Resensi: Battle Hymn of the Tiger Mother

Rina S

 

Judul Buku         : Battle Hymn of The Tiger Mother

Penulis                 : Amy Chua

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tahun                   : 2011

Hal                         : viii + 237

 

Ibu Cina = Tiger Mom?

Tidak berlebihan jika Guardian menilai  buku ini sebagai buku yang paling kontrovesial. Bagaimana tidak, cara membesarkan anak  yang dilakukan Amy Chua terhadap kedua anak perempuannya, Sophia dan Louisa, bertentangan dengan semua teori pengasuhan  yang diamini semua pihak selama ini. Bahkan bukan tidak mungkin cara membesarkan anak yang  dilakukan Amy Chua pada kedua putrinya bertentangan dengan hak anak.

Apa yang dilakukan Amy Chua terhadap kedua putrinya? Di antaranya tidak boleh;  memilih kegiatan ekstrakurikuler sendiri, bermain alat musik selain piano dan biola. Anak harus menjadi juara satu di sekolah. Ini harga mati dan tidak ada tawar menawar. Intinya, Amy Chua tidak sedikitpun memberikan pilihan kepada kedua putrinya mengenai apa yang mereka sukai atau tidak. Mana yang mereka inginkan atau tidak. Amy Chua mengendalikan bahkan memaksakan semua kegiatan  yang dilakukan kedua putrinya setiap hari. Terdengar kejam dan mengerikan? Ehm, sungguh buku yang membuat saya tidak sabar untuk menuntaskannya sampai halaman terakhir.

Sebelum genap usia kedua putrinya lima tahun Amy Chua mengeleskan keduanya kursus piano, namun dengan berjalannya waktu dan berbagai pertimbangan  si sulung Sophia yang tetap kursus piano sedangkan adiknya Louisa bermain biola.

Sekedar les musik seperti dilakukan kebanyakan orang tua masa kini? Tidak, Amy Chua bukan hanya menghadiri setiap sesi latihan kedua putrinya tapi berusaha mengerti dan menghayati setiap nada yang dimainkan untuk mencapai kesempurnaan sehingga saat sesi latihan di rumah, dialah yang bertindak sebagai guru. Ia mewajibkan kedua putrinya berlatih musik di rumah selama 90 menit setiap hari, dua kali lipat saat hari les dan lima hingga sepuluh jam saat akan menghadapi undangan konser. Tiap hari tanpa kecuali pun saat liburan musim panas ke luar negeri. Ya, Amy Chua selalu punya cara yang tidak masuk akal bahkan dinilai gila  oleh kedua putri dan suaminya yang membuat sesi latihan musik tetap berlangsung di belahan negara manapun mereka berlibur.

Buku ini adalah kisah nyata bagaimana Amy Chua  membesarkan kedua putrinya sehingga menjadi menjadi pemain musik yang berbakat pada usia sangat dini, sebelum mencapai usia 15 tahun. Cara membesarkan anak yang Amy Chua lakukan sama dengan yang dilakukan ibunya saat ia masih kecil. Cara yang disebutnya sebagai cara membesarkan anak ala ‘ibu Cina’. Cara yang dinilai sebagian besar orang ‘kejam’. Terlebih Amy Chua dan keluarganya tinggal di Amerika. Negara dimana kebebasan dan hak asasi   dijunjung tinggi.   Namun menurut Amy Chua justru cara seperti itulah yang membuat anak dari ibu-ibu Cina sukses terutama dalam bidang science dan musik.  Selain karena Amy Chua takut kualitas keluarganya merosot. Mengingat sebuah pepatah  China yang mengatakan ‘kemakmuran tidak pernah bertahan lebih dari tiga generasi.’

Cara membesarkan anak yang dilakukan Amy Chua terhadap kedua putrinya bukan tidak mendapat bertentangan. Pertentangan itu salah satunya berasal dari ibu mertuanya. Pertentangan yang membuat hubungan Amy Chua dan mertuanya tidak memiliki sentuhan personal.  Namun perlawanan cukup keras justru datang dari putri keduanya, Louisa, saat berumur tiga tahun dan puncaknya saat berumur 13 tahun. Perlawanan yang dilakukan Louisa di luar dugaannya mengingat salah satu aturan ‘ibu Cina’ dalam membesarkan anaknya adalah anak harus patuh dan hormat pada orang tua, apapun yang terjadi.

Buku ini ditulis dengan bahasa mengalir dan ringan. Dengan tuturan yang blak-blakan namun cerdas bahkan kadang jenaka yang membuat pembaca enggan mengambil jeda untuk berhenti. Selain akhir dari kisah keluarga ini membuat penasaran.

Cara yang dilakukan Amy Chua dalam membesarkan dan mendidik anaknya  sangat mungkin tidak cocok diterapkan pada keluarga lain tapi dari caranya kita bisa belajar mengenai seberapa besar  ketekunan, kerja keras, disiplin  dan pengorbanan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Amy Chua lahir dari keluarga imigran China terpelajar, ayahnya seorang akademisi. Amy Chua menamatkan kuliah hukumnya di Harvard dan menjadi profesor di Yale Law School. Menikah dengan seorang Yahudi Amerika yang juga profesor di Yale Law School.

 

4 Comments to "Resensi: Battle Hymn of the Tiger Mother"

  1. J C  27 December, 2011 at 06:52

    Terima kasih resensinya, Rina. Kemarin lihat bukunya di Periplus, malah ada diskon gede, ya sekalian dibeli untuk hadiah ke istri. Bukan berarti terus mengharapkan agar anak-anak kami dididik cara Embok Macan…

  2. Sasayu  25 December, 2011 at 21:21

    Baru liat lagi infonya, berarti sudah ada di gramedia, nanti si Mbok tak suruh bacaa…

  3. Sasayu  25 December, 2011 at 21:18

    Bwahahahhaha, udah keduluan dibikin resensinya…sumpah ini buku bikin aku ketawa ngakak, beli bukunya gara2 tetangga yang bilang bukunya bagus. SUPER MOM banget si Amy Chua, jadi ingat si Mbok yang hampir2 mirip walaupun ga segila si Amy Chua. sayang belum ada terjemahan di indonesia

  4. James  25 December, 2011 at 09:01

    UNO DOMINGO

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.