Adalah Janji

Dian Nugraheni

 

Sore itu, ketika anak-anak mulai belajar, si Kakak dan si Adek masing-masing menunjukkan beberapa hadiah yang sudah dibuka bungkusnya. Ada gantungan kunci berbentuk bunga yang dihias batu-batuan kaca berkilau indah, ada buku-buku bacaan, boneka-boneka kecil, giftcard atau card yang berisi uang, seperti Debit Card, dan tak ketinggalaan permen-permen yang biasa dibeli orang-orang ketika Natal tiba. Dengan wajah yang sangat gembira mereka masing-masing berkomentar tentang hadiah-hadiah tersebut.

“Kok banyak hadiah, dari siapa, Nak..?” tanyaku.

“Yang ini dari Mr. Morse, dua buah buku bacaan..,” sahut si Adek. Mr. Morse adalah guru Kelasnya.

“Yang ini dari Abbi, Christmast present, katanya..,” sahut si Kakak.

“Gembirakah kalian..?” tanyaku..

“Of course, Mamah…, aku suka banget…,” jawab mereka serempak.

“Sudah say thank you..?” tanyaku lagi. Mereka mengangguk mengiyakan.

“Semestinya kalian yang kasih hadiah buat mereka, kan mereka yang merayakan Natal..,” kataku.

“Ohhh, yaaa, apakah Mamah mau belikan hadiah buat mereka? Aku nggak punya cukup uang sekarang,” jawab si Kakak.

“Yaa, besok sepulang kerja Mamah akan belikan..,” jawabku.

Sore berikutnya, hanya dengan si Adek, aku belanja ke Mall depan apartemen kami, hanya 3 menit jalan kaki. Daftar nama-nama yang akan dibelikan hadiah sudah di tangan. Setelah muter-muter, agak mumet juga, soalnya semua toko menggelar Christmast Sale, banyak sekali pembelanja lalu lalang dalam toko. Akhirnya si Adek duluan yang memilihkan beberapa hadiah buat temannya. Ada kalung dengan liontin kupu-kupu, ada hiasan pohon Natal yang berlampu warna-warni, dan untuk Gurunya, dia mendapatkan sebuah hiasan pohon Natal yang ada namanya, Steve.., karena Mr. Morse nama lengkapnya adalah Steve Morse. Nampaknya si Adek sangat puas dengan hadiah-hadiah pilihannya.

Karena si Kakak belum pulang sekolah, maka aku yang mencarikan hadiah-hadiah buat temannya yang semuanya remaja perempuan. Yang ini dibeli aja di Toko Claire, toko khusus aksesories perempuan. Hmmm, semua bagus, maka dengan jeli aku pilih beberapa kalung dan gelang. Aku bayangkan, teman-teman Kakak akan senang ketika membuka hadiah-hadiah ini. Tak lupa aku beli sejumlah tas kertas kecil dengan gambar tema Natal. Ada yang bergambar Santa membawa sekarung hadiah, “pocket of hope”, pohon Natal, Elf, dan lain-lain sejumlah hadiah yang akan kami kemas.

Sampai di rumah, si Kakak sudah pulang dari sekolah. Setelah mandi, kami berkumpul  di kamar sambil  menggelar hadiah-hadiah yang tadi sudah dibeli. Malam ini santai, anak-anak tidak perlu belajar atau mengerjakan PR karena besok adalah hari terakhir sekolah menjelang libur Christmast Break.Biasanya, hari terakhir itu akan mereka gunakan untuk menghias ruang kelas masing-masing dengan hiasan-hiasan bertema Natal, ada Mr. Frosty si Boneka salju, ada bulatan-bulatan salju yaang bergerigi bagus, ada pohon Natal, semuanya dari kertas warna-warni. Ketika mereka menghias ruang kelas mereka, akan disajikan cookies dan diputarkan lagu-lagu. Ini sudah semacam tradisi di sekolah mereka.

Si Kakak bingung menentukan, “yang ini buat siapa yaaa, yang itu buat siapa yaaa, ohh, ini bagus, apa boleh ini aku keep, simpan buat aku sendiri…?”

“Enggak, Kak, itu Mamah beli pas jumlahnya sesuai dengan permintaaanmu kemaren, buat kamu, kapan-kapan kita boleh beli lagi, tapi jangan sekarang yaa, duit Mamah sudah menipis nih,” kataku.

“Oke.., ayo Dek, diwrapping pakai kertas bungkus, terus dimasukin kantongnya masing-masing, jangan lupa kasih nama di kartu ucapannya..” begitu si Kakak memberi komando. Kadang aku sadari bahwa sikap si Kakak sudah sangat dewasa ketika memberi aba-aba buat adiknya, atau memberi saran cepat buatku untuk mengambil keputusan, biasanya ketika belanja. Yaa, ketika belanja baju misalnya, aku kadang-kadang suka ambil-ambil saja, nahh, sebelum sampai meja kasir, si Kakak akan dengan tegas bilang, “yang ini nggak usah, kemahalan buat baju kayak gini doang, yang itu aja..” Ha..ha..ha.., untung deh ada Kakak, kalau enggak, mbablas juga tuh duit, karena aku nggak biasa belanja, sekalinya belanja, ini itu pengen dibeli aja.

Kemudian si Kakak bertanya, “Bukankah kita tidak merayakan Natal, Mah.., apa nggak apa-apa kita kasih hadiah ke mereka..?”

“Emang kenapa, Kak..?” tanyaku.

“Yaa.., cuma nanya aja..,” kata si Kakak.

Aku, mengerti benar apa sebenarnya yang akan ditanyakan si Kakak soal ini.”Begini, Kak, Dek.., sini Mamah ceritakan sedikit. Ini juga sepanjang yang Mamah tau. Sekarang Mamah tanya, senangkah kalian ketika menerima hadiah-hadiah dari mereka..?”

“Senaaannng..,” serempak mereka menyeru.

“Nahh, kalau mereka sudah membuat kalian senang, tidakkah kalian ingin membuat dan melihat mereka tersenyum dan  juga senang..?” tanyaku.

“Yaa.., aku selalu senang kalau liat Paulina senang,” jawab si Adek. Paulina adalah teman dekatnya di SD. Barret, imigran dari Guatemala, yang Bapak Ibunya sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, dan tidak mampu membantu Paulina di rumah sehubungan dengan kesulitannya belajar, sehingga Paulina harus berada di kelas khusus untuk beberapa mata pelajaran.

“Dan.., Natal itu adalah perayaan sebuah kelahiran.., di mana-mana, yang namanya kelahiran bayi itu akan mendatangkan kegembiraan. Kegembiraan bagi orang tuanya, saudara-saudaranya, semua orang di sekitarnya. Nahh, ketika merayakan hari Natal, mereka merayakan sebuah kelahiran, maka menurut Mamah, kalian pun harusnya gembira melihat teman-temanmu yang sedang bergembira itu. Sederhana kan..? Nanti kalau kalian sudah semakin dewasa, kalian akan bisa mempelajari lebih dalam mengenai makna-makna hari besar banyak agama, bukan hanya Natal, bukan hanya Idul Fitri, tapi itu nanti, akan berjalan bersama waktu.., karena kalian perlu pemahaman yang lebih dewasa, dan lebih arif untuk mensikapi hal-hal tersebut. Oke..?”

Si Kakak dan si Adek mengangguk bersamaan. ” Tapi teman-temanku enggak percaya Santa, Mah, mereka bilang, Santa  is not real..,” kata si Kakak.

Aku ketawa mendengarnya, “Yaa, itu lah yang Mamah bilang, bahwa untuk memahami banyak hal, seseorang perlu waktu agar lebih bisa punya kedewasaan dan kearifan dalam mensikapi banyak hal. Mamah juga nggak paham, apakah  Santa itu real atau not real, tapi yang jelas, kisah Santa ini diberikan oleh orang-orang tua buat anak-anaknya  yang masih kecil-kecil. Para orang tua bilang, kalau kalian, menjadi anak baik, maka Santa akan datang memberikan hadiah di malam Natal, tapi kalau kalian enggak menjadi anak baik, maka Santa akan mencoret namamu, alias enggak akan kasih hadiah di malam Natal. Anak-anak kecil akan percaya apa yang orang tua mereka bilang.”

“Kalau teman-teman Kakak kan sudah remaja, sebentar lagi akan dewasa, maka pola berpikirnya, mungkin sudah lebih rasional. Maka teman-temanmu bilang, nggak percaya bahwa Santa itu real. Kalau itu pendapat dan keyakinan mereka ya kita sebaiknya menghormati..”

“Menghormati itu apa, sih, Mah..?” tanya si Adek.

“Menghormati itu, menghargai, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan atau meyakini apa yang menjadi pemikiran mereka..” jawabku.

“Jadi soal Santa, kalau teman-temanmu bilang bahwa dia enggak real, yaa, itulah pemahaman teman-temanmu yang sudah lebih banyak menggunakan pikiran untuk menganalisa suatu hal, make sense atau nggak make sense, begitu kan yang selalu diajarkan di sekolah..? Tapi setidaknya, menurut Mamah sih, Santa itu simbol sebuah janji Tuhan, bahwa siapa yang melakukan kebaikan, maka Tuhan pun akan memberikan kebaikan pula bagi orang itu, sedangkan orang yang sengaja melakukan kesalahan, atau enggak mau berubah menjadi baik setelah dikasih tau, maka Tuhan akan memberikan peringatan. Kebaikan dan peringatan dari Tuhan itu, sangat beragam bentuknya.., kapan-kapan kita bicarakan lagi.Saat ini, cukup seperti ini dulu pengertiannya…” kataku.

“Ayo.., sudah selesai wrappingnya.., kalau sudah, bereskan semuanya, dibuang sampahnya, kemudian siapkan hadiah-hadiah yang akan kalian bawa ke sekolah buat teman-temanmu besok pagi, jangan sampai keliru yang punya Kakak, yang punya Adek..” kataku.

Dan keesokan paginya, si Kakak dan si Adek sudah siap dengan hadiah-hadiah yang akan diberikan kepada beberapa teman baiknya, dan juga Gurunya. Aku berharap bahwa  mereka akan saling berbagi senyum, kegembiraan, kebahagiaan, keindahan, dan banyak rasa yang lain yang akan membuat hati mereka menjadi damai.

Aku bersyukur, dan ikut juga tersenyum dalam hati. Ketika berbagi kekuatan batin untuk melahirkan senyuman indah, kita tidak harus saling bertanya lebih dahulu, apakah agamamu…  Dan ketika ada orang-orang yang mengeluarkan banyak energi hanya untuk mempertanyakan apakah agamamu, aku ingin menjawab, bahwa, agamaku tak bernama, bila pun harus bernama, aku akan menyebutnya dalam hati saja. Karena agama bukan untuk diperbincangkan atau bahkan dipertentangkan, tapi agama adalah satu jalan agar manusia mengerti, bagaimana cara bertegur sapa dengan Tuhannya….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Jumat, 23 Desember 2011

(Selamat merayakan Hari Natal dan Menyambut Tahun Baru, Salam penuh Kasih…with all my heart…)

 

16 Comments to "Adalah Janji"

  1. Dewi Aichi  28 December, 2011 at 20:54

    Lani, komen 14 he he he…dilarang protes…protes satus ewu..!

    Bu…komen 15, wkwkwkw…aku juga, kalau sedang sendirian…

  2. probo  28 December, 2011 at 14:01

    Dewi Aichi Says:
    December 28th, 2011 at 07:26

    Pak Handoko, BU Gucan….MERASA PALING apa sihhhhh? Wkwkwk…ayo ngaku yang merasa paling cantik, yang merasa paling imut….

    haa…aku mrasa paling cantik…nek ngilo dhewe……

  3. Lani  28 December, 2011 at 13:51

    DA : ndak usah diwolak-walik……..kamu yg udah pernah ndekem di PAKEM…….itu namanya palingggggggggggg apa coba?????? kkkkkkkk

  4. Dewi Aichi  28 December, 2011 at 07:26

    Pak Handoko, BU Gucan….MERASA PALING apa sihhhhh? Wkwkwk…ayo ngaku yang merasa paling cantik, yang merasa paling imut..yang merasa paling gemuk, yang merasa paling muda , yang merasa paling tua, yang merasa paling pinter…yang merasa paling bodoh…yang merasa geli, yang merasa tinggi besar, yang merasa berdosa…yang merasa alim,…?????

    Wahhhhh…ternyata LANI yang ngaku wkwkkwwk…merasa paling SUDRUN wkkwk…ELNINO merasa paling kenthir…kalau aku ngga merasa apa apa….klo sedang terlelap he he

  5. Linda Cheang  27 December, 2011 at 21:50

    yup, memberi dan membuat orang lain senang, itu sangat baik, tak perlu persoalkan apa keyakinannya.

  6. Lani  27 December, 2011 at 15:57

    DN : satu pengajaran yg patut dipuji……SALING MENGHORMATI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *