calon pembeli.

Ya, setiap calon pembeli diharuskan mempunyai kartu khusus yang dinamakan TASPO CARD , kartu ini dilengkapi foto, identitas diri lengkap dan sensor semacam kartu ATM, untuk mendapatkan kartu ini, diharuskan mengisi formulir yang disediakan di tobacco shop atau di vending machine.

Tidak mudah memasyarakatkan taspo card ini ke publik, banyak menuai protes. Alasannya, katanya bisa jadi identitas mereka akan disalahgunakan oleh produsen rokok. Tetapi ini adalah alasan bagi mereka yang mungkin menganggap repot harus mengisi formulir segala macam. Formulir yang mereka isikan, nantinya akan dimasukkan dalam data base perusahaan rokok dan tentunya orang Jepang tidak mau identitas dirinya disalahgunakan.

Taspo ini memiliki banyak kelebihan, yaitu dapat membaca secara akurat dan juga ketepatan data yang ada di kartu tersebut. Juga bisa dimanfaatkan sebagai uang elektronik seperti SUICA milik Japan Railways. Di Tokyo, sistem Taspo ini belum populer karena memang Tokyo merupakan target pelaksanaan tahap ketiga. Kagoshima dijadikan pilot project, sementara tahap pertama dilakukan dari wilayah utara yaitu di Hokaido, menyusul tahap kedua di Niigata, Nagao, Kyoto dll.

Sementara tahap ketiga di wilayah Tokyo dan sekitarnya, Ibaragi, Okinawa dll. Keburu ada gempa kemarin ya wilayah ini, mungkin pak Junanto bisa memberikan data yang lebih akurat bagaimana program ini (saat ini) di Jepang, karena saya sudah meninggalkan Jepang sejak 2009, jadi tidak tau lagi bagaimana tentang Taspo ini.

Ternyata nih….orang Jepang juga banyak yang malas membuat Taspo Card, jadi ngga cuma masyarakat Indonesia saja yang malas. Saya ngga tau dan ngga mau tau apakah sistem pengawasan seperti ini efektif atau tidak untuk mengurangi jumlah perokok dini.

“Merokok dapat merusak janin,jantung,kanker,impotensi dan gangguan pernafasan”.

Siapa takut? Yeeee….ngga takut yeeee…!

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

39 Comments to "Taspo, Kartu Ijin Merokok"

  1. Dewi Aichi  24 December, 2011 at 09:39

    ha ha ha ha..Lani, kok yang dibahas komen no 20 lho wah jiannnnn

  2. Dewi Aichi  24 December, 2011 at 09:38

    Hennie yang cantik jelita…TASPO itu nama kartunya, tau ngga Hen…aku sendiri ngga tau apakah itu singkatan atau memang namanya taspo..siapa tau dari teman kita yang di Jepang ada yang bisa menjawab.

  3. Dewi Aichi  24 December, 2011 at 09:36

    Lani, komen 32, yo terserah yang mau merokok to….gaji ya gajinya sendiri mau dihabisin ya biarin kok…

    Lani, kalau dibrondong pertanyaan memang aku kabur, tapi nek berurusan dengan berondong ya pikir-pikir kalau mau kabur, wkwkw…mosok ndekem kayak babon aja huaaaa…ngakak aku..

  4. HennieTriana Oberst  23 December, 2011 at 13:04

    DA, Taspo artinya apa, atau itu hanya kependekan dari beberapa kata?

  5. Lani  23 December, 2011 at 10:05

    20 DA : halaaaaaah…..mbok yg bener ae itu alinea terakhir……….kkkkk

  6. Lani  23 December, 2011 at 10:04

    DA : pertanyaan aki buto ndak cm mbanyak-i tp jg mbebek-i……bebek kan suka baris berbaris to? wakakaka

  7. Lani  23 December, 2011 at 10:02

    DA: dibrondong pertanyaan iso ditinggal mlayuuuuuu………klu dikejar BRONDONG?????? wakakak…….ndak lariiiiii tp malah ndekem

  8. Lani  23 December, 2011 at 10:01

    31 DA : biar harga rokok dinaikin ampe sak-gunung puncrit mahalnya……kenyataannya msh banyak jg yg merelakan duitnya dibakar hanya krn rokok……..ya to?

  9. Dewi Aichi  23 December, 2011 at 09:47

    Baiklan teman-teman…(ngikuti gayanya kang Fire), Jepang memang termasuk negara yang peduli kesehatan, tahun 2004, Jepang pernah menaikkan harga rokok, dilanjutkan dengan tahun 2007 pemerintah Jepang mulai memasang sticker larangan merokok di taksi.
    Nah..pada tahun 2009 itu harga rokok naik berlipat lipat, dari 300 yen menjadi 900 yen….gaji pasti habis buat merokok he hee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *