Kegalauan Seorang Ibu Akan Dunia Pendidikan

Yeni Suryasusanti

 

Saya ingin membagi “kegalauan” saya kali ini hanya kepada teman-teman yang “terbuka” kepada pendidikan alternatif, tidak di notes saya seperti biasanya :)

Terkadang, saya – dan mungkin sekian banyak orang tua yang lain yang tinggal di tengah kota – merasa berdiri di simpang jalan mengenai pendidikan anak, dalam hal ini sekolah Ifan. Ifan bersekolah di sekolah yang cukup bagus – SD Bhakti Kemanggisan – namun juga “konvensional” dimana prestasi terukur dari nilai yang dicapai, bukan hanya dari penguasaan materi semata.

Ifan secara prestasi konvensional hanya rata-rata, bahkan terkadang cenderung di bawah rata-rata kelas, meskipun nilainya tetap di atas KKM (yang minimal 7 untuk hampir setiap mata pelajaran di SD Bhakti). Saya menyadari bahwa Ifan bukan anak yang ber-IQ rendah, namun penguasaan Ifan terhadap materi berbeda dengan tuntutan sekolah yg menuntut anak menuliskan semuanya pada saat ujian.

Ifan memiliki kemampuan dalam quiz dan menjelaskan secara lisan. Untuk ujian yang dilakukan dengan cara tsb Ifan cukup unggul. Nilai Ifan tertinggi saat ini adalah untuk mata pelajaran PLBJ karena materi pelajaran tsb adalah “menceritakan kembali” cerita rakyat dan mengambil nilai-nilai yang tersirat di balik cerita rakyat tsb . Namun secara penulisan Ifan “termasuk malas” jika tidak bisa dibilang gagal. Karena itulah meskipun dalam tanya jawab lisan Ifan bisa menjelaskan semua materi, namun nilai rapornya tidak cemerlang. Terdengar ironis, karena untuk lomba Ifan cukup sering diikutkan dan beberapa kali mendapat piala karena pada saat lomba kemampuan spontan lisan-lah yang dijadikan nilai :)

Secara hasrat, ingin rasanya mencari sekolah yang bisa mendukung kemampuannya, namun secara kenyataan di sekeliling saya tidak ada satupun sekolah yang memenuhi kriteria tsb. Lokasi saya di Tanjung Duren, tidak ada sekolah alam atau sejenis dimana menurut saya Ifan bisa lebih berkembang dengan kemampuannya yang “tidak umum”.

Sedangkan untuk memilih sekolah yang “cocok” namun jauh dari tempat tinggal sehingga Ifan terpaksa “tua di jalan” juga tidak bisa saya jadikan pilihan. Juga memindahkan kediaman kami agar mendekati sekolah yang cocok pun tidak semudah itu bisa berjalan karena banyak pertimbangan lain – salah satunya sang ayah yang tidak terlalu merasa terganggu dengan sistem konvensional yang saat ini ada. Akhirnya, saya terpaksa harus “memaksa” Ifan belajar mengikuti “sistem konvensional”.

Saya menyadari bahwa pada kenyataannya dalam kehidupan nilai rapor tidak terlalu banyak berperan, jauh di bawah nilai intelektual yang sebenarnya. Namun, saya juga tidak bisa menutup mata, bahwa membuat Ifan belajar mengikuti sistem konvensional juga bukan tidak ada gunanya. Minimal hal tsb akan membuat Ifan bisa melatih menuangkan penguasaannya dalam bentuk tulisan, yang kelak juga bisa berguna ketika Ifan dewasa.

Meski demikian saya tidak mau “terjebak” menuntut Ifan “mengagungkan” nilai rapor dengan menekankan nilai rapor yang tinggi adalah segalanya untuk kemudahan masa depan. Karena jika demikian, “mencontek” bisa merupakan jawabannya. Namun, berada di tengah-tengah lingkungan yang menganggap anak yang pintar dan juara adalah yang “nilai rapor”-nya tinggi, terkadang cukup mengganggu bagi saya… dan mungkin juga bagi Ifan.

Sebuah dilema karena di sisi lain hal ini bisa membuat Ifan kurang berusaha keras “mengikuti sistem konvensional” yang harus diikutinya, namun tetap saja saya mengatakan pada Ifan bahwa saya mengerti bahwa Ifan tidak bodoh meski nilainya di bawah rata-rata teman sekelasnya, namun bagaimanapun juga saya meminta dia belajar untuk mengikuti sistem yang ada. Saya tetap mengatakan hal tersebut karena saya tidak ingin Ifan kelak tumbuh menjadi orang yang menilai “kepintaran seseorang” dari hanya nilai akademisnya…

 

14 Comments to "Kegalauan Seorang Ibu Akan Dunia Pendidikan"

  1. Edy  30 December, 2011 at 10:02

    Mengingat dulu saya yg mulai serius sekolah saat sma klas 2, maka saya juga tidak memaksakan pendidikan anak harus mencapai nilai tertentu apalagi juara ini itu.

  2. Alvina VB  30 December, 2011 at 05:40

    Home Schooling saat ini jadi alternative yg bagus utk org tua yg kebingungan anaknya mau di sekolahkan di sekolahan yg bagaimana sebetulnya, karena tidak ada gading yg tidak retak. Institusi sekolahan manapun di belahan dunia mana saja, selalu ada saja plus minusnya, tergantung dari kaca mata siapa yg melihatnya.

  3. Dian Nugraheni  30 December, 2011 at 05:25

    beberapa hari yang lalu saya terkejut ketika membaca status teman di FB yang bilang bahwa nilai ulangan anaknya, Bahasa Indonesia, 8, maka dia harus remedi, maka saya tanyakan, lha nilai 8 kok remedi tuh trus maunya nilai berapa to, Jeng.., standardnya enggak remedi berapa..? Dan si Jeng ini menjelaskan panjang lebar tentang standard nilai, yang bagi saya enggak masuk akal…(maksudnya, saya heran bener, gitu ding, bukan ga masuk akal..paling gak, ya gak masuk akal saya, gitu.. kok masalah angka nilai pelajaran di Indonesia masih saja sangat sulit untuk saya mengerti)…

    Sekarang ini anak-anak saya sekolah di Public School di Amerika Serikat, saya melihat sistem pendidikannya, seimbang antara mengasah IQ dan EQ, anak2 diperlakukan sangat manusiawi sesuai dengan gift-nya, bakatnya, masing2…

    nahh, berkaitan dengan tulisan Ibu Yeni ini, kalau di Amrik, anak ibu akan segera “ketauan” di mana dia harus ditempatkan, karena pendidikan di sini sangat menyentuh pribadi anak…dengan proses sehari2, maka akan diketahui, mana anak2 “berkebutuhan khusus”..

    Seperti anak saya yang skarang kelas 5 SD, sejak kelas 3 sudah ketauan bahwa dia suka art, maka sekolah mengkonsultasikan kepada saya sebagai ibunya, dgn memberikan kuis yang harus diisi sehubungan dgn kebiasaan anak sehari2 di rumah, berkaitan dgn kesukaannya terhadap art…
    Dan skarang, anak saya mendapat satu mata pelajaran khusus, yaitu “Special Art”, dalam sebuah kelas yang hanya berisi 6 anak..dan 6 anak itu memang benar2 anak yang dipandang berminat lebih pada art…

    Saya berharap, smoga pendidikan di Indonesia bisa lebih manusiawi, menseimbangkan antara IQ dan EQ, dan menghargai bakat yang berbeda pada setiap anak…

  4. Dewi Aichi  30 December, 2011 at 01:55

    Saya bisa merasakan kegalauan ini, sungguh…seandainya saya mengalami seperti ibu ibu di sini pada umumnya tntang pendidikan yang sekarang , mungkin bisa stress juga, serba salah, tuntutan sistem pendidikan yang ada, mengharuskan anak anak didik harus menerima..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.