Guru dan Tantangan Jaman

Ida Cholisa

 

Guru. Siapa yang tak mengenalnya? Profesi mulia tiada tara, bahkan sebutan “Pahlawan Tanpa tanda Jasa” begitu lekat dalam pendengaran kita. Guru, sosok yang dapat digugu dan ditiru, sosok terdepan yang mampu memberikan keteladanan bagi lingkungan sekitar. Bahkan profesi apapun di dunia ini, sebagian besar terbentuk oleh tangan sakti sang guru. Dokter, insinyur, polisi, pengacara, dan lain sebagainya; bisakah mereka ada tanpa adanya seorang  guru yang mengajarkan ilmu pada mereka?

Begitu mulia sebutan guru. Lantas, mulia pulakah kehidupan seorang guru? Guru, sebutan terhormat yang banyak didapat. Tetapi, terhormat pulakah kedudukan guru di masyarakat? Mulia atau terhormat, semuanya berpulang pada kepribadian sang guru tersebut. Kemudian, seperti apakah sosok guru di era sekarang ini? Masih samakah “nasib” guru seperti halnya syair lagu “Oemar Bakri”? Jika guru, dahulu, dipandang sebelah mata karena minimnya  tingkat kesejahteraan hidupnya, maka sekarang berbalik keadaannya. Profesi guru mulai dilirik lantaran hembusan meningkatnya  pendapatan yang berimbas pada meningkatnya taraf kehidupan mereka.

Sebuah hal yang patut disyukuri sebenarnya. Meningkatnya kesejahteraan guru seharusnya diikuti pula dengan meningkatnya etos kerja sang guru. Bahkan ketika gaji guru masih rendah  saja seorang guru mampu mencurahkan pengabdiannya dengan sangat baik, maka terlebih ketika pendapatan maupun kesejahteraannya telah meningkat, maka seyogyanya hal itu dibarengi pula dengan etos dan semangat kerja yang lebih meningkat. Itulah profil sebenarnya sang guru, sosok yang layak digugu dan ditiru dalam setiap langkah dan perilaku.

Akan tetapi, guru juga manusia yang memiliki banyak kekurangan sekaligus problema. Di tengah carut-marutnya zaman, di antara gemerlap dunia dengan banyak kemegahan yang ada  di dalamnya, di antara banyak tuntutan yang memusingkan kepala, berdiri sosok guru dengan   kesederhanaan dan kebersahajaan yang melekat pada dirinya. Kemajuan zaman yang terus melaju tanpa mampu dihentikan, menuntut sang guru untuk mampu mengimbanginya agar tak terseok-seok di tengah jalan. Bukan untuk kepentingan diri semata jika sang guru dituntut untuk mampu menguasai zaman, tetapi demi sang anak didik, seorang guru harus mampu menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman.

Ambillah contoh sederhana. Beberapa puluh tahun silam saat kita masih duduk di bangku sekolah menengah atas, kita  tak pernah mendapatkan ilmu tentang teknologi informasi komputer. Ketrampilan yang didapat pada saat itu adalah ketrampilan mengetik manual. Pada saat itu keahlian mengetik manual dirasa telah cukup lantaran gaung komputer masih jauh dari pendengaran dan penglihatan.

Bagaimana dengan sekarang? Sungguh sangat berbalik keadaannya. Siswa mulai dari sekolah dasar bahkan sekolah taman kanak-kanak telah diperkenalkan dengan perangkat komputer. Bahkan dunia internet pun telah melekat kuat pada diri anak-anak sekolah. Lantas, jika para anak didik saja mampu melesat secepat kilat, apakah kita sang guru harus bertahan dalam kelambanan akibat “gaptek” terhadap teknologi dan beragam kemajuan yang terus melesat tanpa mampu dihentikan? Sebuah kebodohan besar manakala sebutan guru tertuju pada diri kita, tetapi pada kenyataannya ilmu yang kita miliki tak sepadan dengan sebutan yang melekat di atas pundak kita.

Bayangkan sebuah kasus yang banyak kita temui di lingkungan sekitar kita; lingkungan sekolah di mana di dalamnya berkumpul para “suhu” dari berbagai disiplin ilmu. Buatlah survey kecil-kecilan; sudahkah para guru di lingkungan sekolah kita menguasai teknologi informasi semacam internet dan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya? Adakah di antara rekan-rekan seprofesi kita yang masih “buta” komputer, bahkan tak tahu bagaimana cara mengoperasikan komputer yang sebenarnya? Harus diakui, bahwa ternyata masih ada sisa-sisa peninggalan “tempo doeloe”, sosok guru yang bertahan dengan “kejadulannya” bahkan “kegaptekannya”.

Ironis sebenarnya. Satu sisi kita mengeluarkan semangat “empat puluh lima”; gigih mendorong siswa untuk terus belajar agar tak ketinggalan zaman dan tak ketinggalan ilmu pengetahuan. Tapi di sisi lain, ternyata kita masih bertahan dalam zona nyaman, zona keterkungkungan di mana diri kita hanya berdiam di balik tembok kebisuan. Sebuah kenyataan yang masih saja dapat kita saksikan di lingkungan sekitar kita.

Ada sebuah contoh kecil yang barangkali dapat kita jadikan pelajaran agar kita segera berbenah mengejar ketertinggalan. Tentang seorang guru yang tak jua mau membuka mata terhadap perkembangan zaman, terkhusus pada perkembangan teknologi dan informasi. Pada suatu ketika sang guru memberi tugas pada siswa-siswinya untuk membuat makalah dengan tema sastra. Mengalirlah berbagai karya sang anak yang membuat kagum hatinya. Bagaimana tidak. Ternyata salah seorang siswa yang selama ini ia anggap tak bisa apa-apa mampu membuat makalah sempurna yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Diberinya sang siswa nilai A.

Beberapa hari kemudian ia mendapati karya yang persis sama di kelas yang berbeda. Dipanggillah kedua siswa tersebut. Dari pengakuan kedua siswa tersebut, ia baru mengetahui bahwa mereka ternyata men-down load tulisan yang ada di internet. Sang guru terbengong-bengong lantaran ia sama sekali buta internet. Dalam benaknya ia berpendapat bahwa internet adalah barang rumit yang sukar dipelajari. Kesadarannya mulai tumbuh begitu mendapati dirinya “kena tipu” beberapa siswanya. Pada akhirnya, internet menjadi tempat yang menyenangkan bagi dirinya setelah ia mengetahui betapa mudah dan betapa banyak manfaat yang ia dapat dari media elektronik tersebut.

Kasus serupa muncul lagi, di mana seorang guru  “kalah cepat” dibanding  kemampuan para muridnya. Beberapa siswa asyik membicarakan salah satu guru yang mereka anggap “gaptek” alias gagap teknologi. Apa yang mereka perbincangkan? Dengan penuh rasa geli beberapa murid “menggosip” bahwa Bu Guru “A” gaptek plus jadul. Sang guru sok pamer  bahwa ia memiliki alamat email dengan menyebut kata “www”. Para murid tertawa geli karena ternyata sang guru tak bisa membedakan alamat email dan website.

Pada kenyataannya, benar bahwa para anak didik kita melesat begitu cepatnya pada penguasaan teknologi informasi. Bahkan jika mau dibandingkan, adakalanya kita lebih ketinggalan daripada anak didik kita. Pada kasus tertentu kita bahkan membutuhkan bantuan mereka. Jika demikian, siapa yang menjadi “guru” yang sebenarnya? Seringkali kita menjadi guru karena “teori” ilmu yang kita punya, tetapi tak sedikit di antara kita yang tak bisa berbuat apa-apa manakala harus terjun dalam praktek yang sesungguhnya. Itulah mengapa, sudah saatnya kita memperbaiki diri, meningkatkan kualitas kemampuan diri, serta memperbaharui semangat kita untuk memacu diri ke arah yang lebih baik.

Zaman terus berkembang. Sepuluh tahun lalu kita masih mengajar anak didik kita dengan metode A, muatan ilmu A, dan kita terus saja bertahan dengan minimnya kapasitas yang kita punya. Dengan keadaan seperti ini, mampukah kita mencetak anak didik kita agar ia mampu bersaing di tengah ganasnya kehidupan? Roda zaman terus berputar. Tantangan semakin menghadang. Cukupkah kita berdiam diri tanpa usaha kuat yang lebih nyata?

Belajar, mengejar ketertinggalan, bersaing, meningkatkan kemampuan diri, itu yang seharusnya dilakukan  oleh para guru di negeri ini. Berbenah dan melakukan banyak terobosan, inovasi  serta kecakapan diri. Jika seorang guru telah membulatkan tekad untuk menjadi sosok yang diperhitungkan, maka sudah saatnya ia melecut  diri  untuk menjadi yang terbaik serta melakukan yang terbaik pula dalam kehidupan ini. Terus belajar, itu yang seharusnya dilakukan oleh para guru di negeri ini. Ilmu semakin berkembang, teknologi semakin menantang, persaingan tak terhitungkan. Berlari dari penjara keterkungkungan dan menembus kegelapan pikiran, serta menyibak tirai kemalasan, itu yang akan membuat seorang guru mampu berkibar dalam keberhasilan yang gemilang.

Banyak harapan tertuju pada sosok guru. Bahkan kenyataan membuktikan bahwa generasi yang ada sekarang, generasi yang akan datang, mereka tumbuh karena adanya campur tangan sang guru. Begitu besar peran guru dalam segala aspek kehidupan. Dengan kelembutan suaranya, dengan ilmu yang dimilikinya, dengan karisma serta sentuhan kasih sayangnya, seorang guru mampu menciptakan anak didik yang semula biasa saja menjadi insan yang berhasil dan berdaya guna. Dunia tak akan memiliki ilmuwan, dunia akan sepi orang pintar, jika tak ada satupun guru yang  mau mendedikasikan ilmu.

Itulah mengapa, keberadaan guru dengan segenap kemampuan yang dimilikinya menjadi dambaan semua manusia, agar siapapun anak yang berada dalam genggaman tangannya mampu menjadi insan yang bermartabat dan berharkat pula. Guru yang profesional, guru yang bermartabat, guru yang memiliki lautan ilmu dan samudra kesabaran serta kasih-sayang pada anak didiknya, mereka itulah para malaikat yang mampu merubah warna dunia. Banyak yang bisa dilakukan oleh guru. Banyak nuansa yang bisa ditoreh melalui tangan guru. Bahkan peradaban zaman dapat dibentuk menjadi zaman yang gemilang, pun melalui tangan dingin sang guru.

Itulah mengapa, menjadi guru adalah sebuah profesi mulia. Tantangan zaman yang terbentang di depan mata, semuanya menjadi ladang emas agar kita mampu menjawabnya dan mengatasi segala permasalahan yang ada di dalamnya. Sebuah pekerjaan yang tak ringan sebenarnya. Guru yang penuh semangat, ikhlas dan memiliki dedikasi tinggi terhadap para anak didiknya, mereka itulah sang pelita di malam gelap, pelita yang sanggup menerangi gulita  dan mewarnai zaman menuju kegemilangan….***

 

Bogor, 2011-

 

6 Comments to "Guru dan Tantangan Jaman"

  1. Evi Irons  27 December, 2011 at 15:21

    Betul, kita harus selalu up to date, tidak gaptek, terus maju supaya tidak ketinggalan, terus belajar, disertai juga dengan peningkatan akhlak.

  2. probo  25 December, 2011 at 17:16

    bingung mau komen apa…………

  3. nu2k  23 December, 2011 at 10:07

    Dimas JC dan zusje Linda, hallo, halloooooo… Kalau perkara yang satu itu, masih ada yang mau menemani Ratu Nggemblung van Kona…Si oma yang satu ini juga sering mbengok-mbengok lhooo. Lhawong mbuka e-mail saja kadang nggak berani dan harus dipastikan sama Suhunya bahwa itu tidak mengandung virusssss… ha, ha, haaaa…Fijne vakantie (zusje Linda enggak khan?)… Nu2k

  4. Linda Cheang  23 December, 2011 at 09:52

    JC : setuju sama yang itu, mah, hahahahaha….

  5. J C  23 December, 2011 at 08:21

    Pak Hand, kalau si Lani jadi guru, mau dikasi iPhone, iPad, atau computer dulit yang lain, malah dibuat ngulek dan Lani ndulit-ndulit yang lainnya…

  6. Handoko Widagdo  23 December, 2011 at 08:10

    Tidak saatnya lagi guru berkilah bahwa mereka tidak bisa mengakses teknologi karena teknologi kian murah dan gaji guru sudah berubah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.