Edan-edanan (6): Urmat Marang Sapepadha, Ajrih Asih Marang Liyan

Kang Putu

 

SEORANG bocah lelaki bermain air di tepian Bengawan Solo, yang melintasi sebuah kampung di Cepu. Lepas asar seorang lelaki dewasa melintas dengan rakit bambu. Entah kenapa, tiba-tiba si bocah meraup dan melemparkan lumpur kali, tepat mengenai kepala lelaki itu. Si bocah ngewel, ketakutan, dan lari sipat kuping. Dia kembali ke rumah dan bersembunyi.

Berjam-jam dia bersembunyi. Usai magrib sang bapak menemukan bocah berusia empat tahun itu tertidur meringkuk di sesela lemari dan dinding kamar. Tubuh telanjang si bocah nyaris membiru dan bau lumpur kali masih meruap. Sang bapak mengangkat dan mendekapnya. Si bocah menahan isak, membenamkan wajah ke dada sang bapak.

Peristiwa menakutkan itu selalu diingat benar oleh si bocah. Itulah rasa takut kali pertama yang dia kenali. Dia memang tak mampu memerikan rasa takut itu, rasa wedi itu. Meski, kemudian dia justru “akrab” dengan rasa takut, ketakutan, ketika dan setelah mengalami peristiwa yang lebih meneror, lebih menghoror.

 

Setitik “Sejarah”

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, barulah si bocah lelaki berani kembali ke tepian Bengawan Solo untuk mandi atau sekadar berkecipak bermain air. Namun justru saat itulah dia disergap rasa takut yang lebih mengerikan. Betapa tidak?

Saat itu, awal tahun 1966, air bengawan meluber, kuning kecokelatan. Mata si bocah terpaku melihat di atas air bengawan mengapung banyak, banyak sekali, sosok manusia, lelaki dan perempuan, dengan tubuh komplet atau tidak. Tubuh-tubuh itu timbul-tenggelam terseret arus, entah ke mana. Dia heran, hampir semua penduduk kampung keluar dan terpaku berdiri di tanggul bengawan, tanpa berbuat sesuatu. Mereka cuma bergeremang. Satu kata diingat benar oleh si bocah, entah siapa yang mengucapkan, bahwa mereka, tubuh-tubuh terapung itu, “Dibunuh!”

Teman-teman sepermainannya berlarian seraya berteriak-teriak, “Wong kalap! Wong kalap!” Dia membatu. Matanya menyipit tajam mencari-cari apakah di antara berpuluh-puluh mayat yang mengapung terbawa aliran air bengawan itu ada lelaki dewasa yang dia lempar dengan lumpur kali. Dia khawatir lemparan lumpur telah membunuh lelaki itu. Kelegaan memancar di wajahnya karena tak ada wajah yang dia kenali.

Namun pada malam-malam gelap, rasa takut mengejar-ngejar ke dalam tidur si bocah, menjadi mimpi-mimpi buruk yang mengerikan: puluhan sosok berdarah-darah mengepung dari segala penjuru. Berkali-kali, pada malam-malam yang tak mampu dia hitung, dia terbangun kaget karena tiba-tiba terdengar gedoran di pintu rumah, jendela, dan suara genting pecah tertimpuk batu. Terdengar pula teriakan-teriakan serak penuh amarah. “Bakar! Bakar saja! Ayo, bakar!”

Berkali-kali pula, pada pagi hari yang tak pernah bisa dia kenali, dia terbangun-bangun dengan heran dan takut. Karena, pembaringan tempat dia terbangun bersama si adik bukan pembaringan di rumah orang tuanya saat berangkat tidur.

Kelak dia tahu, setiap kali terdengar gedoran di pintu, jendela, dan pekik penuh amarah, dia dan si adik digendong ibu dan bapaknya yang buru-buru mengungsikan mereka ke rumah para tetangga, yang berani menerima risiko dimusuhi entah oleh siapa.

Puncak rasa takut dia alami ketika suatu pagi terbangun dan tak menemukan siapa pun di rumah, kecuali simbok tua pembantu keluarganya. Namun sejak saat itulah pula dia seperti telah kehilangan rasa takut sama sekali. Ya, dia tak lagi takut pada apa pun, pada siapa pun. “Urat takut” dia telah putus. Dan, itulah setitik “sejarah” yang tercatat dalam ruang batin si bocah sampai kapan pun.

 

Takut Pangkal Hormat

Kini, setelah puluhan tahun lewat, saya – bocah lelaki kecil itu – tersadar bahwa ternyata takut, wedi, adalah perkara pertama yang diajarkan para orang tua, sengaja atau tidak, kepada anak-anak mereka. Ya, anak-anak harus takut kepada orang tua, atau orang-orang yang lebih tua. Dengan harapan, si anak mampu bersikap sebagaimana mestinya sebagai manusia (lebih) muda kepada yang tua, kepada liyan.

Perkara kedua adalah mengenal rasa malu, isin, dan ketiga segan, sungkan. Itulah hasil elaborasi Hildred Geertz (1983) mengenai pola asuh anak dalam konteks hubungan sosial di masyarakat Jawa yang hierarkis dan paternalistis. Wedi, isi, sungkan adalah tiga pangkal penghormatan, urmat, seseorang marang liyan, kepada orang lain.

Perspektif itu pula yang mengemuka dalam hubungan antara pribadi dan masyarakat, antara warga negara dan negara (pemerintah), antara yang dikuasai dan penguasa, serta (berpuncak pada) antarakawula dan Gusti. Itulah yang dalam hubungan antara warga negara dan negara agaknya berlaku sejak Arok.

Substansi rasa takut pula yang termanifestasikan ketika negeri ini menjadi Indonesia. Negara yang, sebagaimana simpulan Brian May (1978), dilahirkan setelah penculikan, dilahirkan kembali dalam kudeta, dan dibaptis dengan darah pembantaian.

Sejarah senantiasa berulang! Maka, kita tahu, pemerintahan “orde baru” pun terlahir dari pembunuhan (para jenderal Angkatan Darat), dibaptis dengan darah pembantaian (massa komunis dan soekarnois pascakudeta 1965), serta limbung dan sekarat setelah penculikan (para aktivis gerakan prodemokrasi; Wiji Thukul dan kawan-kawan).

Lalu, bagaimana rasa hormat bisa terunjukkan pada pemerintahan yang “belepotan darah rakyat” jika semata-mata dialasi rasa takut? Bagaimana rakyat mengunjukkan rasa hormat jika para elite politik ora duwe isin, tak malu-malu, mempertontonkan ketakpedulian pada nasib liyan? Dan, lebih memikirkan cara melanggengkan keberkuasaan? Dengan segala cara, halal atau tidak, berpedoman pada kitab The Prince Machiavelli?

Gung binathara, bau dhendha nyakrawati, sekuasa dewa, pemelihara hukum, dan penguasa dunia, yang lebih mengedepankan kemutlakan tanpa tanya, tanpa sapa? Sebagaimana pengakuan Pangeran Puger, dalam Babad Tanah Djawi, bahwa segala sesuatu di tanah Jawa, tempat kita hidup, air yang kita minum, daun, rumputan, dan lain-lain di atas bumi adalah milik raja (Moedjanto, 1987)?

 

Ajrih Asih

Manakala upaya meraih dan menggenggam keberkuasaan, dalam segala hal, dialasi wani isin, ora duwe isin, mundur isin, ngisin-isini, dan tanpa rasa sungkan, apalagi yang tersisa? Celakalah kita, karena khazanah “kepemimpinan” di negeri ini ternyata lebih diperkaya oleh Dasamuka, Suyudana, Arok, Amangkurat, Soeharto ketimbang Semar, Bharada, Hatta….

Dalam hubungan antarmanusia, urmat marang sapepadha, ajrih asih marang liyan, rasa hormat kepada sesama, rasa sayang kepada orang lain pun meluntur. Yang mengedepan adalah pola transaksional, untung-rugi, dol-tinuku. Sepi ing gawe, rame ing pamrih?

Sampai di sini, Puan dan Tuan, ingatan saya terseret ke sajak yang saya tulis sepuluh tahun lewat, “Sajak Pergaulan”. Ya, “hidup tentu lebih nyaman/kalau pergaulan tak dipenuhi/hawa kecurigaan/: di antara kita/senantiasa tumbuh kekhawatiran/jangan-jangan lawan bicara/merogoh kantong tanpa kita pernah tahu/sedangkan kita (tak pernah tak tergoda)/melakukan hal yang sama//inilah iklim pergaulan kita/sembari tertawa-tawa/setiap orang berusaha menyerimpung/kaki kawan sejalan/agar bisa sendirian/menikmati permainan”.

Rasa takut itu senantiasa masih hadir dan mengalir. Dan, kita pun selalu khawatir, jangan-jangan…

 

13 Oktober 2002

 

 

9 Comments to "Edan-edanan (6): Urmat Marang Sapepadha, Ajrih Asih Marang Liyan"

  1. Beny Akumo  30 December, 2011 at 16:24

    Nggak ngerti artinya juga jalan cerita nya … cuma tau kalau manusia tidak boleh sombong dan serakah

  2. kang putu  30 December, 2011 at 15:20

    matur nuwun, terima kasih, atas apresiasi sampean semua. benar, bung JC, semeleh, sareh. namun sikap semeleh, sareh, itu bukan berarti wujud keputusaasaan setelah semua jalan, semua cara, semua upaya kita lakukan dan ternyata gagal bukan? semeleh, sareh, adalah sikap hidup yang terus-menerus melandasi laku perbuatan kita bukan? dalam sikap itu terkandung pengertian: tak ada sesuatu bisa datang dengan sendirinya untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih aman, seolah-olah paket jatuh dari langit. harus diwujudkan dengan tindakan yang konsisten dan konsekuen bukan. dengan tetap menyadari bahwa kegagalan dan keberhasilan adalah sesuatu yang wajar.

  3. J C  29 December, 2011 at 20:54

    Kang Putu, saya selalu berpegang kepada petuah orangtua saya: nguwongke uwong (memanusiakan manusia), semeleh (apa ya bahasa Indonesianya?), bukan nrimo lho. Kadang, malah sering nrimo cenderung lebih negatif ketimbang semeleh. Ojo kemrungsung, ojo mbanyaki, ojo ngiwut (jangan penuh keserakahan – kurang lebih gitu lah artinya).

  4. Dj.  29 December, 2011 at 03:51

    Ojo nganti aku duwe watak jahil…
    Mundak koyo buto cakil….!!!!

  5. Handoko Widagdo  28 December, 2011 at 20:57

    Sugih tanpa bandha; Digdaya tanpa aji; Nglurug tanpa bala; Menang tanpa ngasorake; Trimah mawi pasrah; Suwung pamrih; Tebih ajrih; Langgeng tanpa ana susah; Tan ana seneng; Anteng mantheng; Sugeng jeneng (Sosrokartono)

  6. NEGRO  28 December, 2011 at 13:18

    MANTAP …..KANG PUTU……………MATUR NUWUN

  7. Kornelya  28 December, 2011 at 10:29

    Kesombongan dan keserakahan memudarkan rasa kemanusiaan lintas SARA. Salam

  8. Linda Cheang  28 December, 2011 at 10:15

    takut memang pangkal mhormat, asal jangan ketakutan kelewatan

  9. Kornelya  28 December, 2011 at 09:55

    Sudrun aku nomor siji.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.