Halte Berdebu di Ujung Senja

Tantripranash

 

Biya pikir, lelaki muda itu hanyalah seorang penyair setengah gila. Sepulang kerja sering dilihatnya lelaki itu duduk di halte dekat pojok taman. Ia tahu lelaki itu sering membaca puisi dalam bis kota, berharap beberapa keping receh terkumpul.

Tegur sapa seadanya setiap hari lama-lama membuat Biya berpikir,  hanya takdirlah yang membawanya bertemu dengan si penyair. Jaket lusuh, celana jeans pudar dan rambutnya yang sedikit gondrong sama sekali bukan daya tarik bagi perempuan seperti Biya. Tapi mata itu, ya mata itu, yang berkilat-kilat ketika bicara, membuatnya betah berlama-lama.

Semakin disimak semakin Biya terkesima, kata-kata si penyair ternyata penuh makna. Ia curiga sesungguhnya lelaki itu bukan orang biasa, mungkin juga titisan begawan di masa lalu.

“Aku bosan jadi orang susah … “ si penyair tersenyum lebar.

Biya coba berbasa-basi, “Iya ya Bang, kebanyakan korban bencana alam juga orang susah.” Biya tahu komentarnya sama sekali tak cerdas. Komentar paling bodoh yang pernah dibuatnya.

“Ya, betul itu.” si penyair menanggapi serius. Matanya teguh menatap langsung bola mata Biya.

“Tapi adik pasti belum tahu, kalau orang susah itu tak boleh sombong lho,”

Sebelum Biya sempat menjawab ia sudah melanjutkan lagi, “Waktu kudebat habis calo-calo tanah yang mau membeli murah lahan kampung kami untuk perumahan mewah, mereka berbisik menggerutu … sudah susah, sombong!!” Lelaki itu tertawa terbahak-bahak beberapa detik. Biya mulai cemas jangan-jangan otaknya memang sudah miring.

Terengah-engah si penyair melanjutkan lagi, “Ternyata sombong pun bukan hak milik orang susah, hanya orang senang yang boleh sombong.” Ia terkekeh geli.

Biya tersenyum-senyum salah tingkah, tak tahu harus bicara apa. “Lalu Abang jual juga tanah itu?”

Ia mengangguk mantap, “Terpaksalah. Rumahku letaknya di tengah kampung. Tetangga kanan kiri semuanya mau menjual. Entah tergiur uangnya atau ketakutan, tapi yang jelas kalau tinggal rumahku saja yang bertahan maka aku tak bisa keluar kemana-mana. Rumahku akan terisolasi, tertutup tembok di sekelilingnya.” Kini bibirnya terangkat sebelah.

“Kenapa tak mengadu saja, Bang?”

“Mengadu?? Mengadu sama siapa??” Ia terkekeh-kekeh lagi sambil memandangiku seperti memandang makhluk asing dari planet lain.

“Bahkan yang rela membakar diri saja tak berarti apa-apa untuk tuan-tuan di sana,”

Kata-kata itu seperti menusuk Biya tepat di jantungnya, “Tapi setidaknya tragedi itu telah membuka mata kita lebar-lebar ada apa di negeri ini, Bang.”

“Mata siapa?” si penyair melotot sambil menunjuk wajah Biya.

Biya ketakutan takut salah bicara, “Ya mata saya, mata semua,” suaranya mulai lemah tak yakin.

“Lalu apa??” tantangnya.

“Aku miris, Bang …”

“Apa cukup dengan miris, adik cantik? Miris tanpa tanda koma, karena tak ada lanjutannya,” Ia tertawa lebar.

“Katanya aspirasi bisa disalurkan lewat demo warga seperti di televisi itu lho, Bang.”

“Hahahahahaha … bahkan aksi jahit mulut beberapa petani dianggap biasa, konon soal konflik tanah juga. Bagaimana kami yang cuma teriak-teriak saja yakin bakal ditanggapi? Jangan-jangan nanti dianggap rekayasa dan ditunggangi,”

Biya mulai berharap bis cepat datang supaya bisa terhindar dari percakapan yang tak membuatnya nyaman ini. Syukurlah di ujung kelokan bis kota yang ditunggu sedari tadi mulai nampak.

Biya tersenyum lega, “Besok kita sambung lagi ya Bang, itu bisnya datang.”

“Tentu, tentu … kutunggu kau besok hari.” Ia mengangguk-angguk. “Menurutmu ada apa dengan ini semuaaa?”

Biya hanya tersenyum sekilas karena bis semakin mendekat. Si penyair sedikit berteriak mengatasi suara deru kendaraan lewat, “Rakyat kecil sedang gelisah … gelisaah, ”

Bis kota berhenti dan Biya bersiap melangkah masuk bis yang penumpangnya sudah berjubel. Masih sempat didengarnya teriakan si penyair beberapa detik sebelum Biya meningglkan halte berdebu itu, “Apakah tuan-tuan di singgasana sejenak menolehkan kepala?”

***

Senja hari, 21 Desember 2011

 

13 Comments to "Halte Berdebu di Ujung Senja"

  1. tantri  30 December, 2011 at 10:03

    @Dewi Aichi : ya, setengah merdeka

  2. tantri  30 December, 2011 at 10:02

    @Sophia : thanks sdh mampir yaa

  3. Dewi Aichi  30 December, 2011 at 01:50

    Para penguasa sudah tidak peduli lagi melihat ke rakyat….harus bagaimana lagi, semua cara sudah dilakukan,

    Mengutip semboyan Kang Putu SALAM SETENGAH MERDEKA !

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.